rasanya Jokowi tertolong Wiranto, kalau tdk dan benar2 dibebaskan Jkw bisa 
habis ditinggal lari banyak pendukung lama kelompok kiri moderat.

---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :

 Melihat cara Jokowi membawa diri selama ini maka benar belaka pendapat analis 
Concord Consulitng bahwa bukan cuma RRC, tapi negara manapun bakal kesal.
 
 Dalam kabinetnya sendiri juga begitu, dan pernyataan Wiranto terlihat sebagai 
puncak kekesalannya terhadap pembawaan Jokowi, sehingga terjadilah seorang 
menteri mengoreksi presidennya di muka umum.
 
“Jadi Presiden tidak boleh grasa-grusu serta merta memutuskan, tapi perlu 
pertimbangan aspek-aspek lainnya,” ujarnya.

 
 --- jonathangoeij@... wrote:
 

 Hersubeno arief | Konsultan Media dan Politik
 Konsultan Media dan Politik https://kumparan.com/hersubeno-arief



 23 Januari 2019 11:38 WIB







 Hikayat Keledai di Balik Kisruh Pembebasan Ustadz Ba’asyir 
https://kumparan.com/hersubeno-arief/hikayat-keledai-di-balik-kisruh-pembebasan-ustadz-baasyir-1548218289156192349

 
 Ilustrasi Ba'asyir, Yusril, Jokowi.
 
Pemerintah secara resmi membatalkan rencana pembebasan bersyarat Ustadz Abu 
Bakar Ba’asyir. Kepala Staf Presiden Moeldoko mengatakan, Ba’asyir tidak 
memenuhi syarat formil untuk dibebaskan. 

