Kota kecil Suppa ini terletak diutara pare pare tempat asal Habibie dgn 
patungnya dikota. Dulunya Suppa ini dgn 4 daerah/kerajaan sekitarnya al: 
rappang dll membentuk konfederasi. Konfederasi ini menjadi incaran kerajaan yg 
lebih besar gowa, luwu, bone. Akhirnya konfederasi ini dikuasai kerajaan gowa.

 

Rappang adalah perbatasan toraja/Kristen dan Islam di Sulawesi selatan. Banyak 
cerita yg masih dipercaya rakyat disana al: ada pembatas disungai dgn batu2. 
Keutara sungai/arah toraja buaya tidak ada. Keselatan dari batu2 itu/daerah 
Islam ada buaya. Kalau ditanya sama dukun2 disana, jawabannya simple: dari 
dulunya memang sudah begitu perjanjiannya.

 

Daerah2 ini masih kurang berkembang selain pare pare krn faktor Habibie. Sudah 
saatnya kerajaan2 ini utk berkembang dgn otonomi daerah dan perkembangan 
infrastruktur.

 

Luar biasa kekayaan alam dipulau Sulawesi ini. Banyak orang termasuk yusuf 
kalla tidak setuju dgn trans Sulawesi dgn alasan: tidak ada yg diangkut kereta 
di Sulawesi dan jumlah penduduk yg sedikit. Selanjutnya Kalla bilang kereta 
lebih cocok di jawa yg padat penduduknya. 

 

Saya kurang setuju dgn pendapat Kalla ini. Pergerakan ekonomi dan pemberdayaan 
rakyat miskin dan terbelakang harus dirangsang. Trans Sulawesi adalah alatnya. 
Kalla berpikiran sempit bahwa harus ada barang yg diangkut baru bikin 
infrastrukturnya. Ada orang lain berpendapat lain bahwa bikin dulu 
infrastrukturnya utk menggerakkan ekonominya. Wong orang tidak mampu dan tidak 
berdaya disuruh bikin industry dulu, ya mana bisa. Bikin dulu trans Sulawesi, 
listrik dibereskan, jalan2 diperbaiki baru lihat hasilnya. Belum lagi turis yg 
akan masuk luar biasa potensinya.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Thursday, January 24, 2019 10:59 AM
To: GELORA_In <[email protected]>; [email protected]; Sahala 
Silalahi <[email protected]>; [email protected]
Subject: [GELORA45] Sejarah Keji Westerling: Membantai Rakyat Suppa dan Rajanya

 

  

 

https://tirto.id/sejarah-keji-westerling-membantai-rakyat-suppa-dan-rajanya-deU1
 


                                                                   Seri 
Kekejaman Westerling


               Sejarah Keji Westerling: Membantai 


                      Rakyat Suppa dan Rajanya


 
<https://tirto.id/sejarah-keji-westerling-membantai-rakyat-suppa-dan-rajanya-deU1>
 


Potret sejarah pembantaian Westerling tahun 1946. FOTO/ Moluks Historisch Museum


Oleh: Petrik Matanasi - 24 Januari 2019

Dibaca Normal 3 menit

Westerling bikin teror di Kedatuan Suppa. Sudah pasti banyak yang terbunuh, 
termasuk dua rajanya.

tirto.id <https://tirto.id/>  - Menjadi raja adalah takdir bagi Andi Abdullah 
Bau Massepe. Laki-laki kelahiran 1918 itu adalah putra dari Andi Mappanyukki, 
mantan Raja Bone—yang setelah Indonesia merdeka adalah pendukung Republik 
Indonesia—dengan istrinya, Besse Arung Bulo, seorang bangsawan Sidenreng. Nama 
Massepe mirip dengan nama tempat kelahirannya di Sidenreng. Dia punya tiga 
istri, yang paling terkenal karena kecantikannya adalah Andi Bau Soji Datu 
Kanjenne.

Menjelang 1947, Bau Massepe sudah menjadi salah satu pemimpin di Kedatuan 
Suppa. Dia dikenal sebagai Datu Suppa Muda. Pamannya, Andi Makassau, dijuluki 
Datu Suppa Tua. Suppa masa kini adalah sebuah kecamatan di antara jalan poros 
Pare-pare dengan Pinrang. Pusat Kedatuan Suppa berada di Mara’bombang di sisi 
utara Teluk Pare-pare. Di tempat itu nelayan biasa menanti ombak untuk melaut. 
Istana kedatuan Suppa menghadap ke teluk, di mana kota pelabuhan Pare-pare 
terlihat jelas.

