Sungguh TIDAK MUDAH melawan adat-istiadat, orang mati harus dikebumikan,
yang sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun yl! Pengalaman di
tengah masyarakat TIongkok, yang maroritas mutlak, lebih dari 95% adalah
suku Han itu mempunyai tradisi orang meninggal harus dikebumikan,
dikubur, ... dan untuk menunjukkan tingginya posisi dalam masyarakat
dengan kekayaannya, bukan kepalang "KEMEWAHAN" kuburan mereka! Bahkan
nyaris harta kekayaan juga dikuburkan untuk mengantarkan dan digunakan
bagi yang meninggal di SORGA, ...! Begitulah kita bisa melihat
kuburan-kuburan Tionghoa yang bergengsi itu MEWAH kebangetan! Entah
berapa puluh atau ratusan Milyar nilai kuburan itu, padahal masyarakat
disekitar masih buuuaaanyak orang TIDAK ADA rumah layak dihuni manusia,
a... bahkan tidur menggeletak ditaman, dikolong-jembatan saja, ...!
Setelah Tiongkok merdeka, dimulai gerakan merubah tradisi kuburan itu,
dengan propagan untuk kesehatan yang lebih baik rakyat umumnya, orang
meninggal dikremasi/dibakar saja dan untuk mengenang orang-tua, sedikit
abu jenasah yang disimpan saja, ... belasan tahun atau puluhan tahun
propaganda dilancarkan, tentu harus diteladani anggota/kader PKT. Tapi
nampaknya masih saja sulit diberlakukan umum. Karena itu tadi, dirasakan
banyak orang, untuk menghormati orang yang meninggal itu harus dikebumikan!
Lalu diakali, setelah dikremasi, abu diambil seguci lalu dikuburkan!
Dengan demikian kebutuhan tanah kubur juga sedikit saja, tidak perlu 1/3
bahkan 1/4 tanah kubur biasanya! Banyak menghemat tanah kubur, ...
Nampaknya cara peralihan ini yang cukup banyak bisa diterima khalayak.
Tapi ada juga pemikiran baru di Tiongkok, khususnya bagi generasi
anak-tunggal. Yang kesulitan untuk merawat penitipan-abu apalagi biaya
kuburan orang-tua dan itu bisa terjadi tidak disatu kota dengan tempat
hidup mereka! Problem menjadi lebih ribet, untuk melestarikan pengurusan
kuburan itu bagi anak-cucu mereka setelah lebih 30 tahunan, ... siapa
lagi bisa ngurusi kuburan kakek-neneknya itu??? Mulailah pemikiran bukan
saja tidak meninggalkan kuburan, tapi penitipan abu juga tidak
dilakukan, ... abu ditebar saja kelaut atau sungai bahkan dipegunungan
saja! Biarlah arwah yang meninggal itu bergentayangan dialam secara
bebas, ...! Bahkan, terakhir ini ada pemikiran yang revolusioner,
mengingat kehidupan rakyat sudah makin makmur, sekolah kedokteran
KESULITAN mendapatkan jenasah untuk percobaan dan penelitian mahasiswa
kedokteran! Biasanya, mereka dapatkan dari pengemis yg tidak lagi
diketahui identitas dan ada keluarga yg mengambil jenasah itu atau orang
miskin yg betul-betul tidak mampu mengurus jenasah diserahkan saja pada
RS! Sekarang sudah tidak bisa menemukan orang miskin begitu lagi, ...!
Mulailah ada keluarga yg berpendidikan merelakan jenasah-nya
disumbangkan pada RS! Sipenyumbang/donor dimasa hidupnya lebih dahulu
dapatkan KARTU-Donor, saat meninggal menyerahkan organ-organ yang masih
bisa dibutuhkan, termasuk jenasahnya!
Baguuus, ... alternatif terakhir ini sangat bagus kalau bisa
dikembangkan, biarlah setiap orang TETAP BERJASA sekalipun sudah
meninggal! TIDAK lagi harus bingung dengan biaya MAHAL makam didunia
ini, ... dan membuat bumi ini jadi makin penuh dengan kuburan!