 
Kasus ini sempat mengundang kehebohan tidak hanya di dalam negeri, namun juga 
menjalar ke negara tetangga Australia. Perdana Menteri Australia Scott Morisson 
menyampaikan protes. “ Kami meminta pemerintah Indonesia menunjukkan rasa 
hormat yang besar kepada Australia dengan membuat Ba’asyir menjalani hukumannya 
secara penuh,” tegasnya. Ba’asyir pada bulan Juni 2011 dijatuhi hukuman selama 
15 tahun karena dinilai terbukti mendanai pelatihan militer kelompok teroris di 
kawasan Aceh. Di luar kasus itu dia juga dituding terlibat Bom Bali. Namun 
pengadilan membebaskannya. Tidak cukup bukti. Pada peristiwa Bom Bali yang 
terjadi tanggal 12 Oktober 2002, sebanyak 202 orang tewas. Korban terbanyak 
berasal dari Australia (88 orang) Indonesia (38 orang), Inggris (24 orang). 
Sisanya berasal dari berbagai negara. Australia hingga saat ini tetap meyakini 
keterlibatan Ba’asyir. Karenanya rencana Jokowi membebaskannya menuai protes 
besar di Australia. Bukan hanya pemerintah, namun para keluarga korban, 
aktivis, dan media ramai-ramai menyatakan terkejut, kecewa, dan marah atas 
keputusan itu. Di dalam negeri kasus ini juga menimbulkan tarik-menarik 
kepentingan yang sangat keras di kalangan pemerintah, dan pendukung Jokowi. 
Banyak yang kecewa, karena Jokowi dinilai memberi angin kepada kelompok 
radikal. Kasus ini kian menunjukkan betapa Jokowi menjalankan pemerintahan ini 
secara impulsif. Tanpa pemikiran dan pertimbangan yang matang. Grasa-grusu. 
Sebuah keputusan yang diambil, kemudian diralat dalam hitungan hari, bahkan 
jam.. Bermula dari kedatangan Yusril Ihza Mahendra pengacara Jokowi-Ma’ruf Amin 
ke LP Gunung Sindur Bogor tempat Ba’asyir di tahan, Jumat (18/1). Yusril 
mengatakan bahwa dia ditugaskan oleh Presiden Jokowi untuk mengumpulkan data, 
mengamati, upaya pembebasan Ba’asyir. Dari telaah hukum yang dilakukan, Yusril 
mengatakan pembebasan Ba’asyir akan dilakukan secepatnya sambil membereskan 
urusan administrasi pribadi di Kementerian Hukum dan HAM. “Setelah bebas nanti, 
Ba’asyir akan pulang ke Solo dan tinggal di rumah anaknya,” ujarnya. Pada hari 
yang sama di Garut Jokowi juga menyampaikan rencana tersebut. ”Ya yang pertama 
memang alasan kemanusiaan. Beliau kan sudah sepuh. Ya pertimbangannya 
pertimbangan kemanusiaan. Termasuk ya tadi kondisi kesehatan,” kata Jokowi. 
Jelas sudah ini merupakan keputusan yang diambil Jokowi setelah mendengar 
pendapat dan saran Yusril. Statemen Yusril dan Jokowi menjadi bola liar. Pro 
kontra bermunculan, termasuk dari PM Scott Morisson. Menko Maritim Luhut 
Panjaitan dan cawapres Ma’ruf Amin menilai sikap Morisson sebagai campur tangan 
masalah dalam negeri Indonesia. “ Emang dia yang ngatur kita,” ujar Luhut 
ketus. Sampai disini tampaknya sikap Jokowi tetap pada posisi akan membebaskan 
Ba’asyir. Termasuk ketika Ba’asyir menyatakan tidak bersedia menandatangani 
ikrar kesetiaan pada Pancasila dan NKRI. Menurut Yusril ketentuan peraturan 
Menkum HAM itu bisa dikesampingkan. Presiden sudah setuju, pembebasan tanpa 
syarat. Senin (21/1) malam Wiranto tiba-tiba mengadakan jumpa pers mendadak. 
Dia menyatakan presiden bersama menteri dan pejabat terkait perlu melakukan 
kajian mendalam soal rencana pembebasan. “Jadi Presiden tidak boleh grasa-grusu 
serta merta memutuskan, tapi perlu pertimbangan aspek-aspek lainnya,” ujarnya. 
Pernyataan Wiranto itu cukup mengejutkan. Pertama, dia menganulir pernyataan 
Presiden Jokowi dan semua proses yang tengah dilakukan untuk membebaskan 
Ba’asyir. Kedua, pilihan kosa kata “Presiden tidak boleh grusa-grusu.” Secara 
harfiah grasa-grusu dalam bahasa Jawa berarti gegabah. Dari sisi rasa bahasa, 
maupun tata krama unggah-ungguh politik, tidak pada tempatnya seorang menteri 
menggunakan kosa kata itu kepada seorang presiden. Proyek politik 
 Agak sulit membantah rencana pembebasan Ustadz Ba’asyir merupakan proyek 
politik Jokowi yang tengah dijalankan Yusril. Targetnya meningkatkan basis 
