Bung Jo,
Waktu reunie di Surabaya, saya duduk bersama ketuanya Leonardo.
Saya beritahu Leonardo, bahwa teman lain semeja itu adalah cucu
buyut dari kapitein der Chinezen Nio Hoey Oen (Liong Ying Tang),
salah seorang dari 13 orang yang kumpulkan fonds 500.000 gulden
jaman Belanda dirikan TH Bandung.
Leonardo tanya kok saya tahu. Saya bilang, waktu dia jemput kami
di pelabuhan Shanghai dari tur ke Koea dan jepang, di dalam bus
dia tunjuki saya staatsblad jaman Belanda, pengangkatan 13 orang
jadi komisi pengumpulan dana untuk dirikan Technische hogeshool
Bandung (TH Bandung). Setelah baca saya bilang, Nio Hoey Oen
adalah kapitein der Chinezen di Batavia dulu, dan dia ikut dirikan THHK
di tahun 1900 bersama Phoa Keng Hek, yang jadi ketuanya. Nio juga
aktif dalam mendirikan sekolah THHK pertama di jalan Patekoan, yang
terkenal sebagai Patekoan Tiong Hoa Hwee Koan, yang disingkat jadi
Pa Hoa.
Dia heran kok saya tahu. Saya bilang, itu saya baca di bukunya Benny
Gatot Setiono, Tionghoa dalam pusaran politik. Dia bilang, Nio Hoey Oen
itu engkong buyut dia. Sekarang saya yang jadi tercengang, lho apa dari
pihak ibu atau nenek ? Dia bilang bukan, cucu buyut dalam, Nio Hoey Oen
itu nama lainnya adalah Liong Yin Tang.
Leonardi tanya teman semeja apa benar dia cucu dari salah satu anggota
komisi pengumpul dana pendirian TH Bandung. Setelah teman membenarkan,
Leonardo maju ke depan, ngomong di pengeras suara bahwa sponsor reunie
adalah cucu buyut dari salah satu orang dari 13 orang yang kumpulkan dana
sehingga TH Bandung dapa didirikan.
Kemudian teman diminta jelaskan.
Yang saya masih ingat dari 13 anggota komisi itu ada nama Walikota Bandung
(yang kemudian beri tanah beberapa ha), ada kepala Javaansche Bank, ada ke-
pala Jaksa ("bumi putera"), 3 orang Tionghoa : Phoa Keng Hek, ketua THHK,
Nio Hoey Oen, H.H.Kan, orang kaya, anggota dewan Jakarta.
Belakangan, teman dimintai bantuan oleh ITB yang tahu dia punya proyek real
estate di Batugede. Dia lagi kekurangan uang untuk membeayai proyeknya,
jadi
bisanya kasih tanah 1 ha untuk proyek innovatie ITB.
https://properti.kompas.com/read/2017/07/10/183000421/bangun.techno.park.summarecon.hibahkan.lahan.1.hektar.kepada.itb
Teman tidak bisa ikut reunie, tetapi tetapi membantu mensponsori.
Salam,
KH


On Sun, 21 Oct 2018 at 02:48, ChanCT [email protected] [GELORA45] <
[email protected]> wrote:

>
>
> Kisah reuni ITB di Xia Men yang tentu sangat menarik, bung Jo!
> Terimakasih, ... boleh berlanjut begitu ada waktu senggang! Hehehee, ...
>
> Sungguh heibat organisator nya bisa mengatur acara, dan pengaturan
> meninjau disepanjang perjalanan itu, apalagi menghadapi lansia-lansia! Apa
> tidak terjadi hambatan entah ada peserta yang terlambat, tertinggal giginya
> di Hotel ataupun kesehatan bermasalah yg juga biasa terjadi bagi orang
> lanjut usia?
>
> Saya tertarik dengan cerita sahabat dari Swis yang ikut pembangunan waduk
> raksasa Three Gorges Sungai Yang Tse itu, di bagian pembangkit-listrik
> tenaga air nya, jadi harus terjadi tranfer teknologi, yg oleh Trump
> terakhir ini dibilang Tiongkok mencuri teknologi maju dari barat! Tentu
> saya tidak jelas bagaimana persisnya, tapi nampak jelas prinsip BERDIKARI
> tetap dijalankan oleh pemerintah Tiongkok, menerima bantuan asing
> darimanapun sebagai KESEMPATAN mereka untuk harus belajar dan bisa
> menjalankan sendiri! Perkembangan menjadi lebih heibat lagi, karena
> muda-mudi teknisi Tiongkok tidak hanya meniru/menjiplak begitu saja, tapi
> sangat kreatif mengembangkan dan menyempurnakan ciptaannya! Jadi, dalam
> waktu singkat bisa melampaui hasil pendahulu guru-guru mereka.
