https://x.detik.com/detail/intermeso/20180826/Hidup-di-Jakarta-Dikepung-Tinja/index.php
HIDUP DI JAKARTA DIKEPUNG TINJA
Ini lah rasanya bertahun-tahun hidup tanpa infrastruktur pembuangan
tinja. Tinja mencemari air dan membawa banyak penyakit.
Ilustrasi : Edi Wahyono
Foto-foto : Melisa Mailoa/Detik.com
Minggu, 26 Agustus 2018
Berjalan menyusuri lorong-lorong kampung di Kecamatan Tambora, Jakarta
Barat, seolah tersesat di dalam sebuah labirin raksasa. Semakin dalam
lorong-lorong sempit itu ditelusuri, makin pusing kepala menentukan arah
mata angin. Apalagi bau 'semriwing' kadang menyergap indra penciuman.
Sepuluh tahun lalu, ketika Ria pertama kali pindah ke Kelurahan Duri
Utara di Tambora, ia kaget bukan main. Ria berjalan menuju ke rumahnya
melewati lorong demi lorong, lebarnya paling hanya satu setengah meter.
Makin jauh berjalan, lorong itu makin sempit. Banyak gang bercabang yang
ujung dan pangkalnya bagai benang kusut.
Kondisi ini sangat kontras dengan kampung halamannya di Klaten, Jawa
Tengah. Dulu di kampung, begitu pintu rumah di buka, sepanjang mata
memandang Ria dapat melihat hamparan sawah menguning menjelang musim
panen. Demi ikut suami, dia terpaksa meninggalkan kampung halaman dan
pergi ke Jakarta.
“Waktu itu saya masih pengantin baru, diboyong suami. Karena dia kerja
di perusahaan konveksi di sini, jadi cari kontrakan yang dekat,” kata
Ria, kini ibu rumah tangga dengan dua anak. Ia pun terpaksa tinggal di
rumah kontrakan dua lantai berukuran 2 x 3 meter. Harga sewanya Rp 6
juta per tahun.
Dengan gaji suami, ditambah uang hasil kerjanya sebagai tenaga pengajar
kursus anak-anak SD, keluarga kecil Ria bertahan hidup di ibu kota. Tapi
kondisi lingkungan di RW 02 tempat Ria tinggal membuatnya sengsara.
Setiap hari Ria harus mencium bau tak sedap yang berasal dari selokan
penuh tinja dan sampah di sekitar rumah. Kebetulan selokan itu letaknya
hanya 2 meter dari rumah kontrakannya. Sampai-sampai Ria melarang dua
anaknya bermain di depan rumah.
Tak hanya itu, kualitas air tanah dari keran membuat Ria makin meringis.
Sebetulnya ia tak ingin menggunakan air keruh berwarna kecoklatan itu.
Tapi hanya air itu seperti itu yang keluar dari sumur. Ria hanya
menggunakan air tanah untuk keperluan mandi, mencuci piring dan baju.
Untuk memasak dan minum, ia terpaksa membeli air pikulan.
“Kotoran warga semua numpuk di kali karena dari toilet memang buangnya
langsung ke sana. Dari awal memang nggak ada septic tank. Di selokan itu
kalau lagi penuh-penuhnya sampai ada banyak belatung,” Ria menuturkan
dengan muka jijik.
*Baca Juga : Sandiaga dan Jakarta yang Darurat Tinja
<https://x.detik.com/detail/intermeso/20180825/Sandiaga-dan-Jakarta-Darurat-Tinja/index.php>*
Warga RW 02 tempat Ria tinggal memang kompak membuang hajat di selokan.
Bisa dibilang hampir tidak ada yang memiliki tangki penampungan tinja.
Meski dampak pencemaran akibat pembuangan tinja serampangan itu telah
terasa, warga merasa ‘sebodo amat’. Alasannya sebetulnya masuk di akal.
Membangun tangki septik di salah satu perkampungan terpadat se-Asia
Tenggara ini memang sulit bukan main. Jarak antar rumah nyaris tak ada.
Demikian pula lahan kosong. Padahal idealnya, jarak tangki septik dengan
sumur sumber air tanah tak kurang dari 10 meter.
