*Apakah puluhan trilun bukan dari kekayaan alam seperti emas di Freeport
dan gas Teluk Bituni yang diesport ke banyak negara, tetapi dari kantong
pribadi rezim neo-Mojopahit?*


https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46289211


*Puluhan triliun dana otonomi khusus dialirkan, mengapa masih ada tuntutan
'Papua merdeka'?*

   -

   22 November 2018


   Bagikan artikel ini dengan Facebook

   Bagikan artikel ini dengan Messenger

   Bagikan artikel ini dengan Twitter

   -


   -

   Kirim <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46289211#share-tools>

[image: Papua]

Hak atas foto
AFP/ADEK BERRYSeorang warga suku Dani berjalan melintasi kerumunan di
sela-sela Festival di lembah Baliem di Distrik Walesi, Wamena, Provinsi
Papua Province, Agustus 2016 lalu.

*Ketua Majelis Rakyat Papua menyebut puluhan triliun rupiah yang dikucurkan
tiap tahun tak berdampak pada kesejahteraan warga asli Papua. Ia juga
mempertanyakan mengapa di Papua tak dimungkinkan partai daerah, sebagaimana
di Aceh.*

Ketua MRP, Timotius Murib, menyebut, sampai sekarang Papua masih mencatat
angka kemiskinan terbesar, sekitar 21%.

"Ekonomi orang Papua sangat buruk dan tidak kelihatan. Misalnya bahan
makanan lokal, di mana bupati harus kreatif memberdayakan sumber daya alam
dan bagaimana agar akses ke masyarakat punya pendapatan perkapita. Tapi
untuk ciptakan itu sangat susah," ujar Timotius kepada BBC News Indonesia,
Rabu (21/11).

Dalam pantauan Timotius, layanan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masih
minim. Dia mencontohkan pemanfataan sumber daya alam oleh kepala dearah,
tidak meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.

   -

   *Pembangunan di Papua digalakkan Jokowi, tapi mengapa aspirasi merdeka
   tetap hidup?* <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42184924>
   -

   *Campak dan kelaparan di Asmat: ke mana APBD triliunan?*
   <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42799894>
   -

   *Panglima TNI klaim wabah campak 'berhasil diatasi,' Bupati Asmat
   menuding 'Jakarta hanya bicara uang'*
   <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42899523>

Selain itu, ada pula penggunaan dana otsus yang menurutnya tidak tepat
sasaran.

Dana yang semestinya ditujukan untuk kesehatan, seperti membangun rumah
perawat di daerah pedalaman, menurutnya justru digunakan untuk membuat
dermaga dan jembatan.
Evaluasi Otsus

Ia menyarankan perlunya audit dana Otonomi Khusus oleh Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menurutnya, kepala daerah sebagai penguasa anggaran harus bertanggung jawab
atas indikasi penyalahgunaan dana tersebut.

[image: Papua]

Hak atas foto
ROMEO GACAD/AFPPresiden Joko Widodo menyalami sejumlah eks tapol politik
asal Papua dalam pemberian grasi 9 Mei 2015 di Jayapura, Papua.

Dia mendesak Presiden Jokowi agar berbicara langsung kepada MRP sebagai
perwakilan resmi masyarakat adat dan orang asli Papua, agar mengevaluasi
keberadaan Otonomi Khusus.

Jika hal itu tak dilakukan, menurutnya tuntutan tentang referendum Papua
merdeka akan terus muncul.

"Yang minta merdeka itu orang asli Papua, bukan orang lain. Sehingga
pemerintah pusat memberikan otsus, terus berhasil atau tidak? Evaluasinya
harus dilakukan di rumah adat MRP bukan di tempat lain."

"Kami MRP mengatakan otsus tidak berjalan dengan baik. Tidak berhasil. Oleh
karenanya suara Papua merdeka akan ada terus," katanya.
'Sertifikat jatuh ke para transmigran'

Hal lain yang menjadi kritik Timotius Murib adalah gencarnya pembangunan
yang menurutnya mengabaikan orang asli Papua.

Baginya proyek jalan trans Papua hanya menghancurkan hutan mereka.

Pembagian 3.000 lebih sertifikat tanah oleh Jokowi pada April lalu, kata
dia, sebagian besar justru jatuh ke tangan warga transmigran.

"Kami tidak butuh pembangunan, kami butuh kehidupan. Kenapa? Hari ini orang
asli Papua butuh kehidupan, bukan pembangunan. Kalau pembangunan, tanah
kami hilang, orang banyak mati. Pemekaran juga tidak perlu. Yang terjadi
tanah kami terampas," ujarnya.

Kebijakan dana Otonomi Khusus di Papua mulai berlaku sejak 2001 sebagai
bentuk kesepakatan integrasi politik dalam kesatuan Indonesia.

[image: Papua]

Hak atas foto
AFP/BAY ISMOYOSeorang pengunjukrasa membawa simbol bendera Bintang Kejora
menuntut pemisahan Papua dari Indonesia dalam demo pada April 2017 di
Jakarta.

Pemberian dana otsus sebesar dua persen dari Dana Alokasi Umum (DAU) untuk
empat hal, yakni kesehatan, pendidikan, ekonomi kerakyatan, dan
infrastruktur.

Dari bidang-bidang itu, dana paling besar diperuntukkan untuk kesehatan
sebesar 20%, pendidikan 15%, dan masing-masing 5% untuk ekonomi dan
infrastruktur.
Otonomi khusus 'tidak akan dihentikan'

Sejak digelontorkan pada 2001 hingga 2017, total dana otsus untuk Papua dan
Papua Barat sebesar Rp67 triliun.

Pengamat otonomi daerah, Robert Endi Jaweng, mengatakan pemerintahan Jokowi
harus mengevaluasi total penggunaan dana otsus. Dalam pantauannya, uang
puluhan triliun itu tak juga bisa memberikan kesejahteraan bagi warga asli
Papua.

Angka kemiskinan masih tinggi dan tak berbanding lurus dengan besarnya dana
otsus yang dikucurkan tiap tahun, kata Robert.

"Jokowi harus siapkan strategi, tapi lebih dahulu buat keputusan politik
lanjut atau tidak dana otsus. Dan setelah itu mau apa? Ini yang ditunggu
rakyat Papua untuk lihat masa depan Papua. Kita tak main-main dalam
mengelola dana otsus yang besar. Karena itu harus terbuka manajemen
pengelolannya. Harus diperbaiki," ujar Robert.

Ia menilai kebijakan tersebut harus dilanjutkan.

Tapi dengan syarat, harus ada ukuran penilaian kinerja. Pemerintah
memberikan target-target tertentu kepada Pemprov Papua, semisal bagaimana
menurunkan angka kemiskinan dan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia
(IPM).

Hak atas foto

Image caption
Harus ada kesepakatan bahwa dana otsus diberikan dalam skema berbasis
kinerja. Apakah tercapai target nasonal? Kemiskinan tercapai? Indek
Pembangunan Manusia tercapai tidak? Kalau tidak gitu, tidak punya ukuran
penilaian kinerja. Yang ada makin manja elit politik di sana," katanya.

Dalam catatannya, dana otsus sebagian besar habis untuk belanja pegawai.
Selama itu pula, tidak pernah ada evaluasi oleh pemerintah pusat.

Bahkan audit yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) diragukan
kesahihannya.

"Audit BPK juga diragukan karena ada persepsi WTP itu adalah wajar tanpa
pemeriksaan karena takut ada hal-hal sensitif yang tak bisa diungkap,"
tegasnya.

Selain itu pertanggung jawaban anggaran oleh kepala daerah ia nilai masih
sangat buruk.

Menurutnya, urusan otonomi khusus tak bisa diserahkan kepada orang sekelas
Dirjen Otda di Kemendagri semata. Namun harus dipegang oleh otoritas lebih
tinggi, semisal wakil presiden lantaran persoalan di Papua begitu kompleks.
Dijanjikan akan dievaluasi

Tenaga Ahli Kantor Staf Kepresidenan, Ali Mochtar Ngabalin, menjanjikan
adanya evaluasi terhadap alokasi dana otsus.

[image: Ngabalin]Tapi kebijakan tersebut, kata dia, tidak akan dihentikan
pada 2021 mengingat pembangunan di Papua masih diperlukan terutama
infrastruktur.

"Bahwa pemerintah akan melakukan evaluasi kemudian dari data dan laporan
yang disampaikan pemprov Papua, tentu akan jadi pertimbangan. Bahwa ada
evaluasi penambahan dana dan ada komentar bahwa otsus tak berikan dampak,
tak juga begitu karena Papua luas dan sangat sulit dijangkau," jelas Ali
Mochtar Ngabalin.

Ia juga menyayangkan masih adanya suara referendum oleh Majelis Rakyat
Papua, sebab perhatian yang diberikan Presiden Jokowi kepada Papua sangat
besar.

Kirim email ke