Agum Gumelar: Sukarnois dan PKI Jauh Berbeda 
https://sp.beritasatu.com/home/agum-gumelar-sukarnois-dan-pki-jauh-berbeda/128447
Selasa, 5 Februari 2019 | 22:01

 

 

 

 [JAKARTA] Kelompok masyarakat pendukung Presiden pertama sekaligus 
Proklamator, Sukarno atau Sukarnois, tak bisa diidentikan dengan Partai Komunis 
Indonesia (PKI). Sukarnois dan PKI sangat jauh berbeda.
 “Detik ini, saat ini, jangan pernah ada di pikiran-pikiran saudara-saudara 
rakyat Indonesia bahwa Sukarnois identik dengan PKI. Tidak. Sukarnois adalah 
Sukarnois, PKI ya PKI,” kata Ketua Umum Persatuan Purnawirawan dan Wakawuri 
TNI-Polri, Agum Gumelar.
 Hal itu disampaikan Agum dalam acara Deklarasi Bravo Cijantung for Joko 
Widodo-Maruf Amin (Jokowi-Maruf), Jakarta, Selasa (5/2). Menurut Agum, 
perpecahan akan selalu muncul apabila Sukarnois kerap dicap PKI.
 “Sekarang sudah terjadi rekonsoliasi secara alami. Sudah tidak ada lagi 
istilah anak komunis, cucu komunis. Tapi yang kita inginkan, jangan karena ada 
rekonsiliasi, membuat mereka bangkit. Kita harus cegah,” tegas Agum yang juga 
mantan komandan jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
 Agum menuturkan, ketika masih berpangkat kapten, dirinya pernah bertugas di 
satuan Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) pada 1974. 
Komandan Satgas Intel Kopkamtib kala itu yakni Benny Moerdani.
 Benny meminta Agum menyelidiki seorang Mayor Jenderal Polisi yang dicurigai 
seorang komunis, dan terlibat Gerakan 30 September/PKI (G30S/PKI). Agum tak 
menyebut nama perwira tinggi yang dimaksud Benny.
 Agum lantas menjalankan tugas dari atasannya itu. Menurut Agum, Benny kembali 
bertanya perihal penugasan. “Gum, apa yang di benak kamu setelah kamu dapat 
perintah seperti itu?,” demikian Agum menirukan pertanyaan Benny.
 Saat itu, Agum menjawab, kriteria keberhasilan dirinya yaitu jika dapat 
membuktikan keterlibatan Mayor Jenderal Polisi dengan PKI atau tidak. Di benak 
Agum tidak ada arahan agar orang dimaksud supaya merah atau bersalah.
 “Keberhasilan tugas saya adalah jika saya bisa membuktikan apabila merah 
dengan segala buktinya atau dia putih. Pak Benny tepuk bahu saya. Selama tiga 
bulan saya selidiki mendalam. Saya dalami betul. Saya tidak mendapatkan bukti 
dia terlibat G 30 S PKI,” ungkap Agum.
 Agum tak menemukan bukti bahwa orang tersebut anggota PKI. “Yang saya dapatkan 
adalah dia pendukung Sukarno,” ujar Agum. Agum kembali menyampaikan kepada 
Benny, adanya persepsi keliru terhadap pejabat yang Sukarnois identik PKI.
 
 “Itu bahaya, Pak. Itu keliru besar,” ucap Agum mengungkap pernyataannya kepada 
Benny. Benny tertawa mendengar hal tersebut seraya menyebut Agum seharusnya 
menangkapnya jika Sukarnois dicap komunis. [C-6]

Kirim email ke