Konflik Papua Dosa Soeharto

 Argo . 2 days ago . 6 min read .  6.2k
   
   -  Politik 
   - 
   - 
   - 
   - 

Puluhan tahun Presiden Soeharto menikmati gelimangan Dollar Amerika Serikat 
dari Freeport, perusahaan pertambangan McMoRan asal Amerika Serikat, yang 
menancapkan kukunya di bumi Cendrawasih.

Kekayaan alam Papua dikeruk habis-habisan, sementara rakyat Papua sendiri tidak 
menikmati hasil kekayaan alam dari tanah leluhur mereka.

Kekayaan alam Papua yang dihabisi adalah pegunungan Grasberg dan pegunungan 
Ertsberg. Pegunungan Grasberg mengandung kandungan emas yang sangat melimpah 
ruah dan merupakan cadangan emas terbesar di dunia.

Melalui kontrak karya berdasarkan Undang-Undang Penanaman Modal Asing (PMA) di 
era Soeharto, tidak tanggung-tanggung Freeport memiliki hak yang sangat 
istimewa untuk menghabisi Pegunungan Grasberg beserta segala isinya.

Akibatnya, Pegunungan Grasberg yang dulu indah menawan menjulang tinggi dengan 
puncak yang tertutup awan itu kini menjadi lubang raksasa sedalam 700 meter 
karena digali habis-habisan oleh Freeport.



Selain Pegunungan Grasberg, pegunungan Ertsberg memiliki kekayaan alam yang 
melimpah ruah berupa kandungan tembaga terbesar di dunia berupa miliaran ton 
material tembaga yang dikeruk habis-habisan oleh Freeport.

Perusahaan McMoran asal Amerika Serikat itu menjadi raksasa di hutan belantara 
Papua dengan omzet triliunan Dollar Amerika Serikat yang mereka raup dari bumi 
leluhur rakyat Papua.

Kota Tembagapura, Las Vegas Kedua di Belantara Papua

Presiden Soeharto juga meresmikan kota Tembagapura, sebuah kota di pegunungan 
yang dibangun Freeport dengan standard Amerika di tengah hutan lebat.

Tidak sembarang orang bisa masuk kota Tembagapura. Bagaikan Las Vegas kedua di 
Indonesia, kota yang letaknya di pegunungan ini memiliki segala fasilitas 
modern.

Kota yang indah itu dibangun Freeport untuk mendukung operasional pertambangan 
mereka dan juga untuk kepentingan para pekerja asal Amerika Serikat yang 
bekerja di Freeport.



Kota Tembagapura dijuluki Negeri di Atas Awan karena berada di ketinggian 
2..500 mdpl. Kota ini jarang disinari matahari, memiliki iklim yang sangat 
dingin dengan awan-awan putih yang tipis dan indah menawan.

Di kota Tembagapura ini terdapat dua gunung di mana terletak dua tambang besar, 
yaitu tambang tembaga di pegunungan Ertsberg dan tambang emas terbesar di dunia 
di pegunungan Grasberg.

Tidak tanggung-tanggung Freeport memggali bumi Papua untuk membangun terowongan 
besar guna menghubungkan kedua pegunungan yang memiliki omzet yang tak ternilai 
itu.

Dosa-dosa Soeharto Terhadap Rakyat Papua

Kehadiran Freeport mengancam kehidupan penduduk asli dari suku Amungme yang 
berdiam di dataran tinggi sekitar proyek tambang Freeport.



Akibat dari eksplorasi yang besar-besaran di pegunungan Grasberg, Freeport 
mencemari tiga badan sungai utama di wilayah Mimika.

Ketiga sungai tersebut adalah sungai Aghawagon, Otomona, dan Ajkwa. 
Sungai-sungai tersebut dijadikan tempat pembuangan limbah sisa produksi berupa 
tailing.

Lebih dari 200.000 ton tailing dibuang setiap harinya ke Sungai Aghwagon, yang 
kemudian mengalir ke Sungai Otomona dan Sungai Ajkwa.

Sungai-sungai tersebut yang dulu jernih dan bening, kini berubah warna menjadi 
coklat tua penuh dengan limbah beracun.

Begitu juga dengan nasib danau Wanagon yang merupakan danau suci orang Amungme.

Danau yang indah dan teduh itu juga ikut rusak dan hancur karena dijadikan 
pembuangan limbah asam dan beracun.

Freeport menjanjikan kompensasi fasilitas sosial kepada suku Amungme berupa 
sekolah, pasar, hingga perumahan. Namun janji itu tak pernah ditepati.

Bagi orang Amungme, Freeport adalah perampok yang menjarah kediaman mereka 
tanpa izin, namun bagi Presiden Soeharto, Freeport adalah mesin ATM miliknya 
yang harus diamankan dari tangan jahil siapapun.

Untuk mengamankan Freeport dari suku Amungme dan OPM, Presiden Soeharto lalu 
menjadikan Papua sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) selama dua puluh tahun 
lamanya dari tahun 1978 sampai tahun 1998.



Pada tahun 1996, Presiden Soeharto mengerahkan dua ribu personel dari Kesatuan 
Kopassus dan Kostrad untuk menjaga Freeport.

Sebagai rasa terima kasih mereka, Freeport menyuntik dana segar kepada Presiden 
Soeharto sebesar US$ 40 juta.

