https://tirto.id/cheran-kota-yang-tidak-perlu-negara-ddro
Cheran: Kota yang Tidak Perlu Negara
Komunitas Cherán memiliki pos pengawasan 24 jam yang akan
menginformasikan jika mendeteksi orang yang mencurigakan atau jika ada
masalah. Mereka adalah contoh organisasi sipil yang telah membuahkan
hasil. Namun, langkah-langkah ini telah melumpuhkan kehidupan komersial
dan kerja komunitas. Mereka sadar bahwa upaya ini diperlukan untuk
memulihkan ketenangan, senyum, dan kebahagiaan. Eneas De
Troya/Wikicommons
<https://tirto.id/cheran-kota-yang-tidak-perlu-negara-ddro>
Komunitas Cherán memiliki pos pengawasan 24 jam yang akan
menginformasikan jika mendeteksi orang yang mencurigakan
atau jika ada masalah. Mereka adalah contoh organisasi sipil
yang telah membuahkan hasil. Namun, langkah-langkah ini
telah melumpuhkan kehidupan komersial dan kerja komunitas.
Mereka sadar bahwa upaya ini diperlukan untuk memulihkan
ketenangan, senyum, dan kebahagiaan. Eneas De Troya/Wikicommons
Oleh: Eddward S Kennedy - 6 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
/Bagaimana warga Cherán dapat mempertahankan otonomi mereka hingga
sekarang?/
tirto.id <https://tirto.id/> - Pertanyaan: jika politikus mulai
menyebalkan, penjahat makin mengerikan, dan polisi terus-terusan korup
tak karuan, apa yang harus dilakukan? Bagi masyarakat Cherán, hanya ada
satu jawaban: usir mereka semua.
San Francisco Cherán <https://www.youtube.com/watch?v=DnV_T4c_lKI>
adalah kota tempat bermukimnya masyarakat asli Purépecha. Terletak di
negara bagian Michoacán, Meksiko, kota ini dihuni oleh 14.245 jiwa.
Kegiatan ekonomi utama adalah pertanian, peternakan dan produksi kayu
yang memanfaatkan sekitar 27.000 hektare hutan.
Cherán adalah wilayah yang damai sebelum dikuasai kartel narkotika. Tak
hanya menjalankan bisnis obat-obatan, kartel di sana juga melakukan
penebangan kayu secara liar hingga menghancurkan hutan kuno di Cherán.
Situasi tambah runyam karena pemerintah dan aparat setempat juga turut
terlibat. Sebagian besar tentara pun ikutan menerima suap kartel.
Dengan keadaan yang terus kacau, masyarakat sipil di Cherán pun memilih
angkat senjata dan melakukan perlawanan. Upaya tersebut berhasil. Para
politikus korup, polisi culas, dan sindikat kartel sekaligus para
penebang liar tak lagi diberi kesempatan untuk menginjak tanah Cherán.
Hingga kini, Cherán masih menjadi kota otonom yang mampu menjalankan
kehidupan sosial politiknya tanpa campur tangan pemerintah. Mereka
membangun sistem pemerintahan baru tanpa walikota, merancang dewan kota,
hingga membentuk milisi sipil untuk menggantikan polisi. Hasilnya:
Cherán menjadi salah satu kota dengan tingkat kriminalitas terendah di
Meksiko.
Sebab keberhasilan itu, pemerintah Meksiko akhirnya mempersilakan Cheran
untuk membuat hukum sendiri yang tidak ada dalam konstitusi Meksiko.
Salah satu di antaranya: larangan iklan partai politik.
Angkat Senjata Melawan Kartel, Aparat, dan Negara
Sebelum melakukan perlawanan, warga Cherán telah melakukan berbagai
upaya selayaknya warga negara yang baik dan benar: melapor kepada
negara. Dalam hal ini, pemerintah dan aparat. Namun, jangankan
ditanggapi, baik pemerintah maupun aparat justru malah melindungi kartel
sambil menikmati uang suap yang diberikan kepada mereka.
