Many Belts Many Roads
RABU, 01 AUG 2018 07:56 | EDITOR : ALI MUSTOFA
dahlan iskan, catatan kaki
<https://imageradar.jawapos.com/uploads/radarbali/news/2018/08/01/many-belts-many-roads_m_91455.jpeg>
Ilustrasi/(disway.id)/
Berita Terkait
* Titik Terang Itu Masih Titik Titik
<https://radarbali.jawapos.com/read/2018/07/30/91124/titik-terang-itu-masih-titik-titik>
* Ma Changqing Dengan Ratusan Ribu Pelayat
<https://radarbali.jawapos.com/read/2018/07/29/91038/ma-changqing-dengan-ratusan-ribu-pelayat>
Oleh: Dahlan Iskan
Tiba-tiba Washington berubah arah. Kebijakan ‘America First’-nya Donald
Trump kesandung One Belt One Road-nya Xi Jinping.
Ini terjadi dua hari lalu. Tanggal 30 Juli 2018. Amerika punya kebijakan
baru: Many Belts Many Roads. Nama resminya: Indo Pasific Region Economic
Vision.
Itu benar-benar visi baru. Atau visi lama yang diperbaharui. Yang akan
menggabungkan tiga peluru: pembangunan, pertahanan dan diplomasi.
Menjadi satu senjata.
Amerika akhirnya sangat khawatir. Dengan perluasan pengaruh Tiongkok.
Yang kian gila-gilaan. Di Asia Pasific. Dan di Afrika. Lewat kebijakan
OBOR-nya.
Apa kata Xi Jinping? Soal many belts many roads itu?
Positif. Katanya: Itu bagus. Bersaing dalam kebaikan. Daripada saling
serang. Begitulah kurang lebihnya.
Ide Many Belts Many Roads itu sudah bergulir sejak beberapa bulan lalu.
Saat pembahasan APBN di DPR. APBN Amerika 2018.
Di situ disebutkan dengan tegas: program OPIC harus diakhiri.
Proyek-proyeknya harus dikurangi. Itu tidak sejalan dengan program
Presiden Trump: America First. Juga bertentangan dengan isi kampanyenya
dulu: bantuan luar negeri harus dikurangi.
Sejak dulu Amerika punya dua lembaga: USAID dan OPIC. Untuk bantuan luar
negeri. Yang pernah dibantu pun tidak membantu Amerika. Begitu logika Trump.
Tugasnya sama-sama memberikan bantuan: USAID yang menyalurkan sumbangan.
OPIC yang menyalurkan kredit murah.
Tujuannya sama: untuk memperluas pengaruh Amerika. Jelasnya: untuk
membendung meluasnya pengaruh Uni Soviet. Pengaruh Russia. Pengaruh
komunis. Musuh Amerika No.1. Sebelum ada terorisme.
Tiongkok tidak masuk hitungan. Saat itu. Masih kategorikan negara sangat
miskin. Justru Tiongkoklah yang harus menerima bantuan. Seandainya
Tiongkok tidak komunis.
Masih ada dua senjata lagi yang dimiliki Amerika: diplomasi dan invasi.
Tapi diplomasi saja tidak cukup. Untuk meminjam istilah politik di
Indonesia: visi tanpa gizi tidak ada arti. Tanpa uang mana ada yang bisa
menang?
Invasi juga tidak berhasil. Bahkan hanya menimbulkan citra negatip.
Invasi ke Irak, misalnya, justru Amerika membantu Syiah. Sejak Saddam
Husain dijatuhkan Syiahlah yang berkuasa: selalu menang Pemilu di Irak.
Kini Amerika ingin menggabungkan semua itu: visi-gizi-amunisi.
Caranya pun sudah ditemukan. Tanggal 17 Juli lalu, saat ViaVallen
berulang tahun, DPR Amerika ketok palu: mengesahkan UU baru. Namanya:
BUILD Act.
Itulah undang-undang yang jadi dasar hukum berdirinya USIDFC. Uuh
sulitnya nama ini. Singkatan dari United States International
Development and Financial Corporation.
Agar tidak lupa, saya ulangi lagi singkatannya: USIDFC. Sulit hafal kan?
Dalam sastra Arab (ilmu balaghah) kata yang sulit diucapkan seperti itu
disebut tanafurul kalam. Harus dihindari.
USIDFC adalah lembaga baru. Hasil merger antara USAID dengan OPIC.
Mungkin tidak akan ada lagi bantuan murni. Yang selama ini disalurkan
lewat USAID. Mungkin semua bantuan bentuknya menjadi kredit. Kredit
lunak: bunga murah, jangka pengembalian panjang, tidak perlu bayar bunga
dan cicilan di tahun-tahun pertama (grace period).
Semua itu masih rencana. Belum tahu pastinya. Presiden Trump pun masih
harus mengangkat dulu siapa pimpinan USIDFC itu.
Jepang sudah lama punya lembaga seperti itu. Namanya: JBIC (baca:
jebik). Bunga: cuma 2 persen. Masa pengembalian: 20 tahun. Grace period:
2 tahun. Murah dan ringan.
Maka JBIC-lah yang sejak awal orde baru membantu Indonesia. Karena itu
proyek-proyek di Indonesia pernah didominasi Jepang. Serba Jepang.
Mungkin seperti sekarang ini: serba Tiongkok.
Sampai-sampai muncul Malari. Yang mencuatkan nama Hariman Siregar. Yang
menolak kedatangan perdana menteri Tanaka. Yang rusuh itu. Di tahun 1974
itu.
Dengan perubahan sikap Amerika, Indonesia tentu diuntungkan: banyak
pilihan. Ada JBIC, ada OBOR dan kini ada USIDFC.
Tidak saya sangka Amerika berubah sikap. Secepat ini.
Amerika memang kian terkucil. Belakangan ini. Dan itu tidak enak. Biar
pun kaya. Kaya terkucil ternyata tidak lebih enak dari MOMAK*. (dis).
*) Ideologi MOMAK (Mangan Ora Mangan Asal Kumpul).
*(rb/mus/mus/JPR)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com