https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital
Senin 24 September 2018, 14:38 WIB
Kolom
Rupiah dan Meningkatnya Transaksi Digital
Pamuji Widodo - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/pamuji_widodo>
Pamuji Widodo <https://connect.detik.com/dashboard/public/pamuji_widodo>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital#>
Rupiah dan Meningkatnya Transaksi Digital Ilustrasi: Nadia
Permatasari/Infografis
<https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital#><https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital#><https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital#><https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital#>
*Jakarta* -
Beberapa hari lalu, Kolom *detikcom* menayangkan tulisan opini yang
berjudul /Mereken Rupiah di Negeri Sendiri
<https://news.detik.com/kolom/d-4219202/mereken-rupiah-di-negeri-sendiri>/.
Tulisan tersebut pada intinya menjabarkan potensi meningkatnya nilai
inflasi akibat masifnya penggunaan uang elektronik akhir-akhir ini. Yang
pada simpulannya, fenomena tersebut dikhawatirkan akan menambah defisit
neraca perdagangan jadi makin berbahaya.
Tulisan ini bermaksud untuk menjelaskan beberapa kesalahan teoritis dari
analisis yang disampaikan dalam artikel tersebut. Sebab kesalahpahaman
kadang bisa sangat menakutkan.
Berdasar sejarah, kajian tentang hubungan antara jumlah uang dengan
tingkat inflasi di suatu negara bermula pada fenomena yang terjadi di
era kolonialisme. Ketika Bangsa Spanyol menjajah Amerika, banyak emas
dan perak milik bangsa Aztec yang dibawa ke Benua Eropa. Herannya, harga
barang dan jasa di Spayol beserta negara tetangganya malah meningkat
drastis setelahnya.
Pangkal musababnya ternyata emas dan perak yang berfungsi sebagai alat
tukar saat itu jumlahnya meningkat dengan cepat. Sementara, barang dan
jasa pemenuh kebutuhan riil jumlahnya relatif tetap. Tidak bertambah
sekencang laju pertambahan alat tukarnya.
Inflasi pertama dalam sejarah Ilmu Ekonomi modern pun terjadi saat itu.
Secara teoritis, inflasi kemudian disebutkan sebagai sebuah fenomena
ketika nilai uang mengalami penurunan akibat penambahan jumlah uang yang
beredar. Atau, suatu kondisi ketika pertambahan jumlah uang melebihi
peningkatan jumlah barang dan jasa di pasar yang sama.
Teori tersebut masih relevan sampai sekarang. Terutama ketika mata uang
negara-negara di dunia secara umum sudah mengadopsi sistem mengambang
bebas (/free floating/) pasca /Nixon Shock/ pada 1971 silam.
Contoh ekstremnya saat ini adalah Venezuela. Negara dengan cadangan
minyak terbesar di dunia itu mengalami kegagalan ekonomi akibat berbagai
hal dalam beberapa tahun belakangan. Hingga pemerintahan Presiden
Nicolas Maduro terus mencetak uang untuk memenuhi berbagai kebutuhan.
Seperti untuk menggaji pegawai, atau untuk membayar utang.
Mata uang Bolivar pun berlimpah jumlahnya sampai tidak ada nilainya di
pasar domestik mereka. Bahkan untuk membeli sepotong roti pun seorang
penduduk harus membawa sekarung uang. /Hyperinflasi/ terparah sepanjang
sejarah.
Kondisi inilah yang dikhawatirkan terjadi oleh Nini Avieni lewat tulisan
tersebut. Okelah, memang tidak akan seekstrem yang terjadi di Venezuela.
Tetapi, dasar hipotesisnya sama. Berasumsi bahwa masifnya penggunaan
uang elektronik bisa menambah jumlah uang yang beredar di Indonesia.
Hingga dikhawatirkan akan memicu inflasi di kemudian hari.
Persoalannya, tulisan tersebut kurang cermat dalam mengkategori dan
memberi definisi dari uang elektronik itu sendiri. Misalkan, penulisnya
tidak membedakan antara uang elektronik yang bersifat /prepaid/, debit,
atau kredit. Jadi, apakah itu TapCash BNI, E-toll Card Mandiri, Kartu
Brizzi, ATM BCA, sampai Kartu Kredit HSBC pun semua dianggapnya sama
sebagai uang elektronik. Dipukul rata tanpa menyajikan fakta bahwa
seluruh kartu itu sebenarnya berbeda pengaruhnya terhadap /supply/ rupiah.
Perlu dipahami dulu bahwa jumlah uang yang beredar di suatu negara
terbagi menjadi dua kategori umum. Yaitu, uang kartal dan uang giral.
