Baguuus, bung Nesare! Menyoroti tulisan-tulisan keliru melihat masalah
EKONOMI yang terjadi, agar pembaca tidak terkecoh dan ikut berpikir
dimana masalah yang dihadapi itu bisa terjadi. Sekalipun penulis, Pamuji
Widodo sendiri yang menyoroti tulisan "Mereken Rupiah Dinegeri Sendiri"
juga menyatakan: "Tulisan ini bermaksud untuk menjelaskan beberapa
kesalahan teoritis dari analisis yang disampaikan dalam artikel
tersebut. Sebab kesalahpahaman kadang bisa sangat menakutkan."
Tapi, apakah Pamuji ada hubungan family dengan Jokowi yang juga Widodo?
Apa Widodo disini merupakan nama marga? Hehehee, ...
Bung Nesare menyoroti inflasi/hyperinflation yg terjadi di Venezuela
dari sudut Demand and Supply. Bukan cetak uang sebagai sebab utama
hyperinflation yg terjadi di Venezuela. Mirip dengan tulisan, bhs.
Tionghoa yg pernah saya baca sebelumnya, ekonomi Venezuela nyaris ambruk
akibat kesalahan pengelolaan ekonomi Venezuela dalam waktu belasan tahun
sebelumnya. Yang hanya bersandar pada produksi minyak tanpa membangun
dengan baik dasar ekonomi nasional, mengembangkan usaha produksi untuk
mencukupi kebutuhan sandang-pangan rakyat. Dan, ... saat produksi minyak
dan harga tinggi, penghasilan pemerintah cukup tinggi untuk tunjangan
sosial yang sangat tinggi bagi rakyatnya! Venezuela menjadi teladan
Sosialisme abad 21!
Tapi, ... setelah harga minyak anjlok, penghasilan Pemerintah merosot
banyak, tidak lagi mampu keluarkan tunjangan sosial yg begitu tinggi.
Sebaliknya rakyat banyak yg sudah keenakan, berkepanjangan menerima
tunjangan sosial tinggi, TIDAK HENDAK diturunkan! Keadaan menjadi lebih
celaka, dalam pemerintah terjadi KORUPSI, yang membuat Venezuela lebih
terpuruk, ...
Sebetulnya kalau diperhatikan itu pula yg terjadi sejak ORBA, Suharto
berkuasa, hanya mengutamakan dan bersandarkan pada mengobral kekayaan
bumi-alam Indonesia, tanpa membangun dasar ekonomi, ... hanya saja
bedanya, Suharto TIDAK jalankan tunjangan sosial tinggi pada rakyat
banyak. Sebaliknya membiarkan rakyat banyak tetap papa-miskin, yang
gendut-gendut segelintir kroni Cendana saja! Setelah Suharto lengser dan
kita memasuki era reformasi-demokrasi, beberapa presiden yang berkuasa
lebih disibuki dengan usaha ekonomi yg bisa meningkatkan popularitas
dirinya, mengatasi urusan politik praktis yg dihadapi saja. Jadi selama
ini ekonomi nasional yg terjadi lebih mengutamakan import, segalanya
import saja! Sampai-sampai garam pun harus import, ...!
Baru beberapa tahun terakhir ini Jokowi berani, gempur tunjangan BBM,
bangun infrastruktur yg selama ini diabaikan, dengan berani dan tegas
bubarkan PETRAL anak perusahaan Pertamina yg menguras duit negara dan
sangat merugikan rakyat banyak itu! Membangun sendiri kilang minyak,
....! Nampaknya juga sudah berhasil usaha meraih 51% saham Freeport!
Tentu, menggenjot investasi modal-asing utk membuka tambang dengan
konsekwen harus bangun smelter, tidak lagi mengekspor hasil
tambang-mentah, tapi barang jadi dengan nilai jauh lebih tinggi, ... yg
lebih menguntungkan rakyat Indonesia.
Tentu dengan masuknya modal-asing sebegitu banyak untuk mengembangkan
berbagai usaha, masih ada SATU PRINSIP yg perlu dipegang TEGUH
Pemerintah yang berkuasa, merebut kesempatan untuk belajar, menajeman
dan teknologi produksi, agar Indonesia tidak bersandar asing lagi tapi
mampu mengerjakan sendiri dikemudian hari!
