*Waktu kelaparan di Asmat, Papua, beberapa bulan lalu kepada penduduk Asmat
diminta oleh Jokowi untuk dipindahkan, usulannya ini ditolak penuduk oleh
masyarakat Papua. *

*Kelaparan di pealaman pulau Seram, oleh gubernur Asagaf diminta supaya
penduduk yang lapar dipindahkan. Dengan adanya usulan sang gubernur ini
maka agaknya obat mujarab rezim untuk mengatasi kelaparan ialah dengan
memindahkan penduduk, bukan dilihat dari ketidak mampuan politik dan
administrasi rezim untuk memantau dan mengurus kehidupan penduduk
”terasing”.*

*Kelaparan di pulau Seram adalah pertama kali dalam sejarah Maluku di masa
damai.*


https://www.tribun-maluku.com/2018/07/gubernur-minta-suku-pedalaman-pulau.html
Gubernur Minta Suku Pedalaman Pulau Seram Bersedia Dipindahkan

7/26/2018
<https://www.tribun-maluku.com/2018/07/gubernur-minta-suku-pedalaman-pulau.html>
Maluku <https://www.tribun-maluku.com/search/label/Maluku>

[image: Gubernur Maluku, Said Assagaff meminta warga di pedalaman hutan
Pulau Seram, di Gunung Morkele, Kabupaten Maluku Tengah, bersedia
dipindahkan dari pemukiman mereka ke lokasi yang lebih dekat dan mudah
dijangkau.]
<https://2.bp.blogspot.com/-2PLqj314bVc/V_0FKq0dlYI/AAAAAAAAEPA/rc5YwmldzpcMnaQOOAVTDmaWW3PjyUKwgCLcB/s1600/said-assagaff.jpg>*Ambon,
Tribun-Maluku.com : *Gubernur Maluku, Said Assagaff meminta warga di
pedalaman hutan Pulau Seram, di Gunung Morkele, Kabupaten Maluku Tengah,
bersedia dipindahkan dari pemukiman mereka ke lokasi yang lebih dekat dan
mudah dijangkau.

"Saya minta dan imbau mereka untuk turun dari pemukiman mereka di Gunung
Morkele karena terlalu jauh dan sulit didatangi jika terjadi sesuatu,
seperti kasus kerawanan pangan mengakibatkan tiga warga meninggal dunia,"
kata Gubernur Said di Ambon, Kamis (26/7).

Dia mengatakan, Pemprov Maluku bersama Pemkab Maluku Tengah siap memberikan
bantuan termasuk membangun dan menata pemukiman baru di daerah yang dekat
dan mudah dijangkau, jika mereka bersedia turun gunung dan menetap di
lokasi pemukiman baru.

Gubernur menyadari tidak mudah mengajak sebanyak 45 kepala keluarga (KK)
atau 170 jiwa suku di Negeri Maneo Rendah, Kecamatan Seram Utara Timur
Kobi, untuk meninggalkan kawasan hutan yang menjadi petuanan yang merupakan
warisan leluhur mereka serta merupakan "rumah bersama" dalam membangun
kehidupannya.

"Hidup mereka nomaden atau berpindah-pindah tempat dan memanfaatkan kawasan
hutan sebagai sumber bahan pangan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari,
sekaligus memelihara dan menjaganya dengan budaya dan kearifan lokal yang
dipercayai," katanya.

Gubernur mengaku, berdasarkan informasi yang diperoleh kasus kerawanan
pangan yang dialami warga suku pedalaman tersebut dikarenakan hama babi dan
tikus yang menyerang kebun mereka, sebagai dampak kebakaran hutan yang
terjadi sejak 2015.

"Informasi yang diperoleh kebakaran hutan menyebabkan warga kesulitan
mendapatkan kayu-kayuan dan bambu untuk membuat pagar pengaman kebunnya,
karena hutan terbakar, sehingga babi dan tikus dengan mudah memasuki dan
merusak kebun warga," katanya.

