OOO, tidak bisa hanya bilang "Tiongkok haters atau hyperhaters". Anda tidak
mau membedakan Tiongkok sosialis Mao dengan Tiongkok kapitalis-imperialis....
Saya membenci Tkk kapitalisme-imperialisme , tapi saya mendukung kaum buruh dan
kelas pekerja Tkk yang sedang bangkit sadar menuntut hak-haknya yang sudah
dihapus oleh klik pimpinan Paartai Komunis gadungan. Anda ingin membela
Tiongkok kapitalis-imperialis, silahkan ajukan argumentasi!!! Pertanyaan saya
belum anda jawab, kalau Tkk sekarang "Sosialisme dengan ciri Tkk", tunjukkan
unsur-unsur sosialisnya. Kalau anda ingin membela Chan yang mengatakan sistim
di Tkk sekarang sosialisme yang mengkombinasikan dengan "keunggulan
kapitalisme", tolong ajukan argumentasinya, mana keunggulan kapitalisme yang
diterapkan di Tkk. Dan tolong jelaskan apa mode of production atau cara
produksi di Tkk sekarang yang membenarkan kalifikasi "sosialisme dengan
kombinasi kapitalisme".
Dan jangan menyamakan saya dengan kaum Trotskis. Saya bukan pengikut Trotski.
On Sunday, November 25, 2018, 2:23:03 AM GMT+1, Noroyono 1963
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:
Artikel konsumsi untukpara Tiongkok-haters/-hyperhaters.Suka, dibaca. Tidak
suka, dihapus. Zosimpel is het!Diskusi? Hal itu tidak sayakesampingkan, asal
saja diskusi dilakukan di atas dasar kesepakatan ”Bersepakat mungkin tidak
bersepakat”. Noroyono25/11/2018
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Abdul Kholik.25 maart 2018 PENJAJAH KUNING SEDANG MENGINTAI
INDONESIA(Law-Justice.co) “Kita harus mengumpulkan kekuatanyang berasal dari
1,3 miliar lebih WargaChina di lebih dari 400 juta rumah tangga untuk
mengupayakan sukses besarsosialisme dengan karakteristik China ”Xi Jinping - 习近
平, kata Perdana Menteri China, seperti dikutip mediaXinhua. Belanda telah
berhasil menguasaiNegara kita 350 tahun lamanya. Mereka sering disebut sebagai
penjajah kulitputih yang paling lama menguasai Indonesia. Penjajah kulit putih
kini memangtinggal cerita, sebagai gantinya mulai ramai dibicarakan orang
tentangmunculnya penjajah kulit kuning alias bangsa China. Penjajah kulit
kuning ini disinyalirsedang ancang-ancang untuk menguasai wilayah-wilayah
Indonesia melalui tangan-tanganpemegang kekuasaan. Berbagai kemudahan dan
keistimewaan yang diberikan olehpemegang kuasa kepada investor dan pendatang
dari China patut dibaca sebagaiindikasi ke arah sana. Benarkah pemerintah
sekarang menggelarkarpet merah untuk bangsa China, sehingga bisa menguasai
Indonesia? Bagaimanacara penjajah kuning itu menaklukkan suatu Negara termasuk
Indonesia ? *Kebijakan Pro China* Paling tidak dari sisi ekonomi,kebijakan
pemerintah Jokowi sangat pro kepada China. Sejak Jokowi naik panggungkekuasaan,
kerjasama ekonomi antara Indonesia dan China memang meningkatsignifikan. Data
dari Kepala BadanKoordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut pada tahun 2014
nilai investasiChina hanya menyentuh angka US$ 800 juta atau sekitar Rp 10,8
triliun untuksekitar 501 unit proyek yang dikerjakan. Jumlah tersebut
meningkat hampir 3 kali lipat di tahun2016 dengan US$ 2,6 miliar atau sekitar
Rp 35,2 triliun. Adapun jumlah proyekyang dikerjakan mencapai 1.734 unit
proyek. Pada tahun 2017, jumlah investasiChina di Indonesia telah meningkat
mencapai US$ 2,7 miliar . Yang menjadi soal adalah pola investasiyang
ditawarkan China untuk Indonesia itu menggunakan sistem Turn Key
ProjectManajemen. Turnkey Project Management adalah sebuah model investasi yang
ditawarkandan disyaratkan China kepada Indonesia dengan sistem satu paket.
