Ya, Kiai Nur juga bilang gitu. 

--- ronggo303@... wrote;
kalau dia paham apa yg dia omongin, dia tdk akan ngomomg begitu
On Fri, Dec 21, 2018 at 11:21 AM ajeg wrote:
Ya memang ngawur kalau politik dioplos, dicampuraduk, dengan agama atau 
sebaliknya, agama dioplos dengan politik. Coba saja lagi cara yang sudah 
dibuatkan founding mothers & fathers; menjalin politik dengan ketuhanan. 
Kalau dicampuraduk, politik dicampur agama, ya begini jadinya. Bukannya 
memenuhi omongan sendiri untuk nabok malah tunduk pada omongan si tukang fitnah 
demi dikatai "beragama".. Alias, berbuat karena/untuk orang lain dan tidak 
karena/untuk semesta.
--- SADAR@... wrote:
Adegan-adegan DAGELAN macam begini BUKAN hanya salah KAPRAH, ... tapi inilah 
KESALAHAN PRINSIP mencampur adukan Agama dan POLTIK, ...!!!
Jonathan Goeij 於 20/12/2018 7:36 寫道:
Adegan Politik Salah Kaprah, Kiai Nur: Kalau Jokowi Paham, Pasti Tidak Mau Jadi 
Imam Salat
19 Desember 2018KOPIAHNYA? Akhirnya banyak yang menyoal bagaimana Jokowi 
menggunakan kopiah saat salat. (FT/IST)
SURABAYA | duta.co – KH Nur Maymoen, Pengasuh PP Miftahul Ulum, Madaris Majelis 
Taklim Tambangagung Ares, Ambunten, Sumenep, mengaku sedih melihat adegan 
politik yang salah kaprah. Politisasi imam salat, menunjukkan betapa rendahnya 
pemahaman kita tentang ibadah mahdlah tersebut.
“Sampai Capres Jokowi, yang notabene masih menjadi Presiden RI, difoto dan 
disebar saat menjadi imam salat. Ini politik salah kaprah, sudah lepas dari 
substansi Pilpres,” tegas KH Nur Maymoen, Pengasuh PP Miftahul Ulum, Madaris 
Majelis Taklim, Sumenep, Madura kepada duta.co Rabu (19/12/2018).
Menurut Kiai Nur, Jokowi sebagai tamu, mestinya menolak menjadi imam. Lagi pula 
untuk menjadi imam salat, itu ada ketentuan-ketentuan khusus baik dari sunnah 
maupun fikih. “Dia lebih taqwa, lebih mengerti tentang ilmu agama, kalau ada 
yang lebih tua dari segi umur. Lagi pula dia tamu. Ini mestinya dijelaskan 
kepada Pak Jokowi. Kalau dia tahu, pasti tidak mau jadi imam salat,” jelas Kiai 
Nur.
Kiai Nur kemudian membandingkan dengan jawaban Prabowo Subianto. Capres nomor 
urut 02 ini, tidak segan-segan mengaku, bahwa, dirinya tidak pantas menjadi 
imam salat. Prabowo sangat menghormati orang yang lebih alim, lebih paham agama 
seperti ustadz, kiai, ulama untuk memimpin  salat.
“Harus diakui, jawaban Pak Prabowo bahwa dia tidak pantas menjadi imam salat 
karena harus menghormati orang yang lebih tinggi ilmunya, ini jawaban santri. 
Kalau sampai kita merasa lebih tinggi ilmu kita, ini berbahaya menurut agama,” 
tegasnya.
Seperti diberitakan, di depan kader Gerindra, Prabowo mengatakan, bahwa, 
dirinya  tidak merasa khawatir memberikan pengakuan mengenai kepantasan menjadi 
imam salat. Dia menyatakan, setiap saat (dirinya) tidak mengerti persoalan 
agama, dia akan bertanya kepada seorang ustadz.
“Saya tidak takut mengakui, saya merasa tidak pantas saya menjadi imam salat. 
Lebih baik saya ikuti imam yang lebih tinggi ilmunya daripada saya. Untuk apa 
saya bohong? Untuk apa saya pura-pura kepada kalian? Kalau nggak mengerti, saya 
tanya, ‘Pak Ustaz, gimanaini?’ Beliau menjelaskan. Pak Ustadz, apakah Islam ini 
agama yang radikal? Oh, tidak benar. Mereka ajarkan Islam kita Islam yang 
rahmatan lil alamin. Islam kita adalah Islam yang melindungi semua dalam alam 
semesta,” ujar Prabowo.
Tugasnya Berbeda-beda
Masih menurut Kiai Nur, politik salah kaprah yang dimainkan Jokowi, ini justru 
membuat umat muak. “Jangan dikira umat tertarik dengan gaya politik salah 
kaprah seperti itu. Umat paham, bahwa salat itu ibadah mahdhah, ibadah yang 
sudah ditentukan syarat dan rukunnya, tidak boleh dipamerkan-pamerkan,” 
jelasnya.
Pernah mendengar wejangan KH Syarofuddin Rembang, Jawa Tengah? Dalam 
taushiyahnya Kiai Syarofuddin meminta agar aparat kerja profesional. Jangan 
sampai posisinya sebagai aparat malah sibuk wiridan, pengajian. Tugasnya 
berbeda-beda.  “Kalau ada aparat wiridan, malah saya marahi, sana jaga 
keamanan. Tugasnya beda-beda,” jelas kiai nyentrik ini melalui pengajian yang 
tersebar di youtube. (mky)

Kirim email ke