http://mediaindonesia.com/read/detail/207159-krida-barata


 /*Krida Barata*/

Penulis: *Ono Sarwono* Pada: Minggu, 30 Des 2018, 00:00 WIB Opini <http://mediaindonesia.com/opini> <http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/207159-krida-barata>  <http://twitter.com/home/?status=Krida Barata http://mediaindonesia.com/read/detail/207159-krida-barata via @mediaindonesia>

Krida Barata <http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2018/12/33a38cdb351a3c1b667466689cae2826.jpg>

PEREBUTAN kekuasaan dalam sejarahnya berkelindan dengan kekerasan. Hingga di era modern saat ini pun (demokrasi), kekerasan dalam arti luas ternyata belum kalis dalam persaingan mendapatkan amanat rakyat.

Banyaknya perangkat yang semula dibuat untuk mengawal terselenggaranya proses persaingan berjalan sehat dan adil ternyata tidak menjadi jaminan. Selalu saja ada kompetitor yang melaju dengan cara dan siasat masing-masing, yang mementingkan tercapainya target sebagai pemenang.

Kenapa demikian? Pangkal persoalannya lagi-lagi masalah mental dan watak. Mereka menempatkan kekuasaan ialah harga mati. Di sisi lain, mereka tidak mengintrospeksi diri. Ada norma, etika, dan kepatutan yang perlu dipertimbangkan sebelum berebut untuk menjadi penguasa.

Terkait dengan itu, ada cerita menarik dalam dunia wayang tentang kisah Raden Barata. Pangeran Negara Ayodya itu dikenal sebagai kesatria yang taat paugeran (aturan) serta tahu diri.

*Kekayi tagih janji*

Menurut seni pakeliran, Barata ialah anak pertama Raja Ayodya Prabu Dasarata dari istri ketiga, Kekayi. Ia memiliki dua adik seayah dan seibu bernama Satrugna dan Kanwaka. Selain itu, Barata masih memiliki dua saudara kandung lain ibu, yakni Rama Regawa dan Leksmana Widagdo.

Pada suatu ketika, Dasarata bermaksud lengser keprabon (turun takhta) karena merasa sudah sepuh. Ia merasa cukup sudah pengabdiannya di marcapada dan ingin berkonsentrasi mencari manise pati atau bisa meninggal dunia dengan husnulkhatimah. Berdasarkan aturan negara, bila raja mundur atau mangkat, penggantinya ialah putra sulung dari permaisuri. Dasarata memang sudah lama menggadang-gadang putra pertamanya yang juga menjadi putra mahkota, yakni Rama Regawa, yang lahir dari rahim Dewi Kosalya.

Prosesi perpindahan kekuasaan itu sudah dipersiapkan dengan baik dan diharapkan tidak ada aral melintang. Rama pun sudah memiliki pendamping sebagai raja, yakni Dewi Sinta dari Negara Mantili. Di sisi lain, kawula (rakyat) sangat antusias menyambut bakal munculnya pemimpin baru yang diyakini sebagai titisan Bathara Wisnu, dewa keadilan dan ketertiban jagat.

Namun, semuanya menjadi berantakan ketika Kekayi menghadap sang raja untuk menagih janji. Konon atas hasutan seorang emban istana, Kekayi memberanikan diri menanyakan janji Dasarata yang telah terucap.

Pada suatu ketika, Dasarata memang pernah berjanji akan memenuhi apa pun yang diminta Kekayi sebagai ucapan terima kasihnya kepada istrinya itu setelah dengan sabar merawatnya hingga sembuh dari sakit.

Dasarata kaget mendengar Kekayi menagih janji. Ia tampak mengingat-ingat kembali kata yang pernah terucap. Tidak lama kemudian, Dasarata tersenyum dan mengakuinya. Ia lalu bertanya, apa yang diminta.

Dengan agak gemetar, Kekayi matur dirinya meminta agar putranya, Barata, yang menggantikan Dasarata duduk di singgasana raja. Selain itu, Rama Regawa harus diusir dari istana kerajaan. Itu keinginan Kekayi agar takhta aman di tangan Barata selamanya.

