http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1401-huawei
/*Huawei*/
Penulis: *Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group* Pada: Sabtu, 22 Des
2018, 05:30 WIB podium <http://mediaindonesia.com/podiums>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1401-huawei>
<http://twitter.com/home/?status=Huawei
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1401-huawei via
@mediaindonesia> Huawei
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2018/12/b62c7e0856d4023c0c49961d737bcdcb.jpg>
KASUS penangkapan Direktur Keuangan Huawei Meng Wanzhou oleh otoritas
Kanada atas perintah Washington sudah berlangsung tiga pekan. Isu
semakin menghangat setelah Pemerintah AS memengaruhi sekutunya di Eropa
itu untuk ikut menekan Pemerintah Beijing melalui sektor keuangan.
Dua Bank Inggris HSBC dan Standard Chartered memutuskan tidak mau lagi
memberikan layanan jasa dan pendanaan kepada Huawei. Kedua bank itu
beralasan terlalu tinggi risiko berbisnis dengan perusahaan
telekomunikasi terbesar Tiongkok tersebut. Langkah itu diperkirakan
membuat Huawei sulit untuk selanjutnya mendapatkan dukungan pendanaan
dari sistem keuangan global.
Meski alasan yang disampaikan bersifat teknis, banyak kalangan menilai
kebijakan dua bank Inggris itu tidak bisa dilepaskan dari tekanan
Washington. Di tengah pertemuan antara Presiden Donald Trump dan
Presiden Xi Jinping di G-20 awal Desember lalu, Pemerintah AS bisa
menekan Pemerintah Kanada untuk melakukan langkah hukum terhadap
eksekutif Huawei yang kebetulan sedang masuk wilayah Kanada.
Pemerintah Washington kini sedang berupaya membujuk Kanada untuk
menyerahkan Meng agar bisa diadili di AS. Otoritas AS beranggapan, Meng
melakukan pelanggaran terhadap aturan hukum AS karena membantu
pembangunan sistem telekomunikasi di Iran.
Presiden Xi mengecam langkah yang dilakukan Pemerintah Kanada.
Ia meminta agar Meng diserahkan kepada Pemerintah Beijing karena tidak
ada pelanggaran hukum yang dilakukan eksekutif Huawei itu saat berada di
Kanada. Untuk menekan Kanada, otoritas Tiongkok menangkap mantan
diplomat Kanada Michael Kovrig dan pengusaha Michael Spavor dengan
tuduhan membahayakan ‘keamanan nasional’.
Bahkan setelah itu warga negara ketiga Kanada, Sarah McIver, ditangkap
aparat keamanan Tiongkok dengan alasan penyalahgunaan izin kerja. Kanada
semakin terjepit karena Pemerintah Tiongkok memutuskan untuk menunda
semua perjanjian bisnis yang dilakukan para pengusahanya.
Setidaknya ada dua rencana bisnis yang terhenti, yakni rencana investasi
Kanada untuk membangun industri suku cadang kendaraan serta pembukaan
pusat pertokoan di Tiongkok.
Warga Tiongkok memang marah dengan tindakan yang dilakukan Pemerintah
AS. Beberapa pengusaha bahkan menilai tindakan itu terlalu berlebihan
dan mengganggu kedaulatan Tiongkok. Pasalnya, Huawei ialah perusahaan
yang belum go public sehingga seharusnya hanya tunduk kepada aturan
hukum yang berlaku di Tiongkok.
Presiden Xi tersentil dengan isu kedaulatan tersebut. Dalam pidato
peringatan 40 tahun reformasi ekonomi Tiongkok, Xi dengan tegas
mengatakan, tidak ada satu pun negara yang bisa mendikte negaranya.
Sebaliknya, Tiongkok tidak pernah ingin menciptakan hegemoni di dunia.
Sampai sejauh ini belum terlihat titik terang dari kasus penangkapan
Meng. Kanada sendiri khawatir untuk memenuhi permintaan Washington agar
mau menyerahkan Meng. Apabila Kanada melakukan itu, semakin jelas Kanada
dijadikan kaki tangan oleh Washington. Hal ini tentunya membahayakan
Kanada, khususnya dalam menghadapi Tiongkok.
Pihak Huawei menyadari tekanan yang mereka hadapi tidak terlepas dari
inovasi yang telah mereka kembangkan untuk teknologi telekomunikasi 5G.
Sebagai perusahaan terdepan, Huawei bisa mengalahkan
perusahaan-perusahaan dunia yang masih terus melakukan pengembangan
untuk bisa menguasai teknologi 5G.
Dengan alasan faktor keamanan nasional, Inggris, Kanada, Australia, dan
Selandia Baru mengikuti jejak AS untuk tidak mau menggunakan perangkat
teknologi 5G yang sudah dikembangkan Huawei. Dalam waktu dekat Prancis
dan Jepang mungkin menolak juga untuk bekerja sama dengan Huawei.
Pihak Huawei sendiri sudah bersedia memenuhi segala ketentuan yang
dimintakan Kanada dan Inggris dalam penerapan sistem 5G. Bahkan secara
tertulis kesanggupan Huawei tersebut sudah diajukan kepada otoritas
komunikasi Kanada dan juga Inggris. Huawei ingin menegaskan, teknologi
yang mereka kembangkan tidak akan bisa dipergunakan untuk tujuan
mata-mata seperti dituduhkan Washington.
Pemerintah Tiongkok sedang diuji tentang tanggung jawab untuk bisa
melindungi kepentingan warga dan juga aset warganya. Sebagai kekuatan
ekonomi nomor dua terbesar di dunia, Presiden Xi perlu memberikan
jaminan kepada warganya agar tidak takut dalam mengembangkan dan
menguasai teknologi.
Tiongkok harus diakui berkembang luar biasa cepatnya. Investasi manusia
yang dilakukan secara konsisten dalam 40 tahun terakhir membawa Tiongkok
memiliki critical mass tenaga ahli yang terampil dan kompeten. Sekarang
ini nyaris tidak ada barang yang tidak bisa dibuat oleh bangsa itu.
Dengan jumlah penduduk 1,3 miliar dan produk domestik bruto mencapai
US$13 triliun, sepertinya tidak ada yang bisa menghentikan Tiongkok.
Meski tingkat pertumbuhan ekonominya hanya tinggal 6,5% sekarang ini,
hanya tinggal waktu saja Tiongkok akan bisa melewati AS sebagai kekuatan
ekonomi terbesar di dunia.
Kasus Meng ingin dimanfaatkan AS untuk menekan Tiongkok agar lebih mau
membuka diri dan dengan itulah AS berharap bisa mempertahankan posisinya
sebagai kekuatan ekonomi nomor satu dunia.