https://tirto.id/di-balik-slogan-kampanye-trump-apa-konsep-ekonomi-prabowo-sandi-c6AB
<https://tirto.id/q/politik-bpt>
Di Balik Slogan Kampanye Trump, Apa
Konsep Ekonomi Prabowo-Sandi?
Calon Presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto menyampaikan kata sambutan
pada Rakernas Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Jakarta, Kamis
(11/10/2018). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/ama/18
<https://tirto.id/di-balik-slogan-kampanye-trump-apa-konsep-ekonomi-prabowo-sandi-c6AB>
Calon Presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto menyampaikan
kata sambutan pada Rakernas Lembaga Dakwah Islam Indonesia
(LDII) di Jakarta, Kamis (11/10/2018). ANTARA FOTO/Dhemas
Reviyanto/ama/18
Oleh: M. Ahsan Ridhoi - 13 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
/Kubu Prabowo menampik sedang meniru slogan kampanye Trump. Namun,
program ekonomi yang dicanangkan mirip proteksi ala Trump./
tirto.id <https://tirto.id/> - “Sekarang Amerika Serikat merasa kalah
bersaing dengan Tiongkok, mereka menyatakan perang dagang. Tidak ada
/free trade/. Tidak ada perdagangan bebas. Dia mengatakan /America
First/. Dia mengatakan /Make America Great Again/.”
“Kenapa /kok/ bangsa Indonesia tidak berani mengatakan ‘bagi bangsa
Indonesia, /Indonesia first/. /Make Indonesia great again/?' Kenapa
tidak ada pemimpin yang berani mengatakan yang penting adalah pekerjaan
untuk rakyat indonesia?”
Pernyataan itu dilontarkan capres nomor urut 02, Prabowo Subianto di
Pesantren Minhajurrosyidin, Pondok Gede, Kamis (11/10/2018), saat
memberi sambutan di acara Rapat Kerja Nasional Lembaga Dakwah Islam
Indonesia (LDII).
Prabowo memakai slogan /Make America Great Again/ dan /America First
/yang pertama kali dipopulerkan Donald Trump dalam pilpres Amerika
Serikat pada 2016. Lewat slogan ini, suami Melania Trump berjanji
membawa negaranya kembali ke era /good old days/ ketika perekonomian
masih didominasi kulit putih.
Lantas, apakah Prabowo sedang meniru Trump?
Koordinator Juru Bicara (Jubir) Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar
Simanjuntak, saat dihubungi /Tirto/ Jumat (12/10/2018), menampik slogan
tersebut meniru Trump. Ia bilang, itu bagian dari fokus kebijakan
ekonomi Prabowo yang ingin mengembalikan kiblat ekonomi Indonesia ke
Pasal 33 dan 34 UUD 1945.
“Pasal 33 UUD 1945 sudah tidak lagi menjadi "ruh ekonomi" Indonesia.
Penguasaan sumber-sumber ekonomi strategis oleh asing menyebabkan kita
tidak berdaulat sebagai bangsa,” kata Dahnil.
Dahnil menyebut wujud hilangnya kedaulatan ekonomi Indonesia tampak dari
kepemilikan asing yang berlebihan terhadap sumber daya alam, sektor
keuangan/perbankan, telekomunikasi, bahkan ekonomi digital. Rezim Jokowi
dianggap Dahnil hampir tidak pernah menyinggung amanat kemandirian
ekonomi dalam Pasal 33 UUD 1945, alih-alih mengimplementasikannya.
“BUMN kita seharusnya mampu menjadi pertahanan ekonomi Indonesia
mendorong akselerasi pembangunan tanpa mengganggu sektor swasta,” kata
Dahnil.
Menurut Dahnil, penguasaan asing yang berlebihan bisa mengakibatkan
kemiskinan bagi rakyat Indonesia dan menghambat pemeliharaan fakir,
miskin, oleh negara sebagaimana amanat Pasal 34 UUD 45. “Kata kuncinya
Indonesia adil dan makmur,” kata Dahnil.
Baca juga:
* Soal Indonesia Great Again, Prabowo: Saya Ingin Bangsa Saya Kuat
<https://tirto.id/soal-indonesia-great-again-prabowo-saya-ingin-bangsa-saya-kuat-c6Ak>
Program Ekonomi Prabowo-Sandiaga
Dihubungi terpisah, Direktur Ekonomi Kerakyatan Badan Pemenangan
Nasional Prabowo-Sandiaga, Netty Heryawan menjelaskan salah satu langkah
yang dicanangkan untuk membuat ekonomi dalam negeri berdaulat secara
mikro adalah dengan mengembangkan dan memperkuat UMKM.
Penguatan ini akan dilakukan dengan menyediakan modal dan membuka
jejaring usaha bagi para pegiat UMKM melalui pendekatan komunitas.
Dengan cara ini, Netty bilang, pegiat UMKM akan dipertemukan dengan
kelompok kreatif lainnya, seperti komunitas teknologi.
“Jadi nanti penjualan bisa dibantu secara online dengan kemampuan
komunitas tersebut,” jelas Netty.
