Ibunya orang turki dan oleh sebab itu lahir di Turki

On Thu, Jan 24, 2019 at 10:08 PM Awind [email protected] [GELORA45] <
[email protected]> wrote:

>
>
> Bung Djie yb,
>
> Saya fowardkan berita lama untuk melihat data2 tentang bawahannya
> Westerling.
>
>
>
> https://tirto.id/pasukan-westerling-garang-di-bandung-loyo-di-jakarta-cDsv
>
> 23 Januari 1950                     Pasukan Westerling Garang di
>                         Bandung, Loyo di Jakarta
> [image: Ilustrasi Raymond Westerling. tirto.id/Gery]
> <https://tirto.id/pasukan-westerling-garang-di-bandung-loyo-di-jakarta-cDsv>
> Ilustrasi Raymond Westerling. tirto.id/Gery
> Oleh: Petrik Matanasi - 23 Januari 2018
> Dibaca Normal 3 menit
>
>
> *Si tangan hitam. Gerombolan pengacau di kota kembang.*
> tirto.id - Awal 1949, Westerling bukan lagi kapten pasukan khusus
> Belanda, melainkan sudah bersalin mata pencaharian sebagai pengusaha
> angkutan perkebunan. Bisnisnya cukup lancar. Tak ada aparat atau gerombolan
> liar yang berani mencegat truknya.
>
> Jika ada yang mendekat, supir cukup bilang, “ini kendaraan Westerling.”
> Maka habis perkara. Menurut Dominique Venner dalam *Westerling de Eenling*
> (1983: 35) dan *Challenge To Terror *(1952: 147) yang ditulis Westerling
> sendiri, trayek truk angkutan Westerling itu adalah Jakarta-Bandung.
>
> Pada Februari, bekas bos besar Westerling di ketentaraan Belanda, Letnan
> Jenderal Simon Hendrik Spoor, mengajak Westerling berpetualang lagi. Spoor
> yang bersilang jalan dengan politisi sipil Belanda, terbersit pikiran untuk
> memulai “jalan sendiri”: sebuah rencana kudeta di Indonesia. Di mana
> Westerling akan menjadi motornya. Tak lupa, Westerling diberi uang muka
> untuk membeli senjata dari pasar gelap.
>
> Westerling tampak begitu bersemangat dengan rencana itu. Meski belum
> sampai seminggu Spoor justru membatalkannya pada Maret 1949. Westerling
> bukannya patah arang dengan sikap Spoor yang ternyata “panas-panas taik
> ayam” itu. Sekitar dua bulan setelahnya, Spoor meninggal pada 25 Maret 1949.
>
> Baca juga: Misteri Kematian Jenderal Spoor
> <https://tirto.id/misteri-kematian-jenderal-spoor-bKYQ>
>
> *Persiapan Pemberontakan* Westerling boleh saja tak dapat uang lagi dari
> Spoor, tapi pengusaha-pengusaha yang anti-republik memberi sokongan duit
> kepadanya. Beberapa pengusaha berdarah Eropa dan Tionghoa dari perusahaan
> dagang, angkutan, dan perkebunan di sekitar Bandung dan Jakarta memberikan
> sumbangan kepada gerakan terselubung Westerling itu.
>
> Menurut laporan kepolisian No.Pol.278/A.R./PAM/DKN/50 tanggal 21 Februari
> 1950 (ANRI, Kementerian Perdana Menteri RI Yogyakarta, Nomor 129), salah
> seorang pengusaha perkebunan keturunan Inggris bernama Tom menyebut
> Westerling sebagai “orang besar.” Para pengusaha itu berharap Westerling
> membuat keadaan politik di Indonesia menguntungkan mereka.
>
> “Sumber keuangan untuk membelanjai aksi pengacauan ini ialah The Big Five
> (Lindeteves, Javastaal, Gio Wehry, Borsumij, dan BPM) dan
> Landbouwsyndicaat,” tulis laporan tersebut. Untuk angkutan dalam pergerakan
> pasukan, truk-truk juga disiapkan.