Menjadikan Papua sebagai Daerah Operasi Militer dirasa masih kurang cukup oleh 
Presiden Soeharto untuk mengamankan Freeport.

Bagi Soeharto, gelontoran uang dari Freeport ke kantongnya merupakan investasi 
yang tidak ternilai harganya dan harus dilestarikan.



Presiden Soeharto lalu memindahkan suku Amungme dari tanah leluhur mereka ke 
tempat lain agar tidak merecoki Freeport dengan segala tetek bengek adat 
istiadat dan budaya mereka.

Banyak suku Amungme yang mati karena lingkungan baru yang tidak cocok dengan 
komunitas mereka dan juga banyak yang mati terkena Malaria.

Sejak Freeport menancapkan kuku mereka di bumi Papua, Presiden Soeharto 
menerima upeti setiap tahunnya sebesar US$ 7 juta.

Presiden Soeharto juga menerbitkan Kepres No. 92/1996, sehingga Freeport 
menyuntik lagi dana segar kepada Yayasan Dana Sejahtera yang didirikan oleh 
Presiden Soeharto sebesar US$ 20,3 juta.

Pundi-pundi kantong Presiden Soeharto pun semakin bertambah lewat Freeport. 
Freeport adalah mesin ATM bagi Soeharto, anak-anaknya Soeharto, dan para 
kroni-kroninya.

Konflik Papua yang Tak Kunjung Usai

Dalam kurun waktu 14 tahun pertama beroperasi, Freeport meraup keuntungan 
sebesar 14,9 milyar dolar AS. Keuntungan Freeport tersebut tidak sebanding 
dengan pendapatan negara, khususnya kemakmuran bagi rakyat Papua.

Penerimaan negara dari pajak dan royalti Freeport hanya sebesar US$ 5,4 milyar 
saja. Dana sebesar itu tidak sepenuhnya masuk kas negara.

Rakyat Papua pun marah. Hidup mereka tambah miskin melarat, padahal uang yang 
dihasilkan Freeport dari tanah leluhur mereka sangat besar, milyaran Dolar 
Amerika Serikat.



Sedangkan mereka tidak dapat apa-apa, hidup miskin terus. Banyak dari mereka 
yang akhirnya bergabung dengan OPM, suatu organisasi yang berjuang agar Papua 
lepas dari Indonesia dan menjadi negara sendiri yang berdaulat penuh.

Konflik di Papua tidak kunjung usai akibat penderitaan rakyat papua sebagai 
imbas dari keberadaan Freeport di tanah leluhur orang Papua.

Penduduk asli Papua terusir dari tanah leluhur mereka, dan mereka tidak 
mendapat apa-apa dari hasil emas yang dikeruk Freeport habis-habisan, sehingga 
membuat Papua bergejolak.



Insiden penembakan yang terus terjadi di Papua tidak terlepas dari rangkaian 
persoalan ketidakadilan bagi rakyat Papua.

Ketidakadilan tersebut yang memicu konflik berkepanjangan dan tragedi 
kemanusiaan yang tiada akhir di tanah Papua.

Mayat-mayat bergelimpangan di tanah Papua akibat rentetan senjatan, baik itu 
dari moncong senjatanya OPM, maupun dari moncong senjata otomatis militer 
Indonesia.

Jokowi Cuci Piring Kotornya Soeharto

Semua sumber konflik di Papua adalah dosa Soeharto. Kini Presiden Jokowi yang 
kebagian cuci piring kotornya Soeharto.

Demi kemaslahatan rakyat Papua, Presiden Jokowi berjuang mati-matian agar 
sistem bagi hasil antara Freeport dan pemerintah Indonesia sesuai asas keadilan.

Dengan susah payah pemerintahan Jokowi akhirnya berhasil ambil alih 51% Saham 
Freeport. Divestasi saham Freeport tersebut demi asas keadilan dan harapan baru 
bagi rakyat Papua di era Presiden Jokowi.



Sebagian besar persentase keuntungan Freeport akan digunakan Presiden Jokowi 
untuk bangun Papua, sehingga ketidakadilan segera sirna dari bumi Cendrawasih 
itu.

Banyak dari para anggota OPM yang sadar bahwa pak Jokowi bangun tanah Papua 
dengan hati yang tulus demi kemajuan taraf hidup rakyat Papua.

Sebagian besar dari mereka akhirnya melakukan gencatan senjata dan menyatakan 
kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Sebagian lainnya masih belum sadar bahwa penderitaan rakyat Papua selama ini 
adalah peninggalan dosa Soeharto.

Mata mereka masih buta dan belum melek bahwa kini pak Jokowi yang harus 
menanggung dosa-dosa masa lalu dan mencuci piring kotornya Soeharto terhadap 
rakyat Papua.

Sekalipun terus menerus diintimidasi oleh segelintir OPM yang tersisa, Presiden 
Jokowi tidak gentar dan tidak mundur selangkahpun untuk bangun Papua.

Semangat perjuangannya membangun Papua dilakukannya semata-mata demi rakyat 
Papua, rakyat yang dicintainya yang sebagian besar memilihnya menjadi Presiden 
RI yang ke-tujuh.

Dengan gelimang dosa masa lalu Presiden Soeharto, masih pantaskah para keluarga 
Cendana dan kroni-kroninya itu bangkit kembali untuk merebut kejayaan masa lalu 
mereka pada pemilu 2019 mendatang? (*)

Kirim email ke