https://tirto.id/belajar-menertawakan-diri-sendiri-dari-gus-dur-cv8m
30 Desember 2009
Belajar Menertawakan Diri Sendiri dari
Gus Dur
Abdurrahman Wahid. tirto.id/Deadnauval
<https://tirto.id/belajar-menertawakan-diri-sendiri-dari-gus-dur-cv8m>
Abdurrahman Wahid. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Ivan Aulia Ahsan - 30 Desember 2018
Dibaca Normal 2 menit
/Satu hal yang paling menonjol dari Gus Dur adalah kemampuannya
menertawakan diri sendiri lewat lelucon./
tirto.id <https://tirto.id/> - Beberapa pekan setelah menjadi presiden
pada 1999, Abdurrahman Wahid berpidato di depan para tamu negara asing.
Peristiwanya terjadi di Denpasar, Bali. Ia berpidato dalam bahasa
Inggris tanpa teks. Di awal pidato, orang yang akrab disapa dengan
panggilan Gus Dur ini berujar:
“Saya dan Megawati adalah pasangan presiden dan wakil presiden yang
lengkap: saya tidak bisa melihat, dia tidak bisa ngomong.”
Semua tamu ger-geran tanpa kecuali. Gus Dur bersikap biasa saja melihat
orang tertawa bahak-bahak. Wajahnya lempang belaka.
Waktu itu banyak omongan soal wakil presiden yang irit bicara. Megawati
Soekarnoputri jarang sekali memberi komentar soal apapun. Gus Dur,
sementara itu, hampir saban hari mengeluarkan pernyataan-pernyataan
kontroversial yang sering bikin panas berita-berita di surat kabar.
Diamnya Megawati memang membuat orang bertanya-tanya, terutama
menyangkut kapasitas pribadinya sebagai wakil presiden dan
ketidakcocokannya dengan sang presiden. Gus Dur tahu betul tentang itu
dan ia mencoba menetralkan situasi dengan kemampuannya yang
menyenangkan: lelucon dan menertawakan diri sendiri.
Baca juga: Gus Dur: Presiden yang Bersiasat dengan Kelakar
<https://tirto.id/gus-dur-presiden-yang-bersiasat-dengan-kelakar-cKMN>
"Maju Aja Susah, Apalagi Mundur"
Pada kesempatan lain, ketika desakan pengunduran diri kepada Gus Dur
makin kencang di mana-mana, Emha Ainun Nadjib mampir ke istana.
Berdasarkan cerita yang pernah dituturkan Emha, ia mendatangi lelaki
kelahiran Jombang, 7 September 1940 itu sebagai seorang sahabat yang
bermaksud mengingatkan.
“Gus, sudahlah, mundur saja. Mundur tidak akan mengurangi kemuliaan
sampeyan,” kira-kira begitu kata Emha kepada Gus Dur.
Jawaban Gus Dur: “Aku ini maju aja susah, harus dituntun, apalagi suruh
mundur.”
Dua orang itu ngakak.
Waktu itu memang posisi Gus Dur berada di ujung tanduk. Sepanjang
Juni-Juli 2001, lawan-lawan politiknya terus menyerang dengan isu
Buloggate lewat DPR dan MPR. Suasana memanas akibat pendukung Gus Dur
dan penentangnya tiap hari melakukan demonstrasi dan unjuk kekuatan di
depan istana. Gus Dur sempat mengeluarkan senjata pamungkas berupa
Dekrit Presiden yang salah satu poinnya adalah membekukan DPR dan MPR.
Dekrit yang dikeluarkan pada 23 Juli 2001 pukul 01.10 itu ditentang
banyak institusi negara, termasuk TNI dan Mahkamah Agung. MA bahkan
mengeluarkan fatwa di hari itu juga bahwa dekrit Gus Dur bertentangan
dengan hukum.
Baca juga: Solusi Tragedi 1965: Langkah Maju Gus Dur, Langkah Mundur
Jokowi
<https://tirto.id/solusi-tragedi-1965-langkah-maju-gus-dur-langkah-mundur-jokowi-dcz1>
Siang harinya, Gus Dur berpendapat fatwa MA tersebut sebagai sesuatu
yang tidak sah. "Pertimbangan itu tidak diputuskan melalui sidang dalam
Mahkamah agung melainkan hanya oleh Ketua MA saja," kata Juru Bicara
Kepresidenan Yahya C. Staquf, seperti dilaporkan /Kompas/ (23/7/2001).
