https://x.detik.com/detail/investigasi/20180803/Adu-Kuat-AHY,-Anies,
-dan-Salim-Segaf/index.php
Adu Kuat AHY, Anies,
dan Salim Segaf
PKS /ngotot /menjadikan kadernya cawapres Prabowo. AHY disorongkan
Demokrat. Gerindra menyebut Anies.
Ilustrasi: Edi Wahyono
Jumat, 3 Agustus 2018
Malam itu, Selasa, 31 Juli 2018, Zulkifli Hasan hanya duduk-duduk santai
di rumah dinas Ketua MPR, Jalan Widya Chandra, Jakarta. Padahal malam
itu ada pertemuan ketua umum parpol pendukung capres Prabowo Subianto,
yakni Gerindra, PAN, dan PKS, di rumah pengusaha Maher Algadri di Jalan
Prapanca Dalam VI, Jakarta Selatan.
Agenda pertemuan adalah membahas hasil Ijtimak Ulama yang digelar pada
27 Juli, yang menetapkan Ketua Dewan Syuro PKS Salim Segaf Aljufri dan
Ustaz Abdul Somad Batubara menjadi kandidat cawapres bagi Prabowo.
Namun, sampai pukul 20.35 WIB, Zulkifli belum juga beranjak dari rumah
dinasnya. Ketua Umum PAN tersebut hanya mengutus sekjennya, Eddy
Soeparno, untuk hadir.
“Pak Zul malas ke sana karena agendanya sudah jelas: PKS mau menekan
Prabowo untuk menerima Salim Segaf,” ujar sumber *detikX* di kalangan
internal PAN.
Namun, pada pukul 21.00 WIB, Zulkifli berubah pikiran dan bergegas ke
rumah Maher menyusul Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, Presiden PKS
Sohibul Iman, termasuk Salim Segaf. “Karena ditelepon Pak Amien Rais
disuruh datang, Pak Zul akhirnya berangkat,” ujar sumber tersebut. Amien
memang hadir dalam pertemuan itu.
Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Aljufrie
*Foto : Gloria Safira Taylor/CNN Indonesia*
Prabowo pernah bertemu dengan Salim sebelum Ijtimak Ulama digelar
dan bilang, ‘Kalau Anda maju sama saya, ya kita bisa kalah, Pak Ustaz.”
Saat dicegat wartawan di rumah Maher, Zulkifli Hasan hanya menjawab
singkat terkait kedatangannya ke rumah Maher. ”Saya datang silaturahmi,
makan sate. Itu saja, ya,” ucap Zulkifli sambil tersenyum.
Prabowo dan elite PAN dikabarkan memang kurang sreg atas sikap PKS, yang
terkesan memaksakan Salim Segaf menjadi cawapres Prabowo dengan dalil
sudah ditetapkan lewat Ijtimak Ulama. Sumber *detikX* di barisan
pendukung Prabowo menceritakan orang-orang yang hadir dalam acara di
Ijtimak Ulama itu sudah diatur oleh PKS, sehingga nama Salim Segaf
muncul. Padahal, dari segi survei, elektabilitas Salim Segaf jeblok.
“Prabowo pernah bertemu dengan Salim sebelum Ijtimak Ulama digelar dan
bilang, ‘Kalau Anda maju sama saya, ya kita bisa kalah, Pak Ustaz,’”
jelas sumber tersebut menirukan ucapan Prabowo kepada Salim Segaf.
Buntutnya, saat berpidato di acara Ijtimak Ulama, Prabowo mengatakan,
bila ada yang lebih baik, dia tidak akan maju. “Itu soal Salim Segaf itu
sebenarnya,” ujarnya.
Soal munculnya nama Abdul Somad, dikatakan itu hanya rekayasa. Sebab,
kubu Salim Segaf tahu Abdul Somad bakal menolak rekomendasi Ijtimak
Ulama tersebut.
Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)
*Foto : Mesha Mediani/CNN Indonesia*
Ijtimak Ulama digagas oleh Persaudaraan Alumni 212. Sebelum acara itu,
mereka telah menelurkan rekomendasi nama capres-cawapres. Dari sembilan
nama cawapres, terbanyak berasal dari PKS. Namun, uniknya, tidak ada
nama Salim Segaf dalam rekomendasi cawapres.
Sekjen PKS Mustafa Kamal secara terpisah memang menegaskan partainya
tetap memegang teguh rekomendasi Ijtimak Ulama yang merekomendasikan
Salim Segaf dan Abdul Somad sebagai cawapres bagi Prabowo.
"Pokoknya PKS memegang teguh dan menjunjung tinggi Ijtimak Ulama. Kita
bersama ulama, bersama umat, bersama rakyat Indonesia untuk bangsa
Indonesia yang lebih baik," ujar Mustafa kepada wartawan setelah
mengikuti pertemuan Sekjen Gerindra, PKS, Demokrat, dan PAN di kediaman
Sekjen Gerindra Ahmad Muzani, Jalan Kemang V, Jakarta Selatan, Rabu, 1
Agustus.
Bahkan Direktur Pencapresan PKS Suhud Aliyudin mengatakan PKS
mempertimbangkan opsi abstain pada Pilpres 2019 jika akhirnya tak ada
kader PKS yang dipilih jadi cawapres. "Itu salah satu opsi yang mungkin
diambil kalau memang situasinya tidak memungkinkan. Tapi itu tergantung
pembahasan pimpinan DPP dan Majelis Syuro. Kira-kira sikap resmi PKS itu
seperti apa ketika ada nama lain yang diusulkan," kata Suhud.
Ancaman opsi abstain PKS dianggap Wasekjen PAN Saleh P Daulay tidak elok
dalam proses demokrasi. Dia meminta PKS tidak terlalu galau jika
kadernya tak dipilih sebagai cawapres. Bagi Saleh, yang terpenting
bagaimana cara memenangkan Prabowo. Sedangkan urusan cawapres
dibicarakan di forum bersama parpol koalisi. “Masing-masing partai kan
punya kader yang potensial untuk jadi cawapres Prabowo. Tapi itu semua
diputuskan secara bersama, tidak sepihak oleh salah satu parpol,” tutur
Saleh.
Uztad Abdul Somad
*Foto : *Safir Makki/CNN Indonesia
Sementara itu, Prabowo tidak banyak berbicara tentang calon
pendampingnya. Saat ditemui wartawan di Jalan Kertanegara IV, Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan, Rabu, 1 Agustus, Prabowo hanya memberikan kode
bahwa cawapresnya akan diumumkan beberapa hari menjelang penutupan
pendaftaran capres-cawapres.
“Rajin amat kalian. Tenang, tenang, tenang, tiga (atau) empat hari lagi,
(atau) lima hari lagi. Tenang saja," kata Prabowo seraya berlalu dengan
mobil SUV Lexus warna putih bernopol B-17-GRD yang ditumpanginya.
Meski begitu, belakangan tersiar kabar bahwa nama Salim Segaf memudar
karena Demokrat secara mengejutkan mengajukan Agus Harimurti Yudhoyono
untuk mendampingi Prabowo sebagai cawapres. Pertimbangannya, dari
sejumlah hasil survei, nama AHY lebih moncer dibanding kandidat lain,
seperti Salim Segaf, Zulkifli Hasan, maupun Abdul Somad.
"Dia kan elektabilitasnya paling tinggi di antara lainnya," kata Wakil
Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan. Kendati begitu, Gerindra
maupun partai-partai koalisi Prabowo masih kurang percaya diri dengan
AHY. Nama AHY pun tengah dibahas secara intens di tingkat sekjen parpol
pendukung Prabowo. Terakhir, Sekjen Gerindra Ahmad Muzani menyebut nama
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga ikut digodok.
------------------------------------------------------------------------
*Reporter/Penulis:* Ibad Durohman
*Redaktur:* Deden Gunawan
*Editor:* Irwan Nugroho
*Desainer:* Luthfy Syahban