Sikap korup aparatur negara semacam itu membuat para penduduk Cherán
berada dalam situasi terjepit. Dan ketika para penebang kayu yang mulai
mendekati salah satu mata air di kota itu, orang-orang Cherán memutuskan
untuk melawan. Elvira Romero, salah seorang konspirator perlawanan
tersebut mengatakan kepada /BBC
<https://www.bbc.com/news/magazine-37612083>/:
“Kami khawatir. Jika Anda terus memotong pohon, air akan menjadi
sedikit. Suami kami memiliki ternak, lalu di mana mereka akan minum jika
musim semi sudah tidak ada?”
Hari itu, Jumat 15 April 2011
<https://www.latimes.com/world/mexico-americas/la-fg-mexico-cheran-20170710-htmlstory.html>,
aksi massa yang dimotori para wanita itu mulai bergerak. Semula, bersama
para wanita lainnya, Elvira menemui para penebang kayu tersebut di dalam
hutan. Namun, alih-alih membuka diri untuk berdialog, para penebang itu
justru memaki-maki mereka hingga mencoba untuk membunuh Elvira dan yang
lainnya.
Tapi para wanita itu tak gentar. Mereka bahkan menempuh cara yang lebih
nekat untuk kembali melawan: membajak truk
<https://ourworld.unu.edu/en/the-cheran-indigenous-communitys-remarkable-road-to-self-rule-in-mexico>
milik rombongan penebang tersebut. Maka ketika kemudian ada sebuah truk
yang berisikan para penebang lewat di rute Cherán, massa aksi segera
memblokir dan menyandera penumpang di dalamnya.
Setelah memastikan semua tersandera, beberapa wanita lain menuju gereja
setempat untuk membunyikan lonceng berkali-kali sebagai tanda siaga
untuk warga lain. Sementara para pria berbagi tugas: menyalakan kembang
api untuk mengingatkan seluruh kota dan bersiap di beberapa titik
penting memantau ancaman.
Penduduk yang lain pun keluar dari rumah mereka masing-masing dengan
membawa berbagai macam senjata yang bisa digunakan: golok, parang,
tongkat, senapan, bahkan batu.
"Semua orang di jalanan berlarian dengan parang. Para wanita berlarian
dengan wajah yang ditutup. Anda bisa mendengar orang-orang menjerit dan
suara lonceng yang berdentum setiap saat,” ujar Melissa Fabian
<https://www.bbc.com/news/magazine-37612083> yang ketika ikut aksi
tersebut masih berusia 13 tahun.
Beberapa jam berselang, rombongan penebang lain datang bersama ratusan
polisi dan walikota. Kekisruhan pun tak dapat terelakkan. Dua orang
penebang terluka usai ditembak kembang api oleh seorang warga setempat.
Dalam ketegangan yang berlangsung intens, negosiasi alot terus dilakukan.
Hingga akhirnya para penebang kayu itu menyerah, polisi kalang kabut,
dan walikota meringkuk ketakutan. Penduduk Cherán menang. Sebelum
rombongan itu pergi, mereka meminta agar negara dan penebang dan kartel
tidak lagi menginjakkan kaki di area sekitar.
“Saya ingin menangis jika mengingat hari itu. Seperti suatu film horor,
tapi itu adalah hal terbaik yang dapat kami lakukan,” kenang Margarita
<https://www.bbc.com/news/magazine-37612083>, salah seorang wanita
pemberani yang turut serta dalam perlawanan tersebut.
Sejak kemenangan tersebut, Cherán mulai membentuk pemerintahan sendiri.
Para politikus dan polisi yang masih ada di sana mereka usir ke luar
kota karena ditakutkan akan kembali berkongkalikong dengan kartel.
Pelarangan partai politik mulai diberlakukan. Khusus itu, penduduk
Cherán menganggap parpol hanyalah alat yang hanya berfungsi untuk
memecah belah orang-orang.
“Satu-satunya hal yang dilakukan oleh partai-partai adalah memecah belah
kami, Tidak hanya di sini - di seluruh negeri,” kata Salvador Ceja,
salah seorang komisaris tanah komunal di Cherán, seperti dilansir /The
Guardian
<https://www.theguardian.com/world/2018/apr/03/mexico-indigenous-town-banned-politicians-cheran>/.
