https://tirto.id/444-hari-krisis-penyanderaan-bibit-perseteruan-abadi-as-iran-c88A
4 November 1979
444 Hari Krisis Penyanderaan, Bibit
Perseteruan Abadi AS-Iran
Ilustrasi Mozaik Iran hostage Crisis US Embassy. tirto.id/Sabit
<https://tirto.id/444-hari-krisis-penyanderaan-bibit-perseteruan-abadi-as-iran-c88A>
Ilustrasi Mozaik Iran hostage Crisis US Embassy. tirto.id/Sabit
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 4 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
/Pendudukan kantor kedutaan AS di Teheran itu tercatat sebagai krisis
penyanderaan terlama dalam sejarah./
tirto.id <https://tirto.id/> - 1979 adalah tahun di mana Iran meletakkan
pondasinya sebagai sebuah republik Islam. Di antara rangkaian insiden
yang mengawali revolusi para mullah, krisis pendudukan kantor kedutaan
besar Amerika Serikat di Teheran adalah salah satu fragmen paling penting.
Bukan soal durasinya yang tercatat sebagai krisis penyanderaan terlama
dalam sejarah, akan tetapi dampaknya yang amat efektif untuk merusak
hubungan Iran dan AS hingga hari ini.
Narasi anti-Amerika mengental sejak massa turun ke jalan. Mereka
termotivasi oleh jejak CIA dalam Operation Ajax (1953) yang berakibat
pada tergulingnya Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh dan naiknya Shah
Mohammed Reza Pahlevi ke tampuk kekuasaan.
Salah satu jurnalis yang menarasikan peristiwa tersebut dengan cukup
komprehensif adalah John Skow, reporter /Majalah Time/. Dalam laporannya
yang bertajuk /The Long Ordeal of the Hostages/
<http://content.time.com/time/subscriber/article/0,33009,954605-1,00.html>,
Skow menjelaskan bagaimana kedutaan besar AS di Teheran menjadi sasaran
demonstrasi yang berlangsung agresif.
Inisiatornya adalah aktivis yang tergabung dalam Mahasiswa Muslim
Pengikut Garis Imam, aliansi mahasiswa pendukung Revolusi Iran dari
berbagai universitas. Mereka sudah merencanakan aksi penyerbuan sejak
bulan September.
Rencananya sederhana: menduduki kedubes AS selama beberapa jam, atau
paling lama satu minggu, untuk menunjukkan pada dunia perihal kontribusi
mereka dalam revolusi Iran. Pendudukan kedubes dianggap mampu
memaksimalkan perjuangan revolusi “dengan cara yang jauh lebih tegas dan
efektif.”
Pada tanggal 4 November 1979, 39 tahun silam, militansi mahasiswa makin
mengeras. Mereka siap untuk kontak fisik dengan aparat keamanan. Meski
demikian, mereka tetap bertindak cerdas. Untuk membuka gerbang kedubes,
misalnya, mereka menyelundupkan aktivis perempuan yang membawa pemotong
gembok di balik kerudung panjangnya.
Baca juga:
* Kaset Ceramah Khomeini Menjaga Api Revolusi Iran
<https://tirto.id/kaset-ceramah-khomeini-menjaga-api-revolusi-iran-cEqS>
Usai gerbang terbuka, massa menyerbu ke dalam kedubes. Sebanyak 66 warga
Amerika disandera. Tangan mereka diikat, mata ditutup dengan selembar
kain. Dokumen-dokumen rahasia dibakar massa di jalanan depan kedubes,
bersama meja, kursi, dan hasil jarahan lain.
Mahasiswa kemudian mengadakan konferensi pers untuk meminta
pendeportasian Shah Pahlevi yang pergi berobat ke AS usai digulingkan
oleh gerakan revolusioner Iran. Mereka meminta AS minta maaf atas
intervensinya di dalam politik dalam negeri Iran, termasuk penggulingan
Mossadegh, dan menyerahkan aset Iran yang dibekukan di bank-bank AS.
