Liem Keng Ien saya pernah ketemu di negeri Belanda.. Waktu itu sudah agak tua, tinggi besar, masih gagah. Selalu datang pada peringatan 4 Mei, Doden Herdenking di Dam , Amsterdam. Sudah lama meninggal.
Pada tanggal Rab, 6 Feb 2019 pukul 16.52 Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis: > > > Lebih lanjut, seperti dicatat Didi, sewaktu kecil Ruslan Abdulgani pernah > mendengar lagu Jawa dengan lirik “es gandul ditaleni merang, Cina gundul > ora wani perang.” Artinya kira-kira: es gandul diikat jerami, Cina gundul > tak berani perang.” > ... > Hari Raya Imlek: Sejarah Orang-Orang Tionghoa di KNIL > <https://tirto.id/hari-raya-imlek-sejarah-orang-orang-tionghoa-di-knil-dfQo> > > Hari Raya Imlek: Sejarah Orang-Orang Tionghoa di KNIL - Tirto.ID > > Orang Tionghoa ada yang jadi perwira kesehatan KNIL. Ada pula yang pernah > jadi taruna akademi militer Belanda di... > > <https://tirto.id/hari-raya-imlek-sejarah-orang-orang-tionghoa-di-knil-dfQo> > > > [image: Latihan sukarelawan batalion KNIL di Jakarta (28/10/47). > FOTO/Wikicommon] > <https://tirto.id/hari-raya-imlek-sejarah-orang-orang-tionghoa-di-knil-dfQo> > Latihan sukarelawan batalion KNIL di Jakarta (28/10/47). FOTO/Wikicommon > > > Oleh: Petrik Matanasi - 5 Februari 2019 > Dibaca Normal 3 menit > *Orang Tionghoa ada yang jadi perwira kesehatan KNIL. Ada pula yang pernah > jadi taruna akademi militer Belanda di Bandung.* > tirto.id - Di Batalion Depot KNIL Bandung yang sudah berubah jadi tawanan > perang, pada 22 April 1942, ada rencana dari militer fasis Jepang untuk > menggunduli tawanan perang mereka. “Kami akan diberi tanda khusus yang > bakal menyulitkan,” tutur Alex Kawilarang dalam memoarnya yang disusun > Ramadhan K.H., *AE Kawilarang: Untuk Sang Merah Putih *(1988: 5). > > Waktu itu Alex adalah salah satu tawanan mereka. Di antara mereka yang > pernah dididik di Akademi Militer Kerajaan Belanda di Bandung, Alex paling > senior. Jadilah dia orang yang paling didengar oleh jebolan akademi militer > yang pribumi. Menghindari penggundulan, Alex dan junior-juniornya memilih > kabur pada malam sebelum 22 April. > > Sekitar jam 10 malam mereka bergerak. Alex membagi mereka dalam tiga > kelompok. Ada Suprio bersama Mokoginta, Kadir bersama Suprapto, dan Alex > bersama Rachmat Suryo dan Tjhwa Siong Pik. Per lima menit mereka bergerak > ke luar. Di bawah hujan mereka menembus pagar kawat berduri. Setelah lewat > tengah malam mereka sudah di luar kamp dan dengan hati-hati merayap di > selokan menghindari serdadu Jepang yang belum tahu mereka kabur. Seragam > serdadu mereka buang dan segera mencari tempat sembunyi. > > “Rencana kami adalah: saya akan ke rumah dulu (di Bandung) dan sesudah dua > jam saya akan bertemu lagi dengan Suryo dan Tjhwa di rumah bibi Suryo. Esok > hari saya dan Tjhwa akan ke Batavia (Jakarta),” kenang Alex. > > Rachmat Suryo enggan ke Jakarta karena banyak yang kenal dirinya. Paginya, > Alex bersama Tjhwa ke Jakarta. Tjhwa harus kecewa karena tak ada kereta ke > Jakarta lewat Karawang, tapi harus lewat Sukabumi. Alex akhirnya berpisah > dengan Tjhwa. > > “Tjhwa Siong Pik akan pergi ke Malang, ke kota asalnya,” ingat Alex. > > Mereka pun mencari hidup sendiri-sendiri dulu di zaman Jepang yang susah > itu. “Kabar yang saya dapatkan kelak menyedihkan. Tjhwa tertangkap di kota > itu pada tahun 1945 dan ditembak mati oleh Kenpeitai (Polisi Militer > Jepang),” catat Alex. > > Di zaman Jepang, orang Tionghoa termasuk golongan yang hidup sulit. Mereka > rentan dipersekusi atau dibunuh Jepang. > > Baca juga: Alex Kawilarang, Tentara Lurus Perintis Kopassus > <https://tirto.id/alex-kawilarang-tentara-lurus-perintis-kopassus-cmQ7> > > Para TarunaTjhwa Siong Pik adalah contoh unik di KNIL karena tidak banyak > orang Tionghoa yang bergabung di kemiliteran Hindia Belanda itu. Akademi > militer menerima pemuda yang punya ijazah AMS atau HBS. Tjhwa punya ijazah > tersebut. *De Indische Courant* (12/6/1939) memberitakan Tjhwa dinyatakan > lulus HBS pada 1939. Dari 11 peserta, dia termasuk 5 orang yang lulus. > > Tjhwa bukan pula satu-satunya taruna akademi militer yang beretnis > Tionghoa. Menurut Alex Kawilarang, masih ada Liem King Ien, Lim Kay Hoen, > dan W. Tan. Dua nama pertama waktu di akademi disiapkan sebagai calon > perwira infanteri, sementara W. Tan adalah calon perwira administrasi.. > > Seperti diingat Alex dan diberitakan *De Indische Courant* (16/7/1941), > Tjhwa disiapkan sebagai calon perwira artileri.. Di tahun 1947, koran *Het > Dagblad *(26/4/1947) memberitakan bahwa Kwee Swan Nio atau Hoo Nga Tjoe > yang mencari Tjhwa. > > Di luar nama-nama yang disebut Alex Kawilarang, ada beberapa orang > Tionghoa di atas generasinya yang jadi perwira KNIL. Ada yang masuk bagian > kesehatan, ada pula yang ditolak masuk akademi militer. > > Kang Ing Gwan, misalnya. Ia dikenal sebagai pemuda Tionghoa cerdas asal > Malang. Seperti dicatat koran *Matahari* dan *Kaoem Moeda* (4/10/1940), > pemuda yang nilainya memenuhi syarat ini, setelah dua bulan masa percobaan, > ditolak masuk akademi militer pada 27 September 1940. > > Baca juga: Bubarnya Angkatan Perang Hindia Belanda: KNIL > <https://tirto.id/bubarnya-angkatan-perang-hindia-belanda-knil-cs5N> > > Para Perwira KesehatanSeturut Harsya Bachtiar dalam *Siapa Dia Perwira > Tinggi TNI AD *(1989: 4), terdapat Oei Tiam Goan (kelahiran 1898) yang > jadi perwira kesehatan kelas dua sejak 1927 dan sejak 1935 sudah jadi > perwira kesehatan kelas satu. Pada 1941 dia sudah berpangkat kapten di > KNIL. > > Lebih muda dari Oei ada Letnan Satu The Bing Tjiauw (kelahiran 1910) yang > sejak 1934 sudah berpangkat letnan satu selaku perwira kesehatan kelas dua. > Satu lagi adalah Laij Moek Fo (kelahiran 1906) yang menjadi perwira > kesehatan kelas dua dengan pangkat letnan satu pada 1934. > > Berita pengangkatan Laij Moek Fo sebagai perwira kesehatan kelas dua > dimuat dalam *Haagsche Courant* (7/6/1934). Disebutkan bahwa kala itu > Moek Fo tinggal di Jalan Jan van Eyk 22II, Amsterdam. *Nieuwe Courant* > (5/2/1949) > memberitakan Moek Fo mendapat brevet militer untuk kesehatan penerbangan. > Acara pemberiannya dilakukan di Lapangan Udara Andir, Bandung. > > Surat kabar *De Preangerbode* (6/12/1950) memberitakan bahwa hari Kamis > jam setengah delapan dr. Laij Moek Fo memberikan ceramah soal fisiologi > dalam penerbangan di depan anggota Aero Club. Ceramah itu digelar di > Hotel Savoy Homann, Bandung. Selama di KNIL Moek Fo adalah dokter dalam > penerbangan militer. Buku *Kesehatan TNI-AU: Lintasan Sejarah* (2003) > menyebut dia ikut menguji dokter penerbangan AURI pada 1951. Pangkatnya > dalam militer Belanda adalah mayor. > > Sementara itu, mengenai The Bing Tjiauw, koran *Bataviaasch > Nieuwsblad*(30/11/1935) > menyebut, "[telah] diangkat personel bagian medis KNIL, perwira kesehatan > kelas dua, The Bing Tjiauw, dokter, yang dilatih untuk pekerjaan tersebut.." > > Pada 1937, *Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië* (23/8/1937) > melaporkan bahwa The Bing Tjiauw dimutasi dari Jakarta ke Toli-toli, > Sulawesi. > > [image: Infografik Perwira KNIL Tionghoa] > > > Terkait Oei Tiam Goan, koran *De Indische Courant* (12/11/1927) > memberitakan mutasinya dari Magelang ke Piru (Maluku) pada akhir 1927. Pada > 1930, Oei Tiam Goan dipindah dari Piru ke Ambon. > > *Bataviaasch Nieuwsblad* (24/1/1934) memberitakan lagi soal dirinya. > Setelah dinas tujuh tahun, pada awal 1934 Oei Tiam Goan dapat cuti liburan > selama 9 bulan di Eropa. *Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië* > (16/3/1939) > memberitakan mutasi Oei Tiam Goan, yang sudah menjadi perwira kesehatan > kelas satu, dari Cimahi ke Gombong. > > Soal orang-orang Tionghoa yang menjadi tentara, memang tidak banyak yang > mencatat. Tidak hanya di KNIL, di TNI pun ada orang-orang Tionghoa. > “Stereotip selaku golongan pengecut—yang tidak berani memegang senjata dan > maju berperang—rupanya masih diabadikan hingga di abad XX melalui tradisi > lisan,” tulis Didi Kwartanada dalam pengantarnya untuk buku *Tionghoa > Dalam Sejarah Kemiliteran: Sejak Nusantara Sampai Indonesia *(2013: > xxv-xxvi). > > Lebih lanjut, seperti dicatat Didi, sewaktu kecil Ruslan Abdulgani pernah > mendengar lagu Jawa dengan lirik “es gandul ditaleni merang, Cina gundul > ora wani perang.” Artinya kira-kira: es gandul diikat jerami, Cina gundul > tak berani perang.” > > Lagu itu tentu saja mitos. Jangan lupa, pernah ada Geger Pecinan > <https://tirto.id/13-hari-pembantaian-orang-cina-di-jakarta-cx2Y> pada > 1740, di mana orang-orang Tionghoa perang besar melawan VOC. > > Baca juga artikel terkait HARI RAYA IMLEK > <https://tirto.id/q/hari-raya-imlek-lsF?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowkeyword> > atau > tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi > <https://tirto.id/author/petrikmatanasi?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowauthor> > (tirto.id - Sosial Budaya) > > > Penulis: Petrik Matanasi > Editor: Ivan Aulia Ahsan > > >
