Artikel -
Perempuan: antara mak dan ibu bangsa
Sabtu, 15 September 2018 14:43 WIB
Artikel - Perempuan: antara mak dan ibu bangsa
Presiden Joko Widodo (ketiga kanan) dan Ketua Kowani Giwo Rubianto
Wiyogo (ketiga kiri) berfoto dengan peserta Sidang Umum International
Council of Woman (ICW) di Yogyakarta, Jumat (14/9/2018). Presiden
membuka secara resmi Sidang Umum ke-35 International Council of Woman
(ICW) dan Temu Nasional 1.000 Organisasi Perempuan Indonesia. ANTARA
FOTO/Hendra Nurdiyansyah/wsj.
Yogyakarta (ANTARA News) - Mak dan ibu memiliki arti yang sama,
setidaknya begitu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Mak bermakna orang tua perempuan, ibu; sebutan kepada orang perempuan
yang patut disebut ibu atau dianggap sepadan dengan ibu.
Ibu berarti wanita yang telah melahirkan seseorang, mak; sebutan untuk
wanita yang sudah bersuami; panggilan yang takzim kepada wanita, baik
yang sudah bersuami maupun yang belum.
Mak atau ibu adalah perempuan, wanita, atau kaum hawa.
Tak ada beda di antara keduanya, sama-sama insan mulia, sama-sama
dihormati dan disayangi, dan sama-sama memiliki peran yang sama.
Hanya nilai rasa ketika menyebut kedua istilah itu dan kebiasaan
menggunakannya yang membuat seolah-olah antara keduanya menjadi "berbeda".
Pada pemahaman atas istilah mak, misalnya, berkonotasi kedaerahan
sedangkan ibu menasional.
Dalam konteks kekinian, terlebih pada tahun politik saat ini, menjelang
Pemilihan Umum 2019, banyak istilah dipakai sebagai pencitraan untuk
merujuk pada kelompok atau kubu tertentu.
Begitu pula dengan istilah mak-mak dan ibu bangsa.
Pemakaian istilah mak-mak, atau kerap di berbagai media massa ditulis
emak-emak, kemudian diasosiasikan pada kubu pasangan calon presiden
Prabowo Subianto dan calon wakil presiden Sandiaga Uno, terlebih dalam
berbagai kesempatan kerap melibatkan banyak perempuan.
Padahal istilah mak-mak, dalam konteks kekinian,popular, menyusul
tampilan foto dari akun facebook seseorang bernama Tam pada 10 Oktober
2016 yang memperlihatkan seorang ibu yang memboncengi anaknya tampak
mudah melintasi medan berlumpur tanah liat sedangkan di sekitarnya para
pebalap motocross tampak tak mampu melintasi medan di pegunungan itu.
Foto itu diberi keterangan dengan tulisan "the power of emak-emak" dan
menjadi viral di berbagai media sosial serta diberitakan oleh pers.
Kemudian muncul menjadi tayangan film lepas di televisi (FTV) berjudul
"The Power of Emak-Emak" pada 2017.
Mulai Juli lalu, judul itu dipakai sebagai judul serial sinetron di
sebuah stasiun televisi, dibintangi sejumlah artis, antara lain Della
Puspita, Oka Sugawa, dan Risma Nilawati.
Ketua MPR Zulkifli Hasan yang juga Ketua Umum PAN, salah satu partai
pendukung Prabowo-Sandiaga, bahkan "memanfaatkan" istilah mak-mak dalam
sambutan Sidang Tahunan MPR yang dihadiri Presiden Jokowi pada 16
Agustus lalu, saat meminta pemerintah menjaga harga-harga barang
kebutuhan rumah tangga agar daya beli mereka tidak tergerus.
"Bapak Presiden, ini titipan mak-mak, titipan rakyat Indonesia agar
harga-harga terjangkau, terutama kebutuhan sehari-hari," katanya.
*Ibu bangsa*
Terkait penyelenggaraan Sidang Umum ke-35 ICW (International Council of
Women), organisasi perempuan dunia di bawah naungan PBB, dan Temu
Nasional Seribu Organisasi Perempuan Indonesia yang seluruh rangkaian
acaranya berlangsung pada 11-20 September 2018, juga menjadi ajang untuk
menyoal itu.
Ketua Umum Kowani (Kongres Wanita Indonesia) Giwo Rubianto Wiyogo
menolak penyebutan kekuatan mak-mak (the power of mak-mak).
