Hersubeno arief | Konsultan Media dan PolitikKonsultan Media dan Politik23 
Januari 2019 11:38 WIB

Hikayat Keledai di Balik Kisruh Pembebasan Ustadz Ba’asyir
Ilustrasi Ba'asyir, Yusril, Jokowi.
Pemerintah secara resmi membatalkan rencana pembebasan bersyarat Ustadz Abu 
Bakar Ba’asyir. Kepala Staf Presiden Moeldoko mengatakan, Ba’asyir tidak 
memenuhi syarat formil untuk dibebaskan.Kasus ini sempat mengundang kehebohan 
tidak hanya di dalam negeri, namun juga menjalar ke negara tetangga 
Australia.Perdana Menteri Australia Scott Morisson menyampaikan protes. “ Kami 
meminta pemerintah Indonesia menunjukkan rasa hormat yang besar kepada 
Australia dengan membuat Ba’asyir menjalani hukumannya secara penuh,” 
tegasnya.Ba’asyir pada bulan Juni 2011 dijatuhi hukuman selama 15 tahun karena 
dinilai terbukti mendanai pelatihan militer kelompok teroris di kawasan Aceh. 
Di luar kasus itu dia juga dituding terlibat Bom Bali. Namun pengadilan 
membebaskannya. Tidak cukup bukti..Pada peristiwa Bom Bali yang terjadi tanggal 
12 Oktober 2002, sebanyak 202 orang tewas. Korban terbanyak berasal dari 
Australia (88 orang) Indonesia (38 orang), Inggris (24 orang). Sisanya berasal 
dari berbagai negara.Australia hingga saat ini tetap meyakini keterlibatan 
Ba’asyir. Karenanya rencana Jokowi membebaskannya menuai protes besar di 
Australia. Bukan hanya pemerintah, namun para keluarga korban, aktivis, dan 
media ramai-ramai menyatakan terkejut, kecewa, dan marah atas keputusan itu.Di 
dalam negeri kasus ini juga menimbulkan tarik-menarik kepentingan yang sangat 
keras di kalangan pemerintah, dan pendukung Jokowi. Banyak yang kecewa, karena 
Jokowi dinilai memberi angin kepada kelompok radikal.Kasus ini kian menunjukkan 
betapa Jokowi menjalankan pemerintahan ini secara impulsif. Tanpa pemikiran dan 
pertimbangan yang matang. Grasa-grusu. Sebuah keputusan yang diambil, kemudian 
diralat dalam hitungan hari, bahkan jam.Bermula dari kedatangan Yusril Ihza 
Mahendra pengacara Jokowi-Ma’ruf Amin ke LP Gunung Sindur Bogor tempat Ba’asyir 
di tahan, Jumat (18/1). Yusril mengatakan bahwa dia ditugaskan oleh Presiden 
Jokowi untuk mengumpulkan data, mengamati, upaya pembebasan Ba’asyir.Dari 
telaah hukum yang dilakukan, Yusril mengatakan pembebasan Ba’asyir akan 
dilakukan secepatnya sambil membereskan urusan administrasi pribadi di 
Kementerian Hukum dan HAM. “Setelah bebas nanti, Ba’asyir akan pulang ke Solo 
dan tinggal di rumah anaknya,” ujarnya.Pada hari yang sama di Garut Jokowi juga 
menyampaikan rencana tersebut. ”Ya yang pertama memang alasan kemanusiaan.. 
Beliau kan sudah sepuh. Ya pertimbangannya pertimbangan kemanusiaan. Termasuk 
ya tadi kondisi kesehatan,” kata Jokowi.Jelas sudah ini merupakan keputusan 
yang diambil Jokowi setelah mendengar pendapat dan saran Yusril.Statemen Yusril 
dan Jokowi menjadi bola liar. Pro kontra bermunculan, termasuk dari PM Scott 
Morisson. Menko Maritim Luhut Panjaitan dan cawapres Ma’ruf Amin menilai sikap 
Morisson sebagai campur tangan masalah dalam negeri Indonesia. “ Emang dia yang 
ngatur kita,” ujar Luhut ketus.Sampai disini tampaknya sikap Jokowi tetap pada 
posisi akan membebaskan Ba’asyir. Termasuk ketika Ba’asyir menyatakan tidak 
bersedia menandatangani ikrar kesetiaan pada Pancasila dan NKRI. Menurut Yusril 
ketentuan peraturan Menkum HAM itu bisa dikesampingkan. Presiden sudah setuju, 
pembebasan tanpa syarat.Senin (21/1) malam Wiranto tiba-tiba mengadakan jumpa 
pers mendadak. Dia menyatakan presiden bersama menteri dan pejabat terkait 
perlu melakukan kajian mendalam soal rencana pembebasan. “Jadi Presiden tidak 
boleh grasa-grusu serta merta memutuskan, tapi perlu pertimbangan aspek-aspek 
lainnya,” ujarnya.Pernyataan Wiranto itu cukup mengejutkan. Pertama, dia 
menganulir pernyataan Presiden Jokowi dan semua proses yang tengah dilakukan 
untuk membebaskan Ba’asyir. Kedua, pilihan kosa kata “Presiden tidak boleh 
grusa-grusu.”Secara harfiah grasa-grusu dalam bahasa Jawa berarti gegabah. Dari 
sisi rasa bahasa, maupun tata krama unggah-ungguh politik, tidak pada tempatnya 
