*Sebagusnya  penduduk Jakarta yang hidup sehari-hari dari tangan ke mulut
supaya tidak bisa mati untuk dikuburkan di ibukota  rezim
neo-Mojopahit,karena mahal ongkos penguburan. Hidup susah, kembali ke
tempat istirahat abadi  pun mahal. Barangkali ada solusi kalau salah sungai
di Jakarta misalnya Ciliwung di bikin seperti sungai Ganges di India, yaitu
mayat dibakar dan abu mayat atau sisa badan yang tidak terbakar dibuang ke
sungai*.

* 
https://kumparan.com/@kumparannews/mahalnya-dikubur-di-jakarta-1549509884870229090
<https://kumparan.com/@kumparannews/mahalnya-dikubur-di-jakarta-1549509884870229090>*


<https://kumparan.com/@kumparannews>
kumparanNEWS
Tidak hanya breaking news, tapi juga dalam, akurat dan kredibel
<https://kumparan.com/@kumparannews>
Ikuti
7 Februari 2019 4:24 WIB
4
4
Mahalnya Dikubur di Jakarta
Konten spesial biaya mahal makam Jakarta Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Selayaknya kelahiran, kematian juga kerap disambut dengan cara agung. Tak
heran banyak upacara adat pemakaman yang sakral dengan rangkaian panjang
dan menghabiskan biaya besar. Namun tak semua orang mampu dan mau
menyelenggarakannya. Oleh karena itu sejumlah Pemerintah Daerah memberikan
fasilitas pemakaman berbiaya murah bahkan gratis, salah satunya DKI
Jakarta. Menurut Perda DKI Nomor 1 Tahun 2015 tentang Retribusi Daerah,
pengurusan pemakaman di Jakarta maksimal dipatok harga Rp 275 ribu, bahkan
gratis. Angka itu meliputi biaya sewa lahan selama 3 tahun dari Rp 0-100
ribu, sewa ambulans Rp 100 ribu, dan biaya pemakaian peralatan perawatan
jenazah Rp 75 ribu. Sayangnya yang terjadi di lapangan jauh berbeda. Salah
seorang korban, Rangga, mengaku keluarganya harus membayar sekitar Rp 4
juta untuk mengurus pemakaman ayahnya yang meninggal pada 28 Juli 2018
lalu. Sang ayah dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan. "Seingatku
(biayanya) Rp 4 juta. Bloknya ini emang sudah semacam pemakaman keluarga
karena pakde, bapak, dan omku dimakamkan dekat-dekatan di sana," kata
Rangga kepada kumparan, Selasa (5/2).
Warga berziarah ke makam keluarga di TPU Karet. Foto: Puti Cinintya Arie
Safitri/kumparan