>
> Baca juga: Westerling Memberontak Bermodalkan Duit Para Pengusaha
> <https://tirto.id/westerling-memberontak-bermodalkan-duit-para-pengusaha-chu3>
>
> Gerakan bersenjata tentu tak hanya butuh uang, tapi juga pasukan. Terutama
> pasukan tempur. Berkat reputasinya sebagai mantan komandan pasukan khusus,
> Westerling tak kesulitan merekrut serdadu bawahan di Tentara Kerajaan di
> Hindia Belanda (KNIL).
>
> Dominique Venner (1983) mencatat, beberapa letnan kolonel Belanda di
> sekitar Bandung semula bersedia membantu. Seorang bintara perbekalan bahkan
> sudah rela “memejamkan mata” jika ada gerombolan Westerling datang untuk
> ambil senjata dari gudang yang dijaganya (hlm. 349).
>
> Tak hanya dari KNIL, dari bekas intel Belanda (NEFIS), kepolisian, dan
> bekas pejuang republik Indonesia pun Westerling punya pendukung. Dari bekas
> pejuang terdapat bekas preman Senen dan juga mantan KNIL bernama Rapar,
> yang punya anak buah di sekitar Cikampek. Untuk menarik anggota, Westerling
> dan pengikutnya membentuk apa yang dikenal sebagai Angkatan Perang Ratu
> Adil (APRA).
>
> Dari kepolisian, ada Komisaris Asbeck Brusse; seorang inspektur bernama
> Frans Najoan, yang tampaknya dari bagian intelijen; juga seorang inspektur
> polisi Indo bernama van Kleef. Dari kalangan pejabat, ada Sultan Hamid II
> dari Pontianak, yang pada 1950 menjabat sebagai Menteri Negara Tanpa
> Portofolio di kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) dan dikenal sebagai
> salah satu perancang lambang negara RI Garuda Pancasila. Selain itu, mantan
> Bupati Bandung dan koleganya juga terkait dengan Westerling.
>
> Baca juga: Eks Letnan KNIL Merancang Garuda Pancasila
> <https://tirto.id/eks-letnan-knil-merancang-garuda-pancasila-bozl>
>
> *Jalannya Pemberontakan* Di akhir 1949, jelang penyerahan kedaulatan,
> Westerling tampak sudah bersiap. Bersama kolega-koleganya, Asbeck Brusse,
> Karwur, Tuwilan, Onselon, Bens, van Kleef, juga Rapar, Westerling
> mengadakan pertemuan rahasia pada 26 Desember 1949. Mereka sempat berpikir
> melakukan gerakan pada 27 Desember 1949, di mana upacara penyerahan
> kedaulatan diadakan. Sadar persenjataan masih jadi masalah, mereka urungkan
> niat bergerak itu.
>
> Sepuluh hari setelah pertemuan rahasia tersebut, Westerling mulai berani.
> Pada 5 Januari 1950, Westerling mengirim ultimatum ke pemerintah RIS,
> menuntut TNI menghentikan aktivitasnya di Jawa Barat. “Jika sesudah tanggal
> 12 Januari 1950 TNI belum menghentikan gerakannya maka dari pihak APRA akan
> diambil tindakan-tindakan untuk menghentikan infiltrasi,” ancam Westerling.
>
> Baca juga: Berakhirnya Negara Pasundan
> <https://tirto.id/berakhirnya-negara-pasundan-clgQ>
>
> Sore 22 Januari 1950, Westerling bertemu dengan kawan-kawan gerakannya
> lagi. Kali dengan kawan-kawan yang hendak menguasai kota Bandung. Di muka
> khalayak ramai, Westerling berusaha bersikap wajar seperti hari-hari
> sebelumnya. Pada malam hari, Westerling sudah dikira terlelap sejak pukul
> 21.00 di kamar nomor 101 Hotel Preanger. Apa yang diperkirakan khalayak
> ternyata salah. Di jam tidur itu, Westerling sedang memacu kendaraannya
> menuju Padalarang.
