What!!!!!!!
 Dibeli sekian billion dollar, duit utangan lagi!!!!
 

 ---

 Di laporan keuangan PTFI disebut Rio Tinto menyuntik investasi US$ 75 juta 
untuk menggarap tambang Grasberg. Untuk investasi itu, Rio Tinto kemudian 
mendapat hak partisipasi 40%. Hingga 2017, total investasi yang telah 
dikucurkan Rio Tinto mencapai US$ 166 juta.

 ...
 Saham Rio Tinto di Freeport Disebut 'Bodong', Benarkah? 
https://www.cnbcindonesia.com/news/20190206131035-4-54041/saham-rio-tinto-di-freeport-disebut-bodong-benarkah
 NEWS - Gustidha Budiartie, CNBC Indonesia
  

 06 February 2019 13:23
 

 Foto: Penandatanganan Sales & Purchase Agreement antara PT Inalum, PT 
Freeport-McMoRan Inc dan PT Rio Tinto Indonesia (CNBC Indonesia/Lidya Julita S)
 
 
 Jakarta, CNBC Indonesia- Hari ini beredar rilis dari beberapa pengamat yang 
tergabung dalam Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan SDA Minerba 
https://www.cnbcindonesia.com/news/20190206105352-4-53991/baru-rampung-ada-yang-minta-akusisi-freeport-dibatalkan.
 Mereka menuntut akuisisi 51,2% saham Freeport yang diteken Desember lalu, 
dibatalkan. 

Salah satu yang jadi alasan pembatalan adalah mereka menilai saham partisipasi 
sebanyak 40% yang terdapat di PT Freeport Indonesia 
https://www.cnbcindonesia.com/news/20180718113204-4-24115/polemik-rio-tinto-di-tambang-freeport-ini-sejarahnya
 adalah saham bodong dan tak jelas.

 Baca:Baru Rampung, Ada yang Minta Akusisi Freeport Dibatalkan 
https://www.cnbcindonesia.com/news/20190206105352-4-53991/baru-rampung-ada-yang-minta-akusisi-freeport-dibatalkan

Seperti diketahui, pemerintah Indonesia melalui PT Inalum (Persero) telah resmi 
membayar US$ 3,85 miliar untuk mengakuisisi saham Freeport MacMoran (Freeport) 
di PT Freeport Indonesia (PTFI) pada 21 Desember 2018 
https://www.cnbcindonesia.com/news/20181220154940-4-47307/ini-rincian-utang-ri-untuk-akuisisi-51-saham-freeport.
 Dana sebesar US$ 3,85 miliar tersebut merupakan pembelian 40% saham Rio Tinto 
yang membentuk joint venture dengan Freeport di PTFI (US$ 3,5 miliar), dan 100% 
saham FMM di PT Indocopper Investama (PTII) yang memiliki 9.36% saham di PTFI 
(US$ 350 juta). 

 

"Salah satu alasan penting yang menjadi dasar sikap kami adalah tingginya biaya 
akuisisi saham akibat adanya konspirasi dan manipulasi skema kerja sama FCX 
dengan Rio Tinto dalam pemilikan Participating Interset (PI), serta adanya 
potensi dan dugaan mark-up harga atas 40% PI Rio Tinto yang nilanya mencapai 
US$ 3,5 miliar," tulis para pakar tersebut dalam keterangan tertulis, Rabu 
(6/2/2019).

Mereka mengutip buku karya Mantan Dirjen Minerba ESDM Simon Sembiring, yang 
mengatakan PI Rio Tinto ilegal dengan pertimbangan berikut. 

• Surat rahasia persetujuan oleh Mentamben I.B. Sujana kepada Rio Tinto pada 
April 1996 tidak lazim dan melanggar ketentuan Pasal 28 ayat 2  KK Freeport. 
Pasal 28 menjelaskan bahwa setiap surat menyurat antara PTFI kepada Pemerintah 
Indonesia harus di tujukan kepada Direktur Jenderal Pertambangan Umum. 
Sedangkan surat rahasia tersebut berkode "SJ" yang artinya ditujukan dan 
melalui Sekretariat Jenderal;

• Adanya kesepakatan PI Rio Tinto tidak pernah diketahui oleh Menteri ESDM dan 
Dirjen Minerba setelah periode Mentambem I.B. Sujana, dan baru terbongkar pada 
saat proses negoisiasi antara Inalum dengan Freeport, sekitar bulan Agustus 2017

• Dalam surat rahasia tersebut, persetujuan atas PI Rio Tinto adalah atas 
sesuatu yang akan terjadi nanti di belakang hari. Persetujuan PI hanya berlaku 
pada kegiatan selain blok A, dan tidak berlaku pada kegiatan eksisting di Blok 
A yang memiliki cadangan raksasa;

• Adanya PI Rio Tinto tidak pernah tercermin di dalam RKAB (Rencana Kerja 
Anggaran Biaya) yang merupakan kewajiban rutin tahunan yang harus diajukan oleh 
setiap pemegang KK atau PKP2B. RKAB hanya akan dijalankan oleh pemegang KK atau 
PKP2B untuk kegiatan tambang hanya setelah disetujui oleh Dirjen Minerba. 

"Ternyata selama puluhan tahun, PI Rio Tinto yang memang bodong tidak pernah 
tercermin dalam RKAB," tulisnya. 

Inalum dan Polemik Rio Tinto

Soal Rio Tinto ini, sebenarnya Inalum telah menjelaskan berkali-kali posisinya. 

Dikutip dari Fact Sheet persero terkait akuisisi Freeport, Inalum menulis bahwa 
pada tahun 1996, Rio Tinto dan FCX menandatangani "participation agreement" 
atau disebut juga "participating interest" (Hak Partisipasi) yang intinya 
memberikan hak atas hasil produksi dan kewajiban atas biaya operasi PTFI 
sebesar 40% sampai dengan tahun 2022, dengan kondisi produksi diatas level yang 
sudah disepakati bersama (metal strip). 