Sunny ambon [email protected] [GELORA45] 於 7/2/2019 16:22 寫道:
*
*
*Sebagusnya penduduk Jakarta yang hidup sehari-hari dari tangan ke
mulut supaya tidak bisa mati untuk dikuburkan di ibukota rezim
neo-Mojopahit,karena mahal ongkos penguburan. Hidup susah, kembali ke
tempat istirahat abadi pun mahal. Barangkali ada solusi kalau salah
sungai di Jakarta misalnya Ciliwung di bikin seperti sungai Ganges di
India, yaitu mayat dibakar dan abu mayat atau sisa badan yang tidak
terbakar dibuang ke sungai*.
_https://kumparan.com/@kumparannews/mahalnya-dikubur-di-jakarta-1549509884870229090_
_
_
<https://kumparan.com/@kumparannews>
kumparanNEWS
Tidak hanya breaking news, tapi juga dalam, akurat dan kredibel
<https://kumparan.com/@kumparannews>
Ikuti
7 Februari 2019 4:24 WIB
4
4
Mahalnya Dikubur di Jakarta
Konten spesial biaya mahal makam Jakarta Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Selayaknya kelahiran, kematian juga kerap disambut dengan cara agung.
Tak heran banyak upacara adat pemakaman yang sakral dengan rangkaian
panjang dan menghabiskan biaya besar. Namun tak semua orang mampu dan
mau menyelenggarakannya. Oleh karena itu sejumlah Pemerintah Daerah
memberikan fasilitas pemakaman berbiaya murah bahkan gratis, salah
satunya DKI Jakarta. Menurut Perda DKI Nomor 1 Tahun 2015 tentang
Retribusi Daerah, pengurusan pemakaman di Jakarta maksimal dipatok
harga Rp 275 ribu, bahkan gratis. Angka itu meliputi biaya sewa lahan
selama 3 tahun dari Rp 0-100 ribu, sewa ambulans Rp 100 ribu, dan
biaya pemakaian peralatan perawatan jenazah Rp 75 ribu. Sayangnya yang
terjadi di lapangan jauh berbeda. Salah seorang korban, Rangga,
mengaku keluarganya harus membayar sekitar Rp 4 juta untuk mengurus
pemakaman ayahnya yang meninggal pada 28 Juli 2018 lalu. Sang ayah
dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan. "Seingatku (biayanya)
Rp 4 juta. Bloknya ini emang sudah semacam pemakaman keluarga karena
pakde, bapak, dan omku dimakamkan dekat-dekatan di sana," kata Rangga
kepada kumparan, Selasa (5/2).
Warga berziarah ke makam keluarga di TPU Karet. Foto: Puti Cinintya
Arie Safitri/kumparan
Dengan uang Rp 4 juta itu, fasilitas yang didapat adalah sewa tanah,
gali kubur, tenda, dan kursi. Sedangkan ambulans menyewa dari musala
dekat tempat tinggal mereka di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur.
Untuk biaya perawatan makam, keluarga Rangga membayar sekitar Rp 150
ribu per bulan. Uang itu diserahkan langsung kepada perawat makam.
Kondisi yang lebih parah dialami keluarga Anissa Sadino yang juga
memanfaatkan TPU Jeruk Purut. Nissa menyebut keluarganya dipungut
biaya sekitar Rp 5 juta untuk mengurus pemakaman ayahnya yang
meninggal pada 30 Oktober 2018. Fasilitas yang didapat yakni kavling
tanah, jasa gali-tutup kubur, tenda, kursi, dan papan nama dari kayu.
Selain itu, keluarganya juga membayar Rp 100-200 ribu per bulan untuk
biaya perawatan rutin makam.
Foto dari udara TPU Karet Bivak. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Nissa dan Rangga mengaku pernah mendengar informasi bahwa proses
pemakaman seharusnya gratis. Namun mereka tak tahu detilnya sehingga
saat diminta pungutan, tak pikir panjang untuk memenuhinya. "Dulu
pernah dengar (informasi bahwa pemakaman gratis), tapi what do you
expect? Sampai akhirnya enggak percaya karena baru ngalamin Oktober
kemarin," ujar Nissa. Nissa bahkan tak tahu bahwa sebenarnya Pemprov
DKI Jakarta telah menerapkan sistem online untuk pengurusan izin
penggunaan tanah makam. "Really? Enggak tahu, shock beneran!" ujarnya.