Tapi langkah-langkah politik Gus Dur sudah begitu lunglai. Segala jurus
yang dikeluarkannya percuma saja karena dukungan politik kian surut.
Akhirnya, Gus Dur benar-benar mundur.
Ada peristiwa yang kemudian jadi ikonik ketika di malam sebelum ia
meninggalkan istana, Gus Dur melambaikan tangan kepada para
pendukungnya. Busana yang dipakai: baju tidur, celana pendek, dan sandal
jepit.
Malam itu, ia menjadi Presiden RI pertama yang menampakkan diri kepada
publik dengan celana pendek di Istana Negara.
Baca juga: Kolor Perdamaian dan Kancut Penghormatan Gus Dur
<https://tirto.id/kolor-perdamaian-dan-kancut-penghormatan-gus-dur-cqW7>
Mantan Presiden yang Tetap Lucu
Setelah turun dari jabatan presiden, Gus Dur tetap sibuk dan tetap lucu.
Ia masih melakukan safari ke daerah-daerah. Biasanya untuk berkunjung ke
teman-temannya atau mengisi pengajian sampai kampung-kampung yang jauh.
Pada suatu ceramah di sebuah kampung, Gus Dur mengajak semua yang hadir
di situ bersalawat. Para hadirin senang sekali melafalkan salawat
dipimpin seorang kiai besar.
Di akhir ceramah, cucu pendiri NU K.H. Hasyim Asy'ari
<https://tirto.id/hasyim-asy039ari-mahaguru-pemahat-kemerdekaan-indonesia-cPeK>
itu nyeletuk.
“Saya minta Anda semua bersalawat agar tahu berapa banyak jumlah yang
hadir. Saya, kan, gak bisa melihat.”
Satu lapangan terpingkal-pingkal.
Salah satu humor Gus Dur yang paling dikenal adalah leluconnya soal
kedekatan Tuhan dengan umat beragama. Ini juga mengandung unsur
penertawaan diri terhadap sesuatu yang dianggap sakral tapi sering
dipahami secara kaku: agama.
“Orang Hindu merasa paling dekat dengan Tuhan karena mereka memanggilnya
‘Om’. Orang Kristen apalagi, mereka memanggil Tuhannya dengan sebutan
‘Bapak’. Orang Islam? Boro-boro dekat, manggil Tuhannya aja pakai Toa.”
Seluruh Indonesia, tentu saja, tertawa.
Baca juga: Cinta Gus Dur yang Meluluhkan Hati Sinta Nuriyah
<https://tirto.id/cinta-gus-dur-yang-meluluhkan-hati-sinta-nuriyah-cELk>
Infografik Mozaik Belajar Ngetawain Diri Sendiri dari Gus Dur
Agar Politik Tak Muram
Gus Dur memang sangat lihai memainkan lelucon penertawaan diri sendiri
sekaligus mencairkan ketegangan politik lewat humor. Dengan begitu,
politik tak lagi muram dan hubungan sosial tidak kehilangan makna.
Kala mengomentari soal betapa banyak uang yang dikeluarkan seseorang
untuk menjadi capres, Gus Dur berseloroh, “Saya dulu jadi presiden cuma
modal dengkul, itupun dengkulnya Amien Rais.”
Baca juga: Mengenang Kemanusiaan Gus Dur yang Melampaui Kita
<https://tirto.id/mengenang-kemanusiaan-gus-dur-yang-melampaui-kita-dcs8>
Seperti ia tulis dalam Kata Pengantar buku /Mati Ketawa Cara Rusia/
(1986): “Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk
adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu
pihak, dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain.”
Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009, tepat hari ini 9 tahun lalu. Jika
masih hidup, ia barangkali cuma cengar-cengir melihat politik Indonesia
saat ini yang penuh makian tapi miskin imajinasi dan kekurangan lelucon.
==========
/Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 7 September 2017 dalam rangka
merayakan tanggal lahir Abdurrahman Wahid. Kami melakukan penyuntingan
ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik./
Baca juga artikel terkait GUS DUR
<https://tirto.id/q/gus-dur-ciE?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Ivan Aulia Ahsan
<https://tirto.id/author/ivanauliaahsan?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Politik)
Penulis: Ivan Aulia Ahsan
Editor: Zen RS
Presiden kocak, presiden yang menampakkan diri terakhir kali di Istana
dengan celana kolor.