https://tirto.id/trotoar-untuk-warga-bukan-politik-trotoar-cQrC
Trotoar untuk Warga, Bukan Politik
Trotoar
Warga melintas di jalur pedestrian di kawasan Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta, Selasa (10/7/2018). ANTARA FOTO/Galih Pradipta
<https://tirto.id/trotoar-untuk-warga-bukan-politik-trotoar-cQrC>
Warga melintas di jalur pedestrian di kawasan Gelora Bung
Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (10/7/2018). ANTARA
FOTO/Galih Pradipta
Oleh: Ramdan Febrian - 4 Agustus 2018
Dibaca Normal 2 menit
/Tak hanya enak dilihat, fasilitas di jalan raya harus memenuhi syarat
kelayakan./
tirto.id <https://tirto.id/> - Perhelatan pesta olahraga terbesar
se-Asia, Asian Games 2018 tinggal menghitung hari. DKI Jakarta yang
menjadi salah satu kota tuan rumah untuk menyambut para tamu dari
negara-negara lain tengah berbenah demi mengangkat harkat dan martabat
bangsa Indonesia.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan
dan jajarannya untuk mempercantik kota Jakrta. Salah satunya adalah soal
penataan trotoar yang merupakan wajah dari suatu kota.
Namun, upaya untuk memoles kota Jakarta tak lepas dari berbagai masalah.
Bongkar pasang trotoar rumput di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman,
misalnya, sempat dipermasalahkan karena terdapat area rumput yang
merintangi antara halte TransJakarta dengan jalan. Hal tersebut membuat
jarak halte ke bibir jalan menjadi cukup jauh sehingga penumpang harus
memutar jalan untuk dapat menjangkau halte.
Anies mengatakan pemasangan rumput pada trotoar itu hanya sementara.
Nanti akan dibongkar dan dibangun trotoar keras. "Sekarang belum, kami
siapkan rumput karena jauh lebih mudah untuk dibongkar kembali, karena
tempat itu belum selesai dibangun," katanya
<https://tirto.id/anies-sebut-trotoar-rumput-di-sudirman-hanya-untuk-sementara-cPVt>.
Baca juga: Trotoar Sudirman Dinilai Dikerjakan Secara Terburu-buru
<https://tirto.id/trotoar-sudirman-dinilai-dikerjakan-secara-terburu-buru-cPS5>
Pengamat tata kota Yayat Supriatna berkomentar soal pembangunan trotoar
yang sedang dilakukan di Jakarta, khususnya di Jalan Jenderal Sudirman.
"Artinya si perencana apakah dikejar waktu atau tidak dikoordinasikan,
kontraktornya enggak ngerti, sehingga mungkin tidak membuat cerukan.
Cerukan itu artinya kalau mobil disetop, dia enggak berhenti di tengah,
dia masuk ke dalam cerukan," kata Yayat.
/Pelican/ crossing yang menjadi pro dan kontra, karena di satu sisi
meningkatkan estetika dan memudahkan pejalan kaki, tapi di sisi lain
berpotensi menimbulkan kemacetan yang dinilai Yayat harus diatur lebih
lanjut.
"Sekarang prinsipnya bagaimana mensinkronkan semua kegiatan itu supaya
tidak punya implikasi terhadap masalah baru," tegasnya.
Sebelumnya Yayan menjelaskan, bahwa masalah /pelican crossing/ itu
awalnya karena keinginan Gubernur Anies untuk meningkatkan sisi
estetika, sedangkan polisi, "tidak ingin ada macet," katanya. /Pelican
crossing /yang dibuat dengan membongkar JPO.
"Nanti ada dua hambatan, hambatan di /pelican crossing/ dan hambatan di
lampu lalu lintas. Apalagi /pelican crossing/ itu kan harus diatur
penyeberangannya, kalau yang nyeberang satu orang menghentikan banyak
orang, kan enggak enak juga," kata Yayat.
Selain pemasangan rumput di trotoar Jalan Jenderal Sudirman dan /pelican
crossing/, polemik soal pengecatan trotoar kembali menjadi buah bibir
masyarakat. Trotoar yang semula berwarna hitam putih dicat warna-warni
untuk menyambut Asian Games, kembali dicat hitam-putih karena ada
peraturan yang harus dipatuhi.
Baca juga:
* Pelican Crossing: Arti dan Bagaimana Konsepnya?
<https://tirto.id/pelican-crossing-arti-dan-bagaimana-konsepnya-cPZf>
* Koalisi Pejalan Kaki Kritisi Wacana Pelican Cross di Bundaran HI
<https://tirto.id/koalisi-pejalan-kaki-kritisi-wacana-pelican-cross-di-bundaran-hi-cPPx>
Bagaimana Trotoar Ideal bagi Pejalan Kaki?
