Terimakasih bung Djie, ... baru ngeh kalau Henry Boen itu keponakan Tony Wen, terkecoh karena yang satu gunakan Wen yg lain gunakan Boen. Padahal Boen = Wen. Tidak sebagaimana biasa, kalau masih hubungan family, tentu gunakan ejaan yang sama, berdasarkan bunyi logat Hokkian, Khek atau Tiaochu, ... yg banyak di Indonesia.

Nampaknya ada saja sementara orang yang besar-besarkan peran Tionghoa dalam Pahlawan Nasional, menyatakan Tony Wen ikut terlibat dalam perobekkan bendera Belanda, ... Bikin hoax yang mengada-ada, ... bahwa keterlibatan Tionghoa dalam setiap gerakan Kemerdekaan dan Pertahankan Kemerdekaan RI tentu tidak perlu disangkal! Tapi, juga tidak ada perlunya membesar-besarkan dan mengada-adakan yang tidak ada!

Salam,

ChanCT



kh djie 於 10/11/2018 18:11 寫道:
Bung Chan,
Henry Boen, tetangga selang satu rumah dari almarhum Benny Gatot Setiono.
Istri Henry mengorganisir 2 kali reunie saya dengan bekas2 murid.
Tony Wen dulu pernah jadi guru olahraga di sekolah Pa Hoa Jakarta.
Ada potretnya di dinding. Orangnya gagah dan rupawan.
Henry Boen dapat peninggalan buku2 koleksinya Tony Wen. Boen = Wen.
Benny banyak pakai buku2 itu untuk tulis bukunya Tionghoa dalam Pusaran politik,
di samping catatan2 dari ayahnya, seorang journalist.
Tony Wen dan bung Karno pernah duduk satu meja dengan tokoh2 Tionghoa di Solo
bicarakan pengumpulan dana.
Dokter Ong Tjong Bing itu pernah diangkat jadi ketua Wayang Orang Ang Hien Hoo,
yang didirikan lagi setelah jamannya Oom Giok Bie.
Itu ditulis oleh Prof. Melanie Budianta,anak dari Tan Hong Bok. Melanie nichtnya Sie Kong Loen, yang berkali kali jadi juara tennis double putera bersama Sugiarto. Sie Kong Loen masih keponakan dari Tan Liep Tjiauw, juara single putera tennis. Belakangan neefnya , Sie Nie Sie yang jadi juara.Baik Sie Kong Loen ( belakangan setelah tidak kerja lagi) maupun Sie Nie Sie jadi tennis trainer di Amerika.
Salam,
KH

On Sat, 10 Nov 2018 at 10:13, ChanCT [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected] <mailto:[email protected]>> wrote:

    Tulisan dibawah dari WA, tanpa nama penulis yang jelas. Sekadar
    untuk bahan pertimbangan saja:



    *Tionghoa dlm perang 10 November 1945*

    *PERISTIWA SURABAYA*

    Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara
    pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini
    terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa
    Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia
    dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan
    satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi
    Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan
    Indonesia terhadap kolonialisme.

    Keterangan dari Henry Boen, keponakan Tony Wen dan lihat (Siauw
    Giok Tjhan , 1981) , (Leo Suryadinata ,1981) , etc Apakah Almarhum
    Tony Wen menjadi salah satu pemrakarsa merobek bagian biru dari
    bendera Holland, dan mengibarkannya kembali sebagai Merah Putih
    tidak ditulis dalam buku ini. Tentunya akan baik sekali kalau kita
    dapat mendengar/membaca keseluruhan peristiwa ini. Sebenarnya
    peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato (Oranye) itu terjadi
    tanggal 19 September 1945.

    Ternyata memang banyak sekali keturunan Tionghoa yang punya
    kontribusi dalam sejarah termasuk perkembangan budaya dan ekonomi
    di Indonesia. Saya katakan ternyata karena lewat buku ini saya
    membaca (data + tulisan) banyak nama keturunan Tionghoa yang tidak
    familiar banyak jasa, paling tidak berjuang ber-sama2 bangsa
    Indonesia di Indonesia.