>
> Di Padalarang, Westerling sebetulnya sedang menanti truk-truk bermuatan
> senjata untuk dibagikan kepada pasukannya di Jakarta. Truk yang ditunggu
> itu tak muncul-muncul. Perwira-perwira menengah yang semula mendukung
> rupanya sudah berbalik badan. Westerling pun frustasi dan hilang semangat..
>
> Baca juga: Sebelum Westerling Ditimpuk Sepatu
> <https://tirto.id/sebelum-westerling-ditimpuk-sepatu-b9mo>
>
> Tanpa senjata, Westerling menuju Jakarta. Kawannya yang bernama Rapar pun
> unjuk ide menyerang kantor polisi untuk mendapatkan senjata. Sialnya, Rapar
> terbunuh. Gerakan pun makin suram dan Westerling jadi loyo semangatnya.
> Westerling lalu menghilang. Ia menuju hotel tempat Sultan Hamid II
> menginap.
>
> Sementara itu, tanggal 23 Januari pagi, tepat hari ini 68 tahun lalu,
> pasukan KNIL pendukung Westerling yang keluar dari tangsi dengan membawa
> bedil sukses menebar teror di Bandung. Jumlahnya ratusan orang, sekitar
> satu batalyon. Bahkan seorang fotografer militer bernama August Nussy ikut
> serta mengambil gambar aksi kawan-kawannya. Dalam hitungan jam, pasukan
> APRA itu kembali ke tangsinya masing-masing, setelah menebar teror di kota
> Bandung.
>
> Puluhan prajurit TNI tewas akibat kekejaman APRA. Di antara mereka yang
> terbunuh adalah Adolf Gustav Lembong, mantan serdadu KNIL yang sudah jadi
> letnan kolonel TNI, dan stafnya, Letnan Leo Kailalo.
>
> Lembong pagi itu sedang berusaha menemui panglima Sadikin di Markas Staf
> Siliwangi, di dekat Braga. Bukan Sadikin yang ditemui Lembong, melainkan
> serdadu-serdadu KNIL yang ikut APRA. Berondongan peluru pun menerjang tubuh
> Lembong. Setelah Lembong gugur, markas staf itu lalu jadi Museum Mandala
> Wangsit dan jalan di depan markas itu dinamai Jalan Lembong.
>
> Baca juga: Asal Usul Jalan Lembong
> <https://tirto.id/asal-usul-jalan-lembong-b855>
>
>
> [image: Infografik mozaik westerling]
>
> *Westerling Kabur* Westerling sendiri kemudian jadi buronan. Gerakannya
> sudah gagal dan diam-diam kabur dari Indonesia. Bulan-bulan berikutnya,
> Westerling sudah berada di Belanda. Di Indonesia, banyak yang mengecam aksi
> dirinya dan pasukannya.
>
> Belakangan, Pangeran Bernhard, suami Ratu Juliana, menurut Cees Fasseur
> dalam *Juliana en Bernhard: het verhaal van een huwelijk 1936-1956*
> (2009), dianggap terkait dengan aksi Westerling. Pangeran dituduh mendukung
> Westerling secara terselubung.
>
> Menurut Rosihan Anwar dalam *Napak Tilas ke Belanda: 60 Tahun Perjalanan
> Wartawan KMB 1949 *(2010), Pangeran Bernhard hendak menjadi *onderkoning*
> (raja bawahan) alias raja muda di Indonesia, dengan Belanda sebagai
> induknya (hlm. 159).
>
> Westerling melanjutkan hidupnya bukan sebagai serdadu lagi. Meski dibenci
> mati-matian di Indonesia, Westerling menjadi legenda militer di Belanda.
> Sebelum meninggal dunia di tahun 1987, Westerling jadi pedagang loak dan
> sempat mencicipi karier sebagai penyanyi opera. Ia pernah dilempar sepatu
> ketika menyanyi.
>
> Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA
> <https://tirto.id/q/sejarah-indonesia-dwA?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowkeyword>
> atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
> <https://tirto.id/author/petrikmatanasi?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowauthor>
> (tirto.id - Humaniora)
>
> Reporter: Petrik Matanasi
> Penulis: Petrik Matanasi
> Editor: Ivan Aulia Ahsan
> Pasukan APRA Westerling sukses meneror Bandung, namun tak berdaya di
> Jakarta.