Menyangkut langkah penanganan yang telah dan akan dilakukan, ia menegaskan,
sejumlah tim dari Kementerian Sosial didampingi Dinas Sosial Maluku dan
Kabupaten Maluku Tengah, telah berangkat penuju lokasi pemukiman warga suku
pedalaman dengan membawa sejumlah bantuan dan bahan makanan.

Tim Kemensos bersama staf Dinas Sosial Maluku dan sejumlah personel Taruna
Siaga Bencana (Tagana) akan menyalurkan bantuan dan mendata permasalahan
yang sebenarnya terjadi di sana untuk penaganan lanjutan.

Tim terpadu yang melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
akan mengungkapkan penyebab terjadinya krisis pangan yang dialami 170 jiwa
warga suku pedalaman tersebut.

Bantuan yang dibawa ke lokasi kejadian tersebut dengan cara memikul sambil
berjalan kaki menyusuri hutan dan melewati sungai-sungai di wilayah itu
selama delapan jam perjalanan, diantaranya satu ton beras, matras sebanyak
100 lembar, selimut 180 lembar, 35 paket kid ware dan 60 paket kebutuhan
lansia.

Sedangkan, bantuan lainnya dari stok penyangga Dinsos Kabupaten Maluku
Tengah antara lain sayur lodeh dan opor ayam 90 kaleng, panci masak dan
wajan masing - masing 45 buah, piring 270 buah, gelas melamin 135 buah,
selimut wol dan tenda gulung masing - masing 45 lembar dan matras 90 lembar..

"Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek saat berkunjung di Ambon, Rabu
(25/7), juga telah memerintahkan Kadis Kesehatan, Meikyal Pontoh untuk
menurunkan tim serta membawa obat-obatan ke lokasi pemukiman untuk membantu
pemeriksaan dan penanganan kesehatan warga suku pedalaman tersebut,"
katanya.

Tim kesehatan telah berangkat menuju lokasi bencana melalui Masohi, Ibu
Kota Kabupaten Maluku Tengah bersama tim Kodam XVI/Pattimura dipimpin
Pangdam Mayjen TNI. Suko Pranoto, Kamis (26/7).

Lokasi tinggal warga suku terasing itu berada di Dusun Maneo yang jarak
tempuhnya tiga jam dengan kendaraan dari Wahai atau delapan jam dari
Masohi, Ibu Kota Maluku Tengah lalu dilanjutkan berjalan kaki delapan jam
ke desa terdekat.

Sedangkan, lokasi titik kumpul terdekat ke masyarakat terasing adalah di
Kali Toahaku dengan rute perjalanan dari Polsek Seram Utara, rumah singgah
jalan dusun Soahari. Kali Touhaku dapat ditempuh dengan kendaraan dari
Wahai selama tiga jam atau delapan dari Masohi.

Sebelumnya, Polda Maluku juga telah melakukan langkah cepat untuk menangani
persoalan suku terasing di daerah pedalaman hutan Pulau Seram itu dengan
menyalurkan bantuan sumbangan berupa satu ton beras, makanan siap saji
seperti mie instan 200 dos, gula pasir 100 Kg, dan obat-obatan, termasuk
memberangkatkan tenaga medis.

Ratusan warga tersebut merupakan suku nomaden, berpindah-pindah tempat dan
hanya dapat ditemui dengan perantaraan Raja Maneo, Nikolas Boiratan.


++++++.


https://www.tribun-maluku.com/2018/07/amgpm-minta-warga-pedalaman-pulau-seram.html
AMGPM Minta Warga Pedalaman Pulau Seram Tidak Direlokasi

7/26/2018
<https://www.tribun-maluku.com/2018/07/amgpm-minta-warga-pedalaman-pulau-seram.html>Maluku
Tengah <https://www.tribun-maluku.com/search/label/Maluku%20%20Tengah>


*Ambon, Tribun-Maluku.com : *Pengurus Besar Angkatan (PB) Muda Gereja
Protestan Maluku (AMGPM) meminta pemerintah Maluku Tengah, Provinsi Maluku
untuk tidak relokasi masyarakat suku pedalaman Mausu Ane, yang mendiami
Gunung Morkele, Kecamatan Seram Utara Pulau Seram, Maluku Tengah yang
menderita kekurangan pangan.

