https://www.antaranews.com/berita/733470/pakar-generasi-muda-harus-
melek-bahasa-coding
Pakar: generasi muda harus
melek bahasa coding
Sabtu, 4 Agustus 2018 23:21 WIB
Orasi Ilmiah Presiden Joko Widodo Presiden Joko Widodo (kiri) bersama
Rektor IPB Herry Suhardiyanto (kanan) dan anggota guru besar IPB
berbincang saat sidang terbuka di Grha Widya Wisuda, Kampus IPB,
Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (6/9/2017). Sidang terbuka
dalam rangka Dies Natalis IPB ke-54 yang dihadiri ribuan civitas akademi
IPB tersebut mengangkat tema Pengarusutamaan Pertanian untuk Kedaulatan
Pangan Indonesia. (ANTARA/Arif Firmansyah)
Dengan coding, kita bisa menjadi tuan dari mesin-mesin cerdas yang akan
hadir di masa depan
Bogor, (ANTARA News) - Bangsa Indonesia harus mulai mempersiapkan
generasi yang melek bahasa pemrograman komputer atau /codin/g untuk
menghadapi era industri 4.0, kata Guru Besar Tetap Fakultas Teknologi
Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Yandra Arkeman.
"Di masa depan ada dua hal yang akan membentuk peradaban manusia,
yakni pertama, penggunaan teknologi digital maju seperti kecerdasan
buatan (/Artificial Intelligence/AI/) dan /blockchain/ di berbagai
bidang kehidupan," kata Yandra dalam orasi ilmiahnya di Kampus IPB
Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Sabtu.
Menurutnya, teknologi akan membahayakan umat manusia kalau manusianya
tidak siap. Untuk itu, anak-anak Indonesia yang akrab dengan gawai,
jangan hanya menjadi pengguna tapi harus jadi tuan dari gawai tersebut.
"Salah satu ilmunya adalah /coding/. Dengan /coding/, kita bisa
menjadi tuan dari mesin-mesin cerdas yang akan hadir di masa depan,"
katanya.
Prof Yandra menjelaskan, /coding/ atau pengkodean dalam bahasa
program adalah bagaimana cara manusia memberikan instruksi kepada komputer.
"Di luar negeri, anak-anak usia sekolah dasar sudah diajari bahasa
`/coding/`. Kita harus mulai, kalau tidak kita akan ketinggalan," katanya.
Menurutnya, coding adalah elemen terkecil dari kecerdasan buatan,
karena belum ada komputer yang bisa menyuruh dirinya sendiri.
Saat ini, lanjutnya, alatnya banyak tapi ahli /coding/nya sedikit,
hal ini yang jadi masalah.
"Kita harus mulai menyiapkan manusia cerdas. Revolusi industri 4.0
kita harus kejar, tapi apakah ada inovasi di bidang kecerdasan buatan
yang akan menyebabkan terjadinya revolusi industri 5.0? Kapan itu akan
terjadi?" katanya.
Lebih lanjut ia memaparkan, revolusi Industri 5.0 mungkin perlu waktu
100 tahun lagi, tetapi yang jelas manusia Indonesia perlu mempersiapkan
diri untuk era setelah 4.0. Yakni era perkembangan teknologi kombinasi
antara `/blockchain/` dan AI (kecerdasan buatan).
"Di luar negeri, para pakar kecerdasan buatan sudah mengarah ke
sana," paparnya.
*Baca juga: Mentan tantang IPB buat alat sensor tanah
<https://www.antaranews.com/berita/669061/mentan-tantang-ipb-buat-alat-sensor-tanah>*
*Baca juga: Menperin: IPB kekuatan inti era Industri 4.0
<https://www.antaranews.com/berita/730927/menperin-ipb-kekuatan-inti-era-industri-40>*
Pembentuk peradaban berikutnya, ujar dia, adalah perkembangan
agroindustri secara masif untuk ketahanan pangan, energi dan
pengembangan biomaterial.
Menurutnya, dalam upaya memaksimumkan nilai tambah suatu produk,
agroindustri juga harus mulai menggunakan kecerdasan buatan.
"Teknologi ini, harus digunakan dalam seluruh rantai pasok," katanya.
Menurut Prof Yandra, beberapa tahun yang lalu, dirinya sudah
mengaplikasikan kecerdasan buatan untuk membangun agroindutri.
Salah satunya adalah `Smart TIN`, sebuah `software` yang dibuat hasil
kerja sama dengan perguruan tinggi di Amerika.
"Pengembangan Smart TIN bertujuan untuk merancang agroindustri dengan
lebih tepat, cepat dan efisien dengan jaringan syaraf tiruan, logika
fuzzy dan lain-lain," katanya.
Prof Yandra menambahkan, saat ini dirinya sedang mengerjakan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) desa kerja sama dengan salah satu
pusat di IPB berupa `drone` (pesawat kendali jarak jauh) desa dan
kecerdasan buatan.
Aplikasi teknologi pertanian presisi ini untuk mendeteksi
keanekaragaman hayati, yaitu bagaimana kecerdasan buatan ini dimasukkan
ke drone.?
"Drone ini akan ditambahkan penglihatan dan navigasi cerdas sehingga
bisa terbang sendiri tanpa operator," katanya.
Untuk agroindustri digital, lanjutnya, IPB akan segera meluncurkan
agrologistik digital. Yakni agroindustri yang memanfaatkan `blockchain`
yang berguna agar rantai suplai agroindustri ?lebih dapat dilacak,
transparan, efisien, dan tidak mudah dimanipulasi.
"Kami akan memulai dengan ?`blockchain` untuk komoditas coklat,
daging dan bawang merah," katanya.
Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018