>
> Disinilah beda mencolok dengan Indonesia sejak jaman Suharto yg berjiwa
> BUDAK itu,  masukkan modal-asing hanya mengutamakan berapa% keuntungan bisa
> masuk kantong sendiri, akhirnya kekayaan bumi alam dikuras habis, rakyat
> dibiarkan TETAP BODOH dan menderita kemiskinan, ... sekarang muncul
> Presiden Jokowi yg berusaha keras melaksanakan hanya boleh ekspor
> barang-jadi atau 1/2 jadi, tidak lagi boleh hasil-tambang mentah, dan
> berusaha keras mengambil alih perusahaan-asing malah dicerca, dimaki
> sanasini, ...! Entah bangsa ini maunya apa???
>
> Kalau penghijauan di Tiongkok sudah digencarkan sejak tahun 60-an, itu
> yang saya perhatikan, khususnya penanaman pohon-pohon menghadang debu Gurun
> Gobi (pasir) yg membuat langit di Beijing jadi gelap kekuning-kuningan,
> terasa menyenggak ditenggorokan. Sekalipun dimasa RBKP sesaat juga terjadi
> kesalahan ekstrim tidak hanya menebangi pohon-pohon serampangan, itu sungai
> buatan, atau lebih tepat dikatakan kanal-2 yang mengelilingi kota-terlarang
> ditengah-tengah kota Beijing itu, sebagian besar diuruk! TIDAK GUNA! Kata
> Garda Merah. Padahal itu hasil karya ratusan tahun dari kaisar, bukan hanya
> untuk perindah istana saja, tapi adanya aliran air ditengah-tengah kota
> Beijing itu justru membuat udara tidak terlalu kering! Akhirnya ditahun
> 90-an mulai digali lagi kanal-kanal itu, bahkan diperpanjang dan diperluas,
> ... Pemerintah Tiongkok cukup baik memperhatikan dan menjaga lingkungan
> kehidupan rakyat yang sehat!
>
> Sepanjang jalan tol di Tiongkok daratan, saya juga perhatikan, sudah cukup
> banyak tiang-listrik/lampu jalan sudah gunakan sumber-energi
> matahari/angin, ada lempeng+kincir. Dan setiap perumahan didesa-desa
> sepanjang jalan tol itu, kalau diperhatikan juga sudah banyak gunakan
> lempeng-lempeng listrik-matahari dengan gentong-air disampingnya. Yang
> menurut saya kurang baik, sekalipun itu menandakan kemakmuran petani
> didesa-desa, ditengah-tengah sawah-ladang, seringkali nampak beberapa
> sepeda-motor. Petani-petani itu sudah tidak lagi jalan atau naik sepeda
> kesawah-ladang yg mestinya lebih sehat dan tidak menimbulkan polusi! Atau
> mungkin setelah semua tanah digabung dalam koperasi utk dikerjakan bersama,
> jarak dari rumah tinggal jadi jauh? Entahlah, ...
>
>
>
>
> [email protected] [GELORA45] 於 20/10/2018 23:53 寫道:
>
>
>
> Kami memakai 4 bus utk mengangkut kira2 200 orang yang mengikuti
> reunie/Reunion TFI (ex ITBer). Tetapi dalam kenyataan, tidak semua bukan
> mantan akademisi dari ITB. Banyak yg.mendapat pendidikan akademik teknik di
> negara Barat seperti dari Jerman, Belanda, Amerika, Swiss. Dan juga tidak
> sedikit yg bukan dari bidang teknologi tetapi dari bidang medik/kedokteran.
> Mereka yg berdomisili di Asia tidak banyak, antara lain satu dari Singapore
> yg saya bisa berkenalan.
>
> Yg sangat menarik per-tama2 dalam pengamatan saya waktu naik bus di kota
> dan highway (diluar kota) ditepi jalan atau highway selalu ada pohon2. Juga
> di diantara jalan yg membagi jalan menjadi 2 arus berlawan selalu ada
> pohon2 kecil/lebih kecil. Dari ratusan kilometer highway yg kami lewati
> tidak ada yg tidak ada pohon2 seperti tsb diatas kecuapi di jembatan2
> (sebab yg tentunya tidak bsa ditanami pohon2 dipinggir highway nya. Saya
> tanyakan bagaimana ini bisa terjadi karena pohon2 perlu dikasih air dan
> jawabannya adalah ada spesial kendaraan yg mengairi pohon2 ini. Ini
> tentunya memerlukan kendaran2 dan tenaga kerja yg tidak murah.
> Infrastruktur seperti ini, tidak ada di Amerika dan Kanada sebab terlalu
> mahal. Selain itu tidak ada tanah kosong sepanjang jalan yg tidak ada
> pohon2. Luar biasa infrastuktur ini yg berguna bagi rakyat Tiongkok.
> Seperti kita ketahui pohon2 melakukan proses "photosynthesis" yg mengambil
> CO2 dari udara kotor dirubah menjadi O2 (oxygen) yg berguna utk pernafasan
> kita/kesehatan rakyat Tiongkok. Seperti kita ketahui industri di Tiongkok
> banyak menghasilkan polusi dan pohon2 bisa mengurangi polusi,.
