*https://lifestyle.kompas.com/read/2019/01/29/164600820/ada-8-dari-10-anak-usia-sekolah-indonesia-kekurangan-dha-dan-omega-3#utm_source=insider&utm_medium=web_push&utm_campaign=bv_08022019_10:30_sgm&webPushId=NDU2Mg==
<https://lifestyle.kompas.com/read/2019/01/29/164600820/ada-8-dari-10-anak-usia-sekolah-indonesia-kekurangan-dha-dan-omega-3#utm_source=insider&utm_medium=web_push&utm_campaign=bv_08022019_10:30_sgm&webPushId=NDU2Mg==>*


*Ada 8 dari 10 Anak Usia Sekolah Indonesia Kekurangan DHA dan Omega 3*
AUZI AMAZIA DOMASTI
Kompas.com - 29/01/2019, 16:46 WIB Ilustrasi anak kesulitan
belajar.(Shutterstock)

KOMPAS.com - Sebuah penelitian yang dihimpun dalam British Journal of
Nutrition memaparkan bahwa konsumsi asam lemak esensial (Esential Fatty
Acids) anak Indonesia usia 4 sampai 12 tahun masih kurang dari standar
World Health Organization (WHO).

 Seorang peneliti sekaligus dosen teknologi pangan Fakultas Ekologi Manusia
Institut Pertanian Bogor (IPB) Ahmad Sulaeman yang juga terlibat dalam
penelitian tersebut mengatakan,  8 dari 10 anak Indonesia kekurangan asam
lemak esensial. Asam lemak esensial seperti Omega 3 dan Omega 6 memang
menjadi nutrisi yang krusial untuk pertumbuhan dan perkembangan fungsi otak
anak.

Selain itu, nutrsi tersebut bermanfaat dalam formasi membran sel otak dan
memproduksi hormon yang berguna untuk respon imun, serta mengatur tekanan
darah.

Jadi, makanan bernutrisi yang melengkapi kebutuhan anak ini penting untuk
tumbuh kembangnya. Kekurangan nutrisi itu tentu memiliki efek samping,
misalnya pertumbuhan anak terhambat, lemah imun, dan penglihatan yang
bermasalah. Ilustrasi anak yang lesu(Shutterstock) Untuk jangka panjang,
nutrisi yang cukup untuk otak anak dapat berpengaruh pada kemampuan anak
dalam belajar dan beraktivitas.

Misalnya, kemampuan kognitif dalam mengeksplorasi suatu benda, kemampuan
mengingat, dan juga logika.  Darurat DHA dan kelengkapan gizi  Beberapa
makanan yang paling tinggi kandungan Omega 3 dan Omega 6 antara lain, ikan
lele, sarden, salmon, tuna, tahu, dan tempe. Makan ikan dua atau tiga kali
seminggu juga disarankan agar gizi tersebut tercukupi. Mengingat pentingnya
fungsi nutrisi itu, Ahmad menganjurkan agar orangtua benar-benar
memperhatikan pola makan anaknya. Contohnya, dimulai dari kebiasaan
sarapan.

Kebiasaan sarapan bergizi bisa mendukung anak usia sekolah agar berenergi
saat belajar. Sayangnya, ada saja anak-anak yang tak terbiasa sarapan.

Sumber data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyebutkan, sebanyak 26
persen anak Indonesia hanya mengkonsumsi minuman pada waktu sarapan,
seperti air putih atau teh. Berdasarkan sumber data yang sama, hanya 10,6
persen yang sarapannya mencukupi asupan energi sebesar 30 persen. “Dampak
dari tidak sarapan anak di sekolah akan ngantuk.

Lalu, karena lapar dia akan jajan makanan yang gizinya tidak terkontrol.
Misalnya, gorengan atau es yang isinya hanya air dan pemanis buatan,” ujar
Ahmad saat ditemui di Greenhouse Resto, Sentul, Bogor, Kamis (23/1/19).

Ahmad melanjutkan, untuk proses berpikir dan beraktivitas, diperlukan
energi dari zat gizi seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan
mineral. Ia mengingatkan agar anak jangan sampai kekurangan gizi sehingga
mudah sakit. Dilansir Kompas.com, Kamis (6/9/18), idealnya dalam satu
piring sarapan seperempat porsi perlu diisi oleh karbohidrat kompleks,
seperempat porsi oleh lauk yang terdiri dari protein dan juga mineral.
Sementara itu, setengah porsi lainnya terdiri dari buah dan sayur yang
bertugas mencukupi kebutuhan vitamin dan juga mineral.

Mengacu pada rekomendasi American Academics of Pedriatics, setidaknya anak
usia 4-8 tahun mengkonsumsi 0,8 gram Omega 3 per hari dan 10 gram Omega 6
per hari. Selain itu, mengonsumsi susu pertumbuhan bagi anak-anak di masa
pentingnya juga bisa melengkapi kebutuhan asam lemak esensial dan DHA.
Jadi, asupan DHA dapat diserap secara lengkap baik dari makanan bergizi dan
susu sebagai pelengkapnya. “Anda adalah apa yang Anda makan. Apalagi untuk
anak-anak, agar ia tidak mudah sakit, penting sekali untuk perhatikan
makanannya,” imbuh Ahmad. Kondisi anak-anak Indonesia yang #DaruratDHA dan
kurang asam lemak esensial tersebut perlu jadi perhatian para orangtua.

Oleh karenanya, orangtua mesti memenuhi kebutuhan nutrisi anak salah
satunya dengan menyediakan susu pertumbuhan. Dengan begitu, gizi untuk
tumbuh kembang otak terpenuhi dan anak pun bisa tetap aktif dan berprestasi..


Penulis : Auzi Amazia Domasti
Editor : Sri Noviyanti

Kirim email ke