Dasarata merasa disamber geledek. Mata melotot dan kemudian lemas dengan mulut seperti terkunci. Keringat dingin mengguyur sekujur tubuh, jantungnya terasa copot. Namun, tidak lama kemudian Dasarata mampu menguasai diri. Sabda pendhita ratu tan kena wola-wali, raja tidak boleh mencla-mecle.


*Berkelana di Dandaka*

Pada akhirnya, meski berat hati, Dasarata memenuhi permintaan Kekayi yang sama sekali tidak pernah ia duga itu. Tidak lama kemudian Dasarata jatuh sakit. Ia memikirkan Rama dan Sinta ngulandara (berkelana) di Hutan Dandaka. Ikut menemani mereka Leksmana. Beban pikiran itulah yang menggerogoti jiwa raga Dasarata hingga akhirnya meninggal dunia.

Belum lama masa berkabung berlalu, Barata dalam pasewakan agung menyatakan bahwa dirinya tidak bersedia memimpin Ayodya. Ketika itu hadir ibunda, Kekayi, sentana dalem (kerabat), dan para nayaka praja. Semua tertegun mendengar sabda yang disampaikan Barata.

Ia menyatakan yang menjadi raja harus Rama. Karena itu, setelah pertemuan usai, Barata buru-buru menyusul dan menjemput sendiri sang kakak untuk kembali ke Ayodya menggantikan Dasarata.

Rama kaget ketika tiba-tiba Barata datang menyembah dan kemudian memeluknya. Dengan tetesan air mata, Barata mengabarkan sang ayah telah tiada. Ia mendesak Rama untuk segera kembali ke Ayodya untuk memimpin negara sebagai raja baru.

Rama, Sinta, dan Leksmana tampak muram. Rama kemudian mengatakan dengan nada datar bahwa dirinya menolak permintaan Barata. Ia tidak ingin membantah sabda sang ayah yang telah menobatkan Barata. Pun ia tidak ingin melukai Kekayi. Rama mendukung penuh Barata tetap sebagai raja.

Namun, Barata terus mendesak agar Rama mendengar suara rakyat yang memang menginginkannya sebagai raja. Bahkan, ia tidak ingin kembali ke Ayodya dan ikut hidup di hutan hingga ajal menjemput.

Rama bimbang dengan tekad dan sikap keras adiknya itu. Ia lalu berujar, dirinya bersedia kembali ke Ayodya setelah menyelesaikan laku prihatin di Dandaka selama 13 tahun. Untuk sementara Barata diminta memimpin Ayodya. Sebagai bekalnya, Rama memberikan wasiat berupa ajaran hastabrata kepada Barata. Itu pegangan untuk menjalankan kepemimpinan berdasar pada delapan watak alam, yakni matahari, bumi, bulan, bintang, angin, awan, api, dan samudra.

Dengan hormat, Barata menyatakan bersedia menjalankan perintah Rama yang sudah ia anggap sebagai raja. Namun, ia meminta kakaknya agar mengizinkan terompahnya ia bawa ke Ayodya. Terompah itu akan ia letakkan di atas dhampar kencana (tempat duduk raja) sebagai simbol raja sesungguhnya. Barata akan menduduki ‘dhampar’ lain.


*Perlu keunggulan*

Kisah singkat itu menggambarkan Barata ialah kesatria yang taat paugeran. Ia  tunduk bahwa yang harus menjadi raja ialah putra mahkota. Barata sadar bahwa dengan demikian, dirinya menolak apa yang dikehendaki sang ibu yang ia akui bermaksud baik bagi putranya.

Di sisi lain, Barata berani jujur mengukur diri. Dari berbagai aspek, misalnya kesaktian, kepintaran, dan kualitas pribadi, ia merasa tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Rama. Lebih dari itu, rakyat pada faktanya mendukung penuh Rama yang menggantikan Dasarata.

Nilai utama yang bisa dipetik dari Barata ialah ia menjunjung tinggi konstitusi dan moralitas. Ia meletakkan kekuasaan bukan segala-galanya. Ia sadar pula untuk menjadi penguasa (pemimpin), diperlukan keunggulan atau daya saing (competitiveness). (M-2)





Kirim email ke