Pamuji Widodo kontraktor penulis artikel: Contoh ekstremnya saat ini adalah 
Venezuela. Negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia itu mengalami 
kegagalan ekonomi akibat berbagai hal dalam beberapa tahun belakangan. Hingga 
pemerintahan Presiden Nicolas Maduro terus mencetak uang untuk memenuhi 
berbagai kebutuhan. Seperti untuk menggaji pegawai, atau untuk membayar utang. 



Mata uang Bolivar pun berlimpah jumlahnya sampai tidak ada nilainya di pasar 
domestik mereka. Bahkan untuk membeli sepotong roti pun seorang penduduk harus 
membawa sekarung uang. Hyperinflasi terparah sepanjang sejarah. 

 

Nesare: orang ini mengatakan: printing/outstanding money mengakibatkan 
inflasi/hyperinflation. Ini gak bener! Bukan ini yg terjadi di Venezuela. 
Divenezuela itu barang gak ada. Ngapain pemerintah Venezuela printing money? Yg 
beli kan rakyat bukan pemerintah. Rakyat itu kalau mau ambil duit di bank atau 
ATM itu harus ngantri berjam2/berhari2.

 

Teori inflasi itu hanya 1: demand and suppy. Ini berdasarkan teori ekonomi. 
Demand naik = inflasi. Suppy turun = inflasi. Sebaliknya: demand turun = 
deflasi dan supply naik = deflasi. Demand naik itu disebut dalam teori ekonomi 
sbg: cost push inflation yaitu: supply shortage. Demand pull inflation yaitu: 
demand naik…ini yg paling sering terjadi. Penjual akan naikin harga krn kalau, 
ya barangnya akan habis terjual.

 

Jadi bukan printing money. Ada theorist bilang begini. Ini bisa bener bisa 
tidak. Argumennya walaupun memang ada ttp tidak sekuat teori demand and supply 
spt diatas. Bagi saya kalau orang yg setuju printing money itu penyebab inflasi 
ini kurang kuat argumennya. Ini pendapat pribadi saya. 

 

Dalam kasus Venezuela, jelas sekali bukan printing money yg menyebabkan 
hyperinflation. Ini krn salah kelola negara. Apa alasan pemerintah Venezuela 
cetak duit? Gak ada koq. Bayar hutang? Mana bisa? Wong hutangnya bukan dalam 
bolivar mata uangnya. Mau import barang? Siapa/negara mana yg mau jual? Wong 
valuenya sudah habis2an jatuhnya.

 

Jadi kalau boleh disimpulkan kasus Venezuela ini, ada 2 hal: kesalahan 
mengelola politik shg terjadi kelangkaan makanan, kesehatan, listrik dll shg 
menyebabkan political instability. Kedua ya kelola ekonominya. Ini mulai krn 
harga minyak jatuh shg pemasukan negara dari eksport minyak anjlok habis2an..

nesare

 

 

 

 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Monday, September 24, 2018 1:53 PM
To: GELORA_In <[email protected]>; [email protected]; 
PERSAUDARAAN <[email protected]>; Sahala Silalahi 
<[email protected]>; [email protected]
Subject: [GELORA45] Rupiah dan Meningkatnya Transaksi Digital

 

  

 

 

https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital

Senin 24 September 2018, 14:38 WIB


Kolom


Rupiah dan Meningkatnya Transaksi Digital


Pamuji Widodo - detikNews

 <https://connect.detik.com/dashboard/public/pamuji_widodo> 

 

Pamuji Widodo  <https://connect.detik.com/dashboard/public/pamuji_widodo> 

 
<https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital>
 Share 0  
<https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital>
 Tweet  
<https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital>
 Share 0  
<https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital>
 0 komentar 

  
<https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2018/05/07/b1d643cf-6275-417e-b27c-a3e9e62fcb6a_169.jpeg?w=780&q=90>
 Ilustrasi: Nadia Permatasari/Infografis 

   
<https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital>
   
<https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital>
    
<https://news.detik.com/kolom/d-4226418/rupiah-dan-meningkatnya-transaksi-digital>
 

Jakarta - 

Beberapa hari lalu, Kolom detikcom menayangkan tulisan opini yang berjudul 
Mereken Rupiah di Negeri Sendiri 
<https://news.detik.com/kolom/d-4219202/mereken-rupiah-di-negeri-sendiri> . 
Tulisan tersebut pada intinya menjabarkan potensi meningkatnya nilai inflasi 
akibat masifnya penggunaan uang elektronik akhir-akhir ini. Yang pada 
simpulannya, fenomena tersebut dikhawatirkan akan menambah defisit neraca 
perdagangan jadi makin berbahaya. 

