https://tekno.tempo.co/read/1160128/pvmbg-ada-hubungan-gempa-lombok-dan-letusan-gunung-agung
PVMBG: Ada Hubungan Gempa Lombok dan Letusan Gunung Agung
Reporter:
Anwar Siswadi (Kontributor)
Editor:
Erwin Prima
Minggu, 30 Desember 2018 17:57 WIB
Kawah Gunung Agung menyemburkan lahar di Karangasem, Pulau Bali, 29 Juni
2018. (AP Photo)
<https://statik.tempo.co/data/2018/07/07/id_717298/717298_720.jpg>
Kawah Gunung Agung menyemburkan lahar di Karangasem, Pulau Bali, 29 Juni
2018. (AP Photo)
*TEMPO.CO*, *Bandung* - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
(PVMBG) menemukan adanya hubungan antara Gempa Lombok serta susulannya
dengan aktivitas dan letusan Gunung Agung
<https://tekno.tempo.co/read/1160124/penyebab-meletusnya-gunung-agung-bali-hari-ini>
Bali.
Baca: Penyebab Meletusnya Gunung Agung Bali Hari Ini
<https://tekno.tempo.co/read/1160124/penyebab-meletusnya-gunung-agung-bali-hari-ini>
Sebelum hari ini, Gunung Agung pernah erupsi pada 27 Juli 2018.
"Rentetan gempa bumi tektonik di sekitar Pulau Lombok, teramati
mempengaruhi aktivitas Gunung Agung," kata Kepala PVMBG Kasbani.
Dua hari setelah Gunung Agung meletus, pada 29 Juli 2018 pukul 06:47
WITA terjadi Gempa Lombok dengan magnitudo 6,4. Gempa yang disertai
rentetan lindu susulan itu rupanya berpengaruh terhadap aktivitas Gunung
Agung setelah erupsi perdananya pada tahun ini.
"Goncangan-goncangan gempanya berperan dalam pelepasan gas-gas vulkanik
yang dimanifestasikan di permukaan dalam bentuk hembusan," kata Kasbani,
Ahad, 30 Desember 2018.
Pada kondisi ini, akumulasi gas di kedalaman menjadi terganggu sehingga
potensi erupsi malah justru jadi berkurang. Selama periode lindu susulan
Gempa Lombok, kata Kasbani, Gunung Agung pun tidak mengalami erupsi.
Namun kemudian seiring dengan berkurangnya gempa tektonik, akumulasi
gas-gas vulkanik di Gunung Agung menjadi memungkinkan. Dalam sebulan
terakhir, gempa-gempa yang terekam di Gunung Agung didominasi oleh gempa
hembusan, gempa tektonik, dan beberapa kejadian gempa vulkanik dangkal
juga dalam.
Erupsi Gunung Agung berdasarkan catatan pengamatan PVMBG mencapai
puncaknya pada periode 25-29 November 2017. Setelah itu, frekuensi
erupsi cenderung mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi terutama
gempa vulkanik dan gempa frekuensi rendah terutama gempa hembusan dan
letusan masih terekam namun berfluktuasi.
Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada 22
Januari 2018 menunjukkan volume kubah lava sekitar 23 juta meter kubik.
Citra Satelit sesekali merekam adanya energi termal di permukaan kawah
Gunung Agung yang mengindikasikan masih ada suplai magma ke permukaan
dengan laju rendah. Pengamatan visual Gunung pada 10 Februari 2018 pukul
09.00 WITA status Gunung Agung sempat diturunkan dari Level IV (Awas) ke
Level III (Siaga).
Pada tanggal 23, 24 dan 25 Juni 2018 terekam rentetan gempa vulkanik
dalam yang mengindikasikan intrusi magma baru dari kedalaman menuju ke
permukaan. Pada 27 Juni 2018 terjadi erupsi eksplosif dan disusul erupsi
efusif selama sekitar 24 jam pada periode 28-29 Juni 2018. Erupsi efusif
ini menghasilkan pertumbuhan kubah lava sekitar 4 juta meter kubik
sehingga volume total kubah lava menjadi sekitar 27 juta meter kubik.
Erupsi efusif itu disertai emisi gas dan abu halus yang tersebar ke
selatan dan bertahan lama di udara sehingga sempat menutup Bandara
Ngurah Rai selama sekitar 10 jam. Erupsi eksplosif Strombolian terjadi
pada malam hari 2 Juli 2018 disertai suara dentuman dan lontaran
material pijar teramati keluar kawah ke segala arah mencapai jarak
maksimum sekitar 2-3 kilometer dari kawah puncak.
Setelah erupsi ini, frekuensi gempa letusan mengalami penurunan. Pasca
Gempa Lombok, erupsi Gunung Agung
<https://www.tempo.co/tag/gunung-agung>tidak lagi teramati, kemungkinan
karena gempa tektonik ini mengganggu sistem vulkanik gunung atau disebut
efek botol soda sehingga suplai gas magmatik dari kedalaman tidak dapat
terakumulasi melainkan segera dikeluarkan ke permukaan secara perlahan
seiring dengan goncangan-goncangan gempa tektonik.
