http://www.balipost.com/news/2018/12/05/62935/NPL-BPR-di-Bali-Makin...html
NPL BPR di Bali Makin Tinggi, Lampaui
Nasional
Rabu, 5 Desember 2018 | 12:41:32
Berbagi di Facebook
<https://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fwww.balipost.com%2Fnews%2F2018%2F12%2F05%2F62935%2FNPL-BPR-di-Bali-Makin...html>
Tweet di Twitter
<https://twitter.com/intent/tweet?text=NPL+BPR+di+Bali+Makin+Tinggi%2C+Lampaui+Nasional&url=http%3A%2F%2Fwww.balipost.com%2Fnews%2F2018%2F12%2F05%2F62935%2FNPL-BPR-di-Bali-Makin...html&via=balipostcom>
*
*
UangIlustrasi. (BP/dok)
DENPASAR, BALIPOST.com – Jumlah kredit macet (NPL) Bank Perkreditan
Rakyat di Bali makin tinggi. Kondisi NPL terus meningkat sejak Maret
2017, yaitu dari 6,71 persen, lalu 6,77 persen pada Desember 2017
dan pada Maret 2018 7,81 persen.
Menurut Kepala OJK Bali Nusa Tenggara Hizbullah, dalam waktu beberapa
bulan, NPL BPR kini telah mencapai 9,24 persen. Tingginya NPL BPR ini
menjadi tantangan utama bagi BPR.
Ia menyampaikan, NPL BPR Bali lebih besar dari NPL BPR nasional yang
mencapai 7,16 persen. Kontribusi terbesar NPL BPR saat ini berasal dari
sektor perdagangan besar dan eceran, penerima bukan lapangan usaha
lainnya, dan penyediaan akomodasi makanan dan minuman. Tingginya jumlah
kredit bermasalah BPR saat ini terutama disebabkan oleh banyak debitur
melakukan spekulasi usaha properti dengan menggunakan kredit investasi
dan side streaming kredit.
Menurutnya, Selasa (4/12), data NPL ini mencerminkan masih tingginya
risiko kredit BPR yang merupakan permasalahn utama yang dihadapi BPR
saat ini dan di tahun mendatang. Kondisi ini mempengaruhi rentabilitas
dan efisiensi BPR selama setahun terakhir.
Tercermin dari Return on Assets (ROA) menurun dari 2,45 persen menjadi
2,17 persen dan rasio BOPO meningkat dari 78,92 persen menjadi 79,94 persen.
Ketua Perbarindo Bali Ketut Wiratjana mengatakan, BPR di tahun 2018
memang mengalami perlambatan dalam penyaluran kredit. Segala upaya telah
dilakukan oleh pengurus BPR untuk dapat meningkatkan penyaluran kredit.
Baca juga: Ini, Peraih Nilai Tertinggi UN SMA di Bali
<http://www.balipost.com/news/2018/05/02/44464/Ini,Peraih-Nilai-Tertinggi-UN...html>
Maka itu, BPR kini lebih berhati–hati dalam menyalurkan kredit dan
memperbaiki proses serta pencegahan kredit bermasalah melalui review
seluruh perkreditan di BPR. Ia menyebutkan BPR menghadapi tantangan di
2019 yaitu penyaluran kredit yang berkualitas, penyelesaian kredit
bermasalah dan jangka waktu penyelesaian AYDA (Agunan Yang Diambil Alih).
Perbarindo berharap agar penyelesaian AYDA diperpanjang menjadi 3 tahun.
Tantangan lain yang dihadapi BPR yang bernaung di Perbarindo saat ini
adalah pemenuhan modal inti minimal di tahun 2019.
Humas Perbarindo Ketut Wardana menambahkan, tingginya NPL disebabkan
karena penyaluran kredit melambat. Pertumbuhan kredit yang melambat
karena faktor ekonomi makro yang memang melambat.
Akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Udayana
(Unud) Prof. Wayan Ramantha mengatakan, salah satu indikator kondisi BPR
gawat adalah NPL lebih dari 5 persen. Kondisi lain yang mempengaruhi
adalah laba dan struktur modal (capital).
Ia mengatakan struktur modal saat ini masih di atas 8 persen bahkan di
atas 12 persen. Sementara NPL yang cukup tinggi mempengaruhi kualitas
aset memang perlu pembenahan. “Tapi pembenahan itu adalah salah satunya
pengambilalihan agunan untuk menurunkan NPL dari 9 persen ke angka
maksimum 5 persen,” ujarnya.
Untuk menurunkan NPL ini memerlukan ekuitas yang cukup. Ekuitas yang
cukup dengan rasio modal sendiri yang kondisinya saat ini lebih,
memungkinkan dilakukan. Tapi memerlukan waktu untuk mengambil alih
agunan. Upaya ini pada akhirnya bisa menurunkan NPL. (Citta Maya/balipost)