Lebih lanjut, seperti dicatat Didi, sewaktu kecil Ruslan Abdulgani pernah 
mendengar lagu Jawa dengan lirik “es gandul ditaleni merang, Cina gundul ora 
wani perang.” Artinya kira-kira: es gandul diikat jerami, Cina gundul tak 
berani perang.” 
....
 

Hari Raya Imlek: Sejarah Orang-Orang Tionghoa di KNIL



| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Hari Raya Imlek: Sejarah Orang-Orang Tionghoa di KNIL - Tirto.ID

Orang Tionghoa ada yang jadi perwira kesehatan KNIL. Ada pula yang pernah jadi 
taruna akademi militer Belanda di...
 |

 |

 |




Latihan sukarelawan batalion KNIL di Jakarta (28/10/47). FOTO/Wikicommon


Oleh: Petrik Matanasi - 5 Februari 2019Dibaca Normal 3 menitOrang Tionghoa ada 
yang jadi perwira kesehatan KNIL. Ada pula yang pernah jadi taruna akademi 
militer Belanda di Bandung.tirto.id - Di Batalion Depot KNIL Bandung yang sudah 
berubah jadi tawanan perang, pada 22 April 1942, ada rencana dari militer fasis 
Jepang untuk menggunduli tawanan perang mereka. “Kami akan diberi tanda khusus 
yang bakal menyulitkan,” tutur Alex Kawilarang dalam memoarnya yang disusun 
Ramadhan K.H., AE Kawilarang: Untuk Sang Merah Putih (1988: 5). 

Waktu itu Alex adalah salah satu tawanan mereka. Di antara mereka yang pernah 
dididik di Akademi Militer Kerajaan Belanda di Bandung, Alex paling senior. 
Jadilah dia orang yang paling didengar oleh jebolan akademi militer yang 
pribumi. Menghindari penggundulan, Alex dan junior-juniornya memilih kabur pada 
malam sebelum 22 April.

Sekitar jam 10 malam mereka bergerak. Alex membagi mereka dalam tiga kelompok. 
Ada Suprio bersama Mokoginta, Kadir bersama Suprapto, dan Alex bersama Rachmat 
Suryo dan Tjhwa Siong Pik. Per lima menit mereka bergerak ke luar. Di bawah 
hujan mereka menembus pagar kawat berduri. Setelah lewat tengah malam mereka 
sudah di luar kamp dan dengan hati-hati merayap di selokan menghindari serdadu 
Jepang yang belum tahu mereka kabur. Seragam serdadu mereka buang dan segera 
mencari tempat sembunyi.

“Rencana kami adalah: saya akan ke rumah dulu (di Bandung) dan sesudah dua jam 
saya akan bertemu lagi dengan Suryo dan Tjhwa di rumah bibi Suryo. Esok hari 
saya dan Tjhwa akan ke Batavia (Jakarta),” kenang Alex.

Rachmat Suryo enggan ke Jakarta karena banyak yang kenal dirinya. Paginya, Alex 
bersama Tjhwa ke Jakarta. Tjhwa harus kecewa karena tak ada kereta ke Jakarta 
lewat Karawang, tapi harus lewat Sukabumi. Alex akhirnya berpisah dengan Tjhwa.

“Tjhwa Siong Pik akan pergi ke Malang, ke kota asalnya,” ingat Alex. 

Mereka pun mencari hidup sendiri-sendiri dulu di zaman Jepang yang susah itu. 
“Kabar yang saya dapatkan kelak menyedihkan. Tjhwa tertangkap di kota itu pada 
tahun 1945 dan ditembak mati oleh Kenpeitai (Polisi Militer Jepang),” catat 
Alex. 

Di zaman Jepang, orang Tionghoa termasuk golongan yang hidup sulit. Mereka 
rentan dipersekusi atau dibunuh Jepang.

Baca juga: Alex Kawilarang, Tentara Lurus Perintis Kopassus

Para Taruna
Tjhwa Siong Pik adalah contoh unik di KNIL karena tidak banyak orang Tionghoa 
yang bergabung di kemiliteran Hindia Belanda itu. Akademi militer menerima 
pemuda yang punya ijazah AMS atau HBS. Tjhwa punya ijazah tersebut. De Indische 
Courant (12/6/1939) memberitakan Tjhwa dinyatakan lulus HBS pada 1939. Dari 11 
peserta, dia termasuk 5 orang yang lulus.

Tjhwa bukan pula satu-satunya taruna akademi militer yang beretnis Tionghoa.. 
Menurut Alex Kawilarang, masih ada Liem King Ien, Lim Kay Hoen, dan W. Tan. Dua 
nama pertama waktu di akademi disiapkan sebagai calon perwira infanteri, 
sementara W. Tan adalah calon perwira administrasi. 

Seperti diingat Alex dan diberitakan De Indische Courant (16/7/1941), Tjhwa 
disiapkan sebagai calon perwira artileri. Di tahun 1947, koran Het Dagblad 
(26/4/1947) memberitakan bahwa Kwee Swan Nio atau Hoo Nga Tjoe yang mencari 
Tjhwa.