Mulai dari topmanagement, pendanaan dengan sistem Preferential Buyer's Credit,
materil danmesin, tenaga ahli, bahkan metode dan jutaan tenaga (kuli), baik
legal maupunilegal didatangkan dari China. Turn key Project ini mengatur
bahwaChina akan berinvestasi di Indonesia tetapi menggunakan produk, alat
mesin, dantenaga kerja dari mereka. Turn Key Project inilah yang kemudian
ditantadatanganioleh pemerintah Indonesia dalam rangka untuk mempercepat
pertumbuhan ekonominasional. Belakangan diketahui bahwa Turn Key Project ini
merupakan konsepChina dalam menciptakan lapangan kerja bagi penduduknya yang
sangat besar,yakni mencapai lebih dari 1,5 miliar jiwa. Akibat penerapan
investasi melaluisistem Turn Key Project, berbondong-bondong tenaga kerja asal
China yang datangke Indonesia. Kabar bahwa adanya ribuan tenaga kerja dari Cina
ke Indonesia telahdibenarkan oleh M. Hanif Dhakiri yaitu Menteri Tenaga Kerja
kita. Kedatanganburuh impor ini mengancam terutama buruh kelas bawah yang
semakin tidakberdaya. Pekerja-pekerja asal China ini biasabekerja di proyek
investasi yang memang bekerja sama dengan pihak dari negaraPanda, seperti
proyek PLTU Celukan Bawang di Buleleng, Bali yang diadakan olehChina Huadian
Power Plant, China Huadian Engineering, Co. Ltd, PT CT 17, mitralokal PT
General Energy Bali dan pembangunan pabrik semen PT Cemindo Gemilangdi Bayah,
Banten dan tempat tempat lainnya. Masuknya tenaga kerja asing asal Chinaini
diikuti oleh beberapa peristiwa janggal seperti penyelundupan manusia,narkoba
dan penanaman bibit sayuran berbakteri, serta pengibaran bendera Chinadi
sejumlah kawasan di Indonesia.. Berbagai kasus yang mengiringi merebaknyatenaga
kerja asal China ini antara lain adalah : *Pertama*, tertangkapnyalima pekerja
warga negara Cina oleh Tim Patroli TNI AU Bandar Udara Internasional Halim
Perdanakusuma, Jakarta Timur, yangmelakukan pengeboran proyek kereta api cepat
tanpa izin di wilayah Lanud HalimPerdanakusumah, Jakarta Timur pada April 2016.
*Kedua*, sebanyak 700pekerja Cina dalam proyek pembangunan pabrik semen Merah
Putih di KecamatanBayah, Lebak, Banten, yang dilakukan oleh PT.Cemindo Gemilang
pertengahan 2015. *Ketiga*, di perusahaanpertambangan nikel di Kabupaten
Konawe, Konawe Selatan dan Konawe Utara SulawesiTenggara,banyak tenaga asing
asal Cina. Bahkan ada 500 warga China bekerja di PT. Virtue Dragon Nikcel
Industry, lebih banyak dibanding tenaga kerja lokalyang hanya 246 orang saja.
*Keempat*, buruh Cinamendominasi pengerjaan proyek PLTUCelukan Bawang di
Buleleng Bali Kelima, pembangunan smelter bauksit di Kalimantan Barat.