"Sorry, tak ada `the power of mak-mak`, yang ada `the power of Ibu
Bangsa`," kata Giwo saat menyampaikan laporan pada upacara pembukaan
resmi Sidang Umum ke-35 (ICW) dan Temu Nasional Seribu Organisasi
Perempuan Indonesia.
Pembukaan resmi itu dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, Menteri
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise,
Menteri BUMN Rini Soemarno, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono? X
dan istri GKR Hemas, mantan Menteri PPPA Meutia Hatta, Presiden ICW
Jungsook Kim, dan ribuan peserta, dan tamu-tamu undangan.
Giwo menegaskan bahwa yang ada adalah "the power of mother" atau
kekuatan ibu. "Ibu bangsa sejati, bukan mak-mak," katanya.
Pada akhir sambutannya, Giwo mendoakan Presiden Joko Widodo dapat
melangsungkan tugasnya kembali untuk masa-masa mendatang.
Presiden Joko Widodo mengajak seluruh perempuan Indonesia untuk menjadi
Ibu Bangsa yang menjaga persatuan bangsa mengingat Indonesia adalah
negara besar dengan kekayaan budaya bangsa yang beragam.
Kepala Negara mengingatkan, "Negara kita adalah negara besar, kita
diberi anugerah oleh Allah SWT beragam, berbeda-beda, berwarna-warni,
berbeda agama, berbeda ras, berbeda tradisi, berbeda suku, berbeda
bahasa daerah."
Menurut Presiden, kekayaan Indonesia yang beragam perlu dijaga kesatuannya.
Negara lain tidak ada yang memiliki kekayaan suku, bahasa dan budaya
sebanyak yang dimiliki oleh Indonesia.
Kekayaan yang dimiliki bangsa ini selain sunber daya alamnya adalah 714
suku bangsa, dan 1.100 bahasa daerah.
Jokowi juga menyampaikan bahwa sejumlah tokoh perempuan Indonesia terus
mengharumkan nama bangsa baik melalui sektor olah raga, pasukan
perdamaian, pendidikan, dan kinerja di pemerintahan.
Ia secara khusus memuji kinerja perempuan Indonesia yang terus berkarya
dan berprestasi mengharumkan nama bangsa. "Artinya kita punya
srikandi-srikandi yang akan terus berjuang untuk merah putih, untuk
negara kita Indonesia," katanya.
Beberapa perempuan atlet yang berjasa pun disebutkan Presiden Jokowi, di
antaranya pebulu tangkis Susi Susanti, atlet wushu Lindswell Kwok, serta
dua "spider woman" Indonesia Aries Susanti, serta Puji Lestari yang
memenangkan lomba adu cepat panjat dinding.
Presiden menyebutkan 12 medali emas dari 31 medali emas yang diperoleh
disumbangkan oleh atlet-atlet perempuan.
*Jangan politisasi dan dikotomikan*
Mak dan ibu tidak pantas untuk dipolitisasi atau didikotomikan.
KPU (Komisi Pemilihan Umum)?telah menetapkan jumlah Daftar Pemilih Tetap
(DPT) untuk Pemilu 2019, sebanyak 185? 185.732.093 pemilih. Jumlah
pemilih laki-laki 92.802.671 orang dan pemilih perempuan 92.929.422 orang.
Dengan jumlah pemilih perempuan yang lebih banyak itu tentu saja menjadi
penentu kemenangan.
Namun perempuan hendaknya tidak dipolitisasi dengan berbagai cara yang
justru melemahkan daya tawar perempuan dalam pemberdayaan mereka serta
peran serta dalam pembangunan.
Banyak pihak mengingatkan soal politisasi ini termasuk dari kalangan
perempuan, seperti yang dilakukan Perempuan Milenial Indonesia (Permisi)
yang berunjuk rasa di Gedung Bawaslu, Jakarta, Rabu (12/9), untuk
menyuarakan aspirasi agar perempuan tidak dijadikan bahan kampanye politik.
Perempuan semestinya juga terbebas dari upaya dikotomi mak atau ibu.
Perempuan harus benar-benar diberdayakan sebagai pilar kekuatan negeri
ini, bukan diperdayakan untuk kepentingan politik sesaat.
Editor: Nusarina Yuliastuti
Pewarta:Budi Setiawanto
Editor: Gusti Nur Cahya Aryani
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com