    Sebagai tambahan: Bung Tomo yang disebut sebagai pahlawan karena
    peristiwa di Surabaya ini adalah Pemimpin Besar BPRI (Barisan
    Pemberontak Rakjat Indonesia) yang melalui radio melakukan pidato
    yang ber-kobar untuk membakar semangat para pemuda di Surabaya dan
    sekitarnya. Namun sayangnya pidato2 Bung Tomo tersebut tidak bebas
    dari sikap rasialisnya yg anti-Tionghoa. Tema2 anti Tionghoa dlm
    pidatonya sudah tentu menumbuhkan sentimen anti Tionghoa di
    kalangan masyarakat Jawa Timur.

    Untuk menanggulanginya, Go Gien Tjwan sebagai jurubicara Angkatan
    Muda Tionghoa (AMT) mengucapkan pidato yang menekankan bahwa musuh
    rakyat Indonesia bukan etnis Tionghoa melainkan Belanda. Ia juga
    menyatakan bahwa etnis Tionghoa juga menjadi korban penjajahan
    Belanda dan tidak menginginkan kembalinya penjajahan Belanda.

    Siaw Giok Tjhan bersama kawan2nya pergi menemui Bung Tomo agar
    mengubah sikapnya terhadap etnis Tionghoa, namun Bung Tomo tidak
    bisa diyakinkan dan tetap berpendapat bahwa sebagian besar entis
    Tionghoa pro-Belanda. Pada akhir Oktober 1945, Siauw Giok Tjhan
    memimpin delegasi pemuda Tionghoa untuk bertemu dengan Bung Tomo
    dan sejumlah tokoh Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) Soemarsono
    dan Soedisman di Nangkajajar, sebuah kota kecil yang terletak
    antara Surabaya dan Malang. Di dalam pertemuan tersebut berhasil
    disepakati bahwa para pemuda Tionghoa akan bergabung dengan BPRI
    dan Pesindo.

    Dalam pertempuran itu, warga Tionghoa menyebut diri sebagai TKR
    Chungking dan membawa bendera Kuo Min Tang sebagai identitasnya.
    Perlengkapan temput yang digunakan juga sedikit berbeda dengan
    pejuang lainnya, mereka menggunakan Fritz Helmet yang digunakan
    pasukan Wehrmacht (Jerman), lengkap dengan senapan Karaben (Kar)
    98-K yang didapatkan dari Nazi Jerman pada 1930-an.

    Tak hanya ikut dalam pertempuran, warga Tionghoa juga terlibat
    dalam pengobatan terhadap pejuang yang terluka. Korps medis ini
    diberi nama Barisan Palang Merah Tionghoa. Satuan ini
    diberangkatkan dari RS Militer di Malang dan mendapat tugas untuk
    memasok ransum bagi para pejuang yang berasa di garis depan,

    Ikut merawat korban pertempuran 10 November 1945 yang dibawa ke
    Malang, Letnan Kolonel (Purn) Ong Tjong Bing alias Daya Sabdo
    Kasworo (90). Pria asal Desa Kerebet itu mengikuti pendidikan
    tekniker gigi dan dokter gigi lalu bergabung dengan militer pada
    1953 sebagai pegawai sipil. Dia mulai menyandang pangkat militer
    sebagai kapten pada 1955 di bawah Resimen Infanteri RI-18 Jawa Timur.

    Para pemuda Tionghoa dari Malang juga bergabung dengan Barisan
    Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) yang dipimpin langsung oleh
    Bung Tomo. Mereka adalah Giam Hian Tjong dan Auwyang Tjoe Tek,
    Auwyang berperan sebagai ahli amunisi dan peledak yang didapat
    dari pertempuran antara China dengan Jepang.

    Selama berlangsungnya pertempuran mempertahankan Surabaya dari
    serangan pasukan sekutu, warga Tionghoa telah mendirikan 10 pos
    dengan 10 dokter ditambah tenaga medis lainnya. Seluruh biaya
    ditanggung sepenuhnya oleh organisasi Chung Hua Chung Hui. Tak
    hanya sebagai tenaga medis, beberapa di antaranya ikut terlibat
    dalam serbuan 'berani mati' saat penyerbuan ke sarang serdadu
    sekutu dan Gurkha.

    Guna memperoleh kemenangan besar, pasukan sekutu banyak
    menjatuhkan bom dan menembaki beberapa lokasi yang diduga menjadi
    tempat persembunyian para pejuang. Tindakan itu membuat banyak
    korban berjatuhan, termasuk warga sipil yang tak ikut mengangkat
    senjata.