Tulisan ini bermaksud untuk menjelaskan beberapa kesalahan teoritis dari 
analisis yang disampaikan dalam artikel tersebut. Sebab kesalahpahaman kadang 
bisa sangat menakutkan.

Berdasar sejarah, kajian tentang hubungan antara jumlah uang dengan tingkat 
inflasi di suatu negara bermula pada fenomena yang terjadi di era kolonialisme. 
Ketika Bangsa Spanyol menjajah Amerika, banyak emas dan perak milik bangsa 
Aztec yang dibawa ke Benua Eropa. Herannya, harga barang dan jasa di Spayol 
beserta negara tetangganya malah meningkat drastis setelahnya. 

Pangkal musababnya ternyata emas dan perak yang berfungsi sebagai alat tukar 
saat itu jumlahnya meningkat dengan cepat. Sementara, barang dan jasa pemenuh 
kebutuhan riil jumlahnya relatif tetap. Tidak bertambah sekencang laju 
pertambahan alat tukarnya.

Inflasi pertama dalam sejarah Ilmu Ekonomi modern pun terjadi saat itu. Secara 
teoritis, inflasi kemudian disebutkan sebagai sebuah fenomena ketika nilai uang 
mengalami penurunan akibat penambahan jumlah uang yang beredar. Atau, suatu 
kondisi ketika pertambahan jumlah uang melebihi peningkatan jumlah barang dan 
jasa di pasar yang sama. 

Teori tersebut masih relevan sampai sekarang. Terutama ketika mata uang 
negara-negara di dunia secara umum sudah mengadopsi sistem mengambang bebas 
(free floating) pasca Nixon Shock pada 1971 silam. 

Contoh ekstremnya saat ini adalah Venezuela. Negara dengan cadangan minyak 
terbesar di dunia itu mengalami kegagalan ekonomi akibat berbagai hal dalam 
beberapa tahun belakangan. Hingga pemerintahan Presiden Nicolas Maduro terus 
mencetak uang untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Seperti untuk menggaji 
pegawai, atau untuk membayar utang. 

Mata uang Bolivar pun berlimpah jumlahnya sampai tidak ada nilainya di pasar 
domestik mereka. Bahkan untuk membeli sepotong roti pun seorang penduduk harus 
membawa sekarung uang. Hyperinflasi terparah sepanjang sejarah. 

Kondisi inilah yang dikhawatirkan terjadi oleh Nini Avieni lewat tulisan 
tersebut. Okelah, memang tidak akan seekstrem yang terjadi di Venezuela. 
Tetapi, dasar hipotesisnya sama. Berasumsi bahwa masifnya penggunaan uang 
elektronik bisa menambah jumlah uang yang beredar di Indonesia. Hingga 
dikhawatirkan akan memicu inflasi di kemudian hari.

Persoalannya, tulisan tersebut kurang cermat dalam mengkategori dan memberi 
definisi dari uang elektronik itu sendiri. Misalkan, penulisnya tidak 
membedakan antara uang elektronik yang bersifat prepaid, debit, atau kredit. 
Jadi, apakah itu TapCash BNI, E-toll Card Mandiri, Kartu Brizzi, ATM BCA, 
sampai Kartu Kredit HSBC pun semua dianggapnya sama sebagai uang elektronik. 
Dipukul rata tanpa menyajikan fakta bahwa seluruh kartu itu sebenarnya berbeda 
pengaruhnya terhadap supply rupiah.

Perlu dipahami dulu bahwa jumlah uang yang beredar di suatu negara terbagi 
menjadi dua kategori umum. Yaitu, uang kartal dan uang giral. Uang kartal 
adalah uang kertas maupun uang logam yang diproduksi dan didistribusi oleh Bank 
Sentral. Sementara, uang giral adalah produk perbankan umum (commercial bank), 
seperti cek dan bilyet giro, yang dalam praktiknya bisa digunakan sebagai alat 
transaksi juga. 

Ada pula sebenarnya kategori uang kuasi, yang berupa sertifikat berharga dengan 
denominasi mata uang. Tapi, demi menghemat karakter, uang kuasi ini tidak perlu 
dibahas lebih lanjut. Kurang relevan dengan tema utama tulisan.

