/http://mediaindonesia.com/read/detail/189881-rayuan-dari-pulau-dewata
/
//
//
/*Rayuan (dari) Pulau Dewata*/
Penulis: *Raja Suhud, wartawan Media Indonesia* Pada: Rabu, 10 Okt 2018,
20:48 WIB Opini <http://mediaindonesia.com/opini>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/189881-rayuan-dari-pulau-dewata>
<http://twitter.com/home/?status=Rayuan%20%28dari%29%20Pulau%20Dewata%20http://mediaindonesia.com/read/detail/189881-rayuan-dari-pulau-dewata%20via%20@mediaindonesia>
Rayuan (dari) Pulau Dewata
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2018/10/3d8d6000ed263e1f837daf3fbac3ed38.jpg>
DUNIA sesungguhnya sedang berada dalam perang dunia ketiga. Aktornya
adalah Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Berbeda dengan perang
konvensional, perang kali ini tidak melibatkan persenjataan berat. Hulu
ledak nuklir digantikan oleh beberapa lembar surat keputusan penerapan
tarif impor bagi produk yang masuk dan berasal dari kedua negara itu.
Sejak awal tahun hingga paruh kedua tahun ini AS dan Tiongkok terus
menerus melontarkan misil tempurnya. Meski tidak menggunakan senjata
pemusnah massal, bukan berarti dampak kerusakan dari perang dunia kali
ini ringan. Malah jauh lebih berat dan menimbulkan keruwetan baru.
Berbeda dengan perang konvensional yang begitu misil ditembakan dan
meledak, bantuan kemanusiaan dan palang merah langsung bergerak membantu
korban. Pada perang kali ini, bantuan kemanusiaan tidak bisa segera
masuk. Pasalnya dampak kerusakan tidak serta merta terlihat kasat mata.
Saat misil ditembakan, bangunan pabrik dan fasilitas publik tidak
runtuh, tapi denyut ekonomi langsung terganggu. Barang produksi menumpuk
dan mencari pasar baru yang menimbulkan persoalan baru bagi negara lain
yang menjadi tujuan. Awan cendawan yang dahulu berdampak hanya pada
penduduk di kota Hiroshima dan Nagasaki, dalam perang kali ini berdampak
pada seluruh kawasan. Ekonomi guncang, kemiskinan meningkat, dan beban
negara bertambah. Lebih buruk lagi stabilitas berbagai negara terganggu
karena isu ekonomi adalah isu yang gampang dipolitisasi.
Jack Ma, konglomerat Tiongkok, dalam sebuah kesempatan pernah
melontarkan pernyataan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk menormalisasi
pascaperang dagang ini mencapai 20 puluh tahun. Dua hingga tiga kali
lebih lama dibandingkan waktu Jerman dan juga Jepang mencoba bangkit
pada perang dunia pertama dan kedua. Masalahnya juga yang menjadi
pertanyaan, kapan perang dunia ketiga ini berakhir?
Pelaksanaan Pertemuan Tahunan (Annual Meeting) International Monetary
Fund (IMF) dan World Bank Group di Nusa Dua, Bali, 8-14 Oktober 2018
menjadi menarik karena dilaksanakan pada masa perang dagang
berlangsung. IMF dan Bank Dunia bukan tidak menyadari dampak buruk
dari perang dagang ini. Perekonomian dunia melemah, proyeksi ekonomi
global tidak akan tumbuh sekuat yang diperkirakan.
Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde mengutip pernyataan kakek buyut
ilmu ekonomi Adam Smith, mengatakan bahwa perdagangan global yang
harusnya menjadi sarana meningkatkan kesejahteraan bersama kini malah
menjadi sumber perselisihan dan masalah. Harus ditemukan titik temu agar
perselisihan yang berasal dari sengketa perdagangan dapat dihentikan.
IMF dan WB memang bukan tuan rumah dari penyelesaian masalah sengketa
dagang yang menjadi ranah World Trade Organization (WTO). Tapi WB dan
IMF adalah representasi dari ideologi pemersatu dunia yakni
kapitalisme. Seperti ditulis Profesor Sejarah Yuval Noah Harari, tidak
ada di dunia ini yang menolak uang (dan profit) yang merupakan
representasi utama sistem kapitalis.
AS, Tiongkok, dan para sekutunya di seluruh dunia sejatinya adalah
kaum kapitalis. Dengan bahasa yang sama, tentu akan lebih tercapai
kesepakatan baru. Kecuali bila ternyata perang dagang ini berlandaskan
ideologi baru seperti yang dimiliki Thanos dalam film /Avenger The
Infinity War/
Kalau itu yang terjadi kita patut mendukung inisiatif Presiden Joko
Widodo untuk membangun aliansi baru melawan Thanos.
Semoga perang ini segera berakhir. Dan di Bali seruan atau mungkin
rayuan penghentian perang (dagang) dunia, bisa dimulai agar nama
Indonesia tercatat dalam tinta emas sejarah. (E-2)
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/189881-rayuan-dari-pulau-dewata>
<http://twitter.com/home/?status=Rayuan%20%28dari%29%20Pulau%20Dewata%20http://mediaindonesia.com/read/detail/189881-rayuan-dari-pulau-dewata%20via%20@mediaindonesia>