Di Duri Utara, warga asli Tambora dan para pendatang seperti Ria, hidup
berjejal. Satu rumah mungil kadang bisa dihuni hingga tujuh keluarga
sekaligus. Beberapa rumah kontrakan beralaskan triplek juga lebih mirip
kandang ketimbang hunian. Biaya sewa memang sangat murah, Rp 200 ribu
per bulan. Tapi pengontrak tidak punya ruangan lain selain untuk
merebahkan badan. Sedangkan untuk urusan mandi dan buang hajat, mereka
menggunakan toilet umum berbayar. Toilet umum ini juga langsung
terhubung dengan selokan.
Mohon maaf nih ya, habis BAB (Buang Air Besar) dimasukin ke dalam
plastik, udah dibuang begitu aja di pinggir jalan atau di kali'
Saking kepingin gratis, ada pula warga yang menghalalkan segala cara
untuk membuang tinja. “Mohon maaf nih ya, habis BAB (Buang Air Besar)
dimasukin ke dalam plastik, udah dibuang begitu aja di pinggir jalan
atau di kali,” ujar Denny Aputra, Lurah Duri Utara.
Hidup bertahun-tahun dikepung tinja, hanya tinggal waktu saja,
penghuninya bakal kena dampaknya. Setelah melahirkan anak pertama, Ria
ketiban sial. Ia mengalami radang kulit akibat terpapar air yang
tercemar Escherichia coli, salah satu bakteri yang terdapat pada tinja
manusia.
Ketika kandungan di perutnya memasuki usia delapan bulan, rumah
kontrakannya beberapa hari direndam banjir. Air di kali meluap sehingga
membawa banyak sekali kotoran masuk ke dalam rumah. Karena tak bisa
diam, ia membantu suaminya membersihkan rumah.
Dokter di Puskemas mengatakan, Ria terkena infeksi radang kulit akibat
terpapar kotoran manusia. Akibatnya, sekujur tubuh Ria bengkak dan
timbul bisul-bisul kecil. Selama 40 hari ia seperti orang lumpuh. Tak
hanya Ria, anaknya yang baru lahir, Caca, juga sering sakit-sakitan.
Selama sebulan Caca bisa tiga kali bolak balik klinik karena diare dan
muntaber. Penyakitnya ini berulangkali kumat hingga Caca duduk di bangku
kelas 4 SD.
Data dari Puskesmas Kecamatan Tambora tahun 2015 menunjukkan, setiap
bulan terjadi sekitar 50 kasus diare di Kelurahan Duri Utara. Kasus
diare tertinggi menimpa warga RW 02. Pakar Gizi dari Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Diana Sunardi, menjelaskan, infeksi akibat
mikroba E. coli dapat terjadi ketika orang mengkonsumsi makanan atau air
yang tidak disterilkan. Penyakit ini sebetulnya mudah diobati dan dapat
dicegah dengan kebiasaan hidup bersih.
“Diare biasanya bisa pulih dalam waktu seminggu, tapi kalau sistem
kekebalan tubuh sedang menurun, bisa berakibat kematian. Makanya
dianjurkan cuci tangan sebelum makan. Dan jika terpaksa mengkonsumsi air
tanah atau sumur, satu-satunya cara menghilangkan bakteri adalah dengan
dimasak sampai mendidih,” dia menjelaskan.
Lucunya, program ini buat mereka malah jadi masalah. Program ini bukan
mereka yang mau. Tapi kami berusaha menjelaskan bahwa, ‘Nih ada program
yang bisa bikin lu berubah
Agus Susanto, warga Kelurahan Duri Utara, Jakarta Barat
..
..
Untung lah ada Yayasan Plan International Indonesia. Bekerja sama dengan
Kelurahan Duri Utara dan warga, juga sejumlah lembaga sosial seperti
Yayasan Tanggul Bencana Indonesia (YTBI), Yayasan Pembangunan Citra
Insan Indonesia (YPCII), SPEAK Indonesia dan WinDevelopment, organisasi
kemanusiaan internasional itu mencari solusi untuk mengolah air limbah
domestik di permukiman padat itu.