Sebab itu pula, jika Anda kebetulan dapat berkunjung ke Cherán, jangan
harap menemukan secuil pun publisitas parpol. Yang justru marak di tiap
tembok adalah berbagai mural wajah tokoh revolusioner Meksiko, Emiliano
Zapata, atau coretan-coretan yang menghina parpol
<https://www.theguardian.com/world/2018/apr/03/mexico-indigenous-town-banned-politicians-cheran>
seperti: “Partai politik bangsat" atau "Cherán bukan mainan".
Selain membentuk pemerintahan yang otonom, penduduk Cherán juga
merancang /Ronda Comunitaria
<https://www.opendemocracy.net/alejandra-gonz-lez-hern-ndez-v-ctor-alfonzo-zertuche-cobos/cher-n-5-years-of-self-government-in-indi>/
(sebuah milisi yang terdiri dari pria dan wanita lokal), untuk
menggantikan peran aparat. Nantinya, milisi ini akan selalu berjaga di
pos pemeriksaan bersenjata di 3 jalan utama yang menuju ke pemukiman
untuk menghalang pembalasan penebang kayu dan kartel obat bius.
Infografik Pemerintah, Untuk Apa?
Selain itu, masing-masing dari empat distrik di Cherán juga turut
mengirim para wakilnya ke sebuah dewan kota yang dinamakan Dewan Tetua
Cherán
<https://www.nbcnews.com/news/latino/after-long-fight-self-government-indigenous-town-cher-n-mexico-n906171>.
Anggota yang terpilih akan mendapat mandat selama tiga tahun. Dewan
besar dan komite lainnya inilah yang dipercaya untuk mengendalikan semua
aspek kehidupan rakyat.
Pilihan untuk menjadi otonom membuat tingkat kejahatan di Cherán telah
menurun drastis
<https://news.vice.com/en_us/article/gykaq9/a-town-in-mexico-overthrew-their-local-government-things-couldnt-be-going-better>
dibanding negara bagian Michoacan lainnya. Tidak ada rekaman pembunuhan,
penculikan atau penghilangan yang tercatat di kota tersebut selama
setahun terakhir sejak mereka mendeklarasikan kemerdekaannya.
Jika pun ada kejahatan, sebagian besar hanya pelanggaran kecil, seperti
penyalahgunaan alkohol. Bagi mereka yang dianggap telah berbuat onar,
dewan kota akan memberikan hukuman berupa denda hingga pekerjaan
pelayanan masyarakat, ditahan selama beberapa malam di balik jeruji
besi. Sementara pengacara federal hanya dipanggil dalam kasus kejahatan
serius yang amat jarang terjadi.
Sejak saat itu pula, para penduduk di Cherán telah menanam kembali
pepohonan di lahan sekira 3.000 hektare. Aturan baru pun ditegakkan:
setiap orang yang ingin menebang pohon harus mendapat izin dari
pemerintah setempat, dan undang-undang tersebut diberlakukan dengan
ketat. Sebelumnya diperkirakan lebih dari 17.000 hektar
<https://ourworld.unu.edu/en/the-cheran-indigenous-communitys-remarkable-road-to-self-rule-in-mexico>
hutan sebelumnya dirusak oleh para penebang liar.
Kisah mengenai keberhasilan Cherán hidup tanpa negara mengundang decak
kagum global. Barangkali kisah tersebut dianggap semacam utopia yang
akhirnya tuntas. Padahal, bentuk tradisional pemerintahan seperti
sekarang telah dijalankan masyarakat Cherán sejak 40 tahun lalu
<https://intercontinentalcry.org/celebrating-seven-years-of-self-governance-in-cheran-michoacan/>,
sebelum para elite parpol datang dengan janji-janji manisnya, dan negara
dengan keculasannya.
Baca juga artikel terkait MEKSIKO
<https://tirto.id/q/meksiko-ddD?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
<https://tirto.id/author/addwardkennedy?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Sosial Budaya)
Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Nuran Wibisono
Pilihan untuk menjadi otonom membuat tingkat kejahatan di Cherán telah
menurun drastis.