Lombok kembali dilanda gempa
Rabu, 1 Agustus 2018 06:16 WIB
Lombok kembali dilanda gempa
Arsip Foto. Anggota TNI membantu mengangkat Zahratul Aini yang kakinya
terluka tertimpa reruntuhan tembok rumahnya akibat gempa bumi
berkekuatan 6,4 SR di Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Selong, Lombok
Timur, NTB, Selasa (31/7/2018). Menurut data BPBD NTB gempa bumi
tersebut menyebabkan sebanyak 1.815 rumah rusak berat dan ringan, tujuh
fasilitas pendidikan, lima fasilitas kesehatan, 16 fasilitas ibadah dan
dua jembatan rusak. (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)
*Kami mengimbau warga tetap tenang...*
Mataram (ANTARA News) - Gempa bumi berkekuatan 3,3 pada Skala Richter
melanda sebagian Pulau Lombok pada Rabu pukul 04.36 Wita, dengan pusat
gempa di darat di 16 kilometer tenggara Kabupaten Lombok Tengah pada
kedalaman 11 kilometer menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan
Geofisika (BMKG).
Kepala Stasiun Geofisika Mataram Agus Riyanto mengatakan bahwa
berdasarkan lokasi episenter, kedalaman hiposenter dan mekanisme
sumbernya, gempa bumi yang berpusat di koordinat 8,84 derajat Lintang
Selatan dan 118,31 derajat Bujur Timur itu merupakan jenis gempa dangkal
akibat aktivitas Sesar Naik Flores.
"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa bumi tersebut
dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan naik,"
kata Agus.
Guncangan gempa bumi, Agus menjelaskan, dilaporkan telah dirasakan di
Kecamatan Bayan di Kabupaten Lombok Utara, dan Kecamatan Belanting di
Kabupaten Lombok Timur dengan skala intensitas I Skala Intensitas Gempa
(SIG) BMKG, atau II/Modified Mercalli Intensity/(MMI).
Hingga pukul 06.30 WITA, tidak ada laporan dampak kerusakan yang timbul
akibat gempa bumi tersebut.
"Kami mengimbau warga tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang
tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," kata Agus.
Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa telah diguncang gempa bumi berkekuatan
6,4 SR pada Minggu (29/7) pukul 06.47 WITA.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Nusa Tenggara Barat menyatakan
berdasarkan laporan sementara gempa itu telah menyebabkan 17 orang
meninggal dunia, termasuk satu warga Malaysia.
Gempa juga menyebabkan ratusan orang mengalami luka berat dan ringan,
dan kerusakan rumah warga di Kecamatan Sambelia dan Sembalun di
Kabupaten Lombok Timur, serta di Kabupaten Lombok Utara. Gempa juga
membuat ratusan pendaki terjebak di Gunung Rinjani.
Pada Selasa pukul 03.10, gempa dengan kekuatan 3 pada skala Richter juga
terjadi di enam kilometer di sisi timur laut Lombok tengah dengan
kedalaman 15 kilometer dan terasa dengan intensitas 3 MMI hingga
Kecamatan Bayan di Lombok Utara.
*Baca juga:Gempa 3 pada skala Richter getarkan Pulau Lombok
<https://www.antaranews.com/berita/731602/gempa-3-pada-skala-richter-getarkan-pulau-lombok>*
Pewarta:Awaludin
Editor: Maryati
Pemerintah siapkan Rp17,5 miliar untuk bangun rumah khusus di NTB
Rabu, 1 Agustus 2018 07:21 WIB
Pemerintah siapkan Rp17,5 miliar untuk bangun rumah khusus di NTB
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono.
(ANTARA/Fransiska Ninditya)
Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
tahun ini mengalokasikan anggaran Rp17,5 miliar untuk program
pembangunan rumah khusus (Rusus) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Siaran pers kementerian, Rabu, mengutip penjelasan Menteri Pekerjaan
Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono yang menyebutkan
bahwa alokasi anggaran sebesar itu ditujukan untuk pembangunan 90 unit
Rusus untuk korban banjir 2016 di Bima, 40 Rusus untuk nelayan di Poto
Tano dan 50 Rusus di Pulau Kaung.
"Rumah khusus adalah program Kementerian PUPR yang dibangun untuk
memenuhi kebutuhan khusus, seperti nelayan, pemukiman kembali korban
bencana/pengungsi, guru, tenaga medis, TNI/Polri dan petugas di daerah
perbatasan dan pulau terpencil," kata Basuki.
Ia menjelaskan pula bahwa pemerintah tahun 2017 sudah membangun 204 unit
Rusus untuk nelayan di Pulau Sumbawa dengan biaya Rp33,6 miliar.
Rumah-rumah khusus di Desa Tanjung Luar, Kabupaten Lombok Timur (52
unit); Desa Labuhan Jambu, Kabupaten Sumbawa (100 unit); dan Desa Hu'u,
Kabupaten Dompu (52 unit) itu seluruhnya sudah dihuni.
Di Desa Hu'u, rumah-rumah khusus dengan tipe 36 dan luas tanah 120 meter
persegi dibangun dengan pondasi batu kali, dinding bata merah yang
diplester dan dicat, rangka atap baja ringan dan genteng metal, serta
lantai keramik. Biaya pembangunan 52 unit rumah khusus di desa ini
Rp7,45 miliar.
Kompleks rumah khusus juga dilengkapi dengan jaringan saluran air ke
rumah, listrik, drainase dan jalan lingkungan dengan blok paving.
Suwaidin (21), seorang nelayan di Desa Hu'u, termasuk di antara penerima
bantuan rumah khusus itu. Dia bersyukur akhirnya bisa pindah dari rumah
bambunya.
"Untuk mendapat Rusus ini tidak dikenakan biaya apapun, hanya
mengumpulkan KTP dan Kartu Keluarga saja. Jaraknya ke laut juga tidak
jauh hanya lima menit berjalan kaki," kata Suwaidin, yang tinggal
bersama istri dan seorang anaknya.
Indah (26), yang sebelumnya tinggal bersama mertua di rumah yang sudah
rapuh, juga mendapat bantuan rumah khusus. Dia menempati Rusus sejak
Januari 2018.
Selama 2016-2018, Kementerian PUPR sudah membangun 578 rumah khusus
dengan total anggaran Rp74,4 miliar.
*Baca juga:Menteri PUPR tinjau rumah khusus nelayan di Bengkulu
<https://www.antaranews.com/berita/673044/menteri-pupr-tinjau-rumah-khusus-nelayan-di-bengkulu>*
Pewarta:Edy Sujatmiko
Editor: Maryati
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com