Dari acara rembuk bersama disimpulkan, urusan pengelolaan tinja di
pemukiman padat tidak bisa dituntaskan hanya dengan mengandalkan tangki
septik individual, tapi mesti menggunakan teknologi sanitasi berbasis
komunal. Maka jadi lah proyek BERSIH (Bersama Perbaiki Sanitasi dan
Higiene Kota) di Kelurahan Duri Utara. Hasilnya adalah Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL) Biofilter Komunal. Berada di tengah
pemukiman warga, IPAL Biofilter Komunal dihubungkan dengan jaringan
perpipaan dari rumah ke rumah sehingga air limbah domestik bisa dikelola
bersama.
IPAL Biofilter Komunal terdiri dari lima sampai enam bak penampungan dan
ditanam di dalam tanah. Masing-masing bak memiliki tugas berbeda,
diantaranya menampung, memadatkan, dan membusukkan tinja. Sisa air hasil
olahan tinja yang telah memenuhi standar baku mutu bisa dibuang kembali
ke sungai. Sementara lumpur tinja diangkut secara berkala oleh truk
tinja milik PD PAL Jaya. IPAL Biofilter mulai digarap pada Oktober 2016
dan tuntas pada Juli 2017.
Bagi rumah warga yang tidak kebagian jaringan perpipaan IPAL Biofilter
Komunal, mereka juga dipasangkan beberapa jenis tangki septik yakni satu
unit tangki pinastik, satu unit tangki tripikon dan empat unit tangki
silinder. “Duri Utara merupakan salah satu wilayah kumuh dan memiliki
kriteria perilaku sanitasi buruk. Kami menerapkan teknologi tepat guna
sehingga ke depan warga dapat dengan mudah mengelolanya,” ujar Herie
Ferdian, WASH Project Manager, Plan International Indonesia.
Total sebanyak 1323 warga menerima manfaat dari proyek ini. Namun
masalah tinja di Duri Utara tak seketika beres hanya dengan membangun
IPAL Biofilter Komunal. Untuk memastikan infrastruktur ini dikelola
dengan baik, dibentuk Sanitasi Total Berbasiss Masyarakat (STBM)
Kelurahan. “Program ini tidak 100 persen bantuan tapi dibutuhkan
partisipasi masyarakat. Tim STBM dibentuk tokoh masyarakat dan warga
yang secara alami memiliki kepedulian terhadap lingkungan,” Herie
menuturkan.
Agus Susanto, salah satu dari total 22 anggota STBM. Meski bukan warga
RW 02 yang merasakan langsung manfaat IPAL Biofilter Komunal, Agus
merasa terpanggil menjadi relawan. Awalnya Agus tidak habis pikir
bagaimana warga RW 02 bisa bertahan hidup diantara kepungan tinja.
Sedangkan dirinya saja tak akan sanggup melewati gang di sana tanpa
menahan nafas. Agus bergabung untuk mensosialisasikan manfaat dan
rencana pembangunan IPAL Biofilter Komunal kepada warga.
Bukannya sambutan hangat yang ia terima, warga justru merasa terganggu
dengan kehadirannya. “Lucunya, program ini buat mereka malah jadi
masalah. Program ini bukan mereka yang mau. Tapi kami berusaha
menjelaskan bahwa, ‘Nih ada program yang bisa bikin lu berubah,’” kata
Agus. Agar program ini bisa terus menggelinding, warga memang harus
membayar. “Mereka mikirnya malah nanti bikin ribet, mana harus bayar
iuran lagi.”
Setiap bulan tim STBM menagih iuran sebesar Rp 20 ribu per rumah. Uang
itu digunakan untuk biaya perawatan IPAL Biofilter Komunal sekaligus
penyedotan sisa limbah tinja. Berapa pun jumlah anggota penghuni rumah,
semuanya dikenakan iuran yang sama. Tapi selama program ini berjalan ada
saja warga yang berutang bahkan hingga berbulan-bulan. Terkadang tim
STBM terpaksa menambal sulam utang sampai dilunasi warga.