Tak hanya itu, Netty menyebut, Prabowo-Sandiaga juga bakal membagi UMKM
sesuai dengan segmen produknya. Sehingga, pendekatan yang dilakukan bisa
lebih terarah dan fokus. “Ini namanya /campaign in action/,” kata istri
Ahmad Heryawan ini.
Program ini sebenarnya bagian menasionalkan program OK Oce yang sempat
digagas Sandiaga Uno di DKI Jakarta. Nantinya, program ini dijalankan
dalam bentuk koperasi. “Karena di undang-undang bentuk usaha di
Indonesia ini adalah koperasi,” jelasnya.
Selama masa kampanye, sasaran program ini ada di Jawa, Sumatera, dan
beberapa wilayah di Timur Indonesia. Ia berharap, program ini bisa
memunculkan banyak /enterpreneur/ yang dapat mendorong bertambahnya
tenaga kerja.
Infografik CI Hegemoni Masa Lalu
Mirip Trump dan Buruk
Peneliti ekonomi dari INDEF, Bhima Yudhistira, menilai slogan /Indonesia
Great Again/ yang dilontarkan Prabowo bukan sekadar slogan, tapi memang
meniru Trump. Ini, kata Bima, tampak dari penjelasan Dahnil yang
sebenarnya dimaksudkan untuk membantah Prabowo meniru Trump.
“Arah memangkas investasi asing itu sama dengan Trump yang ingin
mengembangkan industri manufaktur di AS. Itu juga sama seperti Trump
ingin perekonomian AS bebas pengaruh asing,” kata Bhima saat dihubungi
/Tirto/.
Trump, lewat slogan /Make America Great Again/ memang memberikan janji
mengembalikan kejayaan ekonomi Amerika
<http://www.bbc.com/news/business-37921635> Serikat dari intervensi
asing, di antaranya: menarik diri dari North American Free Trade
Agreement (NAFTA) jika tidak dapat disesuaikan dengan kepentingan
ekonomi nasional negeri Paman Sam, membangun kembali infrastruktur dan
industri manufaktur Amerika Serikat, menaikkan tarif /barrier/
barang-barang impor dari luar negeri, lalu peningkatan lapangan kerja.
Bhima menilai, sikap meniru Trump akan berdampak buruk bagi perekonomian
Indonesia. Sebab, menurutnya, yang dilakukan Trump lebih melihat situasi
ekonomi di dalam ketimbang memperhatikan ekonomi global.
“Memproteksi pasar yang akhirnya menimbulkan kerugian buat kita.
Akhirnya partner dagang dan investasi kita melakukan pembalasan,” kata
Bhima.
Baca juga:
* IMF-Bank Dunia: RI Jadi Tuan Rumah Pertemuan Tunjukkan Ekonomi Kuat
<https://tirto.id/imf-bank-dunia-ri-jadi-tuan-rumah-pertemuan-tunjukkan-ekonomi-kuat-c6nA>
Konsep seperti ini belum tepat diterapkan di Indonesia saat ini,
lantaran Indonesia belum punya kekuatan untuk menghadapi perang dagang
seperti yang dilakukan Amerika Serikat dan Cina sebagai akibat menaikkan
tarif barrier.
“Jadi tidak sekadar slogan nasionalisme normatif, tapi juga harus
menyiapkan reaksi dan respons negara lain yang mempunyai kepentingan
dengan Indonesia,” kata Bhima.
Selain itu, Bhima mengatakan, angka investasi asing di Indonesia tidak
sebanyak yang dikatakan kubu Prabowo. Hanya sekitar 5,7 persen dari
keseluruhan investasi sehingga harus dijaga ketat.
“Rata-rata ASEAN itu 17 persen. Vietnam itu sudah di atas 20 persen.
Jadi di sebelah mananya yang sudah didominasi asing?” kata Bhima.
Bhima menyarankan kubu Prabowo lebih baik mencanangkan kebijakan
objektif strategis seperti pengembangan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang
kini bunganya 7 persen untuk mendukung UMKM, jika nantinya terpilih.
“Itu yang kurang pendampingannya, lebih baik itu yang dimaksimalkan
nanti,” kata Bhima.
Tak hanya itu, Bhima meminta tim Prabowo tidak membentuk badan usaha
ekonomi rakyat baru, seperti menasionalkan OK Oce dan fokus merancang
strategi memaksimalkan BUMD sebagai badan usaha lokal. Ini lantaran dana
desa tahun depan bakal ditambah hingga Rp 73 triliun dan butuh
disalurkan dengan tepat lewat program yang terukur pada BUMD.
“Jadi, pengembangan dan penguatan lintas sektor yang ada lebih penting.
Bagaimana BLK [Balai Latihan Kerja], BUMD, KUR dan dana desa bisa
sinkron satu sama lain,” kata Bhima.
Baca juga artikel terkait PILPRES 2019
<https://tirto.id/q/pilpres-2019-c2Z?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya M. Ahsan Ridhoi
<https://tirto.id/author/mahsan?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Politik)
Reporter: M. Ahsan Ridhoi
Penulis: M. Ahsan Ridhoi
Editor: Mufti Sholih