Rosihan Anwar pernah bertemu dengan Datu Suppa Muda waktu Konferensi Malino 
(1946). Saat itu, seperti dicatat Rosihan dalam Musim Berganti: Sekilas Sejarah 
Indonesia 1925-1950 (1985), Datu Suppa Muda “minta pesannya disampaikan kepada 
Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta di Yogya, dan menyerahkan dua helai 
tikar sembahyang buatan Bugis untuk kedua pemimpin Republik itu” (hlm. 180).

Westerling tahu tentang keberpihakan Datu Suppa Muda. Suppa juga menjadi 
sasaran operasi militer yang dilancarkan Westerling dan pasukannya. Setelah 
beroperasi dari kampung ke kampung menebar teror, pasukan Westerling mencapai 
daerah Suppa pada 28 Januari 1947. Andi Kassi alias Andi Monji, bocah kelahiran 
1937, tak akan lupa hari itu.

Baca juga: Pasukan Westerling Garang di Bandung, Loyo di Jakarta 
<https://tirto.id/pasukan-westerling-garang-di-bandung-loyo-di-jakarta-cDsv> 

 


Pembantaian Sehari Penuh


Sedari pagi buta, militer Belanda memasuki Suppa dan menggedori rumah-rumah.. 
Semua warga dipaksa keluar rumah dan digiring di tanah lapang—yang kini jadi 
kantor kecamatan. Warga laki-laki dikumpulkan di tempat agak terbuka, warga 
perempuan di bawah kolong rumah panggung.

Andi Monji melihat ayahnya, Andi Monjong, yang jadi Pabbicara Kedatuan Suppa, 
diturunkan dari mobil jip. Beberapa serdadu Belanda menggebuki ayahnya di 
hadapan rakyat Suppa. Itu adalah pemandangan sedih sekaligus mengerikan.

Sepengelihatan Andi Monji, serdadu-serdadu Belanda adalah serdadu-serdadu bule 
(kulit putih) yang menjagai orang-orang kampung itu. Andi Monji tak tahu di 
mana serdadu-serdadu pasukan khusus Depot Speciale Troepen (DST) berada. 
Padahal mereka tulang punggung penting operasi Westerling yang dianggap sebagai 
Kampanye Pasifikasi itu.

Di tanah lapang itu, Westerling dan pasukannya mempertontonkan aksi teror. Satu 
per satu warga ditembaki, baik oleh Westerling maupun bawahannya. Andi Monji 
sendiri melihat ayahnya ditembak kepalanya oleh Westerling menggunakan pistol. 
Seperti diketahui Andi Monji, jauh setelah Westerling membedil kepada ayahnya, 
tembakan Westerling tak pernah meleset.

Baca juga: Sebelum Westerling Ditimpuk Sepatu  
<https://tirto.id/sebelum-westerling-ditimpuk-sepatu-b9mo> 


Setelah banyak orang terbunuh, sebuah liang dibuat hari itu juga. Beberapa 
orang yang masih hidup diperintahkan membawa orang-orang yang terbunuh tadi ke 
liang besar. Namun, mereka yang membawa jenazah itu tak pernah kembali lagi. 
Rupanya hidup mereka juga sudah berakhir di tangan pasukan Westerling dan jadi 
penghuni liang yang ukurannya sekitar rumah type 36 itu.

Acara pembantaian tersebut berlangsung seharian penuh. "Dari jam enam (pagi) 
sampai jam enam (sore)," kenang Andi Monji. 

Sebagai bocah yang tak berdaya, dia hanya bisa menangis. Tanpa adanya sang ayah 
membuat hidupnya suram di kemudian hari. Dia mengaku tak bisa menikmati bangku 
sekolah. Di hari ayahnya terbunuh, terbunuh pula kakek Andi Monji, Andi Wenda.

Andi Monji mencatat 208 orang terbunuh pada kedatangan Westerling di Suppa. 
Korban di daerah Suppa tergolong tinggi. Saat ini, lokasi penguburan para 
korban “pengadilan militer” ala Westerling tersebut telah menjadi Taman Makam 
Pahlawan. Peristiwa 28 Januari 1947 itu masih diingat warga. Selain ada taman 
makam pahlawan, tak jauh dari tempat pembantaian juga dibangun diorama adegan 
pembantaian Westerling.