Biasanya Lurah Duri Utara, Denny Aputra, turun tangan menangani warga
membandel. Jika tidak patuh, Denny memberikan sanksi tegas berupa
penutupan pipa air limbah. Tanpa saluran tersebut otomatis toilet akan
mampet. Sanksi ini juga berlaku bagi rumah di RW lain yang kedapatan
belum mempunyai tangki septik. Tak hanya masalah utang. Tim STBM juga
harus menghadapi berbagai macam karateristik warga.
Tuti Suryati, salah seorang tim STBM yang sehari-hari berprofesi seorang
guru TK pernah mendapat ancaman. Warga nekat meneror Tuti lantaran pipa
yang terhubung dengan IPAL Biofilter Komunal saban hari mampet. “Dia
malah marah-marah ke saya, 'Ini /gimana/ sih malah mampet/entar/ /gua
bacok-bacokin lu/',” ujar Tuti dalam logat Betawi yang kental menirukan
reaksi seorang warga.
Mendapat perlakuan tidak menyenangkan, terkadang ingin rasanya Tuti masa
bodo dengan proyek BERSIH itu. Namun melihat manfaat dan perubahan
lingkungan yang dirasakan warga justru membuatnya semakin terpacu untuk
menyuarakan pentingnya sanitasi. “Kadang kalau dipikir, iya ya /elu mah/
enak tinggal pada /modol/, kita yang urusin. Tapi mau /gimana/ lagi, ini
penting supaya ke depannya terus berjalan selama mungkin, selama orang
masih pada berak.”
Kadang kalau dipikir, iya ya elu mah enak tinggal pada modol, kita
yang urusin. Tapi mau gimana lagi, ini penting supaya ke depannya
terus berjalan selama mungkin, selama orang masih pada berak
Setahun setelah proyek BERSIH berjalan, kondisi gang di Kelurahan Duri
Utara memang tak banyak berubah. Tapi setidaknya dua sudut lorong di RW
02 suasanannya tak sesuram dulu. Dari balik gang itu terdengar
sayup-sayup suara seorang wanita paruh baya mendendangkan lagu
'Terlena'. Lagu yang dipopulerkan pedangdut Ikke Nurjanah di akhir tahun
90-an. “Aku terharu dan terbuai, aku terlena.. terlena.. ku terlena,”
bibir Suharti lincah bergerak mengikuti irama dari radio hitam
kesayangannya.
Ketika dihampiri, wanita asal Sumedang, Jawa Barat ini sedang bersantai
sambil menunggu cucunya pulang sekolah. Ia duduk persis di atas IPAL
Biofilter Komunal. Lokasi dimana IPAL Biofilter Komunal tertanam kini
bertambah fungsi menjadi ruang terbuka dadakan. Tembok dan lantai di
sekelilingnya pun diberi cat warna warni.
“Sekarang enak udah bisa nafas lega. Bahkan siang-siang emak-emak di
sini pada ngumpul makan. Padahal dulu sebelahnya persis selokan yang
isinya tinja. Sekarang bahkan airnya udah ngalir lancar,” kata Suharti
sumringah.
Semenjak pemasangan IPAL Biofilter Komunal bukan cuma kondisi lingkungan
yang berubah. Kelurahan Duri Utara khususnya di RW 02 juga mengalami
perbaikan kesehatan. Data Puskesmas Kecamatan Tambora menunjukan dari
tahun 2017 ke 2018 terdapat penurunan kasus diare sebesar 57,65%. Namun
peningkatan yang cukup signifikan seharusnya tidak lantas membuat warga
berpuas diri.
“Walaupun dari berbagai macam aspek sudah banyak perubahan. Tapi air
selokan masih belum bebas dari pencemaran. Faktornya karena antara satu
selokan dengan selokan lain saling terhubung. Artinya kalau mau
menyelesaikan masalah ini harus menyeluruh. Nggak bisa di satu RW atau
satu kelurahan saja, tapi semua harus diperbaiki,” kata Herie Ferdian
dari Plan International Indonesia.
------------------------------------------------------------------------
*Reporter/Penulis:* Melisa Mailoa
*Editor:* Sapto Pradityo