Uang kartal adalah uang kertas maupun uang logam yang diproduksi dan
didistribusi oleh Bank Sentral//. Sementara, uang giral adalah produk
perbankan umum (/commercial bank/), seperti cek dan bilyet giro, yang
dalam praktiknya bisa digunakan sebagai alat transaksi juga.
Ada pula sebenarnya kategori uang kuasi, yang berupa sertifikat berharga
dengan denominasi mata uang. Tapi, demi menghemat karakter, uang kuasi
ini tidak perlu dibahas lebih lanjut. Kurang relevan dengan tema utama
tulisan.
Uang elektronik yang beredar masif belakangan sebenarnya dapat
dikategorikan sebagai uang giral juga. Hanya saja, karena kemajuan
teknologi penerbitnya sudah tidak terbatas lagi pada kalangan perbankan
umum. Misalkan, Gojek yang menerbitkan GoPay, Tokopedia yang memiliki
Tokocash, atau Telkomsel yang mengaplikasi T-Cash.
Satu kritik krusial terhadap tulisan Nini Avieni adalah penulis tidak
menjelaskan sifat dari berbagai uang elektronik yang baru bermunculan
itu. Terutama karena sebagian besar rupiah digital itu sebenarnya
bersifat /prepaid/. Alias harus diisi saldo dulu berdasarkan jumlah uang
kartal yang sama.
Jadi, misalkan kita hendak mengisi saldo /e-toll card/ Mandiri sebesar
Rp 100 ribu, maka kita harus menyetor uang sebanyak Rp 100 ribu juga di
gerai pengisiannya. Sama halnya dengan saldo GoPay, Tokocash, ataupun
T-Cash. Seluruh uang elektronik itu hanya bentuk transformasi uang
kartal menjadi saldo digital. Tanpa menambah jumlah uang kita. Tanpa
menambah jumlah rupiah yang beredar pula.
Mirip halnya dengan uang elektronik yang bersifat debit. Entah itu Debit
Card milik BCA, BNI, Mandiri yang lazimnya bisa berfungsi sebagai kartu
ATM juga. Seluruh saldo yang berada dalam kartu debit itu merupakan
transformasi digital uang kartal yang dimiliki dan disimpan di rekening
bank penerbit kartu semata. Tidak ada kaitannya dengan penambahan daya
beli pemegang kartunya.
Perbedaannya, uang elektronik yang bersifat /prepaid/ menyimpan saldo
pada teknologi /chip/ di kartu sehingga bisa dimanfaatkan dalam berbagai
transaksi /offline/. Sementara, pada uang elektronik yang bersifat
debit, saldo tersimpan dalam /server/ sehingga setiap transaksi harus
dilakukan secara /online/.
Bagaimana dengan kartu kredit? Nah, dalam beberapa analisis memang
disebutkan bahwa penggunaan /credit card/ mampu menyumbang penambahan
jumlah uang di pasar. Karena, seseorang dianggap mampu meningkatkan
konsumsinya di atas saldo uang kartal yang dimilikinya. Yang dalam
bahasa//Nini Avieni disebut memicu konsumerisme.
Tapi, hipotesis penggunaan kartu kredit yang berpengaruh terhadap
tingkat inflasi juga kurang tepat sebenarnya. Jauh lebih logis kalau
hipotesisnya menjadi: tingkat suku bunga kredit berpengaruh terhadap
nilai inflasi. Karena, ada juga pemegang kartu kredit yang menggunakan
kartunya hanya untuk memudahkan belanja. Dan, begitu selesai berbelanja
mereka cepat-cepat membayar tagihannya sebelum jatuh tempo, demi
terhindar dari perhitungan bunga.
Artinya, bukan kartu kreditnya yang berkorelasi terhadap jumlah
konsumsi. Tapi, tingkat suku bunganya yang menentukan seseorang jadi
konsumtif atau tidak. Sementara, kartunya bisa jadi hanya berfungsi
sebagai alat transaksi saja; peringkas dompet kaum millenial, istilahnya.
Maka dari itu, analisis pada tulisan tersebut yang menyebutkan bahwa
penggunaan uang elektronik secara masif mampu memicu naiknya inflasi
justru bisa ditolak seluruhnya. Karena, berdasar berbagai uraian di
atas, sudah terjabarkan bagaimana penggunaan uang elektronik tidak cukup
relevan dalam menambah jumlah uang yang beredar.
Sebaliknya, justru dengan meningkatnya transaksi digital segala
kemudahan dan efisiensi bisnis malah mungkin terjadi. Barang dan jasa
bisa lebih banyak diproduksi karena kecepatan transaksi. /Velocity of
Money/ ala Irving Fischer pun meningkat. Kecepatan uang berputar
menunjang pertumbuhan GDP tanpa terbeban inflasi. Paling tidak ini lebih
relevan secara teori.
