https://tirto.id/yang-tak-bisa-diraih-prabowo-tapi-sukses-dicapai-orang-boyolali-c88z
Yang Tak Bisa Diraih Prabowo tapi
Sukses Dicapai Orang Boyolali
Calon Presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto menyampaikan kata sambutan
pada Rakernas Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Jakarta, Kamis
(11/10/2018). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/ama/18
<https://tirto.id/yang-tak-bisa-diraih-prabowo-tapi-sukses-dicapai-orang-boyolali-c88z>
Calon Presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto menyampaikan
kata sambutan pada Rakernas Lembaga Dakwah Islam Indonesia
(LDII) di Jakarta, Kamis (11/10/2018). ANTARA FOTO/Dhemas
Reviyanto/ama/18
Oleh: Petrik Matanasi - 3 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
/Boyolali telah melahirkan dokter, tokoh pergerakan nasional, serta
jenderal yang menjadi KSAD dan Panglima TNI. Entah mana yang pernah
diusir dari hotel mewah?/
tirto.id <https://tirto.id/> - Pidato Calon Presiden nomor urut 2
Prabowo Subianto soal "Tampang Boyolali" tengah ramai dibahas warganet.
Dalam acara peresmian Kantor Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi di
Boyolali, Jawa Tengah, Prabowo berbicara soal kemiskinan di Indonesia
dan menyinggung "Tampang Boyolali".
Dalam video yang dilansir akun YouTube /Gerindra TV
<https://www.youtube.com/watch?v=CItXFW42A90>/pada Selasa (30/10)
tersebut, Prabowo melontarkan pernyataan bahwa tak satupun hotel mewah
di Jakarta pernah dikunjungi oleh orang Boyolali. Orang Boyolali, kata
Prabowo, bisa saja diusir jika memasuki hotel-hotel itu.
"Saya yakin kalian tidak pernah masuk hotel-hotel tersebut, kalo kalian
masuk kalian pasti akan diusir, karena bukan tampang orang kaya. Tampang
kalian ya tampang Boyolali ini," kata Prabowo disambut gelak tawa para
hadirin.
Baca juga:
* Pidato "Tampang Boyolali" & Taktik Prabowo Garap Basis Suara Jokowi
<https://tirto.id/pidato-tampang-boyolali-taktik-prabowo-garap-basis-suara-jokowi-c89l>
Dari Jenderal ke Dokter ke Aktivis Legenda
Widodo Adi Sutjipto bukan anggota Angkatan Udara, meski namanya mirip
dengan pahlawan Angkatan Udara Adisucipto. Ia juga tak berdinas di
Angkatan Darat. Setelah lulus dari Akademi Angkatan Laut di Surabaya
(1968), laki-laki kelahiran Boyolali, 1 Agustus 1944 ini berkarier di
Angkatan Laut. Ia berhasil melampaui karier para perwira yang bersinar
pada masa Orde Baru dengan duduk di kursi Panglima Tentara Nasional
Indonesia (TNI).
Widodo adalah orang non-Angkatan Darat pertama yang menjadi orang nomor
satu di TNI. Yang lebih penting lagi, ia orang Boyolali.
Selain duduk di pos Panglima TNI pada era Presiden Abdurrahman Wahid
(Gus Dur), Widodo AS pernah menjabat anggota Dewan Pertimbangan
Presiden. Di masa kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono, dia menjabat
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia
(Menkopolhukam), dari 2004 hingga 2009, dan Menteri Dalam Negeri ad
interim pada 2007.
Jenderal kelahiran Boyolali tak cuma Widodo. Jenderal Mulyono, Kepala
Staf Angkatan Darat (KSAD) saat ini, lahir di Boyolali pada 12 Januari
1961. Lulusan Akabri yang berdinas di TNI sejak 1983 ini pernah menjadi
Komandan Batalyon 143 Tri Wira Eka Jaya di Lampung, yang masuk dalam
area Kodam II Sriwijaya. Mulyono kemudian lebih sering memimpin komando
teritorial, seperti Kodim Samarinda, Korem Sumatra Barat dan Kodam
Jakarta Raya (2014). Sebelum jadi KSAD, Mulyono sempat menjabat Panglima
Kostrad (Pangkostrad).
Baca juga: Kostrad: Saksi Kecemerlangan Soeharto dan Redupnya Prabowo
<https://tirto.id/kostrad-saksi-kecemerlangan-soeharto-dan-redupnya-prabowo-cFzS>
Tak semua mantan Pangkostrad bisa menjadi KSAD, apalagi Panglima TNI.
Dua posisi itu tak hanya membutuhkan keberanian dan kecakapan akademis,
tapi juga kecerdasan sosial. Baik Widodo maupun Mulyono tak dikenal
punya mertua atau kerabat yang berkuasa di pemerintahan. Mereka berdua
adalah "Tampang Boyolali" yang sukses meniti karier di militer hingga ke
puncak.
Widodo dan Mulyono hanyalah dua dari sekian banyak tokoh nasional dari
Boyolali—yang tentu tak diusir petugas keamanan tiap kali masuk hotel
mewah. Selain jenderal, Boyolali juga melahirkan dokter-dokter hebat.
Salah satu dokter kebanggaan kabupaten yang terkenal dengan ternak
sapinya ini adalah dr. Suharso (1912-1973). Kementerian Sosial Republik
Indonesia mencatat namanya dengan harum. Dokter yang pernah dinas di
Kalimantan barat, Surabaya dan Solo ini, dikenal dengan usahanya
membantu korban perang.
Pada zaman perang kemerdekaan, seperti dicatat buku /Ensiklopedi
Pahlawan Nasio/nal (1995:62), Suharso bekerja sebagai dokter Palang
Merah. Dialah yang membangun bengkel pembuatan kaki dan tangan palsu di
Rumah Sakit Surakarta (1948). Setelah tentara Belanda angkat kaki, ia
mendirikan Rehabilitasi Centrum Penderita Cacat Tubuh di Surakarta pada
1951 dan mendirikan Rumah Sakit Ortopedi dan Yayasan Pemeliharaan
Anak-anak Cacat di Surakarta (YPAC) dua tahun kemudian.
“Hatinya terpanggil untuk menolong korban perang agar tetap dapat
berperan dalam masyarakat,” catat buku /Ensiklopedi Pahlawan Nasional
/(1995:62). Itulah jasa besarnya. Dia diangkat sebagai Pahlawan Pembela
Kemerdekaan berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 088/TK/Tahun
1973, yang ditandatangani Jenderal Soeharto, yang kebetulan juga punya
mantu seorang jenderal.
Dokter berikutnya sama pentingnya dengan Suharso tapi kurang dikenal,
yakni Abdoel Azis Saleh (1914-2001). Ia kelahiran Boyolali, ketika ayah
Azis Saleh, yakni tokoh Boedi Oetomo yang bernama dr. Mas Muhamad Saleh,
berdinas sebagai dokter di kabupaten itu. Tak semua saudara Azis lahir
di Boyolali. Abangnya, Abdulrachman Saleh, lahir di Batavia, sementara
adiknya, Alibasjah Saleh, lahir di Bondowoso.
Baca juga: Dokter, Penerbang, dan Perintis Radio Kebanggaan Indonesia
<https://tirto.id/dokter-penerbang-dan-perintis-radio-kebanggaan-indonesia-cq9x>
Menurut catatan Harsya Bachtiar dalam /Siapa Dia Perwira Tinggi TNI-AD/
(1989:276-277), laki-laki kelahiran Boyolali, 20 September 1914 ini
pernah makan bangku sekolah elite seperti ELS dan HBS. Setelahnya, ia
masuk sekolah tinggi kedokteran alias Geeneskundig Hooge School di Batavia.
Infografik Tokoh Boyolali
Singkatnya, pada tahun 1930-an, ada dua putra Boyolali yang berhasil
jadi dokter, sebuah pekerjaan dan status sosial yang tak mudah dicapai
sembarang orang saat itu. Setelah sempat jadi dokter bedah di Jakarta
sebelum 1945, Azis Saleh terlibat revolusi di kubu Indonesia. Seperti
abang dan adiknya, ia masuk militer. Abdulrachman Saleh dan Abubakar
Saleh masuk Angkatan Udara, sementara Azis dan Alibasjah bergabung
dengan Angkatan Darat.
Jabatan tinggi di Angkatan Darat yang pernah diraihnya adalah Asisten
Operasional Kepala Staf Angkatan Darat dan Kepala Jawatan Kesehatan
Angkatan Darat. Seperti dicatat Harsya Bachtiar dalam /Siapa Dia Perwira
Tinggi TNI-AD/ (1989:177) dan Rosihan Anwar dalam /In Memoriam:
Menganang yang Wafat/ (2002:343), Azis Saleh pernah menjabat Menteri
Kesehatan (1957-1959), Menteri Pertanian (1960-1962), Menteri
Perindustrian (1963-1964), dan Sekretaris Jenderal Gerakan Pramuka
Indonesia.
Surastri Karma Trimurti juga lahir di Boyolali, tepatnya pada 11 Mei
1912. SK Trimurti, seorang legenda pergerakan perempuan, sudah makan
asam garam di penjara, tak terkecuali pada zaman pendudukan Jepang.
Dikisahkan dalam /Srikandi: Sejumlah Wanita Indonesia berprestasi/
(1991:895), ketika berkunjung ke Semarang, Sukarno mendapat kabar bahwa
istri dari pengetik naskah Proklamasi Sayuti Melik ini tengah hamil anak
kedua di penjara. Sukarno pun berusaha membebaskannya dengan melobi para
pejabat militer Jepang.
Baca juga: Peliknya Jalan Hidup Sayuti Melik
<https://tirto.id/peliknya-jalan-hidup-sayuti-melik-cjLu>
Dengan ijazah SMA zaman Belanda, sebetulnya SK Trimurti bisa hidup enak.
Tapi dia memilih jalan lain. Begitu kemerdekaan diproklamasikan, ia
berdiri membela Republik Indonesia dan menjabat Menteri Tenaga Kerja
dalam kabinet Amir Sjarifuddin. Perempuan yang meninggal pada 20 Mei
2008 ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA
<https://tirto.id/q/sejarah-indonesia-dwA?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
<https://tirto.id/author/petrikmatanasi?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Sosial Budaya)
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Windu Jusuf
Widodo Adi Sutjipto, dr. Abdoel Azis Saleh, dr. Suharso, dan SK Trimurti
lahir di Boyolali.