https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160218_indonesia_radikalisme_anak_muda
Anak-anak muda Indonesia makin radikal?

Sri Lestari Wartawan BBC Indonesia

   -

   18 Februari 2016



Hak atas foto AFP Image caption Pelajar dan mahasiswa Indonesia banyak yang
tidak memiliki pemikiran terbuka.

Kalangan anak muda Indonesia makin mengalami radikalisasi secara ideologis
dan makin tak toleran, sementara perguruan tinggi banyak dikuasai oleh
kelompok garis keras, ungkap para peneliti LIPI dalam diskusi Kamis (18/02).

Peneliti LIPI Anas Saidi mengatakan paham radikalisme ini terjadi karena
proses Islamisasi yang dilakukan di kalangan anak muda ini berlangsung
secara tertutup, dan cenderung tidak terbuka pada pandangan Islam lainnya,
apalagi yang berbeda keyakinannya.

Dia mengatakan jika pemahaman ini dibiarkan bisa menyebabkan disintegrasi
bangsa karena mereka menganggap ideologi pancasila tidak lagi penting.

"Proses Islamisasi ini terjadi secara monolitik dan terjadi masjid yang
dikuasai kelompok tertentu yang konsekuensi ikutannya adalah sikap
intoleran, dan jika nanti mereka kemudian menjadi pejabat menjadi menteri
menjadi apa saja, kalau tidak punya toleransi dan masih punya benak untuk
mengganti pancasila, itu yang saya kira ada kecemasan itu ," jelas Anas.

Anas mengatakan proses Islamisasi di kalangan mahasiswa itu harus
diimbangin dengan proses Islamisasi yang terbuka, bervariasi dan
penyelesaian perbedaan pendapat itu dapat diselesaikan tidak dengan
kekerasan.

Jika itu dilakukan, Anas melihat ada sisi positif proses Islamisasi ini
dapat memberikan generasi muda yang lebih dapat menerima perbedaan.
Pasca reformasi

Anas mengungkapkan dalam penelitian yang dilakukan pada 2011 di lima
universitas di Indonesia UGM, UI, IPB, Unair, Undip menunjukkan peningkatan
pemahaman konservatif atau fundamentalisme keagamaan khususnya di kalangan
mahasiswa di kampus-kampus umum.

"Tetapi kecenderungannya itu tidak berubah dan masih terjadi hingga
sekarang," jelas Anas.

Radikalisme di kalangan pelajar dan mahasiswa itu terjadi pasca reformasi,
dengan menyebar melalui Jamaah Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin), termasuk HTI
dan salafi yang merupakan bagian dari gerakan Islam transnasional.

"Sebagian besar perguruan tinggi umum, yang telah didominasi oleh Ichwanul
Muslimin dan Islamis lainnya," jelas Anas.

Disebutkan, jika pemahaman ini dibiarkan akan menyuburkan sikap intorelan
dan bisa menyebabkan disintegrasi bangsa.

Proses Islamisasi yang dilakukan di kalangan anak muda ini berlangsung
secara tertutup, dan cenderung tidak terbuka pada pandangan Islam lainnya.

"Negara harus campur tangan agar proses Islamisasi di kalangan mahasiswa
itu berlangsung terbuka, dan masjid tidak dikuasai kelompok tertentu agar
semua pandangan masuk," papar Anas.

Anas mengatakan pemahaman ideologi radikal itu dapat terlihat dari
pandangan yang mengharamkan tafsir yang berbeda dengan pemahaman mereka,
mengkafirkan sesama muslim dan juga menekan kelompok minoritas.

Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin oleh Prof
Dr Bambang Pranowo --yang juga guru besar sosiologi Islam di Universitas
Islam Negeri (UIN) Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011,
mengungkapkan
hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal
<http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2011/04/110426_surveiradikalisme.shtml>
..

Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak
relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan
Syariat Islam di Indonesia.

Jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama
mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom.
Intervensi pemerintah

Peneliti LIPI lain, Endang Turmudi mengatakan menyebar luasnya ideologi
radikal di kalangan anak muda harus diwaspadai dan dapat lebih berbahaya
dibandingkan terorisme.

"Kalau teroris hanya bagian kecil saja dari suatu kelompok radikal, dan
hanya sebagian kecil dari bahaya yang mengancam negara dan masyarakat
Indonesia," jelas Endang.

Kelompok teroris itu, menurut Endang, yang mempraktekan radikalisme dengan
cara kekerasan, seperti pemboman.

Hak atas foto AFP Image caption Survei LaKIP menyebutkan sektar 14%
anak-anak muda setuju pemboman.

Tetapi, kelompok yang lebih mengancam menurut Endang, yaitu masyarakat
Islam yang memaksakan paham mereka kepada seluruh masyarakat Indonesia.

"Radikalisme itu sendiri dalam bentuknya memang seakan terasa lunak karena
tidak menimbulkan kekerasan langsung, karenanya tidak menarik perhatian
pihak keamanan, dan masyarakat pun tidak memberikan perhatian khusus."

Akibatnya, kata Endang lagi, banyak kalangan lengah.

Untuk mengikis penyebaran paham ini Anas mengatakan pemerintah harus
melakukan intervensi terhadap pendidikan, mulai dari kurikulum sampai
dengan penggunaan ruang pendidikan. Terutama di kampus, "agar mengajarkan
keterbukaan dan ruang pendidikan tidak dikuasai kelompok tertentu.

Dalam survei The Pew Research Center pada 2015 lalu, mengungkapkan di
Indonesia, sekitar 4 %
<http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/11/151120_dunia_islam_gch>atau
sekitar 10 juta orang warga Indonesia mendukung ISIS - sebagian besar dari
mereka merupakan anak-anak muda.

Kirim email ke