Pada Agustus 2017 beberapa peneliti dari Universitas Standford membuat
sebuah penelitian yang dimuat di /New York Times
<https://www.nytimes.com/2017/08/20/world/asia/jakarta-walking-study-sidewalks.html>/
mencatat Indonesia menjadi salah satu negara yang warga negaranya paling
sedikit berjalan kaki, dengan rata-rata hanya 3.513 langkah per hari.
Sebagai perbandingannya, Hong Kong menduduki peringkat pertama negara
paling banyak berjalan dengan 6.880 langkah, dan Cina kedua dengan 6.189
langkah. Ukraina, Jepang, dan Rusia melengkapi posisi lima besar.
Jakarta sebagai wilayah metropolitan yang jumlah penduduknya sekitar 30
juta jiwa ini merupakan potret kota yang menyengsarakan rakyatnya dalam
urusan berjalan. Dalam penelitian yang diwartakan /New York Times/ itu,
hanya 7 persen dari 4.500 mil jalan di Jakarta yang memiliki trotoar.
"Trotoarnya buruk, sepeda motor dijalankan di trotoar," kata Tim
Althoff, seorang kandidat doktor asal Jerman dalam ilmu komputer di
Stanford yang memimpin penelitian tersebut.
Baca juga: Trotoar Sarinah Contoh Buruk Sarana Umum untuk Difabel di DKI
<https://tirto.id/trotoar-sarinah-contoh-buruk-sarana-umum-untuk-difabel-di-dki-cP55>
Alih-alih berjalan, penduduk Jakarta dan daerah perkotaan lainnya lebih
memilih menggunakan mobil, bus, taksi, dan sepeda motor untuk menempuh
jarak sejauh 200 meter, atau 650 kaki, daripada berjalan kaki.
Ada beberapa aspek yang dapat dijadikan ukuran untuk melihat suatu
trotoar sudah layak memenuhi syarat kelayakan untuk lingkungan pejalan
kaki atau belum. Seperti ditulis dalam hasil penelitian Juriah, dkk
(2014) yang berjudul “Comfort of Walking in the City Center of Kuala
Lumpur”, aspek pertama untuk trotoar adalah “dapat dilalui” oleh pejalan
kaki. Kedua, aspek kenyamanan ketika berjalan, yang ketiga aspek
konektivitas dan aksesibilitas, dan yang terakhir adalah aspek keamanan.
Infografik Trotoar yang Ideal
Merujuk laporan World Bank (pdf
<http://siteresources.worldbank.org/INTTRANSPORT/Resources/tp-18-walk-urban.pdf>),
dukungan secara menyeluruh terhadap lingkungan pejalan kaki atau
/walkability/ telah menjadi semakin sebagai dunia urban dimana saat ini
orang-orang cenderung lebih menggunakan kendaraan bermotor yang dapat
mengancam menggantikan atau membatasi pejalan kaki.
Kekhawatiran tersebut mencakup hampir setiap aspek pengalaman pejalan
kaki. Keterjangkauan akses orang-orang untuk berjalan memperhitungkan
kualitas dari fasilitas pejalan kaki, kondisi jalan, pola penggunaan
lahan, dukungan masyarakat, keamanan, dan kenyamanan untuk berjalan.
Baca juga: Lucu-lucuan Beautifikasi Kota Ala DKI
<https://tirto.id/lucu-lucuan-beautifikasi-kota-ala-dki-cQqB>
Bagi daerah perkotaan di negara-negara berkembang, di mana tingkat
perpindahan penduduk yang tinggi, populasi miskin yang besar, dan
kepadatan penduduk yang tinggi, berjalan adalah satu-satunya pilihan
yang tersedia. Kaum miskin kota tidak mampu membiayai alternatif lain.
Itulah sebabnya keadaan lingkungan pejalan kaki sangat penting untuk
memungkinkan pejalan kaki mencapai kebutuhan mereka dalam kehidupan
sehari-hari.
Selain itu, fasilitas publik harus bisa diakses oleh semua warga. Dalam
perencanaan fasilitas jalan raya, dan trotoar, pertanyaan-pertanyaan ini
perlu dijawab: Apakah anak-anak dapat pergi ke sekolah? Apakah kaum
wanita dapat melakukan perawatan pasca-melahirkan? Apakah orang tua dan
penyandang disabilitas dapat beraktivitas secara mandiri dalam kehidupan
di masyarakat?
Baca juga artikel terkait PENATAAN TROTOAR
<https://tirto.id/q/penataan-trotoar-lHi?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Ramdan Febrian
<https://tirto.id/author/ramdanfebrian?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Politik)
Reporter: Ramdan Febrian
Penulis: Ramdan Febrian
Editor: Maulida Sri Handayani
Trotoar harus dapat dilalui, aksesibel, nyaman, dan aman