*Kalau sudah masuk surga dijamin langsung ke Taman Firdaus.*

https://suara-islam.com/kalimat-tauhid-penentu-masuk-surga/


AKIDAH <https://suara-islam.com/category/al-islam/akidah/>
*Kalimat Tauhid Penentu Masuk Surga*

25 Oktober 2018


 Kalimat tauhid

Seluruh jerih payah kehidupan didunia ini bagi seorang mukmin adalah satu
tujuan, yaitu mencari ridho Allah Ta’ala, tiada suatu kebahagiaan hakiki
dan merupakan puncak kebahagiaan tatkala dihembusan nafas terakhir yaitu
kematian menjemput, Allah Ta’ala ridho bibir kita berucap Laa Ilaaha Illa
Allah.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة

*“**Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah “Laa ilaaha illa Allah” maka
akan masuk surga”* (HR. Abu Dawud)

Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan dan keistimewaan orang yang
mengucapkan dua kalimat syahadat (sebagai kalimat terakhir) sebelum
meninggal dunia, karena ini merupakan sebab turunnya rahmat Allah Ta’ala
kepada-Nya dan selamatnya dia dari azab neraka. Ini juga termasuk ciri
utama orang yang meraih husnul khatimah (meninggal dunia di atas kebaikan).

Maksud dari kalimat ‘Laa ilaaha illallah’ dalam hadits ini juga mencakup
kalimat syahadat ‘Muhammadur Rasulullahí’ (Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah rasul/utusan Allah), sebagaimana yang dinyatakan
dalam riwayat lain dari hadits ini, dan demikian keterangan dari para ulama..

Berpegang teguh dengan dua kalimat syahadat dengan memahami dan
mengamalkannya dengan benar adalah termasuk sebab utama untuk meraih
keteguhan iman dan husnul khatimah (meninggal dunia di atas kebaikan),
sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ
الدُّنْيَا وَفِى الْأَاخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظّٰلِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ
اللَّهُ مَا يَشَآءُ

*“**Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang
teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan
orang-orang yang zhalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”* (QS.
Ibrahim 14: Ayat 27)

Makna ‘ucapan yang teguh’ dalam ayat ini adalah dua kalimat syahadat yang
dipahami dan diamalkan dengan benar, sebagaimana yang ditafsirkan sendiri
oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam: *“ Seorang muslim ketika dia ditanya (diuji)
di dalam kuburnya (oleh malaikat Munkar dan Nakir) maka dia akan bersaksi
bahwa ‘tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah’ dan ‘Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah’, itulah makna
Firman-Nya: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan
yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”* (HR. Bukhari no. 4422
dan Muslim no. 2871)

Orang yang mengucapkan kalimat tauhid mesti memiliki keyakinan yang penuh,
sehingga kalimat ini memberinya manfaat. Keyakinan hanya bisa diperoleh
setelah matinya syahwat. Dan matinya syahwat hanya bisa dicapai dengan cara
melatih (menundukkan) diri sampai syahwat-syahwat tersebut mati, selama
hidup. Jika syahwat telah hilang (terkendali), pengharapan serta rasa takut
kepada Allah Ta’ala menjadi besar, dan kecenderungan kepada selain Allah
pun terputus total. Jika seseorang megucapkan kalimat tauhid dalam keadaan
seperti itu, tentu ia patut mendapat ampunan dan RidhoNya.

Para ulama salaf menganjurkan supaya menuntun (talqin) orang yang sudah
mendekati kematian (sekarat) dengan kalimat tauhid. Sebagaimana Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

*“**Talqinkan orang yang menghadapi kematian (dengan ucapan) laa ilaaha
illallah.”* (HR. Muslim)

Maka tuntunlah orang yang menjelang kematian dengan laa ilaaha illallah.
Sungguh, saat menjelang ajal, syahwat manusia akan mati, dan ia akan
beroleh cahaya keyakinan. Jika ia mengucapkan kalimat tauhid dalam keadaan
seperti ini, tentu syahadatnya itu diterima.

Orang yang sudah dapat mematikan syahwatnya jauh sebelum menjelang ajal,
tentu lebih utama untuk mendapat ampunan-Nya. Bahkan, Allah Ta’ala akan
membukakan penglihatannya ke alam ghaib. Karena, kalimat tauhid yang
diucapkannya tentu keluar dari hati yang murni, tanpa campuran syahwat.
Betapa pentingnya menjaga hal hal yang mendatangkan perkara perkara
kebaikan sesuai perintah Allah Ta’ala dan RasulNya, agar kita mampu
mengucapkan kalimat mulia ini di akhir hayat sebagaimana kalimat ini begitu
kita cintai dan pelihara selama hidup di dunia.

*Wallahu a’lam*

*Abu Miqda*

Kirim email ke