http://id.beritasatu.com/macroeconomics/refinancing-utang/179959
*Refinancing Utang* *Oleh Triyan Pangastuti dan Nasori* | Selasa, 4 September 2018 | 21:06 Pada kesempatan terpisah, ekonom dari Indef Bhima Yudhistira menilai positif *rating *BBB tersebut, jika dibandingkan *rating *Indonesia BBB- pascakrisis tahun 2000. Hal ini menunjukkan ketahanan Indonesia terhadap risiko global masih cukup baik. Apalagi, afirmasi tersebut diberikan di tengah negara lain mengalami kesulitan menerbitkan surat utang. Ia menilai, *rating *Indonesia yang BBB masih cukup menarik untuk investor. “Daya tarik tidak sekadar dari bunga, tapi risiko utangnya juga terjaga. Jadi, sekarang dan seterusnya, bagaimana menjaga dengan pengendalian sisi inflasi dan sisi defisit,” ujar Bhima saat dihubungi *Investor Daily*, Jakarta, Senin (3/9). Ia menilai langkah pemerintah sudah bagus dengan menurunkan target defisit anggaran 2019 menjadi 1,8% terhadap PDB. Demikian pula, dari sisi defisit keseimbangan primer tahun depan ditargetkan menurun. Hal ini menunjukkan postur APBN semakin bagus, sehingga semakin menunjang peringkat *rating * utang. Tantangan ke depan mengenai tren suku bunga yang secara global mengalami kenaikan, lanjut dia, harus diwaspadai. “Diwaspadai pula pelemahan nilai tukar rupiah, sehingga utang luar negeri tetap sehat. Indonesia perlu lebih banyak menerbitkan surat utang denominasi rupiah, sehingga tidak terganggu risiko kurs yang berlebihan,” ucapnya. Ia menuturkan, Fitch telah mempertimbangkan banyak faktor yang terjadi sebelumnya. Hal ini bisa menjadi *assessment *risiko yang akan digunakan investor dalam membeli surat utang. “Dengan *rating *ini, investasi akan masih cukup positif, baik realisasi investasi maupun investasi baru yang masuk. *Rating *itu salah satu indikator. Jika indikator masih cukup bagus dengan inflasi yang juga masih terjaga di bawah target 3,5%, itu salah satu sinyal yang positif untuk ke depan,” tandasnya. Ia menegaskan, pertama, pemerintah ke depan perlu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kedua, meningkatkan kinerja ekspor agar defisit neraca perdagangan dapat ditekan lebih rendah dan membantu mengendalikan depresiasi rupiah. Ketiga, menjaga pengelolaan utang yang baik, karena hingga akhir tahun ini jumlah utang yang jatuh tempo cukup besar. Selanjutnya, tahun 2019 ada sekitar Rp 400 triliun utang jatuh tempo. “Pemerintah harus siapkan mitigasi risiko dan strategi untuk melakukan *refinancing *utang. Selain itu, pemerintah dan BI harus melakukan sinergi. Jika dari BI dengan menaikkan suku bunga acuan, dari sisi pemerintah dengan memberikan insentif atau stimulus fiskal untuk sektor industri, serta mendorong ekspor dengan pembukaan pasar baru,” ucapnya. *(en)*
