Fw dari WA 09-11-2018*

**Didi Kwartanada:
**
*
*DRS. EDDIE LEMBONG,
SOSOK DI BALIK PENGUSULAN PAHLAWAN NASIONAL DARI ETNIK TIONGHOA DAN ARAB*

 ****

Pengantar
Di tahun 1974, seorang pejuang keturunan Arab bernama Abdul Rahman (AR) Baswedan (1908-1986)  ikut menulis dalam buku 45 Tahun Sumpah Pemuda (Jakarta: Yayasan Gedung-gedung Bersejarah Jakarta, 1974), yang disunting oleh Sumarmo dkk.

Dalam tulisan berjudul “Beberapa Catatan tentang Sumpah Pemuda Keturunan Arab (1934)”, Baswedan menuturkan suka dukanya berjuang selaku "pelompat pagar" dari kelompok "Timur Asing" menjadi "orang Indonesia sejati". Berkat pergaulannya dengan berbagai kalangan, termasuk dengan mentor politiknya Liem Koen Hian (yg kemudian bersama2 dengan Baswedan menjadi salah satu 'Bapak Bangsa' di BPUPK), maka akhirnya dengan tekad bulat Baswedan bersama kawan2nya sefaham menyelenggarakan "Sumpah Pemuda Keturunan Arab" (1934). Bersamaan dengan momen itu sekaligus Baswedan mendirikan Persatuan Arab Indonesia , yg tiga tahun kemudian berganti nama Partai Arab Indonesia (PAI).

Namun.......empat puluh tahun setelah “Sumpah Pemuda Keturunan Arab”  lewat, Baswedan menulis dengan kecewa, “.....ex PAI merasa sesal yang pahit di dalam hati karena sejarah perjoangan PAI  dilupakan”. .......Rupanya setelah Indonesia merdeka, Baswedan melihat bahwa perjuangannya menyadarkan keturunan Arab agar tidak melihat Hadramaut sebagai tanah airnya, melainkan Indonesia, sudah banyak dilupakan.

Ia mengakhiri tulisannya dengan harapan “.....Semoga kelak banyak penulis sejarah perjoangan nasional tidak ‘meng-absenkan” PAI ers [tokoh-tokoh PAI] di dalam tulisan-tulisannya”.

Harapan Baswedan itu baru terkabul lima belas tahun kemudian, ketika seorang peneliti bernama Suratmin menerbitkan buku  "Abdurrahman Baswedan; Karya dan Pengabdiannya" terbitan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, (Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional Jakarta), 1989. Sayang buku ini hanya beredar di  kalangan terbatas saja, antara lain di perpustakaan umum dan kampus.

Namun kemudian kembali nama A.R. Baswedan terlupakan, walau majalah Tempo sempat menurunkan liputan panjang tentang 100 tahun lahirnya Baswedan  (2008).

 ****

Yayasan Nabil & Pengusulan John Lie
Di awal masa Reformasi, muncullah sosok Drs Eddie Lembong, seorang apoteker lulusan ITB asal Tinombo (Gorontalo) yang mendirikan Yayasan Nation Building (Nabil) pada 2006. Sebelumnya Eddie, yg sebelumnya dikenal dg nama Ong Joe San,  adalah Ketua Umum Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), 1999-2005.

Salah satu keprihatinan Eddie adalah belum masuknya kontribusi Tionghoa dalam buku2 pelajaran sejarah, termasuk di sini soal pahlawan nasional. Dalam bayangannya, pahlawan nasional itu laksana "taman bunga kebangsaan", di sana ada bunga-bunga dari berbagai ragamnya: Jawa, Sunda, Batak, Aceh, Minang, Kawanua, Batak, Papua, Maluku, Bali dll, yg belum lengkap tanpa puspa-puspa Tionghoa dan Arab.

Dengan dukungan sejarawan seperti Asvi Warman Adam, Moha Lohanda dan Anhar Gonggong, akhirnya dilakukan kajian2 mengenai pengusulan pahlawan nasional. Untuk Tionghoa, ditemukan satu nama, yakni Laksamana  Muda John Lie (Tjeng Tjoan), seorang nakhoda legendaris di masa revolusi kemerdekaan dan salah satu tokoh pembangun TNI AL.

Dengan mengikuti proses sesuai aturan Departemen Sosial, maka dibuatlah satu buku oleh sejarawan M.Nursam dengan judul "Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi" (2009). Seminar nasional tentang John Lie diselenggarakan di Universitas Paramadina Jakarta dan di Universitas Sam Ratulangi (Manado). Rupanya pengusulan ini berhasil dan Presiden SBY menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional (2009) beserta Bintang Mahaputera kepada John Lie. Sebagai apresiasi, piihak keluarga mengajak Eddie Lembong mendampingi Ny. Margaretha Dharma-Angkuw (istri John Lie) ke istana untuk menerima penghargaan tersebut

****

Yayasan Nabil dan Pengusulan AR Baswedan
Kesuksesan pengusulan John Lie semakin membulatkan tekad Eddie Lembong untuk masuk ke tahap berikutnya, yakni pengusulan sosok etnik Arab sebagai pahlawan nasional, karena hingga saat itu belum ada. Pilihannya sudah jelas, yakni A.R. Baswedan. Hal ini juga kebetulan, karena Eddie Lembong memang dekat dengan kalangan Universitas Paramadina, semenjak zamannya Nurcholish Madjid, dan terus berlanjut dengan era Rektor Anies Baswedan. Persahabatan Eddie Lembong dengan Anies dapat dikatakan cukup dekat, misalnya ketika Eddie dirawat di Singapura, Anies pun datang menjenguk.