Suasana TPU Karet Bivak Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Kondisi serupa juga terjadi di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat. Salah
seorang perangkat desa di Kelurahan Karet Tengsin menyebut, warganya
diminta oleh petugas TPU membayar biaya pemakaman rata-rata Rp 2-4
juta. Biaya tersebut umum diterapkan bagi setiap orang yang memakamkan
keluarganya di TPU Karet Bivak meski banyak spanduk bertuliskan
layanan gratis, larangan pungli, hingga tata cara mengurus pemakaman
via online agar terhindar dari calo. Tak hanya di Jakarta, pungli
pemakaman semacam ini juga terjadi di kota-kota penyangga seperti di
Tangerang Selatan dan Bekasi. Salah satu yang mengalaminya adalah
keluarga Hesti. Ayah Hesti yang meninggal pada November 2017 lalu
dimakamkan di TPU Legoso, Ciputat, Tangerang Selatan. Nilai
pungutannya hampir sama, namun fasilitasnya lebih sedikit. "Waktu
meninggal disediain cuma gundukan tanah sama nisan kayu doang itu Rp 5
juta. Tapi enggak sama tenda segala macam, karena kita enggak pakai
tenda," kata Hesti. Masih ada biaya tambahan lain sebesar Rp 1,5 juta
untuk rumput dan batu nisan. Angka tersebut sudah ditawar dari harga
awal Rp 2,5 juta. Dibanding Jakarta, biaya perawatan rutin di TPU
Legoso lebih murah. Keluarga Hesti dikenai biaya Rp 10 ribu per bulan.
Petugas Sudin Kehutanan sedang menggali lubang kubur di TPU Karet
Bivak. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Calo Berkeliaran, Petugas TPU Membantah Meski banyak temuan adanya
pungli, namun hampir semua petugas TPU yang ditemui kumparan
membantah. Petugas di TPU Jeruk Purut, Karet Bivak, dan Menteng Pulo,
menyebut biaya pemakaman gratis. Mereka juga kompak mengatakan bahwa
tanah di TPU itu telah penuh. Padahal kenyataannya masih ada pemakaman
baru yang tidak ditumpuk dengan makam lama. Di website resmi juga
masih disebut tersedia tanah makam baru. Lain halnya dengan pernyataan
para pedagang di sekitar TPU, seperti penjual nisan dan pedagang
makanan. Mereka justru menawarkan nominal. "Umumnya Rp 3 juta. Semua
satu paket, tenda, rumput, semua pokoknya terima bersih lah. Nisan
juga tinggal taruh," ujar pria tersebut.
Petugas Sudin Kehutanan sedang membersihkan lahan kuburan di TPU Karet
Bivak. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Pedagang mie rebus di TPU Menteng Pulo juga mengungkapkan hal
senada. Hanya saja tarifnya jauh lebih murah. "Ada yang kasih Rp 600
ribu untuk uang rokok, biaya gali gitu. Tapi itu ngurus sendiri ya
(kelengkapan administrasinya)," kata pria berusia 50 tahunan itu. Dia
meminta upah tambahan jika ahli waris meminta bantuan pengurusan
administrasi. Namun bapak yang memiliki 10 cucu itu tak mematok tarif.
"Ya namanya kan seenggak-enggaknya ada uang jalan. Terserah situ aja
deh (biayanya). Kita sih gampang aja dah," ujarnya. Dia mengaku bukan
hanya sekali dua kali mengurus proses pemakaman warga karena mengaku
akrab dengan petugas TPU. "Bisa, apalagi kita nih udah di sini lama
yang penting ada ginian (uang pelicin). Umpama, ini kakak saya baru
meninggal, tolong ahli waris kemari dah bawa KK, KTP-nya, nanti ketemu
sama tukang gali," katanya.
Petugas Sudin Kehutanan sedang memotong rumput-rumput liar di TPU
Karet Bivak. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Terkait pungli, Kepala Seksi Pelayanan dan Perpetakan Makam Dinas
Kehutanan DKI Jakarta, Ricky Putra, mengaku pihaknya tak main-main
dalam memberantasnya. Sudah ditetapkan secara khusus sanksi untuk para
pengurus TPU di Jakarta apabila terlibat pungli. "Ada sanksi disiplin
pegawai. Insya Allah kalau PNS kita sudah mengetahui risikonya sangat
berat. Bisa sampai tidak dapat tunjangan sampai pemutusan (PHK)," ucap
Ricky.Sedangkan sanksi untuk petugas PHL yang berani menjadi calo akan
dilakukan pemutusan hubungan kerja. /Ikuti kisah lengkap soal pungli
makam di kumparan dengan topik //Biaya Mahal Makam Jakarta/
<https://kumparan.com/topic/biaya-mahal-makam-jakarta>//
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com