https://tirto.id/kecap-dan-sindiran-relawan-bulaksumur-untuk-lawan-politik-jokowi-cP56
Kecap dan Sindiran Relawan
"Bulaksumur" untuk Lawan Politik
Jokowi
Presiden Joko Widodo memberikan salam ketika menyampaikan paparan
pendahuluan terkait promosi Asian Games 2018 di Istana Negara, Jakarta,
Selasa (5/6/2018). ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
<https://tirto.id/kecap-dan-sindiran-relawan-bulaksumur-untuk-lawan-politik-jokowi-cP56>
Presiden Joko Widodo memberikan salam ketika menyampaikan
paparan pendahuluan terkait promosi Asian Games 2018 di
Istana Negara, Jakarta, Selasa (5/6/2018). ANTARA FOTO/Wahyu
Putro A
Oleh: Lalu Rahadian - 29 Juli 2018
Dibaca Normal 2 menit
/Pada acara deklarasi sejumlah alumni UGM, beberapa politikus memuji
Jokowi dan secara tak langsung melakukan sindiran yang ditujukan seolah
kepada SBY./
tirto.id <https://tirto.id/> - Sejumlah alumni Universitas Gadjah Mada
(UGM) membentuk kelompok relawan untuk mendukung Joko Widodo (Jokowi)
dalam pemilu presiden tahun depan. Mereka menamakan diri sebagai
"Bulaksumur untuk Memenangkan Jokowi 2019" atau yang disingkat Blusukan
Jkw.
Ada ratusan alumni UGM yang meramaikan acara yang diselenggarakan di
kawasan SCBD, Jakarta, pada Sabtu (28/7/2018). Mereka datang mengenakan
kaos seragam berwarna hitam bertuliskan #2019TetapJokowi.
Hadir sejumlah politikus dan menteri yang sempat mengenyam pendidikan di
kampus UGM. Ada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Sekjen PDI
Perjuangan Hasto Kristiyanto, dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.
Selain mereka, hadir pula politikus Golkar Nusron Wahid dan Sekjen PPP
Arsul Sani.
Dalam acara tersebut para pendukung Jokowi ini berembuk mengenai
strategi apa yang bakal dilakukan pada masa kampanye nanti, demikian
kata Ganjar Pranowo.
"Hari ini kami bertemu merumuskan kembali apa-apa yang mesti dibereskan
di tempat masing-masing agar nanti di pemilihan presiden teman-teman ini
berkontribusi nyata. Cara berkomunikasi masyarakat pun kami berharap
betul tidak asal-asalan, tapi menggunakan data," kata Ganjar.
Baca juga:
* Gus Dur Juga Pernah Kena "Kartu Kuning" di UGM
<https://tirto.id/gus-dur-juga-pernah-kena-kartu-kuning-di-ugm-cEfJ>
Sementara itu, Ketua Blusukan Jkw, Teguh Indrayana mengatakan fokus
mereka nanti adalah kampanye via sosial media. "Kami bikin 'TV Blusukan'
misalnya. Itu akan terus kami lakukan karena sekarang untuk mengumpulkan
massa itu sudah repot," kata Teguh.
Teguh juga mengatakan ia dan teman-temannya akan fokus melawan hoaks
menjelang Pemilu nanti. Mereka merasa hoaks mengenai Jokowi bakal
bermunculan kembali seperti pada Pilpres 2014.
Menyinggung Lawan Politik
Selain berkumpul, para politikus yang hadir juga diberikan ruang untuk
berpidato. Pada saat itu, mereka melontarkan berbagai sindiran kepada
lawan politik Jokowi. Sindiran itu disampaikan oleh Hasto, juga Nusron.
Kias pertama disampaikan Hasto kala menjelaskan Jokowi merupakan
pemimpin yang lahir dari "bawah". Menurutnya, kemunculan Jokowi sebagai
pemimpin nasional bukan sesuatu yang dibuat-buat.
"Jadi tidak ada yang dari atas. Misal Pak Ganjar atau Pak Nusron dibawa
kemana-mana oleh bapaknya, tidak ada. Jadi karena Pak Jokowi terlepas
dari beban sejarah masa lalu, maka diharapkan dengan pengalaman yang
luas ia betul-betul mampu membawa perubahan," ujar Hasto.
Politikus asal Yogyakarta itu memang tidak menyebut spesifik siapa sosok
yang ia sindir. Namun, telah jadi rahasia umum dalam konteks politik
nasional saat ini, politikus yang berkorelasi anak dan orangtua adalah
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan sang putranya, Agus Harimutri
Yudhoyono (AHY).
Baca juga:
* SBY Mengaku Banyak Hambatan Berkoalisi dengan Jokowi
<https://tirto.id/sby-mengaku-banyak-hambatan-berkoalisi-dengan-jokowi-cPQS>
Sindiran lain disampaikan Nusron. Kali ini, politikus Golkar itu
terang-terangan menyindir.
"Setiap ada kejadian selalu disampaikan 'kami sangat kecewa, kami sedih,
kami prihatin' begitu tapi tidak selesai titiknya. Tetapi kalau Pak
Jokowi diprioritaskan ada Perpres, ada tindakan penunjukan BPIP,
revitalisasi pancasila, dan sebagainya," kata Nusron.
Konteks sindiran ini memang tak terpisahkan dalam konteks terkini soal
kemesraan Gerindra dan Demokrat, menyusul pertemuan SBY dan Prabowo
Subianto, belakangan ini.
Reaksi Demokrat
Kadiv Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdianand Hutahaean menyebut
sindiran Hasto sebagai "opini murahan" karena mendegradasi seseorang
yang menjadi lawan atau kompetitor politiknya.
"Ini tidak sehat dan menunjukkan betapa kerdilnya pola pikir Hasto,"
kata Ferdinand kepada /Tirto/, Minggu (29/7/2018).
Menurut Ferdinand, kepemimpinan seseorang itu selain ditentukan oleh
garis keturunan, juga pendidikan. AHY adalah lulusan Rajaratnam School
of International Studies, Nanyang Technological University, Singapura.
AHY, katanya, juga meraih "nama" dengan kerja keras.
"AHY keliling nusantara bertemu seluruh rakyat dan bukan seperti Jokowi
dulu yang belum mengenai Indonesia secara luas tapi dibesarkan media."
Baca juga:
* Gus Dur Juga Pernah Kena "Kartu Kuning" di UGM
<https://tirto.id/gus-dur-juga-pernah-kena-kartu-kuning-di-ugm-cEfJ>
Latar belakang seperti ini membuat siapa saja tak bisa menyebut AHY
muncul di panggung politik nasional semata karena sentuhan orangtua.
"Mungkin Hasto sedang meratapi dirinya yang tidak seberuntung AHY," kata
Ferdinand.
Adi Prayitno, pengamat politik dari UIN Jakarta, mengatakan deklarasi
yang mengatasnamakan kampus tertentu akan terus bermunculan jelang
Pilpres. Keuntungan bakal lebih signifikan jika yang mendukung adalah
"orang kampus" besar semisal UGM atau UI karena mereka tersebar di
berbagai daerah.
Meski toh pada kenyataannya kelompok yang tergabung sedikit seperti
dalam kasus Blusukan Jkw ini, tetap saja itu berguna. "Secara psikologis
dukungan itu makin menebalkan kepercayaan diri Jokowi," tambahnya.
Baca juga artikel terkait PILPRES 2019
<https://tirto.id/q/pilpres-2019-c2Z?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Lalu Rahadian
<https://tirto.id/author/lalurahadian?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Politik)
Reporter: Lalu Rahadian
Penulis: Lalu Rahadian
Editor: Rio Apinino
Sejumlah politikus alumni UGM menyindir SBY ketika mendeklarasikan
dukungan terhadap Jokowi