Dengan uang Rp 4 juta itu, fasilitas yang didapat adalah sewa tanah, gali
kubur, tenda, dan kursi. Sedangkan ambulans menyewa dari musala dekat
tempat tinggal mereka di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur. Untuk biaya
perawatan makam, keluarga Rangga membayar sekitar Rp 150 ribu per bulan.
Uang itu diserahkan langsung kepada perawat makam. Kondisi yang lebih parah
dialami keluarga Anissa Sadino yang juga memanfaatkan TPU Jeruk Purut.
Nissa menyebut keluarganya dipungut biaya sekitar Rp 5 juta untuk mengurus
pemakaman ayahnya yang meninggal pada 30 Oktober 2018. Fasilitas yang
didapat yakni kavling tanah, jasa gali-tutup kubur, tenda, kursi, dan papan
nama dari kayu. Selain itu, keluarganya juga membayar Rp 100-200 ribu per
bulan untuk biaya perawatan rutin makam.
Foto dari udara TPU Karet Bivak. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Nissa dan Rangga mengaku pernah mendengar informasi bahwa proses pemakaman
seharusnya gratis. Namun mereka tak tahu detilnya sehingga saat diminta
pungutan, tak pikir panjang untuk memenuhinya. "Dulu pernah dengar
(informasi bahwa pemakaman gratis), tapi what do you expect? Sampai
akhirnya enggak percaya karena baru ngalamin Oktober kemarin," ujar Nissa.
Nissa bahkan tak tahu bahwa sebenarnya Pemprov DKI Jakarta telah menerapkan
sistem online untuk pengurusan izin penggunaan tanah makam. "Really? Enggak
tahu, shock beneran!" ujarnya.
Suasana TPU Karet Bivak Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Kondisi serupa juga terjadi di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Salah
seorang perangkat desa di Kelurahan Karet Tengsin menyebut, warganya
diminta oleh petugas TPU membayar biaya pemakaman rata-rata Rp 2-4 juta.
Biaya tersebut umum diterapkan bagi setiap orang yang memakamkan
keluarganya di TPU Karet Bivak meski banyak spanduk bertuliskan layanan
gratis, larangan pungli, hingga tata cara mengurus pemakaman via online
agar terhindar dari calo. Tak hanya di Jakarta, pungli pemakaman semacam
ini juga terjadi di kota-kota penyangga seperti di Tangerang Selatan dan
Bekasi. Salah satu yang mengalaminya adalah keluarga Hesti.
Ayah Hesti yang meninggal pada November 2017 lalu dimakamkan di TPU Legoso,
Ciputat, Tangerang Selatan. Nilai pungutannya hampir sama, namun
fasilitasnya lebih sedikit. "Waktu meninggal disediain cuma gundukan tanah
sama nisan kayu doang itu Rp 5 juta. Tapi enggak sama tenda segala macam,
karena kita enggak pakai tenda," kata Hesti. Masih ada biaya tambahan lain
sebesar Rp 1,5 juta untuk rumput dan batu nisan. Angka tersebut sudah
ditawar dari harga awal Rp 2,5 juta. Dibanding Jakarta, biaya perawatan
rutin di TPU Legoso lebih murah. Keluarga Hesti dikenai biaya Rp 10 ribu
per bulan.
Petugas Sudin Kehutanan sedang menggali lubang kubur di TPU Karet Bivak.
Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Calo Berkeliaran, Petugas TPU Membantah Meski banyak temuan adanya pungli,
namun hampir semua petugas TPU yang ditemui kumparan membantah. Petugas di
TPU Jeruk Purut, Karet Bivak, dan Menteng Pulo, menyebut biaya pemakaman
gratis. Mereka juga kompak mengatakan bahwa tanah di TPU itu telah penuh.
Padahal kenyataannya masih ada pemakaman baru yang tidak ditumpuk dengan
makam lama. Di website resmi juga masih disebut tersedia tanah makam baru.
Lain halnya dengan pernyataan para pedagang di sekitar TPU, seperti penjual
nisan dan pedagang makanan. Mereka justru menawarkan nominal. "Umumnya Rp 3
juta. Semua satu paket, tenda, rumput, semua pokoknya terima bersih lah.
Nisan juga tinggal taruh," ujar pria tersebut.
Petugas Sudin Kehutanan sedang membersihkan lahan kuburan di TPU Karet
Bivak. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Pedagang mie rebus di TPU Menteng Pulo juga mengungkapkan hal senada. Hanya
saja tarifnya jauh lebih murah. "Ada yang kasih Rp 600 ribu untuk uang
rokok, biaya gali gitu. Tapi itu ngurus sendiri ya (kelengkapan
administrasinya)," kata pria berusia 50 tahunan itu. Dia meminta upah
tambahan jika ahli waris meminta bantuan pengurusan administrasi. Namun
bapak yang memiliki 10 cucu itu tak mematok tarif. "Ya namanya kan
seenggak-enggaknya ada uang jalan. Terserah situ aja deh (biayanya). Kita
sih gampang aja dah," ujarnya. Dia mengaku bukan hanya sekali dua kali
mengurus proses pemakaman warga karena mengaku akrab dengan petugas TPU.
"Bisa, apalagi kita nih udah di sini lama yang penting ada ginian (uang
pelicin). Umpama, ini kakak saya baru meninggal, tolong ahli waris kemari
dah bawa KK, KTP-nya, nanti ketemu sama tukang gali," katanya.
Petugas Sudin Kehutanan sedang memotong rumput-rumput liar di TPU Karet
Bivak. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Terkait pungli, Kepala Seksi Pelayanan dan Perpetakan Makam Dinas Kehutanan
DKI Jakarta, Ricky Putra, mengaku pihaknya tak main-main dalam
memberantasnya. Sudah ditetapkan secara khusus sanksi untuk para pengurus
TPU di Jakarta apabila terlibat pungli.
"Ada sanksi disiplin pegawai. Insya Allah kalau PNS kita sudah mengetahui
risikonya sangat berat. Bisa sampai tidak dapat tunjangan sampai pemutusan
(PHK)," ucap Ricky.
Sedangkan sanksi untuk petugas PHL yang berani menjadi calo akan dilakukan
pemutusan hubungan kerja.
*Ikuti kisah lengkap soal pungli makam di kumparan dengan topik **Biaya
Mahal Makam Jakarta* <https://kumparan.com/topic/biaya-mahal-makam-jakarta>
**

Kirim email ke