Gayung bersambut, keluarga AR Baswedan menyambut baik usulan dari Yayasan Nabil/Eddie Lembong untuk menominasikan beliau sebagai pahlawan nasional asal DIY. Untuk itulah Suratmin dimohon untuk menulis ulang bukunya, dengan dibantu Didi Kwartanada, dari Nabil. Buku ini akhirnya diterbitkan dengan judul "Membangun Bangsa Merajut Keindonesiaan" (2014). Tiga kali seminar sudah diadakan: di Jakarta (Unika Atma Jaya), di Surabaya, kota kelahiran AR Baswedan (bekerjasama dengan Jurusan Sejarah Universitas Airlangga) dan di Jogjakarta,, kota di mana Baswedan banyak tinggal (bersama Jurusan Sejarah UGM)

Namun entah mengapa, pengusulan ini tidak selancar John Lie. Ketok palu seseorang menjadi pahlawan nasional ada di tangan presiden (dalam hal ini Presiden SBY)...padahal tim penilai dari Depsos dan Dewan Gelar semua sudah memberikan lampu hijau untuk AR Baswedan. Wallahualam......

Yayasan Nabil mengusulkan dari 2011-2013, namun hasil maksimal yang diraih hanyalah Bintang Mahaputera (Agustus 2013). Dalam kesempatan itu, Eddie Lembong bersama Ny Melly Saliman mendampingi klg Baswedan ke istana.

Berhubung satu dan lain hal, akhirnya pengusulan terhenti hingga datangnya AM Fatwa bersama Lukman Hakiem ke Yayasan Nabil yg memohon izin untuk melanjutkan pengusulan tsb. (sekitar Mei 2017).  Kemarin pak Lukman Hakiem menuliskan soal lika-liku pengusulan ini di:
https://republika.co.id/berita/kolom/wacana/18/11/08/phujmu385-ar-baswedan-dan-kasman-singodimedjo-menjadi-pahlwan-nasional

Namiun sayang Pak Fatwa wafat di tengah jalan (14 Desember 2017), setelah sebelumnya Eddie Lembong meninggalkan kita pada 1 November 2017.

****
Joko Widodo Menuntaskan Penantian Panjang
Akhirnya perjuangan panjang itu dituntaskan oleh Presiden Joko Widodo! Beliau menandatangani surat pengangkatan AR Baswedan sebagai pahlawan nasional dan Kamis, 8 November beliau memberikan anugerah tsb kepada Baswedan dan lima orang pejuang lainnya.

Di sini bisa dibilang, Pak Eddie telah menuntaskan "kegalauan" AR Baswedan (1974) yg Saya kutip di awal tulisan ini. Pertama, mempersembahkan biografi beliau, agar generasi muda mengenal AR Baswedan dan perjuangan PAI. Kedua, lebih dari ekspetasi Baswedan, Pak Eddie mengusulkan beliau sebagai Pahlawan Nasional!

Maka tidaklah mengherankan, bila dalam kesempatan kemarin, klg AR Baswedan mengundang Ibu Melly Lembong untuk bersama2 ke istana untuk menyongsong gelar tsb.

Izinkan dalam tulisan ini, sembari mengenang setahun kepergian pak Eddie Lembong, kita juga diingatkan semangat silangbudaya dari beliau. Pagi ini sahabat saya abang Azmi Abubakar telah menuliskan soal kontribusi Pak Eddie dalam pengusulan AR Baswedan di link ini:

https://www.facebook.com/azmi.abubakar.792/posts/191478095110468

Saya rasa pak Eddie akan gembira karena dua hal, upaya yg telah beliau rintis tentang Baswedan telah dituntaskan oleh Presiden Joko Widodo, yg berarti semakin kayanya "taman bunga kebangsaan" kita dengan bunga dari Arab. Kedua, semakin banyaknya penerus cita2 beliau dalam hal silang budaya, seperti pak Daradjadi Gondodiprojo, bang Azmi Abubakar, mas Osa Kurniawan Ilham dan rekan2 muda lainnya (terlalu banyak untuk disebutkan, saya mohon maaf).

In Memoriam, Pak Eddie Lembong. terima kasih atas upaya-upayamu memperkaya taman bunga kebangsaan kita dengan John Lie dan A.R Baswedan

                                           ****

NB: sekaigus izinkan di sini saya--yang sudah berpisah dari Yayasan Nabil sejak 2018 -- mengucapkan terima kasih kepada rekan2 di tim Nabil, khususnya yg terlibat dalam dua pengusulan pahlawan nasional di atas:  Clara Cindy Mapu, Vidya Zein, Aan Rukmana dan Muharyanto, sekaligus ucapan terima kasih kepada semua pihak terkait dalam pengusulan John Lie dan AR Baswedan (saya khawatir ada yg ketinggalan jika saya sebut satu per satu).

Kiranya Tuhan memberkati upaya Anda sekalian.
Terima kasih

Jakarta, 9 November 2018


---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke