https://www.antaranews.com/berita/748386/rupiah-dianggap-kokoh-menjelang-pemiliu-2019
Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Rupiah dianggap kokoh
menjelang pemiliu 2019
Jumat, 14 September 2018 21:40 WIB
Ilustrasi - Petugas menata pecahan dolar Amerika di salah satu gerai
penukaran mata uang di Kwitang, Jakarta Pusat, Selasa (8/5/2018).
(ANTARA/Sigid Kurniawan)
Indonesia adalah rumah kita bersama. Tidak ada yang diuntungkan kalau
rumah kita runtuh.
Jakarta, (ANTARA News) - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam
rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Selasa (4/9),
mengatakan perlemahan rupiah terhadap dolar AS disebabkan oleh tekanan
global maupun domestik.
Sri Mulyani menyebut fenomena ini dengan istilah /perfect storm /atau
badai yang sempurna, karena kombinasi persoalan yang menyelimuti di luar
maupun dalam negeri terjadi dalam waktu yang bersamaan.
Ia menjelaskan penyebab eksternal dari depresiasi rupiah terhadap dolar
AS adalah pembalikan modal ke negara maju sebagai dampak dari
normalisasi kebijakan moneter dan kenaikan suku bunga oleh The Federal
Reserve (Bank Sentral AS).
Kondisi ini diperparah oleh potensi terjadinya perang dagang antara AS
dengan China serta guncangan ekonomi yang terjadi di negara-negara
berkembang seperti Argentina maupun Turki.
Sri Mulyani mengakui lingkungan ekonomi global yang menantang seperti
ini masih dapat terjadi tahun depan dan diperkirakan dapat memberikan
dampak negatif terhadap negara-negara berkembang pada 2019.
Berbagai tekanan eksternal ini didukung oleh buruknya kondisi domestik
yaitu defisit neraca transaksi berjalan yang hingga semester I tahun
2018 telah tercatat 13,7 miliar dolar AS atau 2,6 persen terhadap PDB.
Realisasi tersebut sedikit mengkhawatirkan karena defisit neraca
transaksi berjalan Indonesia untuk keseluruhan 2017 hanya mencapai 17,3
miliar dolar AS atau 1,7 terhadap PDB.
Untuk itu, pemerintah mulai melakukan pembenahan terhadap defisit neraca
transaksi berjalan guna memperkuat fundamental ekonomi yang saat ini
tercatat dianggap masih cukup baik.
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengharapkan penguatan
fundamental ekonomi tersebut dapat membedakan Indonesia dengan
negara-negara berkembang lainnya yang kebijakan ekonominya tidak
konsisten dengan kondisi fundamental.
"Kami berharap, dengan kehati-hatian ini, Indonesia dapat dibedakan dari
/emerging countries/ lain yang fundamental ekonominya lebih rapuh dan
kebijakan ekonominya tidak mencerminkan pondasi mereka," ujar Sri Mulyani.
Dari sisi fiskal, upaya pengelolaan dengan menjaga kinerja penyerapan
anggaran dan penerimaan perpajakan juga dilakukan untuk memberikan
kepastian kepada pengelola dana terhadap prospek ekonomi Indonesia pada
masa depan.
Pembenahan beri dampak positif
Dalam kesempatan terpisah, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza
Adityaswara mengatakan tekanan domestik yang sedikit mereda pada 2019
akan memberikan dampak positif pada kinerja defisit neraca transaksi
berjalan.
Mirza mengatakan penyebab domestik yang bisa membantu mengurangi tekanan
terhadap defisit neraca transaksi berjalan adalah realisasi dari
penjadwalan ulang proyek infrastruktur yang bermanfaat mengurangi impor
bahan baku.
Selain itu, kata dia, pelaksanaan dari penggunaan energi biodiesel (B20)
juga bermanfaat untuk mengurangi impor migas, terutama solar, yang
selama ini menjadi salah satu penyebab tingginya defisit neraca
transaksi berjalan.
Pemerintah juga telah berupaya untuk menekan impor barang konsumsi dan
mendorong produksi domestik dengan menaikkan tarif pajak penghasilan
(PPh) pasal 22 terhadap 1.147 barang konsumsi impor.
Mirza mengharapkan kondisi perbaikan defisit neraca transaksi berjalan
ini secara tidak langsung bisa memberikan efek positif kepada pergerakan
nilai tukar rupiah pada 2019, yang saat ini masih bergejolak akibat
tekanan global.
Realisasi defisit neraca transaksi berjalan yang hingga semester I-2018
tercatat sebesar 13,7 miliar dolar AS atau 2,6 persen terhadap PDB
menjadi alasan dari sisi domestik penyebab terjadinya perlemahan rupiah
terhadap dolar AS.
Meski demikian, tekanan terhadap mata uang diperkirakan ikut berkurang
pada 2019, sehingga volatilitas kurs diproyeksikan akan lebih rendah
daripada 2018, seiring dengan berakhirnya normalisasi kebijakan moneter
Bank Sentral AS.
Menurut rencana, otoritas moneter dari negara adidaya tersebut mulai
perlahan-lahan menghentikan penyesuaian suku bunga acuan pada 2019,
sehingga investasi portofolio diperkirakan kembali masuk ke negara
berkembang.