Sesuai rencana awal, pendudukan kedubes dan penyanderaan para karyawan
akan berlangsung dalam waktu singkat. Namun, segalanya berubah setelah
Ayatullah Khomeini, pemimpin revolusi Iran, menyatakan dukungan penuh
kepada mahasiswa.
Khomeini pulang dari pengasingan selama 15 tahun di Perancis pada 1
Februari 1979. Ia dan Dewan Revolusioner mengambil alih kekuasaan pada 6
November, dua hari setelah aksi penyanderaan, usai PM Mehdi Bazargan dan
jajaran pemerintahannya menyatakan untuk mengundurkan diri.
Mark Bowden dalam bukunya /Guests of the Ayatollah: The First Battle in
America's War With Militant Islam/
<https://www.goodreads.com/book/show/9076.Guests_of_the_Ayatollah>
(2006) mencatat bagaimana Khomeini memanfaatkan berbagai insiden di
lapangan untuk menyatukan sekaligus menguatkan moral warganya.
Pendudukan kedubes Khomeini sebut sebagai “revolusi kedua”. Sementara
kedubes AS ia nyatakan sebagai “sarang mata-mata Amerika di Teheran”.
Baca juga:
* Nuklir Pernah Dekatkan AS-Iran, Revolusi 1979 Mengubah Segalanya
<https://tirto.id/nuklir-pernah-dekatkan-as-iran-revolusi-1979-mengubah-segalanya-cKht>
Berbagai faksi internasional mendukung aksi penyanderaan, baik yang
berafiliasi Islamis maupun yang kiri—dua entitas musuh AS selama periode
perang dingin. Uni Soviet, Kuba, Libya, dan Jerman Timur diduga
memberikan bantuan tak langsung. Organisasi Pembebas Palestina (PLO)
memberikan personel, pelatihan, hingga dana. Fidel Castro tak
ketinggalan melontarkan pujian untuk Khomeini.
Presiden AS Jimmy Carter dan jajaran pemerintahannya cukup pusing sebab
para penyandera menolak negosiasi. Hal ini membuat durasinya memecahkan
rekor: 444 hari. Sepanjang satu tahun lebih warga di Iran mengukuhkan
agenda revolusi mereka, sementara demonstrasi anti-Iran merebak di
berbagai kota di AS, terutama di ibukota Washington D.C.
Beberapa sandera ada yang mampu berangsur-angsur dibebaskan. Pada 20
November 1979, misalnya, sandera perempuan dan yang berkulit hitam
dilepaskan. Sisa sandera tercatat 53 orang. Pada 11 Juli 1980 totalnya
menjadi 52 orang setelah satu orang sandera dibebaskan karena sakit.
Bowden menggarisbawahi perbedaan kondisi sandera dari yang dilaporkan
pihak Iran dan yang berasal dari pengakuan para sandera sendiri.
Pihak Iran berkali-kali menegaskan bahwa sandera adalah tamu sehingga
mesti diperlakukan dengan hormat. Sementara sandera yang diwawancarai
Bowden berkata sebaliknya: mereka kerap menerima pemukulan, pencurian,
dan teror verbal.
Baca juga:
* Anti-Jilbab dan Wajib Jilbab Sebelum dan Sesudah Revolusi Iran
<https://tirto.id/anti-jilbab-dan-wajib-jilbab-sebelum-dan-sesudah-revolusi-iran-cEsY>
Sandera lain mengaku pernah diborgol berhari-hari, dikurung di ruangan
gelap, dilarang pergi ke ruangan lain kecuali ke toilet, dan dilarang
berkomunikasi dengan sandera lain selama berbulan-bulan. Mereka
berkali-kali menerima ancaman akan dieksekusi jika tidak menurut. Ada
juga yang bersaksi jadi korban permainan “Russian roulette” oleh
sejumlah penyandera.
Ada seorang sandera yang mogok makan. Dua lainnya mencoba bunuh diri
dengan cara mengiris pergelangan tangan memakai pecahan gelas kaca.
