Guru kencing berdiri murid kencing berlari.Kalau guru2 intoleran apakah 
murid2nya ektrimis? teroris?
Saya rasa ada kesalahan sistem pendidikan di Indonesia yang terlalu 
meng-agung2kan pendidikan agama.

"Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless 
world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people."
Karl Marx
kutipan:
PUSAT Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) 
Syarif Hidayatullah Jakarta merilis hasil survei terbaru mengenai pandangan 
keberagaman di kalangan guru muslim se-Indonesia. Dari hasil survei, diketahui 
sekitar 63,07% guru memiliki opini intoleran.

"Hasil ini merepresentasikan opini intoleransi guru beragama Islam di semua 
level pendidikan. Mulai dari TK hingga SMA atau Madrasah Aliyah. Sebagian besar 
masuk kategori intoleran dan sangat intoleran terhadap pemeluk agama lain," 
ungkap Direktur Eksekutif PPIM UIN Saiful Umam, dalam rilis survei bertajuk 
Pelita yang Meredup: Potret Keberagaman Guru Indonesia, di Jakarta, Selasa 
(16/10).


---In [email protected], <j.gedearka@...> wrote :





http://mediaindonesia.com/read/detail/191169-63-guru-di-indonesia-berpandangan-intoleran


63% Guru di Indonesia Berpandangan Intoleran
Penulis: Dhika Kusuma Winata Pada: Selasa, 16 Okt 2018, 17:51 WIB Politik dan 
Hukum        
IST


PUSAT Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) 
Syarif Hidayatullah Jakarta merilis hasil survei terbaru mengenai pandangan 
keberagaman di kalangan guru muslim se-Indonesia. Dari hasil survei, diketahui 
sekitar 63,07% guru memiliki opini intoleran.

"Hasil ini merepresentasikan opini intoleransi guru beragama Islam di semua 
level pendidikan. Mulai dari TK hingga SMA atau Madrasah Aliyah. Sebagian besar 
masuk kategori intoleran dan sangat intoleran terhadap pemeluk agama lain," 
ungkap Direktur Eksekutif PPIM UIN Saiful Umam, dalam rilis survei bertajuk 
Pelita yang Meredup: Potret Keberagaman Guru Indonesia, di Jakarta, Selasa 
(16/10).

Hasil opini intoleransi tersebut, lanjut Saiful, diukur menggunakan sejumlah 
pernyataan. Di antaranya pernyataan bahwa non-muslim boleh mendirikan sekolah 
berbasis agama di lingkungan sekitar. Pernyataan lain yang diuji ialah tetangga 
yang berbeda agama boleh mengadakan acara keagamaan di kediamannya 
masing-masing.

Hasilnya, sebanyak 56% guru tidak setuju non-muslim boleh mendirikan sekolah 
berbasis agama di sekitar tempat tinggalnya. Sebanyak 21% guru juga tidak 
setuju bahwa tetangga yang berbeda agama boleh mengadakan acara keagamaan di 
lingkungan mereka.

"Kedua contoh pernyataan ini memiliki muatan faktor tinggi dalam mengukur opini 
intoleransi," imbuh Saiful.

Survei tersebut melibatkan 2.237 responden guru beragama muslim di 34 provinsi. 
Guru yang menjadi responden berada di semua jenjang pendidikan dasar dan 
menengah mulai dari TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/K/MA. Survei dilakukan pada 6 
Agustus-6 September 2018.

Saiful menambahkan meski dari hasil survei menggambarkan potrem buram sikap 
keberagamaan guru, dengan temuan tersebut tidak serta-merta guru berarti 
berbuat intoleran. Hasil tersebut hanya menggambarkan pandangan dan intensi 
intoleransi.

"Tapi belum tentu guru itu pernah melakukan aksi intoleran. Tapi jika ada 
kesempatan memungkinkan. Kalau ditanya aksi, kemungkinan akan melakukan 
tindakan intoleran sudah berkurang," ujarnya.

Hal itu, lanjutnya, tercermin pada uji pernyataan lanjutan yang diajukan kepada 
responden. Pada uji intensi aksi intoleran, temuan survei menunjukkan sekitar 
29% guru berkeinginan untuk menandatangani petisi menolak kepala dinas 
pendidikan yang berbeda agama. Sekitar 34% guru juga berkeinginan 
menandatangani petisi menolak pendirian sekolah berbasis agama non-Islam di 
sekitar tempat tinggalnya.










Kirim email ke