seorang menteri menggunakan kosa kata itu kepada seorang presiden.Proyek 
politikAgak sulit membantah rencana pembebasan Ustadz Ba’asyir merupakan proyek 
politik Jokowi yang tengah dijalankan Yusril. Targetnya meningkatkan basis 
elektoralnya yang terus tergerus.Ketua Umum PBB itu telah meumbuka topengnya 
dari seorang pengacara, menjadi tim sukses dengan tugas khusus menggarap segmen 
pemilih Islam. Sejak awal sudah bisa diduga keputusan Yusril bersedia menjadi 
“Pengacara” Jokowi-Ma’ruf hanya sebagai pintu masuk agar dia bisa secara mulus 
menjadi timses.Pilihan atas Ustadz Ba’asyir direncanakan sangat matang untuk 
menggerus dan sekaligus masuk ke segmen pemilih muslim yang masih tetap menjadi 
titik lemah Jokowi.. Secara kasat mata Jokowi ingin memperkuat pengaruhnya di 
kalangan umat Islam, sekaligus menghapus stigma bahwa dia melakukan 
kriminalisasi ulama.Cawapres Ma’ruf Amin memuji setinggi langit langkah Jokowi 
sebagai bukti kepeduliannya kepada seorang ulama. “Bukti Pak Jokowi cinta 
ulama,” puji anggota TKN Ace Hasan Sadzily.Proyek politik ini juga sekaligus 
bisa digunakan untuk menghantam kubu Prabowo. Ba’asyir ditahan dan diadili pada 
masa pmerintahan SBY yang kini menjadi sekutu kuat Prabowo. Harus dilakukan 
delegitimasi atas SBY.Jika proyek ini berhasil, kemungkinan Jokowi akan 
melangkah lebih jauh. Misalnya membebaskan Ustad Alfian Tanjung yang kini di 
tahan di LP Porong, Sidoarjo. Puncak dari semuanya adalah menerbitkan SP3 dan 
membebaskan Habib Rizieq Shihab dari semua tuntutan hukum.Sayang operasi 
politik ini berantakan di tengah jalan. Jokowi tidak hanya menghadapi 
penentangan di kalangan pendukung garis kerasnya. Dia juga menghadapi oposisi 
di dunia internasional.Jika Jokowi bersikeras melanjutkan pembebasan Ba’asyir, 
dia bakal kehilangan pemilih yang kecewa karena dinilai bergerak terlalu ke 
kanan. Merangkul dan mengakomodasi kelompok yang selama ini distigma 
radikal.Kelompok pemilih non muslim, abangan, bahkan kaum nahdliyin (NU), dan 
Islam moderat lainnya dipastikan akan sangat kecewa bahkan marah.Jokowi juga 
bisa kehilangan dukungan dari dunia internasional, terutama negara-negara Barat 
yang direpresentasikan oleh Australia. Padahal dukungan dari negara-negara 
Barat sangat diperhitungkan oleh Jokowi untuk mengimbangi isu bahwa dia saat 
ini lebih dekat ke poros Cina.Bertemunya sejumlah duta besar negara-negara 
anggota Uni Eropa dengan Badan Pemenangan Pemilu (BPN) Prabowo-Sandi Jumat 
(18/1), bisa ditafsirkan sebagai signal adanya pergeseran dukungan yang harus 
diwaspadai.Pertemuan yang terjadi sehari setelah paslon melakukan debat 
perdana, tidak bisa dianggap sebagai kunjungan biasa. Para duta besar yang 
dipimpin oleh Dubes Uni Eropa Vincent Gerend itu menanyakan soal kebijakan 
ekonomi Prabowo Sandi, khususnya reformasi pajak, dan keterbukaan bagi dunia 
bisnis dan invesatasi. Mereka juga mempertanyakan kisruh Daftar Pemilih 
Tambahan (DPT) yang banyak disoal publik.Dua isu itu sangat sensitif. Soal 
investasi jelas tidak bisa dilepaskan dari isu dominasi modal dan TKA Cina yang 
membanjiri Indonesia. Sementara kisruh DPT menyangkut adanya potensi kecurangan 
dan masa depan demokrasi Indonesia.Dilema dan pilihan-pilihan politik itulah 
yang bisa menjelaskan mengapa Jokowi membuat kebijakan tarik ulur seperti 
permainan yoyo soal Ba’asyir.Posisi Jokowi saat ini mengingatkan kita pada 
sebuah hikayat cerita rakyat pada khasanah pemikiran Islam. Kisah seekor 
keledai kecil dengan seorang ayah dan anaknya. Anak beranak ini bingung siapa 
yang harus menaiki keledai itu karena tak cukup ditunggangi dua orang.Ketika 
sang ayah yang menunggangi, banyak orang mengecam tidak sayang anak. Giliran 
anak yang menunggangi, dia dinilai sebagai anak yang durhaka. Tidak menghormati 
orang tua.Keduanya memutuskan untuk menuntun keledai tersebut. Itu lebih adil. 
Namun kembali keduanya ditertawakan, dan dinilai bodoh. Ada tunggangan, namun 
tak dimanfaatkan.Karena bingung, akhirnya mereka memutuskan menggotong keledai 
kecil itu. Semua orang yang bertemu mereka di jalan kembali menertawakan 
kebodohan mereka. 

Kirim email ke