*Kelima*, sebanyak 26tenaga kerja asing ilegal asal Cina ditangkap petugas
kantor Imigrasi Kelas IIKota Sukabumi, Jawa Barat. Mereka kedapatan menggunakan
paspor kunjungan untukbekerja sebagai tenaga ahli di Pembangkitlistrik tenaga
uap (PLTU) Pelabuhan Ratu Sukabumi. Mereka sudah tiga bulanbekerja yang
disponsori PT Shanghai Electric Group *Berbagai Kemudahan* Banjirnya tenaga
kerja mancanegarakhususnya dari China rupanya belum juga untuk membuat
pemerintah waspada. Yangterjadi justru pemberian berbagai fasilitas kemudahan
untuk mendatangkanmereka. Pemeritah melalui Sekretaris Kabinet Pramono Anung
mengatakan sampaisaat ini disadari ada begitu banyak hal yang berkaitan dengan
izin tenaga kerjaasing masih berbelit-belit. “ Oleh karena itu Presiden sudah
instruksikan keseluruh kementerian terkait. Menkumham, Menaker, menteri teknis
ada di perdagangan,perindustrian, KKP, Kementerian ESDM, untuk disederhanakan.
Diberikan waktu duaminggu," kata Pramono. Selain makin mempermudah
kedatangantenaga kerja asing khususnya China, pemerintah juga tak lagi
membatasi jangkawaktu pekerja asing untuk tinggal di Indonesia. Kementerian
Ketenagakerjaantelah mengubah ketentuan jangka waktu kerja bagi Tenaga Kerja
Asing (TKA) diIndonesia dari semula hanya 1-2 tahun lalu diwajibkan melakukan
perpanjangan,menjadi sesuai jangka waktu yang telah ditetapkan dalam perjanjian
kontrakkerja. Selain itu, mempermudah persyaratan dan perizinan bagi TKA. Hal
inibertujuan untuk mempermudah izin bagi TKA sesuai dengan arahan Presiden Joko
Widodo (Jokowi) agar investasimeningkat. Membanjirnya Tenaga Kerja asal
Chinaternyata juga dibarengi dengan lemahnya penegakan hukum atas
pelanggaranketentuan yang ada. Sebagai contoh implementasi UU No.13 Tahun 2013
tentang Ketenagakerjaan.Dalam UU itu secara jelas melarang TKA untuk bekerja
sebagai buruh kasar.Aturan itu dibuat untuk melindungi TK lokal yang tidak
memiliki keahlian. Bagiperusahaan atau pengguna TKA yang melanggar bisa
dikenakan kurungan penjarahingga 4 tahun serta denda hingga Rp 400 juta.
Apalagi jika perusahaan tidakmemiliki punya IMTA (izin mempekerjakan tenaga
kerja asing). Bagi perusahaan yang memiliki IMTAhanya boleh mempekerjakan TKA
yang memiliki keahlian dan posisi pekerjaannyaharus sesuai keahlian. Misalnya,
ahli mesin hanya boleh bekerja di bidangmesin. Nyatanya, dalam sejumlah razia,
baik yang dilakukan oleh pihak Imigrasimaupun Kemenaker ditemukan banyak buruh
kasar asal Cina. Tapi, sejauh ini belumada laporan perusahaan yang diberi
sanksi, baik pencabutan IMTA maupun sanksipidana. Sejauh ini, yang dilakukan
hanya mendeportasi TKA bersangkutan.Mandulnya penegakan hukum dibidang
ketenakerjaan khususnya kepada pekerjaillegal asal China ini tentu saja
menimbulkan tanda tanya ada apa ? *Strategi PenjajahanChina* Dengan
menggunakan model investasiturn key project yang berujung pada eksodus ribuan
tenaga kerja China bisadibaca sebagai salah satu strategi Cina untuk menguasai
Indonesia secara nonmiliter. Secara perlahan ia memasukkan warganya ke
Indonesia, kemudian mendesakkeluar warga pribumi Indonesia. Peran warga pribumi
di sektor-sektor strategisdi Indonesia diganti warga Cina. Hingga akhirnya,
pemilik Indonesia bukanlahorang-orang keturunan nusantara, tetapi adalah
orang-orang Cina. Stratgegi ini telah suksesditerapkan oleh China di benua
Afrika yaitu di Zimbabwe dan Angola. Dominasiekonomi China di dua negara
tersebut telah mempengaruhi kebijaksanaan negeriitu secara kuat. Di Angola
bantuan teknologi dan keuangan China membuat negeriitu maju pesat tetapi tidak
disadari tercengkeram kuat oleh pengaruh kekuatan ekonomiChina. Pelarangan
agama Islam diyakini banyak tokoh Angola karena dampakkekuatan China di Angola.