Mudah-mudahan saja berhasil, ...! Jokowi kembali jadi Presiden untuk
periode-2 dan segala yang dijanjikan membangun Indonesia dengan Kerja,
Kerja, Kerja itu tidak banyak terganggu tikus-tikus bahkan siluman
disekitar yang tentu masih bercokol, ...
'nesare' [email protected] [GELORA45] 於 25/9/2018 2:56 寫道:
*Pamuji Widodo*/kontraktor penulis artikel:/Contoh ekstremnya saat ini
adalah Venezuela. Negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia itu
mengalami kegagalan ekonomi akibat berbagai hal dalam beberapa tahun
belakangan. Hingga pemerintahan Presiden Nicolas Maduro terus mencetak
uang untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Seperti untuk menggaji
pegawai, atau untuk membayar utang.
Mata uang Bolivar pun berlimpah jumlahnya sampai tidak ada nilainya di
pasar domestik mereka. Bahkan untuk membeli sepotong roti pun seorang
penduduk harus membawa sekarung uang. /Hyperinflasi/ terparah
sepanjang sejarah.
Nesare: orang ini mengatakan: printing/outstanding money mengakibatkan
inflasi/hyperinflation. Ini gak bener! Bukan ini yg terjadi di
Venezuela. Divenezuela itu barang gak ada. Ngapain pemerintah
Venezuela printing money? Yg beli kan rakyat bukan pemerintah. Rakyat
itu kalau mau ambil duit di bank atau ATM itu harus ngantri
berjam2/berhari2.
Teori inflasi itu hanya 1: demand and suppy. Ini berdasarkan teori
ekonomi. Demand naik = inflasi. Suppy turun = inflasi. Sebaliknya:
demand turun = deflasi dan supply naik = deflasi. Demand naik itu
disebut dalam teori ekonomi sbg: cost push inflation yaitu: supply
shortage. Demand pull inflation yaitu: demand naik…ini yg paling
sering terjadi. Penjual akan naikin harga krn kalau, ya barangnya akan
habis terjual.
Jadi bukan printing money. Ada theorist bilang begini. Ini bisa bener
bisa tidak. Argumennya walaupun memang ada ttp tidak sekuat teori
demand and supply spt diatas. Bagi saya kalau orang yg setuju printing
money itu penyebab inflasi ini kurang kuat argumennya. Ini pendapat
pribadi saya.
Dalam kasus Venezuela, jelas sekali bukan printing money yg
menyebabkan hyperinflation. Ini krn salah kelola negara. Apa alasan
pemerintah Venezuela cetak duit? Gak ada koq. Bayar hutang? Mana bisa?
Wong hutangnya bukan dalam bolivar mata uangnya. Mau import barang?
Siapa/negara mana yg mau jual? Wong valuenya sudah habis2an jatuhnya.
Jadi kalau boleh disimpulkan kasus Venezuela ini, ada 2 hal: kesalahan
mengelola politik shg terjadi kelangkaan makanan, kesehatan, listrik
dll shg menyebabkan political instability. Kedua ya kelola ekonominya.
Ini mulai krn harga minyak jatuh shg pemasukan negara dari eksport
minyak anjlok habis2an.
nesare
*From:* [email protected] <[email protected]>
*Sent:* Monday, September 24, 2018 1:53 PM
https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital
Senin 24 September 2018, 14:38 WIB
Kolom
Rupiah dan Meningkatnya Transaksi Digital
Pamuji Widodo - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/pamuji_widodo>
Pamuji Widodo <https://connect.detik.com/dashboard/public/pamuji_widodo>
<https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital>
Rupiah dan Meningkatnya Transaksi DigitalIlustrasi: Nadia
Permatasari/Infografis
<https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital><https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital><https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital>
*Jakarta* -
Beberapa hari lalu, Kolom *detikcom* menayangkan tulisan opini yang
berjudul /Mereken Rupiah di Negeri Sendiri
<https://news.detik.com/kolom/d-4219202/mereken-rupiah-di-negeri-sendiri>/.
Tulisan tersebut pada intinya menjabarkan potensi meningkatnya nilai
inflasi akibat masifnya penggunaan uang elektronik akhir-akhir ini.
Yang pada simpulannya, fenomena tersebut dikhawatirkan akan menambah
defisit neraca perdagangan jadi makin berbahaya.
Tulisan ini bermaksud untuk menjelaskan beberapa kesalahan teoritis
dari analisis yang disampaikan dalam artikel tersebut. Sebab
kesalahpahaman kadang bisa sangat menakutkan.
Berdasar sejarah, kajian tentang hubungan antara jumlah uang dengan
tingkat inflasi di suatu negara bermula pada fenomena yang terjadi di
era kolonialisme. Ketika Bangsa Spanyol menjajah Amerika, banyak emas
dan perak milik bangsa Aztec yang dibawa ke Benua Eropa. Herannya,
harga barang dan jasa di Spayol beserta negara tetangganya malah
meningkat drastis setelahnya.
Pangkal musababnya ternyata emas dan perak yang berfungsi sebagai alat
tukar saat itu jumlahnya meningkat dengan cepat. Sementara, barang dan
jasa pemenuh kebutuhan riil jumlahnya relatif tetap. Tidak bertambah
sekencang laju pertambahan alat tukarnya.
Inflasi pertama dalam sejarah Ilmu Ekonomi modern pun terjadi saat
itu. Secara teoritis, inflasi kemudian disebutkan sebagai sebuah
fenomena ketika nilai uang mengalami penurunan akibat penambahan
jumlah uang yang beredar. Atau, suatu kondisi ketika pertambahan
jumlah uang melebihi peningkatan jumlah barang dan jasa di pasar yang
sama.
Teori tersebut masih relevan sampai sekarang. Terutama ketika mata
uang negara-negara di dunia secara umum sudah mengadopsi sistem
mengambang bebas (/free floating/) pasca /Nixon Shock/ pada 1971 silam.
Contoh ekstremnya saat ini adalah Venezuela. Negara dengan cadangan
minyak terbesar di dunia itu mengalami kegagalan ekonomi akibat
berbagai hal dalam beberapa tahun belakangan. Hingga pemerintahan
Presiden Nicolas Maduro terus mencetak uang untuk memenuhi berbagai
kebutuhan. Seperti untuk menggaji pegawai, atau untuk membayar utang.
Mata uang Bolivar pun berlimpah jumlahnya sampai tidak ada nilainya di
pasar domestik mereka. Bahkan untuk membeli sepotong roti pun seorang
penduduk harus membawa sekarung uang. /Hyperinflasi/ terparah
sepanjang sejarah.
Kondisi inilah yang dikhawatirkan terjadi oleh Nini Avieni lewat
tulisan tersebut. Okelah, memang tidak akan seekstrem yang terjadi di
Venezuela. Tetapi, dasar hipotesisnya sama. Berasumsi bahwa masifnya
penggunaan uang elektronik bisa menambah jumlah uang yang beredar di
Indonesia. Hingga dikhawatirkan akan memicu inflasi di kemudian hari.
Persoalannya, tulisan tersebut kurang cermat dalam mengkategori dan
memberi definisi dari uang elektronik itu sendiri. Misalkan,
penulisnya tidak membedakan antara uang elektronik yang bersifat
/prepaid/, debit, atau kredit. Jadi, apakah itu TapCash BNI, E-toll
Card Mandiri, Kartu Brizzi, ATM BCA, sampai Kartu Kredit HSBC pun
semua dianggapnya sama sebagai uang elektronik. Dipukul rata tanpa
menyajikan fakta bahwa seluruh kartu itu sebenarnya berbeda
pengaruhnya terhadap /supply/ rupiah.
Perlu dipahami dulu bahwa jumlah uang yang beredar di suatu negara
terbagi menjadi dua kategori umum. Yaitu, uang kartal dan uang giral.
Uang kartal adalah uang kertas maupun uang logam yang diproduksi dan
didistribusi oleh Bank Sentral. Sementara, uang giral adalah produk
perbankan umum (/commercial bank/), seperti cek dan bilyet giro, yang
dalam praktiknya bisa digunakan sebagai alat transaksi juga.
Ada pula sebenarnya kategori uang kuasi, yang berupa sertifikat
berharga dengan denominasi mata uang. Tapi, demi menghemat karakter,
uang kuasi ini tidak perlu dibahas lebih lanjut. Kurang relevan dengan
tema utama tulisan.
Uang elektronik yang beredar masif belakangan sebenarnya dapat
dikategorikan sebagai uang giral juga. Hanya saja, karena kemajuan
teknologi penerbitnya sudah tidak terbatas lagi pada kalangan
perbankan umum. Misalkan, Gojek yang menerbitkan GoPay, Tokopedia yang
memiliki Tokocash, atau Telkomsel yang mengaplikasi T-Cash.
Satu kritik krusial terhadap tulisan Nini Avieni adalah penulis tidak
menjelaskan sifat dari berbagai uang elektronik yang baru bermunculan
itu. Terutama karena sebagian besar rupiah digital itu sebenarnya
bersifat /prepaid/. Alias harus diisi saldo dulu berdasarkan jumlah
uang kartal yang sama.
Jadi, misalkan kita hendak mengisi saldo /e-toll card/ Mandiri sebesar
Rp 100 ribu, maka kita harus menyetor uang sebanyak Rp 100 ribu juga
di gerai pengisiannya. Sama halnya dengan saldo GoPay, Tokocash,
ataupun T-Cash.. Seluruh uang elektronik itu hanya bentuk transformasi
uang kartal menjadi saldo digital. Tanpa menambah jumlah uang kita.
Tanpa menambah jumlah rupiah yang beredar pula.
Mirip halnya dengan uang elektronik yang bersifat debit. Entah itu
Debit Card milik BCA, BNI, Mandiri yang lazimnya bisa berfungsi
sebagai kartu ATM juga. Seluruh saldo yang berada dalam kartu debit
itu merupakan transformasi digital uang kartal yang dimiliki dan
disimpan di rekening bank penerbit kartu semata. Tidak ada kaitannya
dengan penambahan daya beli pemegang kartunya.
Perbedaannya, uang elektronik yang bersifat /prepaid/ menyimpan saldo
pada teknologi /chip/ di kartu sehingga bisa dimanfaatkan dalam
berbagai transaksi /offline/. Sementara, pada uang elektronik yang
bersifat debit, saldo tersimpan dalam /server/ sehingga setiap
transaksi harus dilakukan secara /online/.
Bagaimana dengan kartu kredit? Nah, dalam beberapa analisis memang
disebutkan bahwa penggunaan /credit card/ mampu menyumbang penambahan
jumlah uang di pasar. Karena, seseorang dianggap mampu meningkatkan
konsumsinya di atas saldo uang kartal yang dimilikinya. Yang dalam
bahasa//Nini Avieni disebut memicu konsumerisme.
Tapi, hipotesis penggunaan kartu kredit yang berpengaruh terhadap
tingkat inflasi juga kurang tepat sebenarnya. Jauh lebih logis kalau
hipotesisnya menjadi: tingkat suku bunga kredit berpengaruh terhadap
nilai inflasi. Karena, ada juga pemegang kartu kredit yang menggunakan
kartunya hanya untuk memudahkan belanja. Dan, begitu selesai
berbelanja mereka cepat-cepat membayar tagihannya sebelum jatuh tempo,
demi terhindar dari perhitungan bunga.
Artinya, bukan kartu kreditnya yang berkorelasi terhadap jumlah
konsumsi. Tapi, tingkat suku bunganya yang menentukan seseorang jadi
konsumtif atau tidak. Sementara, kartunya bisa jadi hanya berfungsi
sebagai alat transaksi saja; peringkas dompet kaum millenial, istilahnya.
Maka dari itu, analisis pada tulisan tersebut yang menyebutkan bahwa
penggunaan uang elektronik secara masif mampu memicu naiknya inflasi
justru bisa ditolak seluruhnya. Karena, berdasar berbagai uraian di
atas, sudah terjabarkan bagaimana penggunaan uang elektronik tidak
cukup relevan dalam menambah jumlah uang yang beredar.
Sebaliknya, justru dengan meningkatnya transaksi digital segala
kemudahan dan efisiensi bisnis malah mungkin terjadi. Barang dan jasa
bisa lebih banyak diproduksi karena kecepatan transaksi. /Velocity of
Money/ ala Irving Fischer pun meningkat. Kecepatan uang berputar
menunjang pertumbuhan GDP tanpa terbeban inflasi. Paling tidak ini
lebih relevan secara teori.