Ketika Tirto datang ke Suppa pada 28 Juni 2018, sidang gugatan korban-korban 
Westerling sedang berlangsung di Belanda. Beberapa orang tua di sekitar Suppa 
dihadirkan sebagai saksi secara teleconference di Café Resto Fly Over, Suppa. 
Tak jauh dari rumah Andi Monji tinggal. Andi Monji sendiri juga datang sebagai 
saksi. 

Itu adalah rangkaian kedua sidang gugatan korban Westerling di Sulawesi 
Selatan. Dalam rangkaian pertama di Bulukumba, gugatan diterima dan mendapat 
uang ganti rugi 20.000 Euro. Tapi tetap saja, seperti dingiangkan Anhar 
Gonggong, nyawa yang hilang tak mungkin kembali.

Baca juga: Saksi Hidup Pembantaian Westerling - Catatan Reporter 
<https://tirto.id/saksi-hidup-pembantaian-westerling--catatan-reporter-dbb6> 

 


Ditenggelamkan ke Laut


Westerling tampaknya tahu adat Bugis. Haram darah raja mengalir di tanah. Baik 
Datu Suppa Tua dan Datuk Suppa Muda tak dibunuh dengan pistol Colt 38 milik 
Westerling. Atau juga dengan senjata otomatis Sten Gun atau Thompson atau atau 
laras panjang Lee-Enfield (LE). Dua bangsawan itu tetap dijadikan bahan shock 
therapy dengan cara yang tidak biasa.

“Westerling membunuh Datu Suppa Toa Andi Makassau dengan jalan memecahkan biji 
kemaluan sang korban," kata Abdul Haris Nasution dalam Sekitar Perang 
Kemerdekaan Indonesia-Volume IV (1977: 155). 

  
<https://mmc.tirto.id/image/2018/01/23/mozaik-westerling--sabit_ratio-9x16.jpg> 



Versi yang banyak disebut, seperti dicatat wartawan senior Salim Said yang 
kelahiran Pinrang dalam Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian 
(2013), “dia ditenggelamkan di Pantai Suppa. Badannya diberati dengan cara 
diikatkan ke lesung batu, kemudian dilemparkan ke dalam laut.”

Sementara menurut Nurwahidah dalam Hj. Andi Siti Nurhani Sapada (2004), “Datu 
Suppa Tua ditemukan di laut di antara bangunan bambu nelayan, setelah tiga hari 
sebelumnya ditenggelamkan di laut Mara’bombang” (hlm. 58). 

Berdasarkan penuturan Andi Monji, jenazahnya ditemukan La Ramalang Ambo Metro. 
Monji juga menyebut, “Semula dikuburkan di belakang masjid, lalu dipindahkan ke 
Taman Makam Pahlawan Pare-pare (Pacekke).”

Hingga hari ini, jika warga yang tinggal di sekitar istana Kedatuan Suppa 
ditanya di mana Datu Suppa dibunuh, mereka akan menunjuk ke laut. “Di situ,” 
kata Nadira, yang tinggal di sebelah istana dengan menunjuk perairan yang 
menghadap kota Pare-pare. Jawaban Nadira dibenarkan seorang nelayan bernama 
Syaharudin Aco.

Soal kematian Bau Massepe, tidak ada saksi yang melihat pembunuhannya. 
Lahadjdji Patang dalam Sulawesi dan pahlawan2nya: sejarah perjuangan 
kemerdekaan Republik Indonesia (1967) menyebut Bau Massepe dibunuh secara 
perlahan-lahan dengan cara diseret mobil pada 2 Februari 1947 (hlm. 119). 

Bau Massepe kemudian diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 2005. Seperi Andi 
Makassau, Bau Massepe setidaknya jadi nama jalan di kota Pare-pare dan Makassar.

Seri Kekejaman Westerling: 

*       Sejarah Pembantaian di Sulsel: Westerling Datang, Darah Tergenang 
<https://tirto.id/sejarah-pembantaian-di-sulsel-westerling-datang-darah-tergenang-deUW>
 


==========

Dalam rangka mengenang Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pada 
23 Januari 1950 yang didalangi Raymond Westerling, Tirto menerbitkan serial 
khusus tentang aksi kekejaman perwira Belanda itu. Serial ini ditayangkan 
setiap hari mulai Rabu (23/1/2019) hingga Sabtu (26/1/2019). Artikel di atas 
adalah tulisan kedua.


Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA 
<https://tirto.id/q/sejarah-indonesia-dwA?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowkeyword>
  atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi 
<https://tirto.id/author/petrikmatanasi?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowauthor>
 

(tirto.id - Politik) 


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan












Kirim email ke