Bahkan negara Zimbabwe karena tidak kuat bayar utang,utangnya dihapus tetapi
dengan syarat mengganti mata uang negeri sendiri denganYuan. Banyak pengamat
mulai mengkhawatirkansepak terjang kehebatan kekuatan ekonomi China bisa
terjadi di Indonesia.Segala kekisruhan NKRI belakangan ini ditandai dengan
permusuhan dan kebencian terhadapetnis tertentu di medsos mulai kuat dirasakan.
Fenomena itu diyakini banyak pengamatkarena masyarakat sudah mulai merasakan
dampak dominasi negara China di Indonesia.Benarkah Indonesia bisa berubah
menjadi Angoladan Zimbabwe ? Tidak ada salahnya kalau rakyat
Indonesiameningkatkan kewaspadaan terhadap kiprah China di Indonesia. Karena
tanda tandadominasi China di Indonesia sudah mulai terasa. Setelah membanjirya
warga NegaraChina ke Indonesia, tanda tanda lain adalah mulai diperhitungkannya
pemakaianYuan sebagai kurs pengganti dolar Amerika. Dalam suatu kesempatan
Presiden JokoWidodo pernah menyatakan bahwa dolar Amerika Serikat sudah tidak
relevandijadikan acuan dalam perdagangan dengan negara lain. Kurs mata uang
AmerikaSerikat ini dinilai semakin tidak mencerminkan fundamental ekonomi
Indonesia. “Jangansampai ini mendominasi persepsi ekonomi. Kalau mengukur
ekonomi Indonesia pakaidolar, kita akan kelihatan jelek,” ujarnya “Menurut
saya, kurs rupiah dan dolarbukan lagi tolok ukur yang tepat.” Jokowi
menjelaskan acuan kurs yang relevanpada saat ini adalah mata uang mitra dagang
terbesar Indonesia. “Kalau Chinayang terbesar, ya, harusnya yuan yang dipakai
sebagai kursnya ” ujarnya. Nasionalisme Tiongkok Cina sejak reformasi,
mengalami masatransformasi dan konvergensi ke arah kapitalisme yang melahirkan
One Countryand Two System, yakni sistem negara dengan eloborasi ideologi
komunis dankapitalis. Dengan kata lain, model perekonomian boleh saja bebas
sebagaimana kapitalismeberpola mengurai pasar, namun secara politis tetap dalam
kontrol negara yaituPartai Komunis Cina. China juga mengobarkan semangat
warganya yang dirantauuntuk tetap memiliki rasa nasionalisme kepada tanah
leluhurnya. Pemimpin pemimpin China sudah berulangkalimengingatkan mengenai
fenomena ini kepada warganya yang ada dirantau. Padaperayaan Imlek, Presiden
Cina Xi Jinping dalam pidatonya mengajak semua wargaTionghoa perantauan untuk
mengumpulkan kekuatan dalam rangka mensukseskansosialisme ala Tiongkok. “Kita
harus mengumpulkan kekuatan yang berasal dari1,3 miliar lebih warga China di
lebih dari 400 juta rumah tangga untukmengupayakan sukses besar sosialisme
dengan karakteristik China,” kata XiJinping dikutip dari Xinhua, Jumat
(16/2/2018). Hal itu kata Xi Jinping semata-matauntuk mewujudkan impian China
atas peremajaan negaranya. “Ini untuk era barudan mewujudkan impian China atas
peremajaan nasional,” sambungnya.Di tahun baruCina kali ini, Xi Jinping mengaku
puas dan memuji prestasi para warganyakhususnya para Tionghoa perantauan
lainnya atas sumbangsih mereka dalammemberikan pengaruh global selama 2017
untuk China. Untuk itu, dirinya mengingatkan kepada semua Tionghoaperantauan
untuk selalu cinta pada negara asalnya yakni China. “Kami warga
Tionghoaperantauan akan terus cinta pada tanah air kita dan berkontribusi
padaperemajaan bangsa China yang hebat,” ujar Xi. Peneliti dari @China
Institute ofInternational Studies, Tang Qifang mengungkapkan bahwa gagasan Xi
Jinping untukmenjadikan negara komunis sebagai kekuatan baru pemerintahan dan
ekonomi globalmerupakan langkah canggih. Gagasan tersebut, kata dia, lahir dari
perubahankondisi dunia dan perwujudan dari aspirasi Cina untuk saling berbagi
perdamaianserta pembangunan dunia. Himbauan dari Perdana Menteri ChinaXi
Jinping diatas rupanya telah di amalkan dengan baik oleh warganya di
mancanegara. Diantaranya adalah konglomerat warga negara Tionghoa yang ada
diIndonesia seperti Sukanto Tanoto. Suatu kali Sukanto mengatakan
bahwameskipun ia lahir dan besar di Indonesia serta menempuh pendidikan,
menikah danmemulai bisnis di Indonesia, tetapi Indonesia adalah ayah angkat
bagi saya,karena itu ketika pulang ke Cina saya merasa menemukan ayah kandung.