------------------------------------------------------------------------
# Gunung Agung <https://www.tempo.co/tag/gunung-agung>
# Gempa Lombok <https://www.tempo.co/tag/gempa-lombok>
# PVMBG <https://www.tempo.co/tag/pvmbg>
==========
https://tekno.tempo.co/read/1160124/penyebab-meletusnya-gunung-agung-bali-hari-ini/full&view=ok
Penyebab Meletusnya Gunung Agung Bali Hari Ini
Reporter:
Anwar Siswadi (Kontributor)
Editor:
Erwin Prima
Minggu, 30 Desember 2018 17:27 WIB
Pantauan Gunung Agung saat erupsi pada Ahad, 30 Desember 2018 pukul
04.09 wita. Foto: Badan Geologi, PVMBG
<https://statik.tempo.co/data/2018/12/30/id_807743/807743_720.jpg>
Pantauan Gunung Agung saat erupsi pada Ahad, 30 Desember 2018 pukul
04.09 wita. Foto: Badan Geologi, PVMBG
*TEMPO.CO*, *Bandung* - Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi
(PVMBG) menyatakan sebab meletusnya Gunung Agung
<https://bisnis.tempo.co/read/1160069/erupsi-gunung-agung-tak-ganggu-penerbangan-di-bandara-ngurah-rai>
Bali, Ahad pagi, 30 Desember 2018, akibat adanya “overpressure” hasil
akumulasi gas-gas vulkanik. Data lainnya, letusan yang terjadi pukul
04.09 WITA itu berlangsung selama 3 menit 8 detik.
Baca: Erupsi Gunung Agung Tak Ganggu Penerbangan di Bandara Ngurah Rai
<https://bisnis.tempo.co/read/1160069/erupsi-gunung-agung-tak-ganggu-penerbangan-di-bandara-ngurah-rai>
"Pada saat erupsi, teramati sinar api di area puncak kawah namun
ketinggian kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut," ujar Kepala
PVMBG Kasbani, saat dihubungi Ahad, 30 Desember 2018.
Sebelum erupsi hari ini, Gunung Agung mengalami erupsi pada 27 Juli
2018. Berdasarkan analisis data secara menyeluruh, potensi untuk
terjadinya erupsi yang lebih besar masih relatif kecil. Erupsi yang
mungkin terjadi saat ini dapat berupa lontaran material batu/lava pijar,
hujan abu maupun hembusan gas-gas vulkanik.
"Potensi erupsi masih ada, namun dengan erupsi berskala rendah. Untuk
terjadi erupsi dengan skala yang lebih besar indikasinya masih belum
kelihatan," ujar Kasbani
Pada siaran pers yang dikeluarkan hari ini, PVMBG menyatakan sebelum
letusan tidak teramati peningkatan intensitas kegempaan yang signifikan.
Pada periode sebelum erupsi antara 27-29 Desember 2018 satelit MODIS
(Moderate-resolution Imaging Spectroradiometer) milik NASA juga tidak
menunjukkan adanya anomali termal di permukaan kawah Gunung Agung yang
mengindikasikan tidak adanya material lava segar di permukaan kawah.
Namun begitu, beberapa gempa vulkanik terekam di antaranya gempa di
lereng utara Gunung Agung pada 28 Desember 2018 dengan magnitude 2,7
pukul 02:49
WITA dan M=2,4 pukul 15: 31 WITA. "Gempa-gempa ini mengindikasikan
adanya pergerakan magma ke permukaan," kata Kasbani.
Berdasarkan informasi satelit, abu vulkanik bergerak ke arah tenggara
dengan ketunggian abu vulkanik mencapai 5.500 metwr di atas permukaan
laut. Hujan abu tipis dilaporkan terjadi di wilayah
Kabupaten Karangasem di sektor tenggara Gunung Agung, seperti di Kota
Amlapura dan beberapa desa seperti di Desa Seraya Barat, Desa Seraya
Tengah, dan Desa Tenggalinggah.
Hingga 30 Desember 2018 pukul 12:00 WITA dapat disimpulkan bahwa status
aktivitas Gunung Agung masih berada pada Level III (Siaga) dengan
rekomendasi zona perkiraan bahaya berada di seluruh area di dalam radius
4 km dari puncak. Zona itu sifatnya dinamis dan terus dievaluasi serta
dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung
Agung yang paling aktual.
Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran
sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman
bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama
pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.
Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang
berhulu di Gunung Agung.
PVMBG juga minta masyarakat tetap tenang namun menjaga kesiapsiagaan
dengan mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Agung
<https://www.tempo.co/tag/gunung-agung> antar waktu melalui web MAGMA
Indonesia (https://magma.vsi.esdm.go.id) maupun melalui aplikasi Android
MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play Store.
------------------------------------------------------------------------
# Gunung Agung <https://www.tempo.co/tag/gunung-agung>