>
>
>
>
>
>
> On 24-01-19 17:25, kh djie wrote:
>
> Ada yang bilang, bawahannya Westerling banyak oosteerlingnya ??
>
> Pada tanggal Kam, 24 Jan 2019 pukul 16.59 Awind [email protected]
> [GELORA45] <[email protected]> menulis:
>
>>
>>
>>
>>
>> https://tirto.id/sejarah-keji-westerling-membantai-rakyat-suppa-dan-rajanya-deU1
>>
>> <https://tirto.id/q/politik-bpt>
>>                                                                    Seri
>> Kekejaman Westerling                Sejarah Keji Westerling: Membantai
>>                       Rakyat Suppa dan Rajanya
>> [image: Potret sejarah pembantaian Westerling tahun 1946. FOTO/ Moluks
>> Historisch Museum]
>> <https://tirto.id/sejarah-keji-westerling-membantai-rakyat-suppa-dan-rajanya-deU1>
>> Potret sejarah pembantaian Westerling tahun 1946. FOTO/ Moluks Historisch
>> Museum
>> Oleh: Petrik Matanasi - 24 Januari 2019
>> Dibaca Normal 3 menit
>> *Westerling bikin teror di Kedatuan Suppa. Sudah pasti banyak yang
>> terbunuh, termasuk dua rajanya.*
>> tirto.id - Menjadi raja adalah takdir bagi Andi Abdullah Bau Massepe.
>> Laki-laki kelahiran 1918 itu adalah putra dari Andi Mappanyukki, mantan
>> Raja Bone—yang setelah Indonesia merdeka adalah pendukung Republik
>> Indonesia—dengan istrinya, Besse Arung Bulo, seorang bangsawan Sidenreng.
>> Nama Massepe mirip dengan nama tempat kelahirannya di Sidenreng. Dia punya
>> tiga istri, yang paling terkenal karena kecantikannya adalah Andi Bau Soji
>> Datu Kanjenne.
>>
>> Menjelang 1947, Bau Massepe sudah menjadi salah satu pemimpin di Kedatuan
>> Suppa. Dia dikenal sebagai Datu Suppa Muda. Pamannya, Andi Makassau,
>> dijuluki Datu Suppa Tua. Suppa masa kini adalah sebuah kecamatan di antara
>> jalan poros Pare-pare dengan Pinrang. Pusat Kedatuan Suppa berada di
>> Mara’bombang di sisi utara Teluk Pare-pare. Di tempat itu nelayan biasa
>> menanti ombak untuk melaut. Istana kedatuan Suppa menghadap ke teluk, di
>> mana kota pelabuhan Pare-pare terlihat jelas.
>>
>> Rosihan Anwar pernah bertemu dengan Datu Suppa Muda waktu Konferensi
>> Malino (1946). Saat itu, seperti dicatat Rosihan dalam *Musim Berganti:
>> Sekilas Sejarah Indonesia 1925-1950* (1985), Datu Suppa Muda “minta
>> pesannya disampaikan kepada Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta di
>> Yogya, dan menyerahkan dua helai tikar sembahyang buatan Bugis untuk kedua
>> pemimpin Republik itu” (hlm. 180).
>>
>> Westerling tahu tentang keberpihakan Datu Suppa Muda. Suppa juga menjadi
>> sasaran operasi militer yang dilancarkan Westerling dan pasukannya. Setelah
>> beroperasi dari kampung ke kampung menebar teror, pasukan Westerling
>> mencapai daerah Suppa pada 28 Januari 1947. Andi Kassi alias Andi Monji,
>> bocah kelahiran 1937, tak akan lupa hari itu.
>>
>> Baca juga: Pasukan Westerling Garang di Bandung, Loyo di Jakarta
>> <https://tirto.id/pasukan-westerling-garang-di-bandung-loyo-di-jakarta-cDsv>
>>
>> Pembantaian Sehari Penuh Sedari pagi buta, militer Belanda memasuki
>> Suppa dan menggedori rumah-rumah. Semua warga dipaksa keluar rumah dan
>> digiring di tanah lapang—yang kini jadi kantor kecamatan. Warga laki-laki
>> dikumpulkan di tempat agak terbuka, warga perempuan di bawah kolong rumah
>> panggung.
>>
>> Andi Monji melihat ayahnya, Andi Monjong, yang jadi *Pabbicara *Kedatuan
>> Suppa, diturunkan dari mobil jip. Beberapa serdadu Belanda menggebuki
>> ayahnya di hadapan rakyat Suppa. Itu adalah pemandangan sedih sekaligus
>> mengerikan.
>>
>> Sepengelihatan Andi Monji, serdadu-serdadu Belanda adalah serdadu-serdadu
>> bule (kulit putih) yang menjagai orang-orang kampung itu. Andi Monji tak
>> tahu di mana serdadu-serdadu pasukan khusus Depot Speciale Troepen (DST)
>> berada. Padahal mereka tulang punggung penting operasi Westerling yang
>> dianggap sebagai Kampanye Pasifikasi itu.
>>
>> Di tanah lapang itu, Westerling dan pasukannya mempertontonkan aksi
>> teror. Satu per satu warga ditembaki, baik oleh Westerling maupun
>> bawahannya. Andi Monji sendiri melihat ayahnya ditembak kepalanya oleh
>> Westerling menggunakan pistol. Seperti diketahui Andi Monji, jauh setelah
>> Westerling membedil kepada ayahnya, tembakan Westerling tak pernah meleset.
>>
>> Baca juga: Sebelum Westerling Ditimpuk Sepatu
>> <https://tirto.id/sebelum-westerling-ditimpuk-sepatu-b9mo>
>>
>> Setelah banyak orang terbunuh, sebuah liang dibuat hari itu juga.
>> Beberapa orang yang masih hidup diperintahkan membawa orang-orang yang
>> terbunuh tadi ke liang besar. Namun, mereka yang membawa jenazah itu tak
>> pernah kembali lagi. Rupanya hidup mereka juga sudah berakhir di tangan
>> pasukan Westerling dan jadi penghuni liang yang ukurannya sekitar rumah
>> type 36 itu.
>>
>> Acara pembantaian tersebut berlangsung seharian penuh. "Dari jam enam
>> (pagi) sampai jam enam (sore)," kenang Andi Monji.
>>
>> Sebagai bocah yang tak berdaya, dia hanya bisa menangis. Tanpa adanya
>> sang ayah membuat hidupnya suram di kemudian hari. Dia mengaku tak bisa
>> menikmati bangku sekolah. Di hari ayahnya terbunuh, terbunuh pula kakek
>> Andi Monji, Andi Wenda.
>>
>> Andi Monji mencatat 208 orang terbunuh pada kedatangan Westerling di
>> Suppa. Korban di daerah Suppa tergolong tinggi. Saat ini, lokasi penguburan
>> para korban “pengadilan militer” ala Westerling tersebut telah menjadi
>> Taman Makam Pahlawan. Peristiwa 28 Januari 1947 itu masih diingat warga.
>> Selain ada taman makam pahlawan, tak jauh dari tempat pembantaian juga
>> dibangun diorama adegan pembantaian Westerling.
>>
>> Ketika *Tirto* datang ke Suppa pada 28 Juni 2018, sidang gugatan
>> korban-korban Westerling sedang berlangsung di Belanda. Beberapa orang tua
>> di sekitar Suppa dihadirkan sebagai saksi secara *teleconference* di
>> Café Resto Fly Over, Suppa. Tak jauh dari rumah Andi Monji tinggal. Andi
>> Monji sendiri juga datang sebagai saksi.
>>
>> Itu adalah rangkaian kedua sidang gugatan korban Westerling di Sulawesi
>> Selatan. Dalam rangkaian pertama di Bulukumba, gugatan diterima dan
>> mendapat uang ganti rugi 20.000 Euro. Tapi tetap saja, seperti dingiangkan
>> Anhar Gonggong, nyawa yang hilang tak mungkin kembali.