Itu karenasaya masih merasa orang Cina,” demikian diucapkan konglomerat Sukanto
Tanotosaat tampil sebagai narasumber dalam sebuah acara televisi di Cina..
Sukanto yang pemilik Raja Garuda Emas (RGE), indukperusahaan yang bergerak di
perkebunan kelapa sawit, kertas dan plywood, inijuga dengan bangga mengumumkan
sumbangannya yang mencapai 5 juta dolar AS dalampembangunan Water Cube, sarana
olahraga yang digunakan saat Olimpiade Beijing2008. Tanpa merasa bersalah,
Sukanto yang lahir, sekolah dan ‘’mendapat karpetmerah’’ untuk membangun
kerajaan bisnis di Tanah Air, menyatakan Indonesiahanyalah ayah angkat. Intinya
Keindonesiaan Sukanto Tanoto ternyata hanyasebatas di bibir belaka, sementara
yang bergelora di hatinya tetap negara asalnya,China. Republik Indonesia bisa
merdeka denganmengorbankan ratusan juta jiwa warga Indonesia. Kini, Indonesia
telah 71 tahunmerdeka. Banyak kalangan yang sudah memetik hasil kemerdekaan
Indonesia dankini menjadi konglomerat, termasuk Sukanto Tanoto. Ia bisa kaya
raya dari hasilkekayaan tanah tumpah darah Indonesia. Bahkan pemerintah pun
memberi ‘’karpetmerah’’ pada Sukanto Tanoto untuk menjalankan bisnisnya. Namun
ternyata, setelahmenyaksikan pengakuannya di depan stasiun televisi Cina, orang
menjadi tahusiapa dia sesungguhnya. Sepertinya dia hanyalah orang asing yang
tidak pernah mencintaitanah kelahirannya. Sudah barang tentu orang orang
tionghoayang bermental seperti Sukanto Tanoto itu tidak sedikit jumlahnya. Kini
denganmembanjirnya tenaga kerja asal Cina, bukan saja akan berdampak
padameningkatnya jumlah pengangguran diIndonesia, tapi juga bisa menjadi pintu
masuk Cina untuk menjajah Indonesia..Kolaborasi antara warga Tionghoa yang
tipis rasa nasionalismenya di tambahpendatang baru dari China bisa menjadi
kekuatan baru untuk menggeser warga asliIndonesia tercerabut dari kampung
halamannya. *Ali Mustofa*Ahad Pahing, 18 Maret2018 Jam 08:41.Dishare Oleh
*AbdulKholik*Ahad Wage, 25 Maret 2018Jam 11.20Sumber :
https://law-justice.co/penjajah-kuning-sedang-mengintai-indonesia-.html
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=351871345315639&id=312662402569867
#yiv7609905952 #yiv7609905952 -- #yiv7609905952ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv7609905952
#yiv7609905952ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv7609905952
#yiv7609905952ygrp-mkp #yiv7609905952hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv7609905952 #yiv7609905952ygrp-mkp #yiv7609905952ads
{margin-bottom:10px;}#yiv7609905952 #yiv7609905952ygrp-mkp .yiv7609905952ad
{padding:0 0;}#yiv7609905952 #yiv7609905952ygrp-mkp .yiv7609905952ad p
{margin:0;}#yiv7609905952 #yiv7609905952ygrp-mkp .yiv7609905952ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7609905952 #yiv7609905952ygrp-sponsor
#yiv7609905952ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7609905952
#yiv7609905952ygrp-sponsor #yiv7609905952ygrp-lc #yiv7609905952hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7609905952
#yiv7609905952ygrp-sponsor #yiv7609905952ygrp-lc .yiv7609905952ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7609905952 #yiv7609905952actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7609905952
#yiv7609905952activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7609905952
#yiv7609905952activity span {font-weight:700;}#yiv7609905952
#yiv7609905952activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv7609905952 #yiv7609905952activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7609905952 #yiv7609905952activity span
span {color:#ff7900;}#yiv7609905952 #yiv7609905952activity span
.yiv7609905952underline {text-decoration:underline;}#yiv7609905952
.yiv7609905952attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv7609905952 .yiv7609905952attach div a
