Alarm Blunder Narasi untuk Jokowi 
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190206081440-32-366704/alarm-blunder-narasi-untuk-jokowi
 CNN Indonesia | Rabu, 06/02/2019 09:05 WIB
 Bagikan :    
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190206081440-32-366704/alarm-blunder-narasi-untuk-jokowi#
  
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190206081440-32-366704/alarm-blunder-narasi-untuk-jokowi#
 Jokowi dinilai perlu lebih berhati-hati dalam menyajikan narasi politik agar 
tak digembosi oleh blunder serangannya terhadap kubu oposisi. (CNN 
Indonesia/Christie Stefanie)
 
 Jakarta, CNN Indonesia -- Pemungutan suara pilpres 2019 
https://www.cnnindonesia.com/tag/pilpres-2019 menyisakan kurang dari 70 hari 
lagi. Calon petahana Joko Widodo https://www.cnnindonesia.com/tag/joko-widodo 
(Jokowi) sementara itu mulai tampil agresif dengan pernyataan-pernyataan yang 
langsung menyinggung dan menyindir kubu penantang, Prabowo Subianto 
https://www.cnnindonesia.com/tag/prabowo-subianto-Sandiaga Uno. Perubahan gaya 
ini pun diakui Jokowi pada Senin (3/2) lalu.

"Saya menyampaikan apa adanya. Ya kan, masa saya diem terus. Saya suruh diem 
terus? Saya suruh sabar terus? Ya, ndak dong. Saya sekali-kali dong," kata 
Jokowi kala itu.

 Lihat juga: Jokowi: Saya dengan Presiden Putin Sangat Baik Hubungannya 
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190206070632-32-366693/jokowi-saya-dengan-presiden-putin-sangat-baik-hubungannya/
 
Setali tiga uang, tim sukses Jokowi-Ma'ruf juga melakukan hal serupa. Bahkan, 
para menteri atau kepala daerah juga terlihat membuat pernyataan yang memicu 
kontroversi publik.

Merujuk hasil sejumlah lembaga survei, pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin belakangan 
masih unggul atas Prabowo-Sandi, meski tidak lagi mutlak. Misal, survei yang 
dilakukan Median mendapatkan selisih elektabilitas Jokowi-Ma'ruf dan 
Prabowo-Sandi hanya berjarak 9,2 persen atau berkisar 1 digit.

 Jokowi usai bertemu jajaran ketum parpol koalisi beberapa waktu lalu. (CNN 
Indonesia/Feri Agus Setyawan)

 
Pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Satria Imawan menilai kondisi 
saat ini sebenarnya bisa menjadi peringatan agar Jokowi-Ma'ruf maupun tim 
sukses untuk bekerja lebih keras lagi di sisa waktu yang ada, jika ingin 
memenangkan pilpres 2019.


"Ibarat alarm, mungkin ini sudah masuk ke dalam lampu kuning menuju merah," 
kata Satria kepada CNNIndonesia.com, Rabu (6/2).

Menurut Satria, perubahan cara Jokowi yang kini menjadi agresif atau menyerang, 
bukan persoalan utama. Namun narasi dan konten yang dibawakan Jokowi, kata dia, 
dapat berujung blunder.

"Misal, ketika menggunakan diksi Rusia. Niatnya 'menyerang', namun jika tidak 
hati-hati bisa merusak hubungan diplomatik dengan Rusia, yang notabene dipimpin 
sendiri oleh Jokowi," ujarnya.

 Lihat juga: Tim Cakra 19 Ungkap Propaganda Rusia yang Dimaksud Jokowi 
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190205171432-32-366639/tim-cakra-19-ungkap-propaganda-rusia-yang-dimaksud-jokowi/
 
Blunder narasi itu, kata Satria, juga dilakukan para tim pendukungnya seperti 
Wali Kota Semarang dengan pernyataan soal jalan tol, Menteri Komunikasi dan 
Informatika terkait 'yang gaji kamu siapa' hingga sebutan Cak Jancuk kepada 
Jokowi di salah satu deklarasi di Jawa Timur.

Satria menganggap persoalan ini muncul lantaran Jokowi seolah ingin melakukan 
efisiensi dalam berkampanye dengan melibatkan calon anggota legislatif hingga 
jajaran menteri kabinet.

"Jadi efisiensi yang dilakukan kubu Jokowi berbalik sebagai bumerang ketika 
agen-agennya melakukan blunder," kata dia.

 Calon Presiden nomor urut 01 berjalan santai bersama para pendukung di Tugu 
Adipura, Lampung, Sabtu (24/11). (CNN Indonesia/Christie Stefanie)


 
Untuk mengatasi persoalan ini, Jokowi disebut perlu menyalakan kembali 
mesin-mesin partai koalisi. Jokowi juga diminta tak segan menegur atau 
mengingatkan caleg partai koalisi agar tak berkampanye yang merugikan 
elektabilitas.

Satria juga menganggap Jokowi perlu mengevaluasi tim narasi dan konten di Tim 
Kampanye Nasional (TKN) yang dipimpin Erick Thohir. Sebab, Erick dinilai belum 
mumpuni dalam menghadapi situasi politik seperti ini.

"Erick Thohir hebat, profesional tingkat atas. Tapi di dalam politik dia baru. 
Begitu juga dengan profesional di tim TKN. Mungkin TKN bisa lebih melibatkan 
orang dengan latar belakang partai agar lebih bernarasi yang bertujuan untuk 
memenangkan suara. Karena itu tujuannya," katanya.

 Lihat juga: Ma'ruf Soal Indonesia Punah: Memangnya Dinosaurus? 
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190205151950-32-366608/maruf-soal-indonesia-punah-memangnya-dinosaurus/
 
Senada, analis politik Pangi Syarwi Chaniago menganggap berbagai bentuk blunder 
yang dibawakan Jokowi-Ma'ruf dan tim suksesnya akan berbahaya bagi 
elektabilitas di sisa waktu kurang lebih dua bulan.

Apalagi, menurut Pangi, sejumlah survei sudah menunjukkan ada kecenderungan 
elektabilitas Jokowi-Ma'ruf menurun dan stagnan. Hal ini berbanding terbalik 
dengan Prabowo-Sandi yang perlahan merangkak naik.

"Bahwa blunder tim Jokowi terus menerus jelas mengembosi elektabilitas Jokowi 
dan otomatis menguntungkan Prabowo secara elektoral. Semoga Jokowi dan timnya 
segera recovery dan belajar atas blunder yang sudah dilakukan," ujar Pangi 
dalam keterangannya.

 Lihat juga: Jokowi Klaim 'Propaganda Rusia' Dikutip dari RAND Corporation 
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190205230458-32-366666/jokowi-klaim-propaganda-rusia-dikutip-dari-rand-corporation/
 (swo/gil)

Kirim email ke