Uang elektronik yang beredar masif belakangan sebenarnya dapat dikategorikan 
sebagai uang giral juga. Hanya saja, karena kemajuan teknologi penerbitnya 
sudah tidak terbatas lagi pada kalangan perbankan umum. Misalkan, Gojek yang 
menerbitkan GoPay, Tokopedia yang memiliki Tokocash, atau Telkomsel yang 
mengaplikasi T-Cash.

Satu kritik krusial terhadap tulisan Nini Avieni adalah penulis tidak 
menjelaskan sifat dari berbagai uang elektronik yang baru bermunculan itu. 
Terutama karena sebagian besar rupiah digital itu sebenarnya bersifat prepaid. 
Alias harus diisi saldo dulu berdasarkan jumlah uang kartal yang sama. 

Jadi, misalkan kita hendak mengisi saldo e-toll card Mandiri sebesar Rp 100 
ribu, maka kita harus menyetor uang sebanyak Rp 100 ribu juga di gerai 
pengisiannya. Sama halnya dengan saldo GoPay, Tokocash, ataupun T-Cash. Seluruh 
uang elektronik itu hanya bentuk transformasi uang kartal menjadi saldo 
digital. Tanpa menambah jumlah uang kita. Tanpa menambah jumlah rupiah yang 
beredar pula. 

Mirip halnya dengan uang elektronik yang bersifat debit. Entah itu Debit Card 
milik BCA, BNI, Mandiri yang lazimnya bisa berfungsi sebagai kartu ATM juga. 
Seluruh saldo yang berada dalam kartu debit itu merupakan transformasi digital 
uang kartal yang dimiliki dan disimpan di rekening bank penerbit kartu semata. 
Tidak ada kaitannya dengan penambahan daya beli pemegang kartunya.

Perbedaannya, uang elektronik yang bersifat prepaid menyimpan saldo pada 
teknologi chip di kartu sehingga bisa dimanfaatkan dalam berbagai transaksi 
offline. Sementara, pada uang elektronik yang bersifat debit, saldo tersimpan 
dalam server sehingga setiap transaksi harus dilakukan secara online.

Bagaimana dengan kartu kredit? Nah, dalam beberapa analisis memang disebutkan 
bahwa penggunaan credit card mampu menyumbang penambahan jumlah uang di pasar. 
Karena, seseorang dianggap mampu meningkatkan konsumsinya di atas saldo uang 
kartal yang dimilikinya. Yang dalam bahasa Nini Avieni disebut memicu 
konsumerisme. 

Tapi, hipotesis penggunaan kartu kredit yang berpengaruh terhadap tingkat 
inflasi juga kurang tepat sebenarnya. Jauh lebih logis kalau hipotesisnya 
menjadi: tingkat suku bunga kredit berpengaruh terhadap nilai inflasi. Karena, 
ada juga pemegang kartu kredit yang menggunakan kartunya hanya untuk memudahkan 
belanja. Dan, begitu selesai berbelanja mereka cepat-cepat membayar tagihannya 
sebelum jatuh tempo, demi terhindar dari perhitungan bunga.

Artinya, bukan kartu kreditnya yang berkorelasi terhadap jumlah konsumsi. Tapi, 
tingkat suku bunganya yang menentukan seseorang jadi konsumtif atau tidak. 
Sementara, kartunya bisa jadi hanya berfungsi sebagai alat transaksi saja; 
peringkas dompet kaum millenial, istilahnya.

Maka dari itu, analisis pada tulisan tersebut yang menyebutkan bahwa penggunaan 
uang elektronik secara masif mampu memicu naiknya inflasi justru bisa ditolak 
seluruhnya. Karena, berdasar berbagai uraian di atas, sudah terjabarkan 
bagaimana penggunaan uang elektronik tidak cukup relevan dalam menambah jumlah 
uang yang beredar. 

Sebaliknya, justru dengan meningkatnya transaksi digital segala kemudahan dan 
efisiensi bisnis malah mungkin terjadi. Barang dan jasa bisa lebih banyak 
diproduksi karena kecepatan transaksi. Velocity of Money ala Irving Fischer pun 
meningkat. Kecepatan uang berputar menunjang pertumbuhan GDP tanpa terbeban 
inflasi. Paling tidak ini lebih relevan secara teori.