>
> Tadi waktu makan malam semeja, saya berkenalan dgn seorang insinjur yg
> mendapat pendidikan di Jerman dan kemudian di Swiss (mempunyai 2
> kualifikasi) dimana dia/company nya dari Swiss ikut mengbangun  Three
> Gorges Dam (bendungan yg terbesar didunia utk menampung air dan mendapat
> energi listrik). Dia bilang bahwa RRT mengharus kan ada technology transter
> dari company nya sebelum company ini bisa beroperasi di RRT. Dan sekarang,
> malahan dia sebagai akhli teknik mengagumi kemajuan RRT. Waktu makan pagi
> saya semeja dgn seorang dari Los Angeles dan dia memberi komentar kemajuan
> RRT. Maka dari itu  presiden Trumft mempunyan semboya 'Make America great
> again". kerena sudah kalah infrastrutur nya.
>
> Selain pohon2 di highway, banyak terowongan2 yg menembus pegunungan2, yg
> tidak bisa dinilai berapa ongkos2 nya. Gedung2 pencakar langit tumbuh
> di-mana2 tetapi sangat teratur. Dan tidak seperti terjadi di Thailand yg
> saya lihat 3 minggu yg lalu, yg planning nya sepertinya ambulradul..
>
> BH Jo
>
>
> ---In [email protected], <djiekh@...> <djiekh@...> wrote :
>
> Bung Jo,
> Saya lihat, plan tour dari reunie TFI (ex ITBer) justru sudah satu lebih
> banyak daripada tempat2 yang saya pernah kunjungi. Dulu , 6 tahun yang
> lalu, saya
> belum kunjungi pegunungan Wuyi yang terkenal akan tehnya. Tetapi ya, waktu
> itu
> yang diutamakan reunie familie Djie, kunjungi desa asal di Bimen, di utara
> sungai,
> beberapa km di luar kota Xiamen.
> Mungkin bung bisa tanya Hock Tong. Dia sudah menjelajahi provincie Fujian..
> Yang pernah dia cerita tentang jendral Chen Zhen yang dikirim dari Guizi,
> Henan untuk pacify Fujian. tetapi dia meninggal dalam perjalanan karena
> sakit. Digantikan oleh anaknya, Chen Yuan Guang ( Tan Wan Gong) yang baru
> umur 12 tahun, yang dibimbing neneknya, ahli srategi perang (ya, di
> Tiongkok jaman dulu yang jadi jendral2 sudah ada wanitanya seperti Hwan Lee
> Hwa, Hua Mulan, dan ibu dari keluarga Jo (Warriors of the yang clan), juga
> sudah ada yang pernah jadi perdana men teri yaitu Beng Lee Koen).
> Barangkali bisa kunjungi salah satu temple dari Chen yuan Guang ?
> https://en.wikipedia.org/wiki/Tan_Goan-kong
> Di samping itu Hock Tong pernah cerita adanya peninggalan fort dari
> seorang jendral Qi Jiguang yang berhasil mengalahkan bajak laut Jepang.
> Tentaranya dilatih bertempur berkelompok tiap dua orang. Yang satu gunakan
> tombak panjang, yang lain gunakan golok pendek. Bung Jo bisa tanya
> tempatnya pada Hock Tong atau orang Fujian. Jendral ini ini bertempur di
> mana2, sepanjang pantai mengalahkan invasi jepang yang terutama terdiri
> dari bajak laut. Dia juga yang membangun tembok besar Tiongkok, dengan
> sistem pertahanannya yang luar biasa kuat dan tentaranya dapat cepat
> digerakkan di dekat Beijing.
> https://en.wikipedia.org/wiki/Qi_Jiguang
> < /div>
> Kalau banyak waktu bung Jo dapat pergi ke provinsi2 sekitar Fujian,
> seperti Taiwan, Zhejiang ( kota Hangzhou dari Jack Ma, kuburan Yu Fei (Gak
> Hoei dan puteranya, juga seorang jendral), West Lke (Xi Hu) dengan shownya
> yang sangat menarik. Saya begitu tertarik dengan Hang Zhou, sampai sudah 6
> kali ke sana.
> O, ya, jangan lupa ke Huang Shan. Ini waktunya yang baik. Indah sekali.
> Tetapi mesti ditandu dua orang. Jalannya terjal.
> Orang bilang : Di atas ada sorga, di bawah ada Hang Zhou dan So Zhou. Di
> jaman dulu wania So Zhou terkenal akan kecantikannya dan suaranya yang
> melodious. Waktu tahun 1996 saya ke So Zhou, wanitanya jalan ya seperti
> kita asal Indonesia, "lenggang2 ", wah sekarang kok seperti tergesa-gesa
> dan pakaiannya juga jadi sembarangan. Temn saya bilang, mereka ini kan
> turis dari desa.
> Ada beberapa show dalam sehari di hangzhou. Menarik juga ke Guang Dong
> (Kanton).
> Salam,
> KH
>
>
>
>
> <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
> 不含病毒。www.avg.com
> <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
> <#m_6360604746394904818_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>
> 
>

Kirim email ke