{text-decoration:none;}#yiv7609905952 .yiv7609905952attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7609905952 .yiv7609905952attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7609905952 .yiv7609905952attach label a
{text-decoration:none;}#yiv7609905952 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv7609905952 .yiv7609905952bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7609905952
.yiv7609905952bold a {text-decoration:none;}#yiv7609905952 dd.yiv7609905952last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7609905952 dd.yiv7609905952last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7609905952
dd.yiv7609905952last p span.yiv7609905952yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv7609905952 div.yiv7609905952attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv7609905952 div.yiv7609905952attach-table
{width:400px;}#yiv7609905952 div.yiv7609905952file-title a, #yiv7609905952
div.yiv7609905952file-title a:active, #yiv7609905952
div.yiv7609905952file-title a:hover, #yiv7609905952 div.yiv7609905952file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7609905952 div.yiv7609905952photo-title a,
#yiv7609905952 div.yiv7609905952photo-title a:active, #yiv7609905952
div.yiv7609905952photo-title a:hover, #yiv7609905952
div.yiv7609905952photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7609905952
div#yiv7609905952ygrp-mlmsg #yiv7609905952ygrp-msg p a
span.yiv7609905952yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7609905952
.yiv7609905952green {color:#628c2a;}#yiv7609905952 .yiv7609905952MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv7609905952 o {font-size:0;}#yiv7609905952
#yiv7609905952photos div {float:left;width:72px;}#yiv7609905952
#yiv7609905952photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7609905952
#yiv7609905952photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7609905952
#yiv7609905952reco-category {font-size:77%;}#yiv7609905952
#yiv7609905952reco-desc {font-size:77%;}#yiv7609905952 .yiv7609905952replbq
{margin:4px;}#yiv7609905952 #yiv7609905952ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7609905952 #yiv7609905952ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7609905952
#yiv7609905952ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7609905952
#yiv7609905952ygrp-mlmsg select, #yiv7609905952 input, #yiv7609905952 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7609905952
#yiv7609905952ygrp-mlmsg pre, #yiv7609905952 code {font:115%
monospace;}#yiv7609905952 #yiv7609905952ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv7609905952 #yiv7609905952ygrp-mlmsg #yiv7609905952logo
{padding-bottom:10px;}#yiv7609905952 #yiv7609905952ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv7609905952 #yiv7609905952ygrp-msg
p#yiv7609905952attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7609905952
#yiv7609905952ygrp-reco #yiv7609905952reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7609905952 #yiv7609905952ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7609905952 #yiv7609905952ygrp-sponsor
#yiv7609905952ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7609905952
#yiv7609905952ygrp-sponsor #yiv7609905952ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7609905952
#yiv7609905952ygrp-sponsor #yiv7609905952ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv7609905952 #yiv7609905952ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv7609905952 #yiv7609905952ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv7609905952 #yiv7609905952ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7609905952
#yiv7609905952ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv7609905952