Bung Chan,
Henry Boen, tetangga selang satu rumah dari almarhum Benny Gatot Setiono.
Istri Henry mengorganisir 2 kali reunie saya dengan bekas2 murid.
Tony Wen dulu pernah jadi guru olahraga di sekolah Pa Hoa Jakarta.
Ada potretnya di dinding. Orangnya gagah dan rupawan.
Henry Boen dapat peninggalan buku2 koleksinya Tony Wen. Boen = Wen.
Benny banyak pakai buku2 itu untuk tulis bukunya Tionghoa dalam
Pusaran politik,
di samping catatan2 dari ayahnya, seorang journalist.
Tony Wen dan bung Karno pernah duduk satu meja dengan tokoh2 Tionghoa
di Solo
bicarakan pengumpulan dana.
Dokter Ong Tjong Bing itu pernah diangkat jadi ketua Wayang Orang Ang
Hien Hoo,
yang didirikan lagi setelah jamannya Oom Giok Bie.
Itu ditulis oleh Prof. Melanie Budianta,anak dari Tan Hong Bok.
Melanie nichtnya
Sie Kong Loen, yang berkali kali jadi juara tennis double putera
bersama Sugiarto.
Sie Kong Loen masih keponakan dari Tan Liep Tjiauw, juara single
putera tennis.
Belakangan neefnya , Sie Nie Sie yang jadi juara.Baik Sie Kong Loen (
belakangan
setelah tidak kerja lagi) maupun Sie Nie Sie jadi tennis trainer di
Amerika.
Salam,
KH
On Sat, 10 Nov 2018 at 10:13, ChanCT [email protected]
<mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected]
<mailto:[email protected]>> wrote:
Tulisan dibawah dari WA, tanpa nama penulis yang jelas. Sekadar
untuk bahan pertimbangan saja:
*Tionghoa dlm perang 10 November 1945*
*PERISTIWA SURABAYA*
Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara
pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini
terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa
Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia
dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan
satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi
Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan
Indonesia terhadap kolonialisme.
Keterangan dari Henry Boen, keponakan Tony Wen dan lihat (Siauw
Giok Tjhan , 1981) , (Leo Suryadinata ,1981) , etc Apakah Almarhum
Tony Wen menjadi salah satu pemrakarsa merobek bagian biru dari
bendera Holland, dan mengibarkannya kembali sebagai Merah Putih
tidak ditulis dalam buku ini. Tentunya akan baik sekali kalau kita
dapat mendengar/membaca keseluruhan peristiwa ini. Sebenarnya
peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato (Oranye) itu terjadi
tanggal 19 September 1945.
Ternyata memang banyak sekali keturunan Tionghoa yang punya
kontribusi dalam sejarah termasuk perkembangan budaya dan ekonomi
di Indonesia. Saya katakan ternyata karena lewat buku ini saya
membaca (data + tulisan) banyak nama keturunan Tionghoa yang tidak
familiar banyak jasa, paling tidak berjuang ber-sama2 bangsa
Indonesia di Indonesia.
Sebagai tambahan: Bung Tomo yang disebut sebagai pahlawan karena
peristiwa di Surabaya ini adalah Pemimpin Besar BPRI (Barisan
Pemberontak Rakjat Indonesia) yang melalui radio melakukan pidato
yang ber-kobar untuk membakar semangat para pemuda di Surabaya dan
sekitarnya. Namun sayangnya pidato2 Bung Tomo tersebut tidak bebas
dari sikap rasialisnya yg anti-Tionghoa. Tema2 anti Tionghoa dlm
pidatonya sudah tentu menumbuhkan sentimen anti Tionghoa di
kalangan masyarakat Jawa Timur.
Untuk menanggulanginya, Go Gien Tjwan sebagai jurubicara Angkatan
Muda Tionghoa (AMT) mengucapkan pidato yang menekankan bahwa musuh
rakyat Indonesia bukan etnis Tionghoa melainkan Belanda. Ia juga
menyatakan bahwa etnis Tionghoa juga menjadi korban penjajahan
Belanda dan tidak menginginkan kembalinya penjajahan Belanda.
Siaw Giok Tjhan bersama kawan2nya pergi menemui Bung Tomo agar
mengubah sikapnya terhadap etnis Tionghoa, namun Bung Tomo tidak
bisa diyakinkan dan tetap berpendapat bahwa sebagian besar entis
Tionghoa pro-Belanda. Pada akhir Oktober 1945, Siauw Giok Tjhan
memimpin delegasi pemuda Tionghoa untuk bertemu dengan Bung Tomo
dan sejumlah tokoh Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) Soemarsono
dan Soedisman di Nangkajajar, sebuah kota kecil yang terletak
antara Surabaya dan Malang. Di dalam pertemuan tersebut berhasil
disepakati bahwa para pemuda Tionghoa akan bergabung dengan BPRI
dan Pesindo.
Dalam pertempuran itu, warga Tionghoa menyebut diri sebagai TKR
Chungking dan membawa bendera Kuo Min Tang sebagai identitasnya.
Perlengkapan temput yang digunakan juga sedikit berbeda dengan
pejuang lainnya, mereka menggunakan Fritz Helmet yang digunakan
pasukan Wehrmacht (Jerman), lengkap dengan senapan Karaben (Kar)
98-K yang didapatkan dari Nazi Jerman pada 1930-an.