elektoralnya yang terus tergerus. Ketua Umum PBB itu telah meumbuka topengnya 
dari seorang pengacara, menjadi tim sukses dengan tugas khusus menggarap segmen 
pemilih Islam. Sejak awal sudah bisa diduga keputusan Yusril bersedia menjadi 
“Pengacara” Jokowi-Ma’ruf hanya sebagai pintu masuk agar dia bisa secara mulus 
menjadi timses. Pilihan atas Ustadz Ba’asyir direncanakan sangat matang untuk 
menggerus dan sekaligus masuk ke segmen pemilih muslim yang masih tetap menjadi 
titik lemah Jokowi. Secara kasat mata Jokowi ingin memperkuat pengaruhnya di 
kalangan umat Islam, sekaligus menghapus stigma bahwa dia melakukan 
kriminalisasi ulama. Cawapres Ma’ruf Amin memuji setinggi langit langkah Jokowi 
sebagai bukti kepeduliannya kepada seorang ulama. “Bukti Pak Jokowi cinta 
ulama,” puji anggota TKN Ace Hasan Sadzily. Proyek politik ini juga sekaligus 
bisa digunakan untuk menghantam kubu Prabowo. Ba’asyir ditahan dan diadili pada 
masa pmerintahan SBY yang kini menjadi sekutu kuat Prabowo. Harus dilakukan 
delegitimasi atas SBY. Jika proyek ini berhasil, kemungkinan Jokowi akan 
melangkah lebih jauh. Misalnya membebaskan Ustad Alfian Tanjung yang kini di 
tahan di LP Porong, Sidoarjo. Puncak dari semuanya adalah menerbitkan SP3 dan 
membebaskan Habib Rizieq Shihab dari semua tuntutan hukum. Sayang operasi 
politik ini berantakan di tengah jalan. Jokowi tidak hanya menghadapi 
penentangan di kalangan pendukung garis kerasnya. Dia juga menghadapi oposisi 
di dunia internasional. Jika Jokowi bersikeras melanjutkan pembebasan Ba’asyir, 
dia bakal kehilangan pemilih yang kecewa karena dinilai bergerak terlalu ke 
kanan. Merangkul dan mengakomodasi kelompok yang selama ini distigma radikal. 
Kelompok pemilih non muslim, abangan, bahkan kaum nahdliyin (NU), dan Islam 
moderat lainnya dipastikan akan sangat kecewa bahkan marah. Jokowi juga bisa 
kehilangan dukungan dari dunia internasional, terutama negara-negara Barat yang 
direpresentasikan oleh Australia. Padahal dukungan dari negara-negara Barat 
sangat diperhitungkan oleh Jokowi untuk mengimbangi isu bahwa dia saat ini 
lebih dekat ke poros Cina. Bertemunya sejumlah duta besar negara-negara anggota 
Uni Eropa dengan Badan Pemenangan Pemilu (BPN) Prabowo-Sandi Jumat (18/1), bisa 
ditafsirkan sebagai signal adanya pergeseran dukungan yang harus diwaspadai. 
Pertemuan yang terjadi sehari setelah paslon melakukan debat perdana, tidak 
bisa dianggap sebagai kunjungan biasa. Para duta besar yang dipimpin oleh Dubes 
Uni Eropa Vincent Gerend itu menanyakan soal kebijakan ekonomi Prabowo Sandi, 
khususnya reformasi pajak, dan keterbukaan bagi dunia bisnis dan invesatasi. 
Mereka juga mempertanyakan kisruh Daftar Pemilih Tambahan (DPT) yang banyak 
disoal publik. Dua isu itu sangat sensitif. Soal investasi jelas tidak bisa 
dilepaskan dari isu dominasi modal dan TKA Cina yang membanjiri Indonesia. 
Sementara kisruh DPT menyangkut adanya potensi kecurangan dan masa depan 
demokrasi Indonesia. Dilema dan pilihan-pilihan politik itulah yang bisa 
menjelaskan mengapa Jokowi membuat kebijakan tarik ulur seperti permainan yoyo 
soal Ba’asyir. Posisi Jokowi saat ini mengingatkan kita pada sebuah hikayat 
cerita rakyat pada khasanah pemikiran Islam. Kisah seekor keledai kecil dengan 
seorang ayah dan anaknya. Anak beranak ini bingung siapa yang harus menaiki 
keledai itu karena tak cukup ditunggangi dua orang. Ketika sang ayah yang 
menunggangi, banyak orang mengecam tidak sayang anak. Giliran anak yang 
menunggangi, dia dinilai sebagai anak yang durhaka. Tidak menghormati orang 
tua. Keduanya memutuskan untuk menuntun keledai tersebut. Itu lebih adil. Namun 
kembali keduanya ditertawakan, dan dinilai bodoh. Ada tunggangan, namun tak 
dimanfaatkan. Karena bingung, akhirnya mereka memutuskan menggotong keledai 
kecil itu. Semua orang yang bertemu mereka di jalan kembali menertawakan 
kebodohan mereka.












Kirim email ke