    Serangan demi serangan yang sebagian besar diarahkan ke warga
    membuat rakyat Indonesia marah, tak terkecuali warga Tionghoa,
    mengingat sebagian besar korban merupakan orang Tionghoa. Apalagi,
    pos kesehatan yang didirikan juga ikut diserang sekutu.

    Dari pertempuran ini, diperkirakan 1.000 penduduk Tionghoa tewas
    dan melukai 5.000 orang lainnya. Secara keseluruhan, jumlah korban
    tewas mencapai 20.000 orang Indonesia sementara sekutu hanya 1.500
    orang.

    Soal perang di Surabaya ini, bahkan ada kumpulan fotokopi potongan
    berita koran United Press terbitan Inggris. Dalam surat kabar
    bertanggal 22 November 1945 tertulis bahwa penyerangan sekutu di
    Kota Surabaya diduga telah menyebabkan 60.000 warga Kota Surabaya
    tewas, termasuk sekitar 5.000 warga etnis Tionghoa yang bermukim
    di Surabaya.

    Kalau dalam peperangan 10 November para pejuang Indonesia kalah,
    mengapa tanggal itu justru diperingati sebagai Hari Pahlawan?
    Menurut Eddy Emanuel Samson, yang juga ketua de Indo Club
    Surabaya, peperangan tersebut tak bisa dilihat sebagai persoalan
    kalah atau menang dalam jangka pendek.
    Eddy –yang lahir di Tambaksari dan berusia 12 tahun saat terjadi
    perang 10 November—menjelaskan, awalnya pasukan Sekutu mengira
    bahwa dengan persenjataan modern dalam jumlah besar, mereka akan
    bisa tundukkan Surabaya dalam 3 hari.
    Nyatanya, perang tersebut berlangsung hampir 100 hari hingga
    melewati Desember 1945. Ini karena tak hanya pasukan resmi
    Republik Indonesia (yakni Tentara Keamanan Rakyat) yang terlibat
    perang. Milisi-milisi rakyat yang dibentuk oleh
    organisasi-organisasi keagamaan sepertu NU juga ikut mendukung
    setelah munculnya resolusi jihad yang dicetuskan para ulama Jatim,
    di antaranya KH Hasyim Asy`ari (pendiri NU), KH. Wahab Hasbullah
    serta para kyai pesantren lainnya.
    Meskipun kalah, kegigihan dan militansi para pejuang arek-arek
    Suroboyo dalam menghadapi pasukan penjajah telah mengilhami rakyat
    di daerah-daerah lain di Indonesia untuk berani melawan penjajah
    baru. Di antaranya di Jakarta pada tanggal 18 November, di
    Semarang pada 18 November, di Riau 18 November, di Ambarawa
    tanggal 21 November, di Bandung 6 Desember dan di Medan pada 6
    Desember.
    ”Perjuangan arek-arek Suroboyo telah menggugah rasa kebersamaan
    patriotik dalam perjuangan,” kata Eddy. Itu pula tampaknya alasan
    yang mendasari Pemerintah di zaman Soekarno menetapkan 10 November
    sebagai Hari Pahlawan.

    Sebagian kisah ini ditulis dalam buku Tionghoa Dalam Sejarah
    Kemiliteran: Sejak Nusantara Sampai Indonesia yang ditulis Iwan
    Sentosa dan diterbitkan Yayasan Nabil dan Kompas Gramedia terbitan
    2014.
    Keterlibatan warga Tionghoa ini juga direkam oleh Harian Merdeka
    edisi 17 Februari 1946. Lewat laporan khususnya, harian memuji
    peran mereka dalam pertempuran besar yang diberi judul Pendoedoek
    Tionghoa Membantoe Kita.

    "SELAMAT HARI PAHLAWAN"

    Sumber :
    
http://m.merdeka.com/peristiwa/para-pejuang-tionghoa-dalam-pertempuran-10-november-1945.html

    
http://m.forum.detik.com/pejuang-pahlawan-kemerdekaan-indonesia-etnis-tionghoa-yang-terlupakan-t766373.html

    
http://suwandi-sosialbudaya.blogspot.co.id/2010/11/mengenang-heroisme-pertempuran-10.html?m=1

    https://id.m.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_10_November

    
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
        不含病毒。www.avg.com
    
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>


    <#m_5141588455925370892_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>



---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke