*https://nasional.kompas.com/read/2019/01/29/19031751/indeks-persepsi-korupsi-indonesia-naik-pimpinan-kpk-berharap-lebih
<https://nasional.kompas.com/read/2019/01/29/19031751/indeks-persepsi-korupsi-indonesia-naik-pimpinan-kpk-berharap-lebih>*


* Index Persepsi Korupsi Indonesia Naik, Pimpinan KPK Berharap Lebih*
DYLAN APRIALDO RACHMAN
 Kompas.com - 29/01/2019, 19:03 WIB

Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif di Gedung KPL, Jakarta, Kamis
(11/8/2016).(KOMPAS.com/ABBA GABRILLIN) JAKARTA, KOMPAS.com - Skor Indeks
Persepsi Korupsi atau Corruption Perceptions Index (CPI) Indonesia di tahun
2018 naik 1 poin menjadi 38 dari yang sebelumnya 37 di tahun 2017 dan 2016.
Peringkat Indonesia juga naik 7 poin ke posisi ke-89 dari 180 negara.
Menanggapi hasil riset Transparency International Indonesia (TII) itu,
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) Laode M Syarif sebenarnya
berharap Indonesia bisa mencapai skor lebih baik lagi. Baca juga: Skor
Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Naik Jadi 38 "Enggak kecewa-kecewa amat,
tapi kita berharap lebih banyak meningkatnya. Tapi alhamdulillah hari ini
kita naik 1, dan peringkatnya naik lumayan signifikan sampai 7 peringkat,"
ujar Laode usai mengikuti paparan riset tersebut di Gedung Merah Putih KPK,
Jakarta, Selasa (29/1/2019). Menurut Laode, ada yang perlu diperbaiki
sesuai hasil temuan tersebut. Meski skor Indonesia naik, ada dua indeks
yang menurun dibanding tahun 2017. Berdasarkan data TII, indeks penilaian
Indonesia turun di Varieties of Democracy Project dan IMD World
Competitiveness Yearbook. Baca juga: Peluncuran Indeks Persepsi Korupsi
2018 Bertema Korupsi dan Krisis Demokrasi Indeks Varieties of Democracy
Project menyangkut pelaksanaan sistem demokrasi di suatu negara. Sedangkan
IMD World Competitiveness Yearbook menyangkut daya saing suatu negara.
Dalam indeks ini salah satu yang disinggung adalah relasi pebisnis dan
aktor politik. Dua indeks ini mengalami penurunan poin dibanding tahun
2017. Menurut Laode, perbaikan integritas para aktor politik masih menjadi
pekerjaan rumah. Laode berharap komitmen aktor politik dalam pemberantasan
korupsi bisa ditingkatkan lagi. Baca juga: Pimpinan KPK: OTT Meningkat,
tetapi Indeks Persepsi Korupsi Stagnan Sebab, mereka terkadang abai dengan
hal-hal yang sebenarnya bisa mendongkrak aspek pencegahan korupsi. "Kasus
yang ditangani KPK dari segi aktor yang paling banyak itu elected official,
bupati, DPR dan gubernur. Seharusnya yang memberi contoh itu adalah
aktor-aktor politik, tetapi mereka yang terkadang merusak," ujar dia. Skor
penegakan hukum Laode juga menyoroti indeks World Justice Project yang
stagnan dengan skor 20. Indeks ini menyoroti pelaksanaan penegakan hukum di
suatu negara. "Khusus yang angkanya 20 itu, itu yang sedang kita pikirkan
bersama, apa program aksinya, sebetulnya ada beberapa hal," kata dia. Baca
juga: Ketua KPK: Pertumbuhan Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Tertinggi di
Dunia Ia mencontohkan, KPK mendorong Badan Pengawas Mahkamah Agung (MA) dan
Komisi Yudisial (KY) untuk meningkatkan integritas aparatur peradilan.
Selain itu, perbaikan sistem rekrutmen di kejaksaan juga menjadi poin
penting yang perlu diperhatikan. Di kepolisian, KPK juga mendorong
perbaikan sistem peningkatan karier serta sistem tindak lanjut pelaporan
masyarakat agar tak mengalami penundaan berlarut. "Soal rekrutmen polisi,
sebenarnya sudah lumayan jauh lebih bagus," kata Laode. Baca juga: Nilai
Indeks Penilaian Integritas Rendah, Ini Tanggapan Polri Laode juga
menyoroti adanya perbaikan gaji yang proporsional bagi polisi dan aparatur
peradilan. Laode turut menekankan pemanfaatan Satuan Tugas Sapu Bersih
Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli) secara maksimal. "Di samping berupaya
untuk memberantas korupsi yang ada di masyarakat itu pada saat yang sama
juga itu perlu meningkatkan kualitas kinerja di bagian dalam itu," kata
dia. Baca juga: Indeks Penilaian Integritas 2017: Pemkot Banda Aceh
Tertinggi, Pemprov Papua Terendah Selain itu Peraturan Presiden Nomor 54
Tahun 2018 tentang Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) juga
bisa dimanfaatkan secara maksimal dalam mendorong efektivitas pencegahan
korupsi. Stranas PK mencakup tiga fokus pencegahan, yaitu perizinan dan
tata niaga, keuangan negara dan penegakan hukum serta reformasi birokrasi.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com <http://kompas.com/> dengan judul
"Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Naik, Pimpinan KPK Berharap Lebih",
https://nasional.kompas.com/read/2019/01/29/19031751/indeks-persepsi-korupsi-indonesia-naik-pimpinan-kpk-berharap-lebih
..
Penulis : Dylan Aprialdo Rachman
Editor : Diamanty Meiliana

Kirim email ke