https://news.detik.com/kolom/d-4304718/masihkah-indonesia-negara-agraris?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.106538051.1345711851.1542390249-1572264137.1542390249
<https://www.detik.com/dapur/panduan-kolumnis>
Jumat 16 November 2018, 14:00 WIB
Kolom
Masihkah Indonesia Negara Agraris?
Dedy Susanto - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4304718/masihkah-indonesia-negara-agraris?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.106538051.1345711851.1542390249-1572264137.1542390249#>
Dedy Susanto
<https://news.detik.com/kolom/d-4304718/masihkah-indonesia-negara-agraris?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.106538051.1345711851.1542390249-1572264137.1542390249#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4304718/masihkah-indonesia-negara-agraris?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.106538051.1345711851.1542390249-1572264137.1542390249#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4304718/masihkah-indonesia-negara-agraris?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.106538051.1345711851.1542390249-1572264137.1542390249#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4304718/masihkah-indonesia-negara-agraris?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.106538051.1345711851.1542390249-1572264137.1542390249#>
1 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4304718/masihkah-indonesia-negara-agraris?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.106538051.1345711851.1542390249-1572264137.1542390249#>
Masihkah Indonesia Negara Agraris? Ilustrasi: Luthfy Syahban
*Jakarta* -
Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Sebutan seperti itu sudah umum
dikenal masyarakat sejak pendidikan dasar di mata pelajaran sosial
tingkat awal. Banyak kisah sejarah yang menuliskan sebutan itu. Mereka
bilang dimulai sejak masa prasejarah, atau sejak awal zaman kerajaan
Hindu Budha, atau sebagainya, sehingga membuat khalayak menerimanya.
Tetapi, apakah sebutan negara agraris masih relevan hingga saat ini?
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto berbicara pada konferensi
perilisan data yang dihadiri oleh banyak wartawan pada Senin
(5/11/2018). Ia memaparkan berita resmi statistik mengenai pertumbuhan
ekonomi di Indonesia. Antara lain menggarisbawahi pertumbuhan ekonomi
Indonesia yang melaju pada angka 5.17 persen pada Triwulan III-2018
(dibandingkan Triwulan III-2017). Tapi, mari kita /skip/ ke bagian yang
lebih dalam lagi.
Ditemukan bahwa /share/ Produk Domestik Bruto (PDB) tertinggi di
Indonesia adalah sektor industri, bukan pertanian. Sektor industri
memberikan sumbangan pada pertumbuhan ekonomi sampai 19,66 persen.
Dibandingkan dengan sektor pertanian, ia justru berada pada posisi
/runner up/ dengan andil 13,53 persen.
Uniknya, sektor pertanian bahkan hampir disalip sektor perdagangan besar
dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor yang menyumbang 13,02
persen. Cukup anomali apabila Indonesia yang dikenal dengan negara
agraris namun penopang utama perekonomiannya bukan pada sektor pertanian.
Berkaca dari revisi data produksi beras beberapa waktu lalu, tidak hanya
mengenalkan data beras yang lebih representatif, data produksi beras
juga melakukan perbaikan penentuan jumlah luas panen padi nasional.
Sebelumnya, data luas panen padi diklaim meningkat dari tahun ke tahun.
Pada 1993 diperkirakan luas panen padi nasional berada pada 10,99 juta
hektar, dan terus naik hingga mencapai 14,12 juta hektar pada 2015.
Tentu janggal apabila luas panen padi semakin tinggi namun luas lahan
pertanian diyakini semakin menyusut, seperti yang pernah diungkapkan
Wakil Presiden Jusuf Kalla pada rapat koordinasi data beras nasional
beberapa waktu lalu (22/10/2018).
Setelah terjadi vakum data padi selama 3 tahun, BPS telah membangun
metode baru yakni Kerangka Sampel Area (KSA) yang sanggup mengukur luas
panen padi secara objektif. KSA menggantikan metode lama /eye estimate/
milik Kementan yang dinilai /overestimated/ dan subjektif. Setelah
perbaikan metode, ditemukan bahwa luas panen padi 2018 justru lebih
rendah dibandingkan 2015, diperkirakan 10,90 juta hektar. Padahal, luas
panen padi pada 2018 diyakini melebihi 2015. Kenyataannya, luas panen
padi 2018 lebih sedikit 3,22 juta ha dibandingkan 2015.
Beralih ke data yang berbeda, bagaimana keadaan tenaga kerja di
Indonesia? Bersamaan dengan rilisnya data pertumbuhan ekonomi, BPS juga
menerbitkan Data Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Agustus 2018.
Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2018,
sekitar 28,79 persen penduduk Indonesia bekerja pada sektor pertanian
sebagai pekerjaan utama. Sektor pertanian merupakan sektor yang paling
banyak menyerap tenaga kerja di Indonesia, disusul dengan sektor
perdagangan (18,61 persen), dan sektor industri (14,72 persen).
Walaupun andil PDB sektor pertanian berada di posisi perak, sektor
pertanian merupakan sektor padat karya yang efektif menurunkan jumlah
penganggur. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya tingkat pengangguran
terbuka di perdesaan (4,04 persen) lebih rendah dibandingkan dengan
perkotaan (6,45 persen). Lalu, data Sakernas juga mencatat kurang lebih
58,78 persen penduduk bekerja di Indonesia masih berpendidikan SMP ke
bawah. Rendahnya pengangguran di wilayah perdesaan merupakan peran
sektor pertanian yang berhasil menyerap banyak tenaga kerja ber-/skill/
rendah.
Kembali ke pertanyaan awal, apakah Indonesia masih relevan disebut
negara agraris?
Bila diartikan secara eksplisit bahwa negara agraris berarti negara yang
penduduknya mayoritas bermata pencarian pada sektor pertanian, maka
Indonesia masih relevan disebut sebagai negara agraris. Terlihat dari
data Sakernas, sektor pertanian merupakan sektor utama yang paling
diminati oleh penduduk Indonesia. Belum lagi ditambah penduduk yang
memiliki pekerjaan tambahan di sektor pertanian, dipastikan persentase
penduduk yang bekerja di sektor ini akan lebih banyak lagi.
Tapi, apabila negara agraris didefinisikan sebagai negara yang
perekonomiannya bergantung pada sektor pertanian, maka Indonesia sudah
tidak pas lagi disebut sebagai negara agraris. Sektor yang memegang
sumbangsih pertumbuhan ekonomi terbesar negara ini telah tergantikan
dengan sektor industri.
Seperti yang telah diketahui, sektor pertanian hanya mengambil andil
pada urutan ke-2 saja. Bahkan, semakin berkurangnya lahan pertanian akan
lebih menurunkan /share/ pertumbuhan ekonomi di Indonesia di masa
mendatang, sehingga sektor potensial lain seperti perdagangan akan
segera mengunggulinya.
Ditambah, persentase tenaga kerja di sektor pertanian menurun cepat.
Berdasarkan data Sakernas, tenaga pertanian mengalami penurunan terlaju
dibandingkan sektor lain pada 2018 yakni mencapai 0,89 persen
dibandingkan tahun sebelumnya.
*Dedy Susanto* /staf Seksi Statistik Ketahanan Sosial, BPS Provinsi Papua/
*(mmu/mmu)*
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar
tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini
<https://news.detik.com/kolom/kirim> sekarang!
pertanian <https://www.detik.com/tag/pertanian/> industri
<https://www.detik.com/tag/industri/> pdb 2018
<https://www.detik.com/tag/pdb-2018/> pertumbuhan ekonomi
<https://www.detik.com/tag/pertumbuhan-ekonomi/>