Contohnya saja, dengan dilakukannya migrasi sistem pembayaran jalan tol di 
Indonesia beberapa tahun ini. Pihak pengelola jalan tol jelas mendapat 
kemudahan bisnis dan efisiensi transaksi dengan adanya kebijakan ini. Bayangkan 
berapa banyak waktu dan biaya yang terhemat dari masifnya penggunaan uang 
elektronik. Dari berkurangnya beban biaya tenaga kerja, berkurangnya waktu 
proses administrasi dan akuntansi cash, sampai berkurangnya segala risiko 
bisnis dan risiko kerja. 

Okelah, mungkin contohnya terlalu kompleks kalau bicara keuntungan operator 
jalan tol dari migrasi transaksi uang elektronik. Bagaimana kalau contohnya 
pelaku bisnis online saja? Dengan skala usaha kecil sambil iseng, supaya lebih 
mudah dinalarnya. Seperti istri saya yang sambil bekerja bisa berjualan 
kerudung di kantornya. Seratus ribuan dapat dua atau tiga. Konsumennya rekan 
sejawat atau nasabah atau pimpinan, siapa saja asal cocok dan mau bayar. 

Modalnya sekedar kumpulan gambar. Calon pembeli tinggal pilih lalu order. Istri 
saya langsung transfer ke sepupu yang produsen di Bogor. Besoknya kerudung 
sampai diantar. Lalu, kadang karena langsung dipakai, ada temannya lagi yang 
"ngiler". Repeat order. Repeat process from transfer to deliver in less than an 
hour. Terkadang repeat order bisa terjadi berkali-kali dari pagi sampai malam. 
Sebabnya emak-emak galau memilih barang. Yang ini bagus, yang itu lucu, yang 
lain juga oke. Akhirnya dibeli semua. Selama gadget di tangan, dan dekat dengan 
tanggal gajian, selalu ludes dagangan.

Manajemen order dan transaksinya bisa dikatakan sambil lalu saja. Sebab, 
reseller, produsen, maupun supplier, dan vendor diusahakan dalam satu jaringan 
bank. Sehingga, seluruh perpindahan dana bisa cepat, terkontrol, dan tanpa 
biaya. Plus tidak repot melakukan rekapitulasi transaksi. Tinggal download 
rekening koran, lalu selebihnya bisa dikerjakan sambil ngerumpi.

Bayangkan bila istri saya dan sepupunya itu tidak menggunakan uang elektronik 
untuk menunjang bisnis mereka. Berapa banyak waktu dan kesempatan yang 
terbuang, sekadar untuk antre di bank demi mengirim uang misalnya, atau untuk 
melakukan kerja-kerja administrasi usahanya? Padahal istri saya termasuk sibuk 
di kantornya. Padahal sepupunya itu juga ibu dua anak tanpa asisten rumah 
tangga.

Uang elektronik jelas meningkatkan transaksi barang dan jasa. Karena kaum ibu 
iseng saja jadinya bisa berkontribusi dalam meningkatkan GDP negara. 
Menggairahkan sektor ritel, minimalnya. Lewat dagang online sebisanya.

Memang, risiko inflasi tetap mengintip di sana. Misalnya, bila ada yang gelap 
mata dan pakai kredit untuk maksa belanja. Tapi, urusan kredit ini juga tidak 
selalu diselesaikan dengan credit card saja. Bisa dengan pinjam uang teman, 
nego cicil bayar, atau janji lunas saat gajian bulan depan. Belum tentu pakai 
bunga juga jadinya. Sebab banyak artis idola kaum hawa yang hijrah, katanya. 
Hingga ibu-ibu arisan bisa bicara soal riba sambil meneruskan hobi belanjanya.

Intinya, urusan inflasi itu jadi tergantung dengan transaksi yang terkait 
instrumen utang. Bukan terkait dengan potensi masifnya transaksi uang 
elektronik di masa mendatang. Sama-sama transaksi non-cash, tapi beda jauh 
implikasinya. Yang satu bersifat delayed payment, yang lainnya sekadar tidak 
menggunakan uang kartal karena berorientasi pada kecepatan dan kemudahan 
transaksi uang giral. 

Mungkin ini yang akhirnya membuat sebagian orang salah paham, hingga membuat 
yang lainnya ketakutan. Semoga saya juga tidak terlalu salah dalam memahami 
persoalan. 

Pamuji Widodo kontraktor


(mmu/mmu)












Kirim email ke