Sudah saya bilang, 8 tahun terakhir banyak yang sebenarnya tidak seperti yang diperlihatkan. Hampir semua suara penting yang berbeda dengan pemerintah ditenggelamkan dengan riuhnya caci maki, ejekan, atau gegap gempita memuji Jokowi main tebak-tebakan nama ikan dengan murid SD lalu bagi-bagi sepeda - sementara Jokowinya senang pamer naik motor chopper.
Harus diakui peran media luarbiasa sekali. Sampai-sampai di milis ini pun ada yang tidak peduli kenapa Jokowi maksa beli Freeport, karena lebih penting memuji Jokowi makan sate dan hal recehan lainnya. Tidak salah orang menilai kontrol informasi sekarang jauh lebih licik dari Orbaǃ Karena itu si Fahri ini perlu disentil. Tidak benar bangsa ini terjebak omongkosong. Yang benar, bangsa ini dijebak kebohongan sejak Esemka, hehee... --- jonathangoeij@... wrote: Pendapat Fahri ini ada betulnya, tetapi kenapa kok baru ngomong kayak gini sekarang sedangkan 2 tahunan lalu ikut menuntut hukuman atas "omong kosong" penista agama? Memang harus diakhiri, pasal2 karet penodaan agama dan ujaran kebencian harus direvisi. Beranikah pemerintah sekarang merevisi? --- Fahri Hamzah Sebut Bangsa Ini Terjebak Debat Omong Kosong Jumat, 8 Februari 2019 | 11:45 [JAKARTA] Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengatakan, sejak delik memaki, ujaran kebencian, dan lain-lain digiatkan masuk ruang sidang dan dipidanakan, bangsa ini terjebak pada debat omong kosong. Bahkan, seolah negara ini bangsa yang tak punya sejarah dan kebudayaan. "Apa sih yang diributkan? Omong kotor dan memaki itu nyata," kata Fahri Hamzah YANG dihubungi di Jakarta, Jumat (8/2), menanggapi kasus yang tengah membelit musisi yang juga pentolan group band Dewa 19, Ahmad Dhani saat ini. Fahri Hamzah menyebutkan, apa yang salah ketika Ahmad Dhani Prasetyo mengatakan "layak diludahi" sehabis mendengar ada pendukung tersangka penista agama atau memaki "idiot" kepada kelompok yang datang menyerbu hotelnya dan menghalanginya ikut sebuah acara. "Padahal yang dilakukan Ahmad Dhani adalah kontrol sosial, ketika melalui media sosial, untuk pertama kalinya orang dapat mengungkapkan kemarahan pada yang menyalahgunakan kekuasaan negara secara semena-mena atau mengabaikan keadilan, melakukan persekusi dan tindakan di luar batas," kata dia. Tapi, menurut Fahri Hamzah, yang lebih buruk dari pengadilan kata-kata ini adalah karena ia diskriminatif. Pasal yang sama menebas leher si A tapi mengelus-elus si B yang rupanya memiliki kedekatan dengan penguasa. "Pertengkaran ini menjadi tak seimbang karena wasit turun gelanggang. Lalu bangsa ini disibukkan dengan apa yang disebut ujaran kebencian, padahal kata dasarnya hate speech atau pidato kebencian. Lalu apa yang tertulis dan terucap dalam forum tertutup atau halaman pribadi pun jadi pidana. Memaki, mengumpat, mengomel jadi pidana," ujarnya. Disebutkan Fahri Hamzah kalau memaki itu ada sejak manusia ada di dunia, karena dalam keaktifan manusia terjadi persentuhan, secara fisik, akal sampai perasaan yang kemudian lahir tensi, lahir nyala api, dan percikan yang tersembur dari mulut yang marah atau kecewa. "Kadang ia menjadi katarsis. Kalau tidak mengumpat atau memaki, mungkin orang bisa membunuh atau menyerang fisik. Jadi, biarkan orang marah asalkan jangan menyerang fisik," ujar Fahri Hamzah yang juga politisi PKS sambil menambahkan kadang memaki adalah cara menenangkan diri. Setelah memaki orang biasa menjadi puas dan tenang setelah melepas energi negatifnya ke angkasa. "Maka, melarang orang memaki sama dengan melarang orang bersin. Bersin itu manusiawi sebagai respon atas lingkungan," tambah penggagas Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) itu lagi. Di Indonesia, lanjut Fahri Hamzah, memaki lebih seru dan beragam. Setiap budaya dan suku bangsa ada cara memaki, mulai dari yang paling kasar atau terasa kasar ditelinga orang sampai yang terdengar lucu. "Semua ada dalam tradisi kita. Dalam diri kita mau diterima atau tidak. Bahkan di media sosial ada sayembara memaki. Anak-anak muda itu ingin membuktikan bawa memaki adalah bagian dari kebiasaan kita di Indonesia. Daripada mengimpor produk asing yang sangat kasar, mendingan pakai yang ada di dalam negeri, ejek mereka pada kemunafikan kita," tuturnya. Fahri juga menyebutkan ada puluhan umpatan seperti "Matamu!", "Congore', 'Ndase", dan banyak lagi yang datang dari berbagai daerah. Dan itu menyadarkan kita bahwa memang memaki itu seperti bersin. "Maka, dari pada kita melarang orang bersin, lebih baik mengajarkan reaksi yang benar. Di barat orang memakai kata "sorry" atau "excuse me", lalu yang mendengar mengatakan "bless you" atau "god bless you". itu budaya dan tradisi kehidupan," pungkasnya.[H-14]