Tak hanya ikut dalam pertempuran, warga Tionghoa juga terlibat
dalam pengobatan terhadap pejuang yang terluka. Korps medis ini
diberi nama Barisan Palang Merah Tionghoa. Satuan ini
diberangkatkan dari RS Militer di Malang dan mendapat tugas untuk
memasok ransum bagi para pejuang yang berasa di garis depan,
Ikut merawat korban pertempuran 10 November 1945 yang dibawa ke
Malang, Letnan Kolonel (Purn) Ong Tjong Bing alias Daya Sabdo
Kasworo (90). Pria asal Desa Kerebet itu mengikuti pendidikan
tekniker gigi dan dokter gigi lalu bergabung dengan militer pada
1953 sebagai pegawai sipil. Dia mulai menyandang pangkat militer
sebagai kapten pada 1955 di bawah Resimen Infanteri RI-18 Jawa Timur.
Para pemuda Tionghoa dari Malang juga bergabung dengan Barisan
Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) yang dipimpin langsung oleh
Bung Tomo. Mereka adalah Giam Hian Tjong dan Auwyang Tjoe Tek,
Auwyang berperan sebagai ahli amunisi dan peledak yang didapat
dari pertempuran antara China dengan Jepang.
Selama berlangsungnya pertempuran mempertahankan Surabaya dari
serangan pasukan sekutu, warga Tionghoa telah mendirikan 10 pos
dengan 10 dokter ditambah tenaga medis lainnya. Seluruh biaya
ditanggung sepenuhnya oleh organisasi Chung Hua Chung Hui. Tak
hanya sebagai tenaga medis, beberapa di antaranya ikut terlibat
dalam serbuan 'berani mati' saat penyerbuan ke sarang serdadu
sekutu dan Gurkha.
Guna memperoleh kemenangan besar, pasukan sekutu banyak
menjatuhkan bom dan menembaki beberapa lokasi yang diduga menjadi
tempat persembunyian para pejuang. Tindakan itu membuat banyak
korban berjatuhan, termasuk warga sipil yang tak ikut mengangkat
senjata.
Serangan demi serangan yang sebagian besar diarahkan ke warga
membuat rakyat Indonesia marah, tak terkecuali warga Tionghoa,
mengingat sebagian besar korban merupakan orang Tionghoa. Apalagi,
pos kesehatan yang didirikan juga ikut diserang sekutu.
Dari pertempuran ini, diperkirakan 1.000 penduduk Tionghoa tewas
dan melukai 5.000 orang lainnya. Secara keseluruhan, jumlah korban
tewas mencapai 20.000 orang Indonesia sementara sekutu hanya 1.500
orang.
Soal perang di Surabaya ini, bahkan ada kumpulan fotokopi potongan
berita koran United Press terbitan Inggris. Dalam surat kabar
bertanggal 22 November 1945 tertulis bahwa penyerangan sekutu di
Kota Surabaya diduga telah menyebabkan 60.000 warga Kota Surabaya
tewas, termasuk sekitar 5.000 warga etnis Tionghoa yang bermukim
di Surabaya.
Kalau dalam peperangan 10 November para pejuang Indonesia kalah,
mengapa tanggal itu justru diperingati sebagai Hari Pahlawan?
Menurut Eddy Emanuel Samson, yang juga ketua de Indo Club
Surabaya, peperangan tersebut tak bisa dilihat sebagai persoalan
kalah atau menang dalam jangka pendek.
Eddy –yang lahir di Tambaksari dan berusia 12 tahun saat terjadi
perang 10 November—menjelaskan, awalnya pasukan Sekutu mengira
bahwa dengan persenjataan modern dalam jumlah besar, mereka akan
bisa tundukkan Surabaya dalam 3 hari.
Nyatanya, perang tersebut berlangsung hampir 100 hari hingga
melewati Desember 1945. Ini karena tak hanya pasukan resmi
Republik Indonesia (yakni Tentara Keamanan Rakyat) yang terlibat
perang. Milisi-milisi rakyat yang dibentuk oleh
organisasi-organisasi keagamaan sepertu NU juga ikut mendukung
setelah munculnya resolusi jihad yang dicetuskan para ulama Jatim,
di antaranya KH Hasyim Asy`ari (pendiri NU), KH. Wahab Hasbullah
serta para kyai pesantren lainnya.
Meskipun kalah, kegigihan dan militansi para pejuang arek-arek
Suroboyo dalam menghadapi pasukan penjajah telah mengilhami rakyat
di daerah-daerah lain di Indonesia untuk berani melawan penjajah
baru. Di antaranya di Jakarta pada tanggal 18 November, di
Semarang pada 18 November, di Riau 18 November, di Ambarawa
tanggal 21 November, di Bandung 6 Desember dan di Medan pada 6
Desember.
”Perjuangan arek-arek Suroboyo telah menggugah rasa kebersamaan
patriotik dalam perjuangan,” kata Eddy. Itu pula tampaknya alasan
yang mendasari Pemerintah di zaman Soekarno menetapkan 10 November
sebagai Hari Pahlawan.
Sebagian kisah ini ditulis dalam buku Tionghoa Dalam Sejarah
Kemiliteran: Sejak Nusantara Sampai Indonesia yang ditulis Iwan
Sentosa dan diterbitkan Yayasan Nabil dan Kompas Gramedia terbitan
2014.
Keterlibatan warga Tionghoa ini juga direkam oleh Harian Merdeka
edisi 17 Februari 1946. Lewat laporan khususnya, harian memuji
peran mereka dalam pertempuran besar yang diberi judul Pendoedoek
Tionghoa Membantoe Kita.
"SELAMAT HARI PAHLAWAN"
Sumber :
http://m.merdeka.com/peristiwa/para-pejuang-tionghoa-dalam-pertempuran-10-november-1945.html
http://m.forum.detik.com/pejuang-pahlawan-kemerdekaan-indonesia-etnis-tionghoa-yang-terlupakan-t766373.html
http://suwandi-sosialbudaya.blogspot.co.id/2010/11/mengenang-heroisme-pertempuran-10.html?m=1
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_10_November
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
不含病毒。www.avg.com
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
<#m_5141588455925370892_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>