"Relokasi bukan satu-satunya solusi untuk menangani masalah kekurangan
pangan dialami warga suku pedalaman Pulau Seram ini, karena telah hidup
turun-temurun termasuk merawat dan menjaga kelestarian hutan di kawasan
Gunung Morkele," kata Sekretaris PB AMGPM Youndry Paays, di Ambon, Kamis
(26/7).

Kekurangan pangan dialami 45 Kepala Keluarga (KK) atau 170 jiwa warga yang
mendiami petuanan Negeri Maneo Rendah, Kecamatan Seram Utara Timur Kobi,
Kabupaten Maluku Tengah, mengakibatkan tiga warga meninggal dunia.

Dia mengatakan, rencana relokasi terhadap suku pedalaman dengan alasan agar
mereka mudah dijangkau dan mendapatkan pelayanan telah diwacanakan Pemkab
Maluku Tengah sejak Kecamatan Seram utara dilanda kebakaran hutan tahun
2015.

"Bahkan rencana relokasi tersebut akan dilakukan terhadap seluruh
masyarakat yang mendiami pegunungan dan hutan di Seram Utara yang terkena
imbas kebakaran, tetapi masyarakat dengan tegas menolak dipindahkan dari
petuanan mereka," katanya.

Menurutnya, petuanan Seram Utara adalah rumah bersama bagi masyarakat yang
menetap disana dan hidup diatas tanah petuanan adat masing-masing sebagai
warisan leluhur yang harus dijaga dan dikelola untuk masa depan mereka.

Dia menandaskan, masyarakat Suku Mausu Ane adalah masyarakat suku pedalaman
yang telah turun-temurun hidup dan menyatu dengan hutan di sekitar wilayah
petuanan mereka serta tidak bisa dipisahkan dari hutan tempat mereka hidup
dan menjadi rumah masa depan mereka.

"Pengalaman relokasi yang dilakukan Pemkab Maluku Tengah terhadap
masyarakat suku terasing Huaulu di Pulau Seram telah menjadi masalah dan
membuktikan bahwa mereka tidak akan bertahan hidup di rumah dan wilayah
baru seperti transmigrasi, karena hidupnya adalah di hutan dan menyatu
dengan alam," tegasnya.

Relokasi terhadap suku Huaulu, ujarnya merupakan salah satu cara untuk
menguasai sumber daya alam milik masyarakat adat oleh kelompok kepentingan
tertentu.

Ditambahkannya, kebakaran hutan di Pulau Seram tahun 2015 menghanguskan
tanaman kayu dan bambu di hutan sekitar pemukiman suku pedalaman Mausu Ane,
padahal kayu dan bambu dibutuhkan warga suku pedalaman untuk membuat pagar
melindungi kebun mereka dari hama babi dan tikus.

Tetapi saat ini bahannya sulit diperoleh sehingga warga suku pedalaman
hanya menggunakan kayu-kayu kecil sebagai pagar kebun, dan kondisinya tidak
mampu melindungi tanaman mereka dari serangan hama, sehingga berdampak
terjadi kekurangan pangan.

Menurutnya, jika masalah kekurangan makanan menjadi prioritas penanganan
masalah, maka harus dilakukan saat ini yakni tanggap darurat kebencanaan
dengan menyediakan dan mendistribusikan bantuan bahan makanan agar mereka
keluar dari masalah tersebut.

Sejauh ini tangap darurat sudah dilakukan sejumlah pihak untuk mengatasi
masalah kekurangan pangan yang dialami warga suku pedalaman, di antaranya
jemaat GPM Rumah Tiga, Kota Ambon yang merupakan mitra jemaat Siahari dan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku Tengah, TNI dan Polri
sejak 20 Juli, termasuk memberikan pengobatan.

Kirim email ke