>>
>> Baca juga: Saksi Hidup Pembantaian Westerling - Catatan Reporter
>> <https://tirto.id/saksi-hidup-pembantaian-westerling--catatan-reporter-dbb6>
>>
>> Ditenggelamkan ke Laut Westerling tampaknya tahu adat Bugis. Haram darah
>> raja mengalir di tanah. Baik Datu Suppa Tua dan Datuk Suppa Muda tak
>> dibunuh dengan pistol Colt 38 milik Westerling. Atau juga dengan senjata
>> otomatis Sten Gun atau Thompson atau atau laras panjang Lee-Enfield (LE)..
>> Dua bangsawan itu tetap dijadikan bahan *shock therapy* dengan cara yang
>> tidak biasa.
>>
>> “Westerling membunuh Datu Suppa Toa Andi Makassau dengan jalan memecahkan
>> biji kemaluan sang korban," kata Abdul Haris Nasution dalam *Sekitar
>> Perang Kemerdekaan Indonesia*-*Volume **IV *(1977: 155).
>>
>> [image: Infografik mozaik westerling]
>>
>>
>> Versi yang banyak disebut, seperti dicatat wartawan senior Salim Said
>> yang kelahiran Pinrang dalam *Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian
>> Kesaksian *(2013), “dia ditenggelamkan di Pantai Suppa. Badannya
>> diberati dengan cara diikatkan ke lesung batu, kemudian dilemparkan ke
>> dalam laut.”
>>
>> Sementara menurut Nurwahidah dalam *Hj. Andi Siti Nurhani Sapada*
>> (2004), “Datu Suppa Tua ditemukan di laut di antara bangunan bambu nelayan,
>> setelah tiga hari sebelumnya ditenggelamkan di laut Mara’bombang” (hlm.
>> 58).
>>
>> Berdasarkan penuturan Andi Monji, jenazahnya ditemukan La Ramalang Ambo
>> Metro. Monji juga menyebut, “Semula dikuburkan di belakang masjid, lalu
>> dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Pare-pare (Pacekke).”
>>
>> Hingga hari ini, jika warga yang tinggal di sekitar istana Kedatuan Suppa
>> ditanya di mana Datu Suppa dibunuh, mereka akan menunjuk ke laut. “Di
>> situ,” kata Nadira, yang tinggal di sebelah istana dengan menunjuk perairan
>> yang menghadap kota Pare-pare. Jawaban Nadira dibenarkan seorang nelayan
>> bernama Syaharudin Aco.
>>
>> Soal kematian Bau Massepe, tidak ada saksi yang melihat pembunuhannya.
>> Lahadjdji Patang dalam *Sulawesi dan pahlawan2nya: sejarah perjuangan
>> kemerdekaan Republik Indonesia *(1967) menyebut Bau Massepe dibunuh
>> secara perlahan-lahan dengan cara diseret mobil pada 2 Februari 1947 (hlm.
>> 119).
>>
>> Bau Massepe kemudian diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 2005. Seperi
>> Andi Makassau, Bau Massepe setidaknya jadi nama jalan di kota Pare-pare dan
>> Makassar.
>>
>> Seri Kekejaman Westerling:
>>
>>    - Sejarah Pembantaian di Sulsel: Westerling Datang, Darah Tergenang
>>    
>> <https://tirto.id/sejarah-pembantaian-di-sulsel-westerling-datang-darah-tergenang-deUW>
>>
>>
>> ==========
>>
>> *Dalam rangka mengenang Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil (APRA)
>> pada 23 Januari 1950 yang didalangi Raymond Westerling, *Tirto*
>> menerbitkan serial khusus tentang aksi kekejaman perwira Belanda itu.
>> Serial ini ditayangkan setiap hari mulai Rabu (23/1/2019) hingga Sabtu
>> (26/1/2019). Artikel di atas adalah tulisan kedua.*
>>
>> Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA
>> <https://tirto.id/q/sejarah-indonesia-dwA?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowkeyword>
>> atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
>> <https://tirto.id/author/petrikmatanasi?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowauthor>
>> (tirto.id - Politik)
>>
>>
>> Penulis: Petrik Matanasi
>> Editor: Ivan Aulia Ahsan
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> 
>

Kirim email ke