Contohnya saja, dengan dilakukannya migrasi sistem pembayaran jalan
tol di Indonesia beberapa tahun ini. Pihak pengelola jalan tol jelas
mendapat kemudahan bisnis dan efisiensi transaksi dengan adanya
kebijakan ini. Bayangkan berapa banyak waktu dan biaya yang terhemat
dari masifnya penggunaan uang elektronik. Dari berkurangnya beban
biaya tenaga kerja, berkurangnya waktu proses administrasi dan
akuntansi /cash/, sampai berkurangnya segala risiko bisnis dan risiko
kerja.
Okelah, mungkin contohnya terlalu kompleks kalau bicara keuntungan
operator jalan tol dari migrasi transaksi uang elektronik. Bagaimana
kalau contohnya pelaku bisnis /online/ saja? Dengan skala usaha kecil
sambil iseng, supaya lebih mudah dinalarnya. Seperti istri saya yang
sambil bekerja bisa berjualan kerudung di kantornya. Seratus ribuan
dapat dua atau tiga. Konsumennya rekan sejawat atau nasabah atau
pimpinan, siapa saja asal cocok dan mau bayar.
Modalnya sekedar kumpulan gambar. Calon pembeli tinggal pilih lalu
order. Istri saya langsung transfer ke sepupu yang produsen di Bogor.
Besoknya kerudung sampai diantar. Lalu, kadang karena langsung
dipakai, ada temannya lagi yang "ngiler". /Repeat order. Repeat
process from transfer to deliver in less than an hour. /Terkadang
/repeat order/ bisa terjadi berkali-kali dari pagi sampai malam.
Sebabnya emak-emak galau memilih barang. Yang ini bagus, yang itu
lucu, yang lain juga oke. Akhirnya dibeli semua. Selama /gadget/ di
tangan, dan dekat dengan tanggal gajian, selalu ludes dagangan.
Manajemen order dan transaksinya bisa dikatakan sambil lalu saja.
Sebab, /reseller/, produsen, maupun /supplier,/ dan /vendor/
diusahakan dalam satu jaringan bank. Sehingga, seluruh perpindahan
dana bisa cepat, terkontrol, dan tanpa biaya. Plus tidak repot
melakukan rekapitulasi transaksi. Tinggal /download/ rekening koran,
lalu selebihnya bisa dikerjakan sambil ngerumpi.
Bayangkan bila istri saya dan sepupunya itu tidak menggunakan uang
elektronik untuk menunjang bisnis mereka. Berapa banyak waktu dan
kesempatan yang terbuang, sekadar untuk antre di bank demi mengirim
uang misalnya, atau untuk melakukan kerja-kerja administrasi usahanya?
Padahal istri saya termasuk sibuk di kantornya. Padahal sepupunya itu
juga ibu dua anak tanpa asisten rumah tangga.
Uang elektronik jelas meningkatkan transaksi barang dan jasa. Karena
kaum ibu iseng saja jadinya bisa berkontribusi dalam meningkatkan GDP
negara. Menggairahkan sektor ritel, minimalnya. Lewat dagang /online/
sebisanya.
Memang, risiko inflasi tetap mengintip di sana. Misalnya, bila ada
yang gelap mata dan pakai kredit untuk maksa belanja. Tapi, urusan
kredit ini juga tidak selalu diselesaikan dengan /credit card/ saja.
Bisa dengan pinjam uang teman, nego cicil bayar, atau janji lunas saat
gajian bulan depan. Belum tentu pakai bunga juga jadinya. Sebab banyak
artis idola kaum hawa yang hijrah, katanya. Hingga ibu-ibu arisan bisa
bicara soal riba sambil meneruskan hobi belanjanya.
Intinya, urusan inflasi itu jadi tergantung dengan transaksi yang
terkait instrumen utang. Bukan terkait dengan potensi masifnya
transaksi uang elektronik di masa mendatang. Sama-sama transaksi
/non-cash, /tapi beda jauh implikasinya. Yang satu bersifat /delayed/
/payment, /yang lainnya sekadar tidak menggunakan uang kartal karena
berorientasi pada kecepatan dan kemudahan transaksi uang giral.
Mungkin ini yang akhirnya membuat sebagian orang salah paham, hingga
membuat yang lainnya ketakutan. Semoga saya juga tidak terlalu salah
dalam memahami persoalan.
*Pamuji Widodo* /kontraktor/
*(mmu/mmu)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com