Contohnya saja, dengan dilakukannya migrasi sistem pembayaran jalan tol
di Indonesia beberapa tahun ini. Pihak pengelola jalan tol jelas
mendapat kemudahan bisnis dan efisiensi transaksi dengan adanya
kebijakan ini. Bayangkan berapa banyak waktu dan biaya yang terhemat
dari masifnya penggunaan uang elektronik. Dari berkurangnya beban biaya
tenaga kerja, berkurangnya waktu proses administrasi dan akuntansi
/cash/, sampai berkurangnya segala risiko bisnis dan risiko kerja.
Okelah, mungkin contohnya terlalu kompleks kalau bicara keuntungan
operator jalan tol dari migrasi transaksi uang elektronik. Bagaimana
kalau contohnya pelaku bisnis /online/ saja? Dengan skala usaha kecil
sambil iseng, supaya lebih mudah dinalarnya. Seperti istri saya yang
sambil bekerja bisa berjualan kerudung di kantornya. Seratus ribuan
dapat dua atau tiga. Konsumennya rekan sejawat atau nasabah atau
pimpinan, siapa saja asal cocok dan mau bayar.
Modalnya sekedar kumpulan gambar. Calon pembeli tinggal pilih lalu
order. Istri saya langsung transfer ke sepupu yang produsen di Bogor.
Besoknya kerudung sampai diantar. Lalu, kadang karena langsung dipakai,
ada temannya lagi yang "ngiler". /Repeat order. Repeat process from
transfer to deliver in less than an hour. /Terkadang /repeat order/ bisa
terjadi berkali-kali dari pagi sampai malam. Sebabnya emak-emak galau
memilih barang. Yang ini bagus, yang itu lucu, yang lain juga oke.
Akhirnya dibeli semua. Selama /gadget/ di tangan, dan dekat dengan
tanggal gajian, selalu ludes dagangan.
Manajemen order dan transaksinya bisa dikatakan sambil lalu saja. Sebab,
/reseller/, produsen, maupun /supplier,/ dan /vendor/ diusahakan dalam
satu jaringan bank. Sehingga, seluruh perpindahan dana bisa cepat,
terkontrol, dan tanpa biaya. Plus tidak repot melakukan rekapitulasi
transaksi. Tinggal /download/ rekening koran, lalu selebihnya bisa
dikerjakan sambil ngerumpi.
Bayangkan bila istri saya dan sepupunya itu tidak menggunakan uang
elektronik untuk menunjang bisnis mereka. Berapa banyak waktu dan
kesempatan yang terbuang, sekadar untuk antre di bank demi mengirim uang
misalnya, atau untuk melakukan kerja-kerja administrasi usahanya?
Padahal istri saya termasuk sibuk di kantornya. Padahal sepupunya itu
juga ibu dua anak tanpa asisten rumah tangga.
Uang elektronik jelas meningkatkan transaksi barang dan jasa. Karena
kaum ibu iseng saja jadinya bisa berkontribusi dalam meningkatkan GDP
negara. Menggairahkan sektor ritel, minimalnya. Lewat dagang /online/
sebisanya.
Memang, risiko inflasi tetap mengintip di sana. Misalnya, bila ada yang
gelap mata dan pakai kredit untuk maksa belanja. Tapi, urusan kredit ini
juga tidak selalu diselesaikan dengan /credit card/ saja. Bisa dengan
pinjam uang teman, nego cicil bayar, atau janji lunas saat gajian bulan
depan. Belum tentu pakai bunga juga jadinya. Sebab banyak artis idola
kaum hawa yang hijrah, katanya. Hingga ibu-ibu arisan bisa bicara soal
riba sambil meneruskan hobi belanjanya.
Intinya, urusan inflasi itu jadi tergantung dengan transaksi yang
terkait instrumen utang. Bukan terkait dengan potensi masifnya transaksi
uang elektronik di masa mendatang. Sama-sama transaksi /non-cash, /tapi
beda jauh implikasinya. Yang satu bersifat /delayed/ /payment, /yang
lainnya sekadar tidak menggunakan uang kartal karena berorientasi pada
kecepatan dan kemudahan transaksi uang giral.
Mungkin ini yang akhirnya membuat sebagian orang salah paham, hingga
membuat yang lainnya ketakutan. Semoga saya juga tidak terlalu salah
dalam memahami persoalan.
*Pamuji Widodo* /kontraktor
/
*(mmu/mmu)*