Percobaan ini gagal saat penyandera masuk ke ruang gelap tempat keduanya
disekap, lalu dibawa ke rumah sakit terdekat.
Empat sandera ada yang mencoba kabur, tetapi tertangkap, lalu mendapat
hukuman kurungan khusus. Para penyandera suka memberikan ancaman-ancaman
yang bertujuan untuk meruntuhkan kondisi psikologis para sandera.
Perlakuan mereka, kata korban kepada Bowden, adalah “suatu bentuk
penyiksaan yang diulur-ulur”.
infografik mozaik kedubes AS
Pemerintahan AS bukannya diam. Mereka pernah melakukan upaya
penyelamatan pada April 1980, tapi gagal, dan justru secara tak sengaja
membunuh delapan pekerja asal AS. Carter makin tertekan sebab
demonstrasi di AS sendiri makin meluas.
Pada pertengahan Januari 1981 kebuntuan akhirnya bisa dipecahkan melalui
proses negosiasi panjang yang telah AS jalani sejak bulan November 1980.
Sebagaimana merujuk pada catatan /CNN Middle East/
<https://edition.cnn.com/2013/09/15/world/meast/iran-hostage-crisis-fast-facts/index.html>,
Aljazair berperan sebagai mediator. Iran mau membebaskan para sandera
setelah AS bersedia untuk mencairkan aset-aset Iran yang dibekukan.
Pada 20 Januari 1981 ke-52 sandera diterbangkan ke Aljazair, lanjut ke
Pangkalan Udara Rhein-Main di Jerman Timur. Mereka dirawat selama
beberapa di rumah sakit Weiesbaden sebelum akhirnya diterbangkan ke New
York. Sambutannya luar biasa besar, bak pahlawan yang baru pulang dari
medan perang.
Baca juga:
* Bagaimana Para Presiden AS Mengeksploitasi Krisis Politik di Iran
<https://tirto.id/bagaimana-para-presiden-as-mengeksploitasi-krisis-politik-di-iran-cCQD>
Masih mengutip /CNN/
<https://edition.cnn.com/2014/10/27/world/ac-six-things-you-didnt-know-about-the-iran-hostage-crisis/index.html>,
banyak ahli yang berpendapat bahwa krisis penyanderaan sebagai awal mula
AS berhadapan dengan politik Islam. Iran bukan lagi berstatus sebagai
kawan AS di Timur Tengah. AS berpaling ke Irak, memasok berbagai bantuan
militer, dan turut memperkuat posisi Saddam Hussein.
Belum ada satu tahun sejak dimulainya drama penyanderaan, Saddam
menginvasi Iran. Aksi ini memulai perang antar kedua negara yang
berlangsung hampir sewindu dan memakan nyawa lebih dari 100.000 warga sipil.
AS tentu saja terlibat untuk mendukung Irak—sikap yang kemudian berbalik
pada awal 2000-an dengan dalih kepemilikan senjata pemusnah massal.
Sementara itu hubungan AS dengan Iran terus-menerus panas. Keduanya
seakan ditakdirkan sebagai musuh abadi.
AS rajin mengancam Iran melalui berbagai jenis embargo ekonomi, sesekali
benar-benar mereka realisasikan. Perbincangan soal nuklir tak pernah tak
alot. Dalam konteks persaingan geo-politik, Iran selalu lebih dekat
dengan Rusia dan negara-negara lain yang anti-AS.
Gedung kedubes AS di Teheran kini dialih fungsikan sebagai museum dan
pusat kebudayaan Islam. Tiap tahun jalanan di sekitarnya diramaikan oleh
warga yang memperingati hari pertama penyanderaan. Mereka meneriakkan
slogan “matilah kau Amerika!” dengan penuh kebencian, seakan-akan waktu
tak beranjak dari tahun 1979.
Baca juga artikel terkait AS-IRAN
<https://tirto.id/q/as-iran-gLU?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
<https://tirto.id/author/akhmadmuawal?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Politik)
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Sering dianggap sebagai perselisihan pertama Amerika dengan Islam politik.