"Intinya 2019 itu kenaikan suku bunga AS sudah setop. Kalau sudah setop,
tekanan dari sentimen negatif dari kenaikan suku bunga AS pada 2019 juga
mudah-mudahan sudah hilang," ujar Mirza.
Saat ini, Bank Sentral AS diperkirakan masih akan melakukan penyesuaian
suku bunga acuan sebanyak dua kali lagi hingga akhir 2018, dan akan
melakukan hal serupa sebanyak dua atau tiga kali pada 2019.
Selain itu, berkurangnya dampak negatif dari perang dagang yang
dilakukan China dan AS juga dapat membantu stabilisasi rupiah tahun 2019
yang diperkirakan berada pada kisaran Rp14.300-14.700 per dolar AS.
Rupiah tidak dalam krisis
Harapan pengelola fiskal maupun otoritas moneter ini, didukung riset
terbaru dari Nomura Holdings Inc yang menyatakan Indonesia merupakan
salah satu dari delapan negara berkembang yang mempunyai risiko kecil
atas terjadinya krisis mata uang.
Indonesia setara dengan negara berkembang lain yang juga mempunyai
risiko rendah terhadap krisis mata uang seperti Brasil, Bulgaria,
Kazakhstan, Peru, Filipina, Rusia dan Thailand.
Laporan ini menyatakan berbagai langkah yang sudah dilakukan otoritas
moneter maupun pemerintah Indonesia untuk menjaga pergerakan nilai tukar
telah berjalan dengan efektif.
Indonesia juga dinilai telah memiliki cadangan devisa untuk menahan
depresiasi rupiah serta berbagai upaya untuk memperbaiki defisit neraca
transaksi berjalan dan membuat APBN yang kredibel.
Dalam kesempatan ini, Nomura juga memberikan sinyal bahwa tujuh negara
berkembang mengalami risiko krisis nilai tukar yang tinggi yaitu Sri
Lanka, Afrika Selatan, Argentina, Pakistan, Mesir, Turki dan Ukraina.
Negara-negara lain seperti Malaysia, Meksiko, China, Vietnam, India,
Korea Selatan maupun Polandia, juga mendapatkan penilaian "merah", meski
dalam skala krisis yang rendah.
Riset Nomura ini didasarkan pada model peringatan dini yang bernama
Damocles, yang mengacu pada salah satu tokoh dalam mitologi Yunani.
Damocles dibangun untuk mengidentifikasi potensi krisis mata uang di 30
negara berkembang dengan mempelajari beberapa indikator, termasuk
cadangan devisa, tingkat utang, suku bunga, aliran dana dan impor.
Semakin tinggi skor Damocles suatu negara, maka semakin rentan negara
tersebut mengalami krisis, seperti yang saat ini dialami Sri Lanka
dengan nilai 175, atau yang tertinggi diantara negara berkembang lainnya.
Model ini dengan tepat telah memprediksikan sekitar 67 persen dari
krisis mata uang di 54 negara berkembang sejak 1996, sekitar 12 bulan
sebelum krisis terjadi.
Beberapa diantaranya seperti krisis finansial Asia pada 1997, krisis
keuangan Rusia pada 1998 serta guncangan ekonomi yang baru-baru ini
terjadi di Argentina, Turki, Afrika Selatan dan Pakistan.
Deputi Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-Isu Ekonomi Strategis Kantor
Staf Presiden Denni Puspa Purbasari juga mengatakan pergerakan rupiah
terhadap dolar AS saat ini jauh dari mendekati situasi ketika terjadi
krisis keuangan pada 1997-1998.
Ia juga meyakini koordinasi antara pemerintah, BI maupun OJK dalam
keadaan baik untuk menjaga kinerja perekonomian, karena volatilitas
rupiah tidak terjadi terlalu tinggi, seperti di negara berkembang lainnya.
Untuk itu, Denni mengharapkan masyarakat tidak panik dan mendukung
berbagai langkah yang dilakukan guna menekan perlemahan rupiah yang
sejak awal tahun telah terdepresiasi sebesar sembilan persen.
Peraih PhD dari University of Colorado at Boulder ini juga mengharapkan
para pelaku politik untuk tidak menjadikan situasi ekonomi yang sedang
bergejolak sebagai komoditas politik menjelang pemilihan umum.
"Jangan menggunakan apa yang terjadi pada rupiah sekarang untuk
kepentingan konstestasi politik. Indonesia adalah rumah kita bersama.
Tidak ada yang diuntungkan kalau rumah kita runtuh," katanya.*
*Baca juga: OJK yakini industri keuangan mampu tangkal pelemahan rupiah
<https://www.antaranews.com/berita/747129/ojk-yakini-industri-keuangan-mampu-tangkal-pelemahan-rupiah>
Baca juga: Pemerintah sebut pelemahan rupiah tidak perlu dikhawatirkan
berlebihan
<https://www.antaranews.com/berita/747062/pemerintah-sebut-pelemahan-rupiah-tidak-perlu-dikhawatirkan-berlebihan>*
Pewarta: Satyagraha
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018