Di luar nama-nama yang disebut Alex Kawilarang, ada beberapa orang Tionghoa di 
atas generasinya yang jadi perwira KNIL. Ada yang masuk bagian kesehatan, ada 
pula yang ditolak masuk akademi militer.

Kang Ing Gwan, misalnya. Ia dikenal sebagai pemuda Tionghoa cerdas asal Malang. 
Seperti dicatat koran Matahari dan Kaoem Moeda (4/10/1940), pemuda yang 
nilainya memenuhi syarat ini, setelah dua bulan masa percobaan, ditolak masuk 
akademi militer pada 27 September 1940. 

Baca juga: Bubarnya Angkatan Perang Hindia Belanda: KNIL

Para Perwira Kesehatan
Seturut Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI AD (1989: 4), 
terdapat Oei Tiam Goan (kelahiran 1898) yang jadi perwira kesehatan kelas dua 
sejak 1927 dan sejak 1935 sudah jadi perwira kesehatan kelas satu. Pada 1941 
dia sudah berpangkat kapten di KNIL. 

Lebih muda dari Oei ada Letnan Satu The Bing Tjiauw (kelahiran 1910) yang sejak 
1934 sudah berpangkat letnan satu selaku perwira kesehatan kelas dua. Satu lagi 
adalah Laij Moek Fo (kelahiran 1906) yang menjadi perwira kesehatan kelas dua 
dengan pangkat letnan satu pada 1934. 

Berita pengangkatan Laij Moek Fo sebagai perwira kesehatan kelas dua dimuat 
dalam Haagsche Courant (7/6/1934). Disebutkan bahwa kala itu Moek Fo tinggal di 
Jalan Jan van Eyk 22II, Amsterdam. Nieuwe Courant (5/2/1949) memberitakan Moek 
Fo mendapat brevet militer untuk kesehatan penerbangan. Acara pemberiannya 
dilakukan di Lapangan Udara Andir, Bandung.

Surat kabar De Preangerbode (6/12/1950) memberitakan bahwa hari Kamis jam 
setengah delapan dr. Laij Moek Fo memberikan ceramah soal fisiologi dalam 
penerbangan di depan anggota Aero Club. Ceramah itu digelar di Hotel Savoy 
Homann, Bandung. Selama di KNIL Moek Fo adalah dokter dalam penerbangan 
militer. Buku Kesehatan TNI-AU: Lintasan Sejarah (2003) menyebut dia ikut 
menguji dokter penerbangan AURI pada 1951. Pangkatnya dalam militer Belanda 
adalah mayor.

Sementara itu, mengenai The Bing Tjiauw, koran Bataviaasch 
Nieuwsblad(30/11/1935) menyebut, "[telah] diangkat personel bagian medis KNIL, 
perwira kesehatan kelas dua, The Bing Tjiauw, dokter, yang dilatih untuk 
pekerjaan tersebut." 

Pada 1937, Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (23/8/1937) 
melaporkan bahwa The Bing Tjiauw dimutasi dari Jakarta ke Toli-toli, Sulawesi.



Terkait Oei Tiam Goan, koran De Indische Courant (12/11/1927) memberitakan 
mutasinya dari Magelang ke Piru (Maluku) pada akhir 1927. Pada 1930, Oei Tiam 
Goan dipindah dari Piru ke Ambon. 

Bataviaasch Nieuwsblad (24/1/1934) memberitakan lagi soal dirinya. Setelah 
dinas tujuh tahun, pada awal 1934 Oei Tiam Goan dapat cuti liburan selama 9 
bulan di Eropa. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (16/3/1939) 
memberitakan mutasi Oei Tiam Goan, yang sudah menjadi perwira kesehatan kelas 
satu, dari Cimahi ke Gombong. 

Soal orang-orang Tionghoa yang menjadi tentara, memang tidak banyak yang 
mencatat. Tidak hanya di KNIL, di TNI pun ada orang-orang Tionghoa. “Stereotip 
selaku golongan pengecut—yang tidak berani memegang senjata dan maju 
berperang—rupanya masih diabadikan hingga di abad XX melalui tradisi lisan,” 
tulis Didi Kwartanada dalam pengantarnya untuk buku Tionghoa Dalam Sejarah 
Kemiliteran: Sejak Nusantara Sampai Indonesia (2013: xxv-xxvi). 

Lebih lanjut, seperti dicatat Didi, sewaktu kecil Ruslan Abdulgani pernah 
mendengar lagu Jawa dengan lirik “es gandul ditaleni merang, Cina gundul ora 
wani perang.” Artinya kira-kira: es gandul diikat jerami, Cina gundul tak 
berani perang.” 

Lagu itu tentu saja mitos. Jangan lupa, pernah ada Geger Pecinan pada 1740, di 
mana orang-orang Tionghoa perang besar melawan VOC.
Baca juga artikel terkait HARI RAYA IMLEK atau tulisan menarik lainnya Petrik 
Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya) 


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan

Kirim email ke