Mulai tahun 2023 Rio Tinto akan mendapatkan hak dan kewajiban penuh sebesar 40% 
dari produksi dan biaya operasi, tanpa metal strip atau batasan, hingga 2041. 

Simak Penjelasan Lengkap Bos Inalum soal Polemik Rio Tinto di Video Ini

 


Menteri ESDM RI telah menyetujui skema kerjasama operasi antara Rio Tinto 
dengan FCX ini pada tanggal 29 April 1996. Kerjasama operasi ini, walaupun 
tidak mempengaruhi komposisi saham PTFI, namun mempengaruhi komposisi pembagian 
hasil produksi PTFI. 

Jika skema Rio Tinto ini tidak diselesaikan, maka akan berdampak pada 
berkurangnya pendapatan negara dari dividen. Contoh: jika produksi 100 ton, 
maka Rio Tinto akan langsung mendapat 40 ton, dan sisa 60 ton dibagi antara 
Indonesia dan FCX yang hasil akhirnya tercermin dalam dividen. 
Intinya, polemik Rio Tinto memang terjadi di zaman Orde Baru. Tapi Inalum 
memastikan surat ini sudah diteken oleh dua menteri sekaligus saat itu, yakni 
Menteri ESDM dan Menteri Keuangan. 

Direktur Utama Inalum Budi Gunadi Sadikin juga sempat menjelaskan soal polemik 
Rio Tinto ini. Budi menjelaskan hadirnya Rio Tinto sudah lama di Freeport, 
meski tim negosiasi baru mengetahuinya belakangan ini. 

Baca: Polemik Rio Tinto dan Sejarahnya di Freeport 
https://www.cnbcindonesia.com/news/20180718113204-4-24115/polemik-rio-tinto-di-tambang-freeport-ini-sejarahnya

"Mulainya tahun 1995, Rio Tinto tanda tangan dengan Freeport McMoran (FCX) 
untuk pembiayaan investasi di Grasberg, lalu kemudian isitilah mudahnya ini 
diijon oleh Freeport," kata Budi. 
Tahun 1996, perjanjian antara Freeport McMoran dan Rio Tinto itu diubah 
menjadi perjanjian lokal. "Ini diminta oleh pemerintah Indonesia, yang saya 
lihat suratnya disetujui oleh Menteri ESDM dan Menteri Keuangan," jelasnya.

Soal kehadiran Rio Tinto ini juga sebenarnya terus dimasukkan dalam laporan 
keuangan Freeport yang diunggah oleh Freeport McMoran di situsnya. 

Di laporan keuangan PTFI disebut Rio Tinto menyuntik investasi US$ 75 juta 
untuk menggarap tambang Grasberg. Untuk investasi itu, Rio Tinto kemudian 
mendapat hak partisipasi 40%. Hingga 2017, total investasi yang telah 
dikucurkan Rio Tinto mencapai US$ 166 juta.

Tapi benarkah hanya sebesar itu, sampai-sampai Freeport rela ijon dengan Rio 
Tinto?
PT Freeport Indonesia pernah menyebut bahwa untuk investasi tambang bawah tanah 
hingga 2041, diperlukan investasi sebanyak US$ 20 miliar. "Kalau 20 tahun saja 
butuh Rp 20 miliar, tampaknya investasi Rio Tinto di Freeport bisa kisaran 
segitu atau lebih," jelas Budi. 

Lalu, mengapa RI wajib beli saham Rio Tinto?
Budi menjelaksan di PT Freeport Indonesia (PTFI), ada yang namanya Equity 
Interest dan ada Economic Interest.

Untuk equity interest, komposisinya adalah: 
a. 9,36% pemerintah Indonesia
b. 90,64% Freeport McMoran (induk dari PTFI, di dalamnya termasuk saham 
Indocopper Investama yang sudah dibeli oleh Freeport)

Sementara untuk economic interest, karena ada perjanjian antara Freeport dan 
Rio Tinto, di mana setiap produksi yang dihasilkan dari tambang Grasberg harus 
dipotong terlebih dulu sebesar 40% untuk Rio Tinto. Jadi komposisinya sebagai 
berikut:

Rio Tinto 40%, sementara sisa 60%nya dibagi untuk PTFI dan Pemerintah 
Indonesia. Jadi, porsi 9,36% yang dimiliki Indonesia sebenarnya adalah 9,36% 
dari 60% hasil produksi. 

Sehingga komposisi economic interest menjadi sebagai berikut:
a. Rio Tinto 40%
b. PT Freeport Indonesia 54,6%
c. Pemerintah Indonesia 5,4%

 Foto: Presiden RI Joko Widodo bersama para menteri dan bos Freeport (Ist)



Nah, PT Freeport Indonesia membuat perjanjian di mana hak partisipasi Rio Tinto 
40% ini setelah 2022 akan dikonversi menjadi saham. Sehingga makin kompleks-lah 
hubungan segitiga antara Freeport, Rio Tinto, dan Indonesia. 

Menurut Budi, ketimbang didiamkan dan nanti begitu Indonesia jadi pemegang 
saham mayoritas tanpa akuisisi Rio Tinto, risikonya begitu dapat hasil tambang 
tidak langsung jatuh ke Indonesia terlebih dulu, tapi dipotong 40% untuk Rio 
Tinto. "Kalau langsung masuk dari PT Freeport Indonesia dapatnya cuma 31%," 
tambahnya. Untuk itulah akhirnya RI perlu akuisisi 40% saham Rio Tinto.



(roy)

 

Kirim email ke