*Dibilang bahwa pertumbuhan ekonomi NKRI hebat paling rendah 5% selama ini,
berarti perusahaan nasional neo-Mojopahit bertambah kuat dan bisa ”going
abroad” atau menanamkan modal di luarnegari, tetapi ternyata sebaliknya
kemana sang presiden kalau pergi keluar selalu diajak perusahaan negeri
yang dikunjungi untuk menanamkan modal di NKRI. Jadi mungkin bisa dikatakan
bahwa yang menyumbang kepada apa yang dikatakan pertumbuhan ekonomi yang
didasarkan pada hasilPDB adalah modal asing yang keuntungannya dibawa ke
induk negerinya dan ditinggalkan buruh upah murah bernaum dibawah Pancasila
dan UUD45 yang tak ada faedah aplikasinya. Benarkan tanggapan ini? Silahkan
komentar untuk menambahkan wawasan. Satu catatan yang barangkali bisa
diperhatikan bahwa Vietnam mengalami peperangan hebat sejak habis perang
dunia II sampai tahun 1975, bom yang dijatuhkan oleh USA di Vietnam
dikatakan sebanyak bom yang dijatuhkan selama perang dunia II, sekalipun
demikian bisa bangun dan berinvestasi di NKRI.*


https://fokus.tempo.co/read/1126158/lawatan-jokowi-ri-banjir-investasi-korea-selatan-dan-vietna
<https://fokus.tempo.co/read/1126158/lawatan-jokowi-ri-banjir-investasi-korea-selatan-dan-vietnam>
Lawatan Jokowi, RI Banjir Investasi Korea Selatan dan Vietnam

Reporter:
Tempo.co

Editor:
Dewi Rina Cahyani

Kamis, 13 September 2018 17:39 WIB

0 komentar
<https://fokus.tempo.co/read/1126158/lawatan-jokowi-ri-banjir-investasi-korea-selatan-dan-vietnam/full&view=ok#comments>

18019

   -

   [image: Presiden Joko Widodo atau Jokowi berbicara pada sesi pleno Forum
   Ekonomi Dunia ASEAN di Convention Center, Hanoi, Vietnam, 12 September
   2018. Tema Forum Ekonomi Dunia tersebut adalah]
   <https://statik.tempo.co/data/2018/09/13/id_733244/733244_720.jpg>
   <https://statik.tempo.co/data/2018/09/13/id_733244/733244_720.jpg>

Presiden Joko Widodo atau Jokowi berbicara pada sesi pleno Forum Ekonomi
Dunia ASEAN di Convention Center, Hanoi, Vietnam, 12 September 2018. Tema
Forum Ekonomi Dunia tersebut adalah "ASEAN 4.0: Kewirausahaan dan Revolusi
Industri Keempat". AP

*TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, *Jakarta* - Presiden Joko Widodo atau Jokowi
<https://www.tempo.co/tag/jokowi>baru saja menyelesaikan kunjungannya ke
Korea Selatan dan Vietnam. Jokowi bertolak dari Pangkalan Udara Halim
Perdanakusuma, Jakarta menggunakan Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 pada
hari Minggu, 9 September 2018 dan kembali lagi Rabu, 12 September 2018.

*Baca juga: 2020, Jokowi Ingin Nilai Perdagangan RI - Vietnam Capai USD 10
M
<https://bisnis.tempo.co/read/1125734/2020-jokowi-ingin-nilai-perdagangan-ri-vietnam-capai-usd-10-m>*

Kunjungan singkat di tengah situasi global yang tidak menentu ini berbuah
sejumlah kesepakatan. Perusahaan dan institusi pemerintah Indonesia - Korea
Selatan menandatangani 15 nota kesepahaman investasi. Kerja sama ini
meliputi sektor energi, properti, mesin, teknologi, dan kosmetika. Total
komitmen investasi yang bersifat business to business (B-to-B) dari hasil
MoU tersebut mencapai US$ 5,76 miliar.

Ketua Kamar Dagang dan Industri Rosan Roeslani mengatakan banyak potensi
perdagangan dan investasi antara RI-Korsel yang perlu digali. "Kami sangat
terbuka akan investasi yang masuk ke Indonesia," ujar Rosan dalam
keterangan tertulis yang diterima Tempo, Selasa, 11 September 2018.

Kesepakatan yang terjadi di sektor industri terjalin salah satunya antara
Hyundai Engineering yang bermitra dengan PT Sulfindo Adiusaha untuk
pengembangan pabrik kimia yang akan menghasilkan produk vinyl chloride
monomer (VCM) dan poly vinyl chloride (PVC) di Merak, Banten dengan nilai
investasi sebesar US$ 200 juta. Kemudian, pengembangan pabrik mesin diesel
senilai US$ 185 juta yang dilakukan oleh Doosan Infracore dengan PT Boma
Bisma Indra (Persero) dan PT Equiti Manajemen Teknologi.

Selanjutnya, SD Biotechnologies menjalin kerja sama dengan PT Orion Pratama
Sentosa untuk membangun industri kosmetika di Karawang, Jawa Barat senilai
US$ 20 juta, serta terjalin pula kemitraan strategis di bidang pengembangan
pusat teknologi alat-alat permesinan di Bandung, Jawa Barat yang merupakan
kolaborasi Korea Institute for Advancement of Technology dan Kementerian
Perindustrian.

Selain nota kesepahaman, beberapa perusahaan Korea Selatan menyatakan
berminat untuk segera merealisasikan investasi senilai US$446 juta di
Indonesia. Terdapat enam perusahaan Negeri Ginseng yang telah menyatakan
niat berinvestasi, yakni LS Cable & System yang bermitra dengan PT Artha
Metal Sinergi untuk pengembangan sektor industri kabel listrik senilai
US$50 juta di Karawang, Jawa Barat.

Selain itu, Parkland menggelontorkan dana sebesar US$ 75 juta untuk
membangun industri alas kaki di Pati, Jawa Tengah dan Sae-A Trading
menanamkan modalnya hingga US$ 36 juta untuk sektor tekstil dan garmen di
Tegal, Jawa Tengah.

Taekwang Industrial akan membangun industri alas kaki senilai US$100 juta
di Subang dan Bandung, Jawa Barat, sedangkan World Power Tech dengan mitra
lokalnya PT NW Industries berinvestasi sebesar US$85 juta untuk
pengembangan industri manufaktur turbin dan boiler di Bekasi, Jawa Barat.
Sementara itu, InterVest dengan Kejora Ventures menamamkan modalnya US$100
juta untuk jasa pembiayaan